
"Oke," Dokter Rebecca kemudian pergi keluar kamar menuju gudang tempat Adya disekap.
Sementara itu Bu Kinasih masih terus menyusui Mimi sambil menimang-nimang tubuh Mimi
...****************...
Dokter Rebecca didepan gudang yang masih tergembok dengan rapi. "Hmmm.. Aku lupa meminjam kunci gudangnya kepada Kinasih."
Dengan wajah yang tampak kecewa, Dokter Rebecca menuju ke samping gudang untuk melihat tiga makam yang berada di samping gudang.
Pandangan Dokter Rebecca hanya tertuju kepada Makam milik Manika, yang kata Bu Kinasih adalah cinta pertama Bu Kinasih.
"Jujur, sebenarnya aku penasaran, seperti apa rupa dirimu!" Kata Dokter Rebecca kepada makam Manika tersebut. Setelah beberapa menit menatap makam tersebut, akhirnya Dokter Rebecca kembali kerumah Bu Kinasih.
Sesampainya dirumah Bu Kinasih, Dokter Rebecca langsung menuju kedalam kamar dan melihat Bu Kinasih baru saja selesai menyusui Mimi yang telah tidur terlelap, dipangkuan Bu Kinasih yang sedang mengancing bajunya kembali.
"Apa ibu sudah menemui anjing peliharaan ibu?" Tanya Bu Kinasih yang sedang duduk sambil menimang-nimang tubuh Mimi yang tertidur pulas.
"Aku lupa meminjam kunci gudangnya kepadamu, makanya aku kembali kesini." Jawab Dokter Rebecca.
Dokter Rebecca kemudian duduk di samping Bu Kinasih yang sedang menimang-nimang bayi dewasanya tersebut. Bu Rebecca memandang wajah Mimi yang bersandar di dada Bu Kinasih dan tertidur pulas.
"Bayiku ini cantik sekali ya, Bu?" Tanya Bu Kinasih yang masih menimang-nimang Mimi.
"Ya, aku akui dia memang sangat cantik. Aku yakin, seandainya dia berada di luar pasti banyak pria yang jatuh hati padanya." Jawab Dokter Rebecca dengan tatapan sayu kepada Mimi.
"Nggak hanya pria, aku pun jatuh hati kepadanya sejak pertama kali bertemu. Saat aku melihat wajahnya, tubuhnya yang kurus dan berkulit putih mulus, secara fisik dia sangat serupa dengan Manika. Makanya aku langsung membuatnya tinggal disini bersamaku." Ujar Bu Kinasih.
"Jujur aku penasaran dengan wanita bernama Manika itu, mengapa dia bisa jatuh hati dengan wanita berdarah dingin sepertimu." Ujar Dokter Rebecca
"Seperti yang aku katakan tadi, secara fisik dia sangat serupa dengan Mimi. Tubuh kurusnya kecilnya, warna kulitnya, kecantikannya, hanya saja, Manika lebih suka mewarnai rambutnya menjadi pirang." Jawab Kinasih.
Mimi mendadak tidurnya gelisah, Bu Kinasih yang masih menimang-nimang tubuhnya langsung bergegas menenangkannya agar tertidur kembali. "Ooww... chayang..chayang..!!" Bu Kinasih bergegas membuka kancing bajunya kembali dan mengeluarkan buah dada hitam besarnya untuk menyusui Mimi lagi.
"Bobo, sayang!" Bu Kinasih yang sedang menyusui Mimi menepuk-nepuk bokong Mimi dengan lembut dan lanjut menimang-nimang tubuh Mimi sehingga membuat Mimi tertidur tenang kembali.
Dokter memperhatikan bagaimana cara Bu Kinasih menenangkan Mimi yang diperlakukan seperti bayi sungguhan dengan penuh kasih sayang.
"Aku tahu jika Manika mencintaimu karena sindrom Paraphilic infantilism yang dideritanya, membuat Manika terobsesi untuk bertingkah seperti bayi. Dan hanya kamu yang bisa memenuhi obsesinya itu dengan sifat keibuan yang ada pada dirimu." Kata Rebecca.
"Ya, aku memanfaatkan kelemahannya itu agar dia mau membalas cintaku. Dan akhirnya berhasil, dia tidak mau mau berpisah denganku." Jawab Bu Kinasih.
"Kalian dulu memang pasangan sesama jenis yang aneh." Cetus Dokter Rebecca.
"Oh ya, kapan kita menjalankan rencana kita, Bu Dokter? Mumpung Mimi sudah tertidur pulas." Tanya Bu Kinasih.
"Baiklah, sekarang saja kita mulai. Kamu pegang tangan tangan dan badannya, sedangkan aku akan menahan kakinya." Ujar Dokter Rebecca.
__ADS_1
Bu Kinasih melepaskan putingg susunya dari dalam mulut Mimi secara perlahan agar Mimi tidak terbangun. Tanpa memasukkan kembali buah dadanya, Bu Kinasih memegang tangan dan memeluk Mimi dari belakang dengan erat.
