
"HAHAHA..!! HAHAHA..!" Bu Kinasih dan Dokter Rebecca tertawa terbahak-bahak menyaksikan Adya yang yang sekarang berada didalam kandang.
Sedangkan Adya berusaha menahan tangisnya ketika harga dirinya sudah tidak ada lagi bagi kedua Psikopat itu.
...****************...
Tengah malam pun tiba, terlihat suasana kebun dan hutan di belakang rumah Bu Kinasih sangatlah gelap gulita dan begitu mencekam. Terdengar pula suara burung hantu bersahutan, dan beberapa kelelawar yang melintas semakin menambah mencekamnya suasana malam itu.
Kandang anjing yang diletakkan di teras belakang rumah tepat menghadap ke kebun itu, masih menampung Adya yang sedang tidur didalamnya seorang diri.
Adya yang sedang mendekam didalam kandang anjing yang sempit dan membuatnya terpaksa tidur sambil melekukkan tubuhnya itu mendadak terbangun dari tidurnya karena tiba-tiba merasa perutnya mules dan ingin rasanya buang air besar. Tangannya yang sekarang sudah tidak terikat lagi tanpa berfikir panjang langsung membuka celananya dan melakukan buang air besar ditempat.
karena tidak ada cara lain untuk membersihkannya, ketika sudah selesai dia langsung memakai celananya kembali tanpa membersihkan bokongnya terlebih dahulu. Untuk sekian kalinya, malam ini dia kembali tidur bersama kotoran tinjanya dengan bau yang sangat menyengat di hidung. Bedanya adalah dulu Adya tinggal di gudang, kini didalam kandang.
Hingga pagi pun tiba, Bu Kinasih yang sudah bangun dari tidurnya, membuka teras belakang rumahnya untuk melihat kondisi Adya.
Bu Kinasih yang melihat ada kotoran tinja didalam kandang Adya, langsung mengambil rantai anjing kemudian membuka kandang anjing itu, lalu mengikatkan rantai anjing ke leher Adya. Kemudian menggiring Adya untuk merangkak keluar kandang menuju tiang untuk mengaitkan rantai anjing yang mengikat leher Adya ke tiang itu, agar Adya tak bisa pergi kemana-mana.
Setelah itu Bu Kinasih mengambil air dengan menggunakan ember untuk membersihkan kandang anjing tempat Adya ditampung. Adya yang tampak pasrah hanya bisa menyaksikan kegiatan Bu Kinasih.
Kandang anjing itu sudah selesai dibersihkan, kini giliran Adya yang kembali di giring oleh Bu Kinasih untuk merangkak menuju sumur untuk dimandikan. Tampak Bu Kinasih menggiring Adya sambil merangkak dengan rantai yang mengikat lehernya, seperti majikan yang menggiring seekor anjing sungguhan. Adya terlihat sangat pasrah merangkak menuju sumur mengikuti Bu Kinasih yang sedang menggiringnya menggunakan rantai anjing yang dipakai di lehernya.
Seluruh pakaian Adya dilepas sehingga membuat Adya kini tanpa mengenakan pakaian sehelai pun. Bu Kinasih menimba air di sumur dan langsung menyiram tubuh Adya untuk dimandikan.
Tak lupa pula Bu Kinasih memakaikan shampo anjing yang yang sudah dibelikan oleh majikan Adya yaitu Dokter Rebecca untuk digunakan ke bagian rambut dan seluruh tubuh Adya.
Adya melihat dan mengetahui bahwa shampo yang diberikan ke rambut dan tubuhnya itu adalah shampo anjing, tetapi apalah daya dia hanya bisa melihat dan menyaksikan tanpa mungkin bisa memberontak.
Setelah seselai dimandikan, Adya kembali digiring masuk kedalam kandang, tanpa dipakaikan pakaian terlebih dahulu, rantai anjing yang mengikat leher Adya dilepas kemudian mengunci kandangnya itu dari luar sehingga Adya tidak bisa kemana-mana lagi.
"Berdasarkan perintah dari Majikkanmu yaitu Bu Rebecca, dia menyuruhku hanya memakaikan pakaian kepadamu hanya untuk malam hari aja. Jadi selama siang hari aku nggak akan memberikan kamu pakaian." Ujar Bu Kinasih.
"Kenapa kamu begitu menuruti perintah Dokter Rebecca?" Tanya Adya yang sedang mendekam didalam kandang dengan tubuh tertekuk tanpa pakaian sehelai pun.
