
"Saat ini, aku merasa seperti kalian." Ucap Kinasih yang berbicara kepada ketiga bonekanya itu. "Aku merasa seperti boneka yang hanya diam didalam kamar. Dan hanya menunggu pemilikku datang untuk bermain denganku."
...****************...
Kisaran jam 20.00, Bu Kinasih belanja kesebuah Minimarket untuk membeli buah-buahan dan makanan instan untuk persediaan dirumah.
Ketika mengantri di deretan kasir, didepannya ada sepasang pria dan gadis muda sedang ikut mengantri sambil bergandengan tangan, yang menandakan bahwa orang yang mengantri didepan Bu Kinasih ini adalah sepasang kekasih.
Pria ini lumayan tampan, kurus dan tinggi berkulit putih, bersama dengan seorang gadis yang berkulit putih berambut sebahu, tinggi, postur tubuh, bahkan usianya kira-kira seusia dengan Mimi.
Bu Kinasih tampak mengenali siapa pria itu, tetapi tak mengenali sosok gadisnya. Sambil berdiri berjejer, berbaris dengan antrian yang cukup panjang dan sambil menunggu giliran membayar, Bu Kinasih mendengarkan percakapan kedua sejoli itu.
Pria itu berkata kepada gadisnya, "Oh ya, tadi orangtuaku meneleponku pas aku di toilet tadi. Mereka sudah di pertengahan perjalanan, kalau nggak ada halangan sekitar dua jam lagi mereka tiba."
"Aku jadi deg-degan, seperti apa besok saat orangtuamu berkunjung ke rumahku untuk melamarku." Jawab gadis itu
"Kau tak perlu khawatir, sayang! Semua akan baik-baik saja. Saya yakin, lamaran besok akan berjalan lancar." Pria itu tampak tersenyum untuk menenangkan hati kekasihnya yang tampak gelisah.
Bu Kinasih terus mendengarkan percakapan mereka yang menjelaskan bahwa kedua sejoli itu akan melakukan acara lamaran besok. Si pria itu menunggu orangtuanya datang yang jelas dari luar kota untuk hadir di acara lamarannya besok hari, dan jelas tak lama lagi kedua sejoli itu akan menikah.
Bu Kinasih yang mendengarkan percakapan kedua sejoli itu tampak ikut tersenyum bahagia. Entah apa yang berada didalam pikiran Bu Kinasih sehingga membuatnya ikut merasakan kebahagiaan terhadap kedua sejoli itu.
Kedua sejoli itu akhirnya menyadari jika seseorang yang mengantri dibelakangnya yaitu Bu Kinasih itu telah menguping pembicaraan mereka.
"Ibu mendengarkan omongan kami?" Tanya gadis itu.
"Tentu saja, kalian berbicara cukup jelas." Jawab Bu Kinasih. "Saya senang mendengarkan kebahagiaan kalian, semoga acara lamarannya besok lancar, ya!"
"Amin. Terima kasih ya, Bu!" Jawab pria tampan itu dengan ramah.
Mereka bertiga akhirnya malah saling berkenalan dan ngobrol sambil menunggu giliran untuk membayar di kasir.
...****************...
Kisaran jam 21.00 Bu Kinasih baru tiba dirumahnya dengan membawa barang belanjaan dari minimarket tadi, dan sebungkus nasi goreng.
Rumah itu tampak gelap tanpa ada cahaya sedikitpun, yang dikarenakan Bu Kinasih yang meninggalkan rumah itu dari tadi sore dan tak sempat menyalakan lampu semprong.
Mimi yang dipastikan berada didalam kegelapan dan dikurung didalam kamar sendirian, tak mungkin bisa menyalakan lampu semprong yang biasa menerangi isi seluruh ruangan rumah tersebut.
Bu Kinasih masuk kedalam rumah, langsung menyalakan semua lampu semprong di setiap ruangan rumahnya itu, termasuk kamar yang didalamnya ada Mimi yang sejak tadi merasakan kegelapan sendirian sambil menghisap empengnya.
Bu Kinasih mencium aroma bau kotoran tinja dari dalam popok Mimi, yang menjelaskan bahwa Mimi sudah dari tadi berak didalam popoknya.
Kemudian Bu Kinasih menggendong tubuh Mimi dan dibawa ke kamar mandi untuk membuang popok berisi kotoran tinja itu dan membersihkan kotoran tinja yang menempel di bokong hingga bagian sensitif Mimi.
Setelah itu Bu Kinasih menggendong Mimi lagi dan membawanya kembali kedalam kamar.
Seperti biasa Mimi dibaringkan di atas kasur kapuk. Kemudian mengolesi bagian sensitif Mimi dengan bedak bayi, setelah itu memakaikan popok yang baru kepada Mimi.
