
Apakah Bu Kinasih akan terus menjadikan bayinya, atau kini akan berubah menjadi pelampiasan nafsu, atau posisi menjadi keduanya yaitu sebagai bayinya dan sebagai pelampiasan nafsu?
...****************...
Waktu menunjukkan kisaran jam 23.00 menjelang tengah malam. Bu Kinasih yang sudah mengganti popok Mimi, bersiap untuk menidurkan Mimi karena memang sudah waktunya Mimi untuk tidur.
Seperti biasa, sebelum tidur, Bu Kinasih yang hanya memakai sarung untuk menutupi tubuhnya, berbaring diatas kasur kapuk dan membaringkan Mimi disampingnya sambil memeluk dan menyusui Mimi.
Mimi yang sudah hafal dengan rutinitasnya tersebut dan sudah menjadi peraturan tetap selama dirumah Bu Kinasih, bahwa jika dirinya disusui dimalam hari berarti tandanya Bu Kinasih memerintahkan dirinya untuk tidur. Mimi yang kembali harus menyusu sambil memejamkan matanya dengan kepala yang bersandar di lengan besar Bu Kinasih dan wajah yang menempel di buah dada dan tubuhnya di peluk erat Bu Kinasih menghisap putingg susu Bu Kinasih dengan lahap.
Bu Kinasih pun yang sedang ngelonin Mimi memandang Mimi yang sedang menyusu kepadanya dengan lahap itu, kembali merasa aneh dengan dirinya. Semakin Mimi menghisap putingg susunya, semakin naik juga level nafsu birahinya.
Semakin lama Mimi menyusu kepadanya, membuat Bu Kinasih semakin tak kuasa menahan nafsunya. Birahinya semakin melonjak pada dirinya membuat dirinya bergetar dan detak jantungnya semakin kencang.
Untuk menghadang tingkat nafsu birahinya yang semakin meningkat, Bu Kinasih terpaksa harus melepaskan putingg susunya dari mulut Mimi yang masih menghisapnya. Kemudian melepaskan tubuh Mimi dari dekapannya kemudian bangkit dan bergegas menuju lemari pakaiannya.
Bu Kinasih melepaskan sarung yang menutupi tubuhnya, kemudian mengambil bra dari dalam lemari pakaian bersama kaos dan celana panjang, kemudian memakainya. Setelah itu dengan tergesa-gesa Bu Kinasih pergi meninggalkan rumah dengan sepeda motor bututnya sendirian. Membiarkan Mimi sendirian didalam rumah malam itu.
Mimi kembali merasa heran, ada apa dengan Bu Kinasih yang tampak tidak seperti biasanya. Apalagi Bu Kinasih baru sebentar saja menyusuinya, padahal selama ini menyusuinya adalah hal yang paling disukai oleh Bu Kinasih. Bahkan Bu Kinasih tak pernah sedikitpun berniat untuk menyapih Mimi, dan hanya ingin terus menyusui Mimi selamanya.
Disisi lain, Mimi mulai tersenyum. Sebab Mimi mengira bahwa Bu Kinasih mulai bosan terhadapnya. Dengan begitu Mimi beranggapan apabila benar jika Bu Kinasih bosan terhadapnya, Mimi berharap bisa lebih mudah membujuk Bu Kinasih untuk membebaskan dirinya.
Tetapi disisi lain juga Mimi mulai merasa takut karena dikhawatirkan jika Mimi kembali salah prediksi lagi apabila Bu Kinasih bosan dengannya, Mimi justru malah akan dibunuh oleh Bu Kinasih.
...****************...
Ditengah malam Bu Kinasih berkeliling kota tanpa arah dengan sepeda motor bututnya itu.
Meninggalkan Mimi yang dikurung sendirian didalam kamar dengan suasana cahaya rumah yang remang.
Untuk berusaha meredakan nafsu birahinya itu kepada Mimi dengan cara melihat indahnya malam di kota yang tampak sunyi. Nyaris tidak ada kendaraan yang melintas disekitarnya, dan hanya sekitar sesekali saja ada kendaraan yang melintas.