"Karena Dokter Rebecca mempekerjakan aku untuk merawat hewan peliharaannya. Yaitu kamu." Jawab Bu Kinasih sambil tersenyum.
"Aku punya penawaran yang lebih baik daripada itu. Jika kamu membebaskan aku, aku berjanji akan mempekerjakan kamu lebih baik daripada Dokter Rebecca. Bahkan aku akan menggajimu dua kali lipat lebih banyak dari gaji yang diberikan Bu Rebecca kepadamu, gimana?" Adya mengajak Bu Kinasih untuk bernegosiasi.
"Tidak..!!" Jawab Bu Kinasih dengan tegas. "Aku dan Bu Rebecca memiliki kecocokan. Hubungan aku dan Dokter Rebecca nggak hanya sebatas bos dan karyawan, tetapi juga hubungan sehati. Bahkan seandainya Bu Rebecca menggaji aku dengan bayaran rendah pun aku terima. Karena bagiku kami berdua sudah sama-sama saling menguntungkan."
"Kenapa kalian berdua begitu jahat?" Tanya Adya.
"Hei, kau juga harus berkaca diri, anjing manis...!! Kau harus ingat siapa sebenarnya kamu ini..!! Kaulah Pelakor yang menyebabkan perceraian antara Bu Rebecca dengan mantan suaminya. Dan inilah hukuman yang tepat untuk para Pelakor..!" Cetus Bu Kinasih sehingga membuat Adya terdiam.
Adya pun tertunduk malu karena tidak bisa mengelak apa yang dikatakan Bu Kinasih kepadanya. "ide Bu Rebecca ini sangat bagus! Menjadikan musuhnya hanya sebatas level hewan peliharaan baginya. Aku pun membayangkan seandainya semua wanita yang rumah tangganya dihancurkan oleh Pelakor itu, membalaskan dendamnya dengan cara seperti ini, tentu balas dendamnya akan menjadi terasa sangat menyenangkan sekaligus membuat efek jera kepada si Pelakor."
Bu Kinasih melanjutkan kembali perkataannya, "Di zaman sekarang ini, para Pelakor sudah tidak takut lagi menunjukkan eksistensinya. Bahkan banyak dari mereka yang berani merebut suami orang dengan terang-terangan. Seandainya semua wanita membalas Pelakor dengan cara seperti ini, pasti Para Pelakor tidak akan berani menjalankan aksinya, apalagi secara terang-terangan. Jujur aku setuju dengan cara ini..!!"
Bu Kinasih kemudian berdiri menuju dapur untuk memberikan makanan sisa yang sudah menjadi sampah dan ditaruhnya keatas wadah piring plastik. Kemudian menuju kandang tempat Adya dikurung tadi, dan memasukkan makan sisa berwadah piring plastik itu kedalam kandang untuk menu sarapan Adya.
"Makanlah..! Tapi ingat, jangan makan pakai tangan, atau aku akan memotong semua jari-jarimu agar kamu nggak bisa memegang apa-apa lagi. Makanlah langsung dari mulutmu layaknya anjing!" Perintah Bu Kinasih kepada Adya.
Adya pun melahap makanan sampah itu langsung dari mulutnya, dan membuat Bu Kinasih tersenyum.
__ADS_1
"Oh ya, satu lagi. Aku berharap semua orang yang menjadi Pelakor di dunia ini akan bernasib sama sepertimu. Yaitu diperlakukan dengan sangat rendah oleh mantan istri dari suami yang mereka rebut. Entah itu hanya sebagai hewan peliharaan, atau sebagai mainan lain yang membuat balas dendam para mantan istri menjadi lebih menyenangkan." Ujar Bu Kinasih.
...****************...
Bu Kinasih menggendong Mimi yang sudah dilepas seluruh pakaiannya, menuju sumur untuk mengajaknya mandi bersama dengan dirinya.
Sesampainya di tepi sumur, Bu Kinasih meletakkan tubuh Mimi dan di dudukkan disebuah batu yang berada dipinggir sumur. Kemudian Bu Kinasih pun melepas seluruh pakaiannya, dan akhirnya menimba air di sumur itu untuk menyiram seluruh tubuh Mimi dan tubuhnya sendiri.
Adya yang berada didalam kandang yang sempit hanya bisa menyaksikan kegiatan Bu Kinasih bersama Mimi di sumur itu.
