
"Justru itu aku menyekapmu disini. Dengan menyekapmu aku bisa menikmati tubuhmu sesuka hatiku dan kapanpun aku mau tanpa harus membayarmu." Jawab Bu Kinasih. "Nah, untuk ibumu dirumah yang sedang sakit keras karena tak ada yang memberinya makan karena kamu akan tinggal disni selamanya, makan biarkanlah ibumu akan mati disana! Yang penting kamu tetapi disini melayaniku!"
Mendengar perkataan Bu Kinasih itu, Lola menjadi semakin panik dan berusaha untuk melepas rantai di tangan dan kakinya sekuat tenaga, tetapi sudah pasti tetap tidak berhasil. "Jangan..!! Aku nggak ingin ibuku mati..!! Tolong, aku janji akan melayanimu kapanpun kamu mau. Tapi tolong lepaskan aku..!! Aku nggak bisa tinggal disini, karena aku masih punya orangtua yang harus aku beri makan!"
"Kau diamlah dulu! Aku masih sibuk netein bayiku! Nanti setelah bayiku selesai ku tetein baru giliranmu untuk memuaskan aku!" Cetus Bu Kinasih dengan pandangan fokus kepada Mimi yang sedang disusui olehnya dengan mata terpejam.
Lola kemudian memandang wajah Mimi si bayi dewasa yang sedang berbaring dipangkuan Bu Kinasih sambil disusui itu. Lola mengira bahwa Mimi adalah memang anak kandung Bu Kinasih yang meskipun sudah gadis tetapi masih suka netekk.
Tetapi setelah Lola memperhatikan wajah Mimi tidak ada sedikitpun pun mirip dengan Bu Kinasih. Meskipun wajah Mimi tampak Kusam, tetapi Mimi tetap terlihat cantik, ditambah lagi kulitnya yang putih mulus jika dibandingkan dengan wajah Bu Kinasih yang berkulit hitam dan wajahnya sangatlah tidak cantik.
Meskipun Mimi tampak tenang sambil memejamkan matanya dan menghisap derasnya Asi yang mengalir dari putingg susu berkulit hitam pekat itu dengan lahap, tetapi hanya dengan melihat dari bentuk kerutan alis sangat jelas menunjukkan bahwa batin Mimi sebenarnya begitu tersiksa.
Membuat Lola akhirnya menyadari dan yakin bahwa sebenarnya gadis itu juga sebenarnya adalah korban penculikan dan intimidasi dari ibu-ibu gila bertubuh gemuk dan berkulit hitam ini yaitu Bu Kinasih.
Setelah beberapa lama Bu Kinasih yang masih menyusui Mimi yang sudah tertidur pulas, kemudian bangkit dari tempat duduknya untuk membawa Mimi yang masih disusuinya kedalam kamar dan membiarkan Lola duduk terikat sendirian di sofa.
Tak butuh waktu yang lama Bu Kinasih kemudian keluar dari pintu kamar dan mengunci pintu kamar itu, kemudian kembali menghampiri Lola yang masih tetap ditempatnya.
"Bersiaplah, saatnya malam ini adalah waktu untuk kita berdua." Ujar Bu Kinasih.
Bu Kinasih kemudian menarik wajah Lola dan mencium bibir Lola dengan agresif. Meskipun Lola adalah seorang Pelacur yang sudah terbiasa untuk berciuman dengan berbagai pria, tetapi karena dia adalah wanita normal dan bukan seorang lesbian, kali ini dia tetap merasa jijik ketika bibir Bu Kinasih yang sedang agresif melumatt bibirnya dengan penuh nafsu.
Tetapi karena perasaan takut dengan sosok wanita gemuk besar dan berkulit hitam yang bernama Bu Kinasih ini, Lola berusaha untuk menikmatinya.
Sesekali Lola terlihat ingin muntah tetapi dengan sekuat tenaga menahannya. Lola sang Pelacur tetap berusaha untuk melayani nafsu birahi Bu Kinasih.