Beberapa bulan yang lalu ada sahabatnya yaitu Dokter Rebecca yang juga sempat mengisi waktunya untuk saling melampiaskan nafsu. Tetapi sejak Adya meninggal, Dokter Rebecca sudah tidak pernah lagi berkunjung ke rumahnya
Bu Kinasih yang mengendarai sepeda motor bututnya tanpa arah, kemudian melihat kawanan Pelacur yang sedang mangkal di pinggir jalan raya.
Kawanan Pelacur itu tampak berpakaian seksi dengan dandanan yang menor. Bu Kinasih mengendarai sepeda motornya dengan pelan sambil memperhatikan mereka yang memancing para pria hidung belang yang akan melintas.
Bu Kinasih akhirnya melewati mereka yang sedang mangkal di pinggir jalan. Baru saja sekitar beberapa ratus meter melewati kawasan Pelacur itu, Bu Kinasih kemudian melihat tampak seorang Pelacur juga yang sedang duduk sendirian disebuah bangku panjang pinggir jalan.
Segera Bu Kinasih menghentikan dan memarkirkan kendaraannya tepat didepan Pelacur itu. Pelacur itu cukup cantik dengan pakaian tanktop warna pink dengan rambut hitam sebahu, dan rok sangat pendek. Kemudian Bu Kinasih menghampiri pelacur itu dan duduk disampingnya.
Pelacur itu memandang Bu Kinasih yang duduk disampingnya tanpa permisi terlebih dahulu.
"Kau sendirian?" Tanya Bu Kinasih kepada Pelacur itu.
"Tadinya saya duduk sendirian disini. Sekarang tidak, karena ada kamu yang duduk di sampingku." Jawab Pelacur itu sambil tersenyum. Tatapan mata gadis itu memang cukup menggoda bersama senyum bibirnya yang dilapisi lipstik tebal bewarna merah.
Pelacur itu tampak heran, karena Bu Kinasih terus memandanginya. "Sedang apa kau duduk disini? Saya sedang bekerja menunggu pelanggan. Bisakah kau pergi jauh-jauh?! Soalnya nanti pelanggan mengira aku mangkal disini sambil didampingi ibuku!"
"Justru itu aku duduk disini. Sebab aku disuruh seseorang untuk mencari perempuan sepertimu." Jawab Bu Kinasih yang jelas berbohong.
"Ha? Kau disuruh orang lain untuk mencari perempuan sepertiku? Hahahaha.. Baru kali ini aku dibooking seseorang sepertiku tetapi diwakilkan." ujar Pelacur itu sambil tertawa.
"Ya begitulah, dia memang sangat pemalu. Makanya dia menyuruhku untuk mencarikan perempuan sepertimu." Jawab Bu Kinasih lagi.
"Oh, begitu. Kenapa dia harus malu? Hmmm... Tapi dimana dia sekarang?" Tanya Pelacur itu.
"Dia ada di suatu rumah kecil yang sangat sepi. Sebenarnya dia adalah orang kaya dan memiliki rumah yang besar, hanya saja dia ingin bersenang-senang dengan suasana yang lain." Bu Kinasih terus berusaha meyakinkan Pelacur itu.
"Benarkah? Aku pikir dia ingin bersenang-senang di rumahnya yang lain agar nggak ketahuan istri dan anaknya." Ujar Pelacur itu dengan cukup heran.
"Dia masih belum punya istri, dan masih muda. Tapi soal alasannya mengapa dia pengen seperti itu, kita nggak usah pedulikan hal itu. Yang penting bayarannya sesuai, bukan?!" Kata Bu Kinasih.
"Hmmm.. betul juga sih. Tapi kalau tempatnya agak jauh, bayarannya cukup tinggi looh..!!" Kata Pelacur itu.
__ADS_1
"Soal bayaran kamu nggak perlu khawatir, kalau kamu bisa memuaskannya maka kamu pasti akan di beri bayaran dua kali lipat, bahkan lebih. Kamu tinggal minta langsung saja dengannya. Saya hanya sekedar menyalurkan saja, agar kamu dan dia bisa bertemu. Selanjutnya tinggal kamu yang tentukan harganya." Ujar Bu Kinasih.
"Beneran tuh kalau saya yang tentukan harga, dia bakal ngasih saya bayaran dua kali lipat?" Pelacur itu mulai tergiur.