Setelah memandikan Mimi, Bu Kinasih mengeringkan tubuhnya dengan handuknya, dan menutupi bagian dada hingga lututnya dengan handuknya itu. Kemudian Bu Kinasih mengeringkan tubuh Mimi yang masih basah dengan handuk bayi milik Mimi. Setelah itu menggendong Mimi menuju teras dekat kandang berisi Adya dan meletakkan tubuh Mimi dilantai.
"Tunggu disini sebentar ya, nak! Mama mau ambilkan pakaian dan perlengkapanmu dulu!" Pesan Bu Kinasih kepada Mimi.
"Ya Ma.." Jawab Mimi sambil menganggukkan kepalanya.
Bu Kinasih langsung bergegas menuju kamar untuk mengambil pakaian dan perlengkapan bayi untuk Mimi.
Adya yang berada didalam kandang, melihat Mimi yang sedang duduk sendirian diluar kandang hanya memakai handuk. Mimi juga tampak terlihat bebas karena tangan dan kakinya tidak terikat rantai atau tali apapun.
Adya merasa heran, saat ini Bu Kinasih masih meninggalkan Mimi yang sedang berada didalam kamar untuk mengambil kebutuhan buat Mimi, tetapi mengapa Mimi hanya duduk diam dan tidak melarikan diri? Padahal ini adalah kesempatan yang sangat tepat untuk Mimi melarikan diri, tetapi sedikitpun Mimi tidak melakukannya untuk melarikan diri.
Adya mencoba memanggil Mimi, tapi Bu Kinasih yang masih hanya memakai handuk yang menutupi dada hingga lututnya itu keburu datang menghampiri Mimi. Dengan membawa pakaian bayi dewasa, popok, bedak bayi, dan segala perlengkapan untuk Mimi.
Mulut Mimi langsung diberi empeng oleh Bu Kinasih untuk Mimi hisap. Bu Kinasih kemudian membaringkan tubuh Mimi dilantai yang sudah dialasi dengan kain yang lembut. Lalu mengolesi minyak telon ke bagian dada hingga perut Mimi, memberikan bedak bayi juga ke bagian sensitif Mimi, setelah itu Bu Kinasih memakaikan Popok kepada Mimi, kemudian memakaikan baju bayi dengan terusan rok untuk Mimi, yang terakhir menyisir rambut Mimi dan mengepang rambut Mimi menjadi dua bagian kanan dan kiri.
Adya yang menyaksikan itu, melihat Bu Kinasih merawat Mimi seorang gadis dewasa yang dirawat layaknya bayi sungguhan. Apalagi setelah itu Adya menyaksikan Bu Kinasih yang hanya memakai handuk membuka separuh handuknya untuk mengeluarkan buah dadanya yang hitam dan sangat besar itu, lalu membaringkan Mimi dipangkuannya dan langsung menyusui Mimi.
Bu Kinasih yang sedang duduk dilantai menyusui Mimi, menoleh ke arah Adya yang dari tadi sedang menyaksikan kegiatannya sebagai seorang ibu untuk Mimi.
Adya kembali hanya diam tanpa kata. Tapi yang ada didalam pikirannya adalah betapa gilanya wanita ini yang menculik seorang gadis untuk diperlakukan seperti bayi.
Sambil menyusui Mimi, Bu Kinasih sengaja berpindah tempat mendekati kandang Adya dan duduk tepat dihadapan Adya, agar Adya bisa menyaksikan dirinya yang sedang menyusui Mimi dari dekat dan tampak jelas.
Tampak jelas buah dada yang sangat besar dan berkulit hitam itu sedang dihisap putingg susunya oleh seorang gadis yang bersandar di buah dada itu dan sambil memegang buah dada itu. Mata Adya melotot dan mulutnya menjadi menganga menyaksikan seorang gadis masih disusui layaknya bayi, yang tampak pasrah tanpa ada perlawanan sedikitpun.
Mata Mimi yang sedang menikmati air Asi dari buah dada besar itu juga melirik kearah Adya yang tengah pilu melihat dirinya.
Bu Kinasih pun tersenyum melihat wajah Adya yang tampak syok melihatnya. "Kenapa? Kau ingin di tetekkin juga? Nanti kalau Dokter Rebecca datang, mintalah kepada Dokter Rebecca! Karena kamu itu peliharaannya Dokter Rebecca." Saran yang meledek dari Bu Kinasih.