Dokter Rebecca mengeluarkan dua buah suntikan dari dalam tasnya. Kemudian duduk di atas kaki dan menindih bagian betis Mimi. Ketika dirasa sudah erat, Mimi pun terbangun lebih dulu karena merasa tubuhnya didekap begitu erat.
Mimi terkejut ketika Bu Kinasih sudah mendekapnya dari belakang dan menggenggam kedua tangannya dengan sangat erat, sedangkan Dokter Rebecca duduk di atas kaki bagian betisnya sambil memegang sebuah alat suntik.
"Apalagi yang mau kalian lakukan?!" Mimi mulai merasa takut saat melihat jarum suntik yang sangat tajam sedang dipegang oleh Dokter Rebecca.
"Mimi tahan dulu sebentar ya, nak! Sakitnya nggak lama kok!" Ujar Bu Kinasih yang sedang mendekap tubuh Mimi dengan erat dari belakang.
"Ja.. jangan..!!" Tolong aku mau diapakan lagi?!" Mimi mulai merasa panik.
Dokter Rebecca meraba lutut Mimi untuk mencari celah bagian mana yang akan disuntik, kemudian mendekatkan alat suntik yang dipegangnya itu kebagian lutut Mimi yang akan disuntik.
"Bu Kinasih, pegang tubuh Mimi dengan sangat kuat! Jangan sampai lepas!" Ujar Dokter Rebecca kepada Bu Kinasih.
"Ya bu, ini saya sudah saya genggam dengan kuat." Jawab Bu Kinasih.
"JANGAANN..!! JANGAAANN..!!" Mimi berusaha melepaskan diri dari cengkraman Bu Kinasih dan Dokter Rebecca. Tapi karena tubuhnya yang kurus dan lebih kecil tak mungkin bisa lepas dengan mudah dari kedua wanita psikopat Bu Kinasih dan Dokter Rebecca itu.
Dokter Rebecca menyuntik di bagian lutut kanannya terlebih dahulu.
"AAAAHHHKKKH....!! AAAHHKKK..!!" Mimi berteriak-teriak kesakitan hingga air matanya keluar membasahi pipinya.
Setelah lutut bagian kanan Mimi selesai disuntik, kini kaki bagian kirinya. Mimi meronta-ronta karena tak sanggup menahan rasa sakit itu.
"Kaki Mimi sudah selesai disuntik. Kita lepaskan aja dia disini. Ayo kita ke gudang untuk menemui Adya." Ujar Dokter Rebecca.
Bu Kinasih menganggukkan kepalanya dan melepaskan tubuh Mimi dari cengkramannya, sedangkan Mimi masih menjerit-jerit kesakitan, dibiarkan tergeletak dilantai.
Bu Kinasih dan Dokter Rebecca bangkit keluar dari kamar untuk menuju gudang, dan mengunci pintu kamar dari luar dan membiarkan Mimi menjerit-jerit kesakitan di dalam kamar sendirian.
...****************...
Bu Kinasih membuka kunci gembok yang mengunci pintu gudang, kemudian membuka pintu gudang itu. Tampak Adya yang tergeletak dengan sangat kotor dan bau pesing serta kotor tinja, karena tak pernah dibersihkan sejak awal disekap. Bahkan Adya tidur dikelilingi kotoran tinjanya yang menempel dari paha hingga pinggang dan kakinya.
Dokter Rebecca yang baru melihatnya sangat terkejut. Adya yang dulu tampak glamor dan selalu bersikap sombong dihadapannya, kini tampak sangat hina.
"Kau..??" Dokter Rebecca menghampiri Adya yang terbaring dilantai kondisi terikat seluruh tubuhnya dengan rantai dan tali.
Dokter Rebecca jongkok untuk melihat Adya dari dekat betapa mirisnya penampilan Adya saat ini. Wajah Adya tampak sangat kotor.
"Ampuni kau, Bu..!" Sontak Adya langsung menangis karena malu disaksikan oleh rivalnya yaitu Dokter Rebecca dari sangat dekat. Tangisan Adya menunjukkan bahwa dirinya tampak sangat menderita saat ini.
Mata Dokter Rebecca terlihat sayu, dia mencoba untuk menyentuh Adya yang sedang menangis dengan membelai rambut Adya.
"Ayo Bu Dokter, kita lakukan! Hari semakin sore, nanti keburu gelap!" Ujar Bu Kinasih.
__ADS_1
Tanpa sengaja air mata Dokter Rebecca menetes. Tiba-tiba hatinya menjadi luluh karena merasa kasihan melihat kondisi Adya saat ini. Entah mengapa secara tiba-tiba nurani Dokter Rebecca menguasai hatinya, sehingga membuat Dokter Rebecca luluh dan mulai berfikir untuk mengurungkan niatnya yang ingin membuat Adya lumpuh secara permanen.
"Kenapa, Bu Dokter? Mengapa ibu diam?" Bu Kinasih menjadi merasa heran mengapa Dokter Rebecca hanya diam dan mengeluarkan air mata.