"Yang penting kamu bisa memuaskannya! Ingat, pria ini adalah pemuda kaya! Baginya uang nggak masalah, yang penting adalah kepuasan!" Cetus Bu Kinasih yang terus meyakinkan Pelacur itu.
"Baiklah, saya setuju! Kalau begitu kapan kita bertemu dengan pria itu?" Pelacur itu akhirnya tergiur dengan bujukan Bu Kinasih yang memang mahir berkata-kata untuk membujuk korbannya.
"Ayo, ikutlah denganku. Biar aku yang mengantarkanmu kepadanya." Bu Kinasih mengajak Pelacur itu.
"Hmmm.. Okelah kalau begitu." Akhirnya Pelacur itu bersedia mengikuti ajakannya.
Bu Kinasih kemudian menghampiri sepeda motornya, kemudian bersiap untuk mengendarainya. Sedangkan Pelacur itu, duduk dibonceng dibelakang Bu Kinasih. Tanpa berbasa-basi lagi, Bu Kinasih akhirnya membawa Pelacur itu dengan mengendarai sepeda motor bututnya.
...****************...
Selama dalam perjalanan dengan menggunakan sepeda motornya, Bu Kinasih berbincang-bincang dengan Pelacur tersebut.
"Oh ya, Bu. Ngomong-ngomong, ibu ini siapanya pria itu? Pembantunya?" Tanya Pelacur itu.
"Ya, begitulah. Oh ya, siapa nama kamu?" bu Kinasih bertanya kembali.
"Namaku Lola." Jawab Pelacur itu yang ternyata namanya adalah Lola. "Kalau nama ibu sendiri?"
"Kinasih. Panggil aja aku Bu Kinasih." Jawab Bu Kinasih dengan singkat. "Oh ya, kenapa kamu memilih pekerjaan ini?"
"Aku punya ibu yang sakit keras dan harus dibiayai. Ibuku nggak bisa bangun dan hanya berbaring di ranjang saja." Jawab Lola, "Sebenarnya pengen sih bekerja ditempat yang lebih layak. Tapi aku nggak punya pendidikan. SD pun nggak lulus."
"Jadi kamu merawat ibumu sendirian? Lalu dimana saudaramu?" Bu Kinasih bertanya lagi.
"Aku cuma punya satu kakak laki-laki. Tapi sejak ibuku cerai dengan ayahku. Kakakku justru lebih memilih ikut dengan ayahku daripada ibuku. Dan sekarang, nggak tahu dimana keberadaannya." Jawab Lola.
...****************...
Akhirnya Bu Kinasih yang membonceng Lola, tiba dirumah Bu Kinasih. Lola merasa heran dengan suasana rumah Bu Kinasih yang tampak gelap dan sangat kumuh.
"Ya, Pria itu ada didalam." Jawab Bu Kinasih dengan wajah yang meyakinkan.
Lola semakin bingung, "Aneh, aku baru tahu ada orang kaya yang mau bersenang-senang dirumah yang seperti ini."
"Entahlah, dia hanya bilang ingin suasana yang berbeda untuk bersenang-senang. Aku pun nggak berani bertanya lebih detail kepadanya. Apalagi dia majikanku." Jawab Bu Kinasih. "Sudahlah, kita nggak usah pikirkan itu, yang penting kamu mendapat bayaran yang tinggi. Itu saja sudah cukup, bukan!?"
"Hmmm... Baiklah..!" Lola menganggukkan kepalanya meskipun dalam hatinya masih merasa bingung.
"Ayo masuk!" Bu Kinasih mengajak Lola si Pelacur itu untuk masuk ke dalam rumahnya. Lola mengikuti Bu Kinasih dari belakang, sambil melihat-lihat suasana rumah itu.
Bu Kinasih membuka pintu depan dan segera masuk kedalam rumah diikuti oleh Lola dari belakang.
"Silahkan duduk!" Ujar Bu Kinasih. Lola kemudian duduk di sofa sambil memperhatikan seisi ruangan yang tampak kumuh tersebut. Lola juga merasa aneh, karena dirumah tersebut tidak ada aliran listrik dan hanya menggunakan cahaya lampu semprong.