Mendengar saran ledekan dari Bu Kinasih, mendadak Adya langsung membayangkan tubuh Dokter Rebecca. Secara mendadak dia membayangkan seandainya tubuh sintal Dokter Rebecca itu berada dihadapannya untuk menggapai dirinya, dan berimajinasi apabila Dokter Rebecca membuka buah dadanya untuk dirinya dan beneran disusui oleh Dokter Rebecca.
Adya terdiam sejenak membayangkan hal menjijikkan itu. Awalnya dia merasa ingin muntah ketika membayangkan jika seandainya dirinya beneran disusui oleh Dokter Rebecca. Tetapi dia berfikir kembali jika kehidupannya sekarang ini sangatlah jauh lebih menjijikkan ketika diperlakukan seperti anjing, daripada Mimi yang hanya diperlukan seperti bayi.
Sambil memandang Mimi, Adya berkata dalam hati, "Aku dan gadis bayi itu sama-sama diperlukan secara menjijikkan dirumah ini. Tapi jika dibandingkan gadis bayi itu masih lebih beruntung daripada aku, dia masih diperlakukan dengan penuh kasih sayang oleh penculiknya, sedangkan aku diperlakukan lebih parah dan lebih tidak manusiawi daripada gadis bayi itu, karena aku diperlakukan hanya sebagai anjing. Gadis bayi itu makan bubur bayi, sedangkan aku makan makanan yang sudah menjadi sampah. Gadis itu masih diurus kecantikannya meskipun penampilannya dibuat tak sesuai dengan usianya, sedangkan aku dibiarkan telanjangg seperti ini. Gadis bayi itu masih bisa tidur didalam kamar sedangkan aku tidur didalam kandang. Jadi kesimpulannya, meskipun aku dan gadis bayi itu sama-sama diculik disini, tapi gadis itu masih lebih beruntung daripada aku."
...****************...
Bu Kinasih sedang mencuci pakaian di sumur yang letaknya nggak jauh dari teras belakang rumahnya, dimana di teras itu ada Mimi yang sambil menghisap empeng dengan ciri khas rambut hitam berkepang duanya, yang memakai pakaian bayi terusan rok ,lengkap dengan popok dan kaos kaki putihnya, sedang duduk santai dilantai dengan berbagai boneka dan mainan-mainan bayi yang berhamburan dilantai sekelilingnya. Juga ada Adya yang masih didalam kandang sempit yang tubuhnya tertekuk tanpa memakai pakaian sehelai pun, yang sedang memperhatikan Mimi.
"Hei..sini..!! sini..!!" Adya memanggil Mimi yang sedang duduk dengan suara berbisik agar tidak terdengar oleh Bu Kinasih yang sedang mencuci pakaian di sumur.
Mimi yang mendengar panggilan Adya dari dalam kandang, kemudian merangkak mendekati Adya dari luar kandang. "Ada apa kak?"
__ADS_1
"Kenapa kamu cuma diam disini?" Tanya Adya yang tampak kebingungan.
"Maksudnya, Kak?" Mimi juga bingung dengan pertanyaan Adya.
"Nggak ada rantai atau tali yang mengikat kaki dan tanganmu. Kamu juga nggak dikurung di dalam kandang seperti aku. Tapi mengapa kamu nggak melarikan diri? Padahal ini kesempatan kamu untuk kabur dari sini." Ujar Adya.
"Aku sangat mengenal Bu Kinasih, Kak. Meskipun dia berada di sumur itu dan sibuk mencuci pakaian, matanya pasti tetap memantau pergerakan kita, kak." Jawab Mimi. "Apalagi kedua kaki kita ini sudah tidak bisa digunakan lagi untuk berdiri. Tentu Bu Kinasih akan mudah mengejar kita ketika kita berusaha kabur dan berhasil menangkap kita kembali."
"Tapi pagi tadi pada saat dia selesai memandikan kamu, dia menaruh kamu di teras ini dan dia meninggalkan kamu ke dalam kamar untuk mengambil perlengkapan dengan waktu yang cukup untuk kamu bisa kabur. Seharusnya itu kesempatan kamu untuk kabur atau bersembunyi. Tapi mengapa kamu malah nurut aja sama perintahnya untuk diam disini?" Tanya Adya lagi.