Kini Bu Kinasih kemudian melepas seluruh pakaiannya sehingga tak memakai kain sehelai pun. Mata Lola kemudian melotot ketika semakin nampak tubuh hitam gemuk dan besar, dengan kedua buah dada yang sangat besar yang juga hitam menggantung di dada Bu Kinasih.
Lola semakin tampak ingin muntah ketika melihat seluruh tubuh Bu Kinasih yang tampak telanjang tak memakai pakaian sehelai pun, dengan tubuh gemuk besar beserta lengan besar dan perut dengan lekukan terlipat-lipat, ditambah lagi kedua buah dada besarnya dengan putingg susu berukuran lebih lebar juga memanjang dikelilingi oleh lingkaran aerolla hitam pekat dan lebar, menambah rasa mual terhadap Lola yang melihatnya sambil membayangkan jika tubuh besar hitam itu sungguh menggarap tubuhnya.
Tanpa pikir panjang lagi, Bu Kinasih langsung menggarap tubuh Lola si Pelacur itu di sofa. Dengan sangat agresif Bu Kinasih menggarap tubuh Lola di sofa hingga tanpa sadar mereka berdua terjatuh dilantai. Membuat malam ini adalah sebagai malam yang sangat buruk untuk si Pelacur yang harus melayani nafsu birahi seorang wanita lesbian dan memiliki gangguan kejiwaan yang parah.
Bu Kinasih yang sudah terlalu lama menahan nafsu birahinya sejak kepergian Adya, akhirnya dengan sangat agresif tidak melewatkan malam ini untuk melampiaskan seluruh nafsu birahinya terhadap Lola. Bahkan keagresifan yang ditunjukkan Bu Kinasih kali ini lebih dari biasanya.
Lola dipaksa untuk mencium dan menjilati bagian lubang sensitif Bu Kinasih yang dipenuhi bulu yang cukup lebar. Wajah Lola tampak semakin keras untuk berusaha menahan muntahnya. Mata Lola terpejam dengan kuat sehingga alisnya semakin mengkerut karena tak kuat melihatnya.
Ditambah lagi tangan dan jari Lola dituntun oleh tangan Bu Kinasih untuk masuk kedalam lubang goa sensitif miliknya itu. Satu tangan besar Bu Kinasih lagi menjambak rambut Lola dan mendorong kepala Lola untuk menjilati perutnya yang tampak berisi lemak dan terlipat-lipat itu hingga ke dua buah dadanya. Alis sampai wajah Lola semakin mengkerut untuk tetap berusaha bertahan agar tidak muntah.
Kedua tangan dan kaki Lola terlihat berusaha melepaskan rantai yang mengikatnya itu, tetap tidak berhasil karena rantai begitu kuat.
Kepala Lola pun yang dijambak rambutnya, didorong untuk dituntun kearah buah dada Bu Kinasih yang sangat besar itu untuk dijilati, dan dipaksa untuk menghisap putingg susunya sehingga tiba-tiba air susunya mengalir deras kedalam mulut Lola dan tanpa disengaja langsung tertelan didalam mulut Lola.
"UUWWWWWEEEKKKK...!!" Lola akhirnya tak kuasa menahan muntahnya dan langsung muntah ke dada Bu Kinasih.
"Opps..!! Maaf..!! Maaf..!!" Lola sangat terkejut melihat bekas muntahnya menempel di dada Bu Kinasih karena khawatir Bu Kinasih akan marah. Tapi ternyata Bu Kinasih tidak mempedulikannya dan tetap agresif memanjakan nafsu birahinya ke tubuh Lola.
...****************...
Cukup lama Bu Kinasih menggarap tubuh Lola, akhirnya selesai juga dan mereka sama-sama terbaring di lantai dalam keadaan masih telanjangg. Lola yang tampak kelelahan dengan kedua tangan dan kakinya masih terikat dengan rantai, bersandar di dada Bu Kinasih yang juga terbaring dilantai.