"Mana pria yang Bu Kinasih ceritakan tadi?" Tanya Lola.
"Mungkin dia sedang menuju kemari. Ditunggu aja dulu! Saya ambilkan minum." Bu Kinasih menuju dapur untuk memberikan segelas air putih. Tetapi tanpa disadari Lola, air putih itu telah diberikan sebuah obat seperti serbuk kecil oleh Bu Kinasih.
Bu Kinasih menuju ke ruang tamu tempat dimana Lola sedang duduk di sofa, sambil membawakan segelas air putih yang sudah dicampur obat misterius itu untuk Lola.
"Silahkan diminum dulu. Paling sebentar lagi majikan saya datang." Ujar Bu Kinasih yang menyuguhkan air putih itu kepada Lola.
Lola yang tidak merasa curiga langsung saja meminum air putih itu hingga separuh gelas. Kemudian menaruhnya lagi diatas meja.
"Kalau boleh tahu, apakah benar ini juga rumah pria itu?" Tanya Lola.
"Bukan, ini rumah saya." Jawab Bu Kinasih sambil memandang wajah Lola dengan sangat tajam.
Lola kembali merasa heran, masa sih ada seorang majikan mengajak seorang pelacur untuk bersenggama di rumah pembantunya. Apalagi rumah pembantunya sangat kumuh seperti ini.
__ADS_1
"Kau disini tinggal sendirian?" Lola bertanya lagi.
"Aku disini hanya tinggal berdua dengan bayiku." Jawab Bu Kinasih.
"Ha? Bu Kinasih tinggal dirumah ini hanya berdua dengan bayi?" Lola terkejut. "Jadi tadi ibu bepergian tengah malam begini meninggalkan bayi ibu sendirian didalam rumah?"
"Ya, begitulah. Tapi aku tahu kapan bayiku tidur pulas dan tidak terbangun." Jawab Bu Kinasih.
Secara tiba-tiba, tubuh Lola bergetar, Lola pun terkejut ketika dia kesulitan mengangkat tangannya.
"Kamu nggak usah terkejut, obatnya berarti mulai bereaksi." Jawab Bu Kinasih dengan santai.
"Ha? Apa maaaakkksss............" Belum selesai berkata-kata, tiba-tiba Lola pun tak bisa menggerakkan mulutnya. Seluruh tubuhnya mendadak lumpuh.
"Kamu nggak usah khawatir, obat itu bereaksi hanya sementara dan tidak sakit. Paling sanya sekitar satu jam." Kata Bu Kinasih, yang kemudian bangkit menuju sesuatu dari dalam sebuah laci kayu yang berada diruang tamu tersebut dan ternyata adalah rantai dan gembok.
"Kau ternyata masih lugu untuk menjadi seorang pelacur. Nggak ada pria lain disini. Yang ada hanya kita bertiga, aku, kamu, dan bayiku." Kata Bu Kinasih yang kemudian mengikat kedua tangan dan kaki Lola dengan rantai dan gemboknya.
Lola yang masih lumpuh sementara karena pengaruh obat itupun tak bisa mengelak sedikitpun dari apa yang dilakukan Bu Kinasih terhadapnya. Tetapi tak lama kemudian, Lola langsung tak sadarkan diri.
...****************...
Setelah dirinya sadar, dia terkejut saat dia masih duduk di sofa dalam keadaan dirantai kedua tangan dan kakinya, melihat Bu Kinasih sedang menggendong seorang gadis dipangkuannya yang berpenampilan seperti bayi.
"Perkenalkan, ini adalah bayi kecilku yang bernama Mimi." Kata Bu Kinasih kepada Lola yang tampak terkejut memandang Mimi.
Mimi pun memandang Lola dengan wajah memprihatinkan, karena tak menyangka bahwa induk susunya yaitu Bu Kinasih itu membawa gadis baru untuk dijadikan korban.
"Kenapa kau mengikatku? Apa yang mau kau lakukan padaku? Dan mana pria itu?" Tanya Lola yang masih duduk terikat dengan rantai dikedua tangan kakinya.
"Pria yang mana? Khan sudah saya bilang, disini hanya ada kita bertiga, aku, kamu, dan bayiku ini." Jawab Bu Kinasih
"Bayi??" Lola merasa heran melihat gadis dewasa yang berbaring dipangkuan Bu Kinasih itu dan masih dikatakan bayi.