Mimi tertunduk lesu, "Jujur aku takut sama Bu Kinasih, Kak. Dulu aku pernah mencoba untuk kabur dari rumah ini saat dia lengah. Saat itu, aku justru berhasil keluar dari hutan ini hingga menuju pinggir jalan. Hanya tinggal menunggu orang atau kendaraan yang melintas aja, maka aku berhasil bebas dari cengkraman Bu Kinasih. Tapi sayang, Bu Kinasih datang lebih cepat daripada orang yang melintas dan aku berhasil ditangkapnya lagi untuk dibawa kembali kerumah ini."
"Lalu, apa yang terjadi padamu saat tertangkap lagi?" Tanya Adya.
"Dia menghukumku dengan sangat tega, kak. Aku nyaris saja mati kedinginan. Hukuman yang diberikan kepadaku itu sangat membuatku trauma. Aku jadi semakin takut jika dia marah. Karena trauma ini aku jadi takut untuk melarikan diri lagi, Kak. Bahkan sampai sekarang trauma ini masih belum hilang, Kak." Jawab Mimi sambil tertunduk.
"Apakah kamu nggak ada keinginan untuk kabur dari sini lagi?" Tanya Adya lagi.
"Pasti pengen, Kak. Tapi aku takut, Kak. Mentalku masih belum berani." Jawab Mimi dengan wajah memerah.
"Doakan aku! Aku berjanji kita akan bisa keluar dari sini! Aku akan mencari celah untuk itu." Kata Adya.
"Amin, Kak. Aku berharap Kakak berhasil dan bisa membawaku keluar juga dari sini." Jawab Mimi.
Adya menjulurkan tangannya keluar kandang untuk mengajak Mimi berjabat tangan. "Adya, itulah namaku. Nama kamu Mimi, kan?! Aku sering mendengar Wanita Psikopat itu menyebut namamu."
Mimi membalas jabat tangan dari Adya. "Sebenarnya nama asliku itu adalah Putri, Kak. Bu Kinasihlah yang mengganti namaku selama disini, dan memberi nama Mimi kepadaku."
"Oh, begitu.. Jadi aku memanggil namamu apa nih? Mimi atau Putri?" Tanya Adya lagi.
"Terserah Kakak aja, mau manggil aku dengan sebutan nama yang mana. Karena kedua nama itu sudah melekat pada diriku sekarang." Jawab Mimi.
"Kalau begitu mulai sekarang kita berteman ya, Mimi.!" Ujar Adya.
"Ya, Kak. Senang bisa berteman dengan Kakak." Balas Mimi dengan tersenyum, kemudian menoleh kearah Bu Kinasih yang baru selesai mencuci dan membilas pakaian, dan bergegas akan menjemur pakaian di samping kebun itu.
"Oh ya, ngomong-ngomong sudah berapa lama kami disekap disini?" Tanya Adya.
"Sudah lebih dari setahun, Kak." Jawab Mimi.
"Opps, sudah lama juga ternyata. Kalau boleh tahu, kenapa kamu disekap di sini? Apakah kamu Pelakor juga?" Adya bertanya lagi.
"Enggak, Kak. Awalnya pada saat itu hujan deras, aku berdua dengan temanku kehujanan dijalan. Kebetulan kami bertemu dengan Bu Kinasih kala itu, dan Bu Kinasih mengizinkan kami untuk berteduh dirumahnya ini. Tapi sayang, kami nggak sadar jika kami telah berteduh dirumah seorang wanita Psikopat gila ini, semua berakhir disini dan aku malah tinggal dirumah ini sampai sekarang." Jawab Mimi sambil mengingat awal kejadiannya.
"Lalu kemana temanmu itu sekarang?" Adya menjadi penasaran.
Mimi terdiam sejenak, "Dia sempat disekap di sebuah gudang melewati kebun itu. Dijadikan pelampiasan nafsu oleh bu Kinasih setiap hari selama berbulan-bulan dan akhirnya dibunuh."
Adya terkejut, "Apa? Dia dibunuh setelah berbulan-bulan dijadikan pelampiasan nafsu?"
"Iya, Kak." Jawab Mimi dengan singkat.
Adya tak bisa berkata-kata, dia teringat dirinya yang semalam menjadi pelampiasan nafsu oleh Bu Kinasih. Kini dia mulai kembali merasa ketakutan, karena berfikir bisa jadi dia bakal bernasib sama dengan temannya Mimi itu.
__ADS_1
+++BERSAMBUNG+++