__ADS_1
Wajah Bu Kinasih tampak bahagia karena akhirnya nafsunya telah terlampiaskan. Sedangkan Lola yang tampak sangat kelelahan akibat permainan agresif dari Bu Kinasih, membuatnya sangat lemas dengan mata terpejam dan nafas kembang kempis, hanya bisa menyandarkan kepalanya di dada Bu Kinasih yang masih tercium aroma bekas muntahannya.
Tak lama kemudian Bu Kinasih bangkit dari lantai dan mengangkat tubuh Lola ke sofa. Bu Kinasih kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan bekas muntahan dari dalam mulut Lola tadi yang masih membekas di dadanya. Sekaligus menutupi tubuhnya dengan sarung yang biasa dia pakai pada malam hari untuk tidur.
Mumpung Bu Kinasih masih belum terlihat, Lola yang masih berbaring di sofa ruang tamu langsung menjatuhkan diri ke lantai dan menggeserkan tubuhnya menuju pintu depan untuk berusaha melarikan diri.
Tetapi ketika sudah berada didepan pintu, Lola tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya karena kedua tangan dan kakinya terikat dengan kuat.
Hingga akhirnya Bu Kinasih kembali dari membersihkan dadanya dan sudah menutupinya dengan sarung menuju ruang tamu untuk menghampiri Lola.
Lola yang merasa ketakutan karena dirinya terlihat oleh Bu Kinasih sedang berada didepan pintu pertanda dirinya akan melarikan diri. Tetapi Bu Kinasih hanya tersenyum dan langsung menghampiri dirinya.
Bu Kinasih mengangkat tubuh Lola yang masih telanjangg menuju dapur dan mengambil lampu senter yang berada diatas lemari kayu yang setengah jabuk. Kemudian Bu Kinasih yang masih mengangkat tubuh Lola menuju teras belakang, kemudian berjalan kaki melewati kebun kecilnya yang malam itu terlihat sangat gelap.
Suasana malam yang begitu gelap yang dikelilingi pepohonan besar hanya dibekali lampu senter untuk mengisi cahaya, Bu Kinasih terus berjalan sambil mengangkat tubuh Lola di bahunya.
"Maaf, Bu. Saya mau dibawa kemana?" Lola yang tubuhnya diangkat tampak kebingungan karena suasana malam itu sangat menakutkan.
"Ketempat tinggalmu yang baru." Jawab Bu Kinasih yang begitu singkat.
"Tempat tinggalku yang baru? Ma..maksudnya?" Lola semakin merasa kebingungan dan ketakutan.
"Nanti kau akan tahu sendiri." Jawab Bu Kinasih lagi yang terus berjalan melintasi tempat gelap itu.
Akhirnya Kinasih sampai kesebuah gudang miliknya yang dulu pernah digunakan untuk menyekap Dinar dan Adya. Bu Kinasih membuka pintu gudang itu, lalu masuk membawa Lola kedalam gudang yang sangat gelap tanpa ada lampu penerangan sedikitpun.
Lola akhirnya menyadari bahwa dirinya akan disekap di gudang itu. "Bu, tolong, jangan biarkan aku tinggal disini!
"Bu, tolong jangan biarkan aku disini! Aku mohon!" Rasa takut Lola semakin tak bisa tertahankan.
"Aku harus pergi untuk menemani bayiku tidur. Oh ya, disebelah gudang ini ada tiga kuburan. Jadi sudah dipastikan gudang ini begitu angker." Kata Bu Kinasih yang menakuti Lola.
"Jangan, Bu! Jangan tinggalkan aku sendirian disini!" Lola pun tak kuasa menahan ketakutannya sehingga membuat dirinya menangis.
Bu Kinasih pun pergi begitu saja keluar dari gudang yang gelap itu, dan menguncinya dari luar.