Tanpa basa-basi basi lagi, Bu Kinasih langsung memamerkan suatu rutinitasnya kepada Lola, yaitu menyusui Mimi. Bu Kinasih mengangkat baju kaosnya hingga bra yang dipakainya terlihat, kemudian mengeluarkan buah dada besarnya dan langsung menyusui Mimi.
"Kau pasti pengen berkenalan dengan bayiku ini, khan? Tunggu sebentar ya, aku masih netein dia dulu." Kata Bu Kinasih sambil memamerkan penampilan Mimi yang sedang menyusu kepadanya.
"Di...dia......" Mata Lola melotot memandang kejadian dihadapannya. Bahkan Lola semakin terkejut dan terheran-heran karena melihat sosok gadis yang sudah dewasa tetapi masih menyusu kepada ibunya.
"Kenapa? Kau heran melihat seorang ibu sedang netein bayinya? Apakah kau belum pernah melihat bayi sedang netekk kepada ibunya?" Tanya Bu Kinasih yang sedang menyusui Mimi sambil tersenyum kepada Lola.
Melihat kejadian ini Lola mulai tampak ketakutan, dia menyadari bahwa dia dalam bahaya karena telah masuk kedalam rumah orang gila. "Tolong lepaskan aku! Apa yang kau mau dariku?"
"Kau nggak akan bisa lari dari sini. Karena aku sudah berpengalaman dalam hal menculik. Bahkan hingga saat ini, orang-orang yang aku culik belum pernah sekalipun berhasil melarikan diri. Semuanya yang aku culik, pasti hidupnya berakhir ditempat ini." Kata Bu Kinasih sambil menimang-nimang tubuh Mimi yang sedang disusuinya.
"Tolong lepaskan aku!! Apa maumu menculik aku?! Aku ini hanyalah seorang pelacur!!" Lola berusaha melepaskan tangan dan kakinya dari rantai yang mengikatnya, tetapi tidak berhasil.
"Aku memang membutuhkan Pelacur sepertimu untuk aku nikmati." Jawab Bu Kinasih.
"Maksudmu? Kau seorang lesbian?" Tanya Lola yang semakin ketakutan.
"Ya begitulah, aku akan menikmati tubuhmu setiap hari, untuk itu aku menyekapmu dan membiarkanmu selamanya disini." Jawab Bu Kinasih. Sementara itu Mimi tetap lahap menyusu kepada Bu Kinasih.
"Tolong lepaskan aku!! Aku sudah katakan padamu tadi, aku punya ibu yang sedang sakit keras dirumah, dia nggak bisa bangun dari tidurnya. Hanya aku yang biasanya memberinya makan. Kalau aku tidak pulang, siapa yang akan memberinya makan?" Lola mulai memohon kepada Bu Kinasih.
"Aku nggak peduli dengan kisahmu itu." Cetus Bu Kinasih.
"Kenapa kau menyekapku hanya untuk menikmati tubuhku? Bukankah aku ini seorang Pelacur. Kau bisa menikmati tubuhku sesuka hatimu jika kamu membayarnya. Aku pun pasti akan melayanimu sebagai pelangganku." Ujar Lola yang berusaha terus membujuk Bu Kinasih.
"Kau mampu beradegan lesbian?" Tanya Bu Kinasih.
"Ya, kamu adalah pelanggan Lesbian pertamaku. Meskipun aku bukan seorang lesbian, tetapi karena kau pelangganku maka aku akan tetap secara profesional melayanimu. Aku janji! Yang penting jangan sekap aku disini!" Bujuk Lola.
"Justru itu aku menyekapmu disini. Dengan menyekapmu aku bisa menikmati tubuhmu sesuka hatiku dan kapanpun aku mau tanpa harus membayarmu." Jawab Bu Kinasih. "Nah, untuk ibumu dirumah yang sedang sakit keras karena tak ada yang memberinya makan karena kamu akan tinggal disni selamanya, makan biarkanlah ibumu akan mati disana! Yang penting kamu tetapi disni melayaniku!"
__ADS_1
+++BERSAMBUNG+++