"Ayo Bu kita mulai menyuntikkan Adya! Hari semakin sore, nanti keburu gelap!" Bu Kinasih berujar lagi, tetapi Dokter Rebecca h anya terdiam.
"Ada apa Bu Dokter?" Bu Kinasih semakin heran karena Dokter Rebecca tidak menjawab perkataanya dan hanya diam membisu memandangi Adya.
"Apakah aku tampak seperti monster?" Dokter Rebecca bertanya kepada Bu Kinasih. Membuat Bu Kinasih semakin kebingungan.
"Apa maksud ibu? Bukankah ini rencana kita dari awal?" Bu Kinasih bertanya kembali.
"Aku nggak menyangka jika aku adalah orang yang jahat. Padahal aku selalu memberi nasehat kepada anak-anakku untuk jangan pernah melakukan kejahatan. Tapi aku sendiri melakukannya." Kata Dokter Rebecca sambil mengeluarkan air mata.
"Ada kalanya kita berbuat jahat untuk membalas sebuah kejahatan, Bu! Tindakan ibu sudah tepat, ibu tidak jahat terhadap orang lain, ibu hanya jahat kepada orang yang telah merenggut kebahagiaan ibu. Itu adalah kejahatan yang wajar!" Bu Kinasih berusaha mendoktrin Dokter Rebecca kembali untuk menumbuhkan sifat jahat di hati Dokter Rebecca.
"Ayo, Bu! Kita sudah berjalan sejauh ini. Nggak mungkin kita mundur dengan mudah dan melepaskan begitu saja hanya dengan perasaan iba!" Ujar Bu Kinasih yang terus mempengaruhi Dokter Rebecca.
"Ingat, Bu Dokter! Gadis ini yang merenggut kebahagiaan ibu! Ini adalah hukuman setimpal buatnya yang nggak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya!" Kata Bu Kinasih.
Dokter Rebecca masih terdiam tanpa melakukan apa-apa.
"Ingat, Bu! Gadis ini nggak hanya merenggut kebahagiaan ibu, tapi dia juga merenggut kebahagiaan anak-anak ibu! Karena gara-gara gadis ini, anak-anak ibu kehilangan kasih sayang seorang ayah! Kalau ibu sangat sayang dengan anak-anak ibu, balaskan dendam anak-anaknya ibu! Setiap tetesan air mata yang mengalir dari mata anak-anaknya ibu, harus dibalas pula dengan air matanya!" Ujar Bu Kinasih lagi yang terus berusaha mempengaruhi Dokter Rebecca agar menjadi jahat kembali.
"Baiklah, ayo kita mulai!" Akhirnya Dokter Rebecca kembali terpengaruh dan mulai melakukan aksi mereka lagi.
Sama dengan halnya apa yang dilakukan kepada Mimi tadi, Bu Kinasih mencengkeram tubuh Adya dari belakang, dan Dokter Rebecca menindih kedua kaki Adya agar tidak bisa bergerak.
Dokter Rebecca mengeluarkan dua buah suntikan lagi dari dalam tasnya. Kedua mata Adya melotot melihat ujung jarum suntik itu yang akan diberikan kepadanya.
"Apa itu? Apa lagi yang mau kalian lakukan terhadapku?" Adya mulai panik dan tampak ketakutan.
"Aku akan membuatmu merangkak seperti anjing, Adya!" Jawab Dokter Rebecca yang mulai memegang lutut kanan Adya dan akan menyuntikkannya.
"AAAAHHHKKKH..!!" Adya berteriak dan menjerit kesakitan, karena lututnya disuntik oleh Dokter Rebecca. Adya berusaha memberontak untuk melepaskan diri, tetapi Bu Kinasih dan Dokter Rebecca yang sedang menggenggam dirinya jauh lebih kuat darinya.
Dokter Rebecca kemudian menyuntikkan lutut bagian kanannya lagi, dan membuat Adya semakin menjerit kesakitan.
Kedua lutut Adya telah disuntikkan, Adya kemudian dilepaskan dari cengkraman mereka dan dibiarkan tergeletak begitu saja dalam kondisi terikat seluruh tubuhnya dan menjerit-jerit kesakitan.
"Tugas kita hari ini telah selesai. Sakitnya ini hanya berlangsung 10 menit, setelah itu sakitnya akan hilang seperti sediakala." Kata Dokter Rebecca.
"Berarti kapan kita bisa melihat hasilnya, Bu Dokter?" Tanya Bu Kinasih
"Tanpa mereka sadari, lutut mereka akan menjadi lemah secara perlahan dimulai dari sekarang. Paling besok pagi kita bisa melihat hasilnya." Jawab Dokter Rebecca.
Sementara itu Adya masih menjerit-jerit kesakitan dilantai, tetapi Dokter Rebecca dan Bu Kinasih tidak mempedulikannya. Bu Kinasih dan Dokter Rebecca pergi meninggalkan Adya sendirian didalam gudang yang masih meronta-ronta.
__ADS_1
+++BERSAMBUNG+++