"BU..!! TOLONG LEPASKAN AKU BU..!! TOLOONGG..!! DISINI GELAP BU..!! AKU TAKUTT..!!" Terdengar suara teriakan Lola dari dalam gudang. Tetapi Bu Kinasih malah tersenyum dan tidak mempedulikannya, dan Bu Kinasih kemudian pergi begitu saja dari gudang itu, membiarkan Lola sendirian didalam gudang tanpa cahaya sedikitpun.
Didalam gudang, Lola menoleh ke kanan dan kirinya, semuanya tampak gelap. Sehingga dia tak bisa melihat apapun disekelilingnya.
"TOLOONGG....!! TOLOONGG...!! TOLOONGG....!!" Berkali-kali Lola berteriak meminta bantuan, tetapi tak ada satupun orang yang menjawab teriakannya.
Sadar jika teriakannya hanya sia-sia, Lola yang sangat ketakutan ditempat gelap seperti itu hanya bisa menangis meratapi nasibnya saat ini.
...****************...
Bu Kinasih masuk kedalam kamar, tampak terlihat Mimi sedang tertidur pulas diatas kasur kapuknya sambil menghisap empeng di mulutnya. Tampak wajah lugu Mimi yang membuat Bu Kinasih tersenyum memandangnya dengan tatapan penuh kasih sayang.
Tak perlu menunggu lama Bu Kinasih langsung berbaring di samping Mimi, kemudian membalikkan tubuh Mimi yang tengah tertidur pulas secara perlahan ke hadapan dadanya, kemudian memeluk tubuh Mimi dengan erat sambil mencium kening Mimi.
__ADS_1
Mimi dikelonin seperti guling oleh Bu Kinasih sambil menepuk-nepuk bokong Mimi dengan lembut. Mata Mimi yang sayu sempat terbuka sejenak dan menyadari bahwa tubuhnya sudah dipeluk erat dan wajahnya sudah menempel di dada Bu Kinasih, kemudian mata Mimi terpejam kembali untuk melanjutkan tidurnya kembali.
Bu Kinasih yang sedang ngelonin Mimi seperti guling sambil menepuk bokong Mimi dengan lembut, tampak tersenyum karena dirinya sudah merasa lega, karena akhirnya nafsu birahinya terlampiaskan juga malam ini.
...****************...
Siang hari, secara tiba-tiba Dokter Rebecca datang kerumah Bu Kinasih. Saat itu Bu Kinasih yang hanya sedang memakai bra putih dan celana pendek hitam sedang menggendong Mimi menggunakan kain jarik yang dibentuk menjadi gendongan bayi, dan berdiri menimang-nimang tubuh Mimi yang digendongnya sambil dengan kain jarik itu sambil melihat pemandangan kebun di teras belakang rumahnya. Karena Bu Kinasih tahu, pemandangan kebun itu adalah tempat yang disukai oleh Mimi.
"Sudah cukup lama kita tak bertemu Bu Dokter." Kata Bu Kinasih yang mulai ngobrol dengan Dokter Rebecca sambil berdiri dan menikmati pemandangan kebun.
"Ya begitulah. Maafkan aku Bu Kinasih karena terlalu sibuk mengurusi pekerjaan dan anjing-anjingku." Jawab Dokter Rebecca.
"Aku pikir Bu Dokter sudah melupakan kami disini." Ujar Bu Kinasih.
"Nggak mungkin aku melupakanmu dan Mimi. Karena kamu juga adalah salah satu orang yang berpengaruh dalam hidupku." Jawab Dokter Rebecca.
Dokter Rebecca kemudian mendekati Mimi yang sedang digendong oleh Bu Kinasih didalam kain jarik, kemudian membelai rambut Mimi. "Hai Mimi sayang, kamu terlihat makin cantik. Wajar jika Mamamu sangat menyayangimu."
Mimi hanya mengangguk pelan sambil memandang wajah Dokter Rebecca yang tengah tersenyum kepadanya sambil membelai rambutnya.
"Oh ya Bu Kinasih, tujuanku kesini hanya untuk menunjukkan ini!" Dokter Rebecca langsung memperlihatkan sebuah undangan pernikahan kepada Bu Kinasih.
Sambil menimang-nimang tubuh Mimi, Bu Kinasih kemudian bergegas membuka undangan pernikahan itu yang terpampang jelas foto kedua mempelai pengantinnya.
"Aryan?" Bu Kinasih pun terkejut, ternyata di foto undangan itu adalah foto Aryan mantan kekasih Mimi sebagai mempelai prianya.
Mata Mimi pun langsung terkejut melihat foto mempelai pria di undangan itu adalah seorang pria yang sangat dicintainya hingga sekarang ini.
"Mengapa Bu Dokter tunjukkan foto undangan ini kepadaku? Darimana Bu Dokter dapat undangan ini?" Bu Kinasih tampak heran.
"Aku tahu siapa mempelai pria itu. Meskipun aku tidak mengenalnya, tapi aku hafal betul wajahnya dan aku tahu kalau dia adalah kekasih Mimi." Jawab Dokter Rebecca.
"Ibu tahu darimana jika dia adalah kekasih Mimi?" Bu Kinasih pun merasa bingung.
"Apakah kau lupa siapa sosok Mimi yang sekarang telah menjadi bayimu ini? Dia adalah sahabat anak pemilik hotel ternama bernama. Yang anaknya sudah kau bunuh bernama Dinar itu." Jawab Dokter Rebecca. "Aku mengetahui siapa pria ini, aku jadi hafal wajahnya karena wajahnya dulu sering muncul diberita karena hilangnya kedua gadis yang kau bunuh dan kau culik hingga sekarang ini. Bukankan dia dulu sempat ditahan pihak kepolisian karena dituduh bertanggung jawab atas hilangnya kedua gadis itu. Makanya aku mengetahui jika pria ini adalah mantan kekasih Mimi."
"Ya, bahkan dulu beritanya terus ditayangkan setiap hari selama setahun penuh. Sehingga kita sendiri jadi hafal wajah mereka semua." Kata Bu Kinasih. "Dasar orang kaya, jika keluarganya mendapati masalah, maka media dengan cepat memberitakannya."
"Bukan salah dari media, Bu Kinasih. Tapi memang mereka langsung menghubungi media untuk mempublikasikannya dengan tujuan agar media dapat ikut berperan membantu dalam pencarian keluarganya yang hilang itu." Jawab Dokter Rebecca.
"Hmmm.. Begitu, ya?! Oh ya, darimana Bu Dokter mendapatkan undangan ini?" Tanya Bu Kinasih lagi.
"Kemarin aku menemani sahabatku yang bernama Jeevan untuk menemaninya menemui pemilik hotel itu untuk melakukan sebuah kerjasama bisnis. Pemilik hotel itulah yang memberikan undangan pernikahan itu kepada Jeevan, dan menyuruh kami hadir di acara pernikahan itu. Karena yang jadi mempelai wanitanya adalah keponakan pemilik hotel itu, sepupu dari anak gadisnya yang bernama Dinar dan telah lama menghilang." Jawab Dokter Rebecca.
"Jadi kesimpulannya, ternyata kekasih barunya Aryan itu adalah sepupunya Dinar? Dan Aryan akan menikah dengan sepupunya Dinar?" Tanya Bu Kinasih lagi.
"Ya begitulah." Jawab Dokter Rebecca. "Akad dan acara resepsinya akan dilaksanakan besok pagi. Aku akan menemani Jeevan untuk hadir ke acara itu."
Mimi yang masih digendong oleh Bu Kinasih, tanpa berkata-kata lagi langsung mengeluarkan air matanya. Dan seketika Mimi langsung menangis didalam kain jariknya. Sedangkan Bu Kinasih dan Dokter Rebecca langsung tertawa terbahak-bahak melihat Mimi yang tampak menangis dengan penuh patah hati.
__ADS_1
+++BERSAMBUNG+++