Setelah selesai memakaikan popok kepada Mimi, Bu Kinasih menggendong Mimi lagi menuju dapur dan didudukkan di kursi meja makan, dan Bu Kinasih duduk disampingnya dan membuka bungkusan nasi gorengnya.
Seperti biasa, Mimi hanya melihat Bu Kinasih yang sedang makan dan tanpa membagi sedikitpun makanannya kepada Mimi. Karena Mimi hanya boleh makan bubur bayi dan Asi yang diberikan oleh Bu Kinasih. Bu Kinasih melahap nasi goreng itu dengan porsi yang sangat banyak, sepertinya Bu Kinasih membeli dua porsi nasi goreng dan dibungkus dalam gabungan satu porsi sehingga menjadi porsi ukuran besar.
__ADS_1
Bu Kinasih memang sengaja menambah porsi makannya, karena sejak produksi Asinya menjadi lebih melimpah, dia menjadi mudah lapar dan harus makan dengan porsi yang lebih banyak dari biasanya.
Setelah beberapa lama, nasi goreng yang sangat banyak pun akhirnya berhasil dihabiskan sendirian. Yang membuktikan bahwa saat ini Bu Kinasih tak mungkin merasa kenyang jika hanya makan dengan satu porsi biasa.
Bu Kinasih kemudian bangkit dari tempat duduknya untuk mengambil bubur bayi instan didalam lemari dan menaruhnya kedalam mangkuk kecil bahan plastik. Kemudian duduk dihadapan Mimi dengan membawa mangkuk kecil berisi bubur bayi tersebut.
Kemudian seperti biasa Bu Kinasih membuka buah dadanya yang sangat besar itu dari dalam bajunya, dan memerah air Asinya kedalam mangkuk berisi bubur tersebut. Setelah dilihat cukup, Bu Kinasih memasukkan kembali buah dada besarnya itu kedalam bajunya. Lalu mengaduk bubur bayi bercampur Asi tersebut hingga merata sehingga menjadi mengental dan siap untuk dihidangkan buat Mimi.
Bu Kinasih pun langsung menyuapi bubur bayi itu kedalam mulut Mimi dan Mimi pun melahapnya. Rasa jijik terhadap bubur bayi bercampur Asi itu kian hilang dari dirinya, karena Mimi sudah terbiasa memakan bubur bayi yang seperti itu selama hampir satu setengah tahun hidup didalam belenggu Bu Kinasih.
Setelah memberinya makan, Bu Kinasih menggendong Mimi dan membawanya kedalam kamar.
Bu Kinasih membaringkan Mimi di atas kasur kapuk, kemudian bangkit menuju lemari pakaian untuk mengambil sarung yang biasa dia pakai pada malam hari sebelum tidur. Bu Kinasih kemudian melepas seluruh pakaiannya dan memakai sarung itu.
Kemudian Bu Kinasih duduk diatas kasur kapuk tepat dihadapan Mimi yang juga duduk di hadapan Bu Kinasih.
"Mama ada berita bagus untukmu, sayang." Kata Bu Kinasih.
"Apa itu?" Tanya Mimi.
"Tadi Mama bertemu Aryan pas di minimarket, ternyata pacarmu yang bernama Aryan itu, orangnya sangat ramah." Kata Bu Kinasih menceritakan kejadian saat bertemu dengan pria tampan itu.
"Aryan..?? Benarkah Mama bertemu dengan Aryan?! Bagaimana Mama tahu kalau itu adalah Aryan pacarku? Mama nggak salah orang?" Mimi langsung terkejut seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bu Kinasih.
"Jelas Mama tahu, sayang! keluargamu dan dan keluarga sahabatmu itu hampir setiap hari masuk televisi selama setahun penuh kemarin, karena berita hilangnya kamu dan sahabatmu itu yang belum dapat ditemukan hingga sekarang." Jawab Bu Kinasih. "Mama pun mengenali wajah Aryan karena dia juga diberitakan sempat ditahan oleh polisi karena dituduh terlibat pada hilangnya kamu dan sahabatmu itu. Meskipun akhirnya di bebaskan karena tidak terbukti bersalah." Jawab Bu Kinasih.
"Kasihan si Aryan hingga sempat dipenjara karena dituduh terlibat atas hilangnya diriku dan Dinar." Mimi mulai prihatin ketika mengingat bahwa Aryan pernah ditahan Polisi karena hilangnya dirinya. "Ini semua gara-gara Mama! Aryan yang nggak tahu apa-apa jadi harus menanggung akibatnya!"
"Bukan salah Mama, sayang! Tapi salah Aryan sendiri. Bagaimana mungkin Aryan berpacaran dengan anak yang masih bayi sepertimu. Dia seharusnya memilih gadis dewasa." Jawab Bu Kinasih sambil tersenyum.
"HAHAHAHA...!! Kau hanyalah bayi berusia 1 tahun, Mimi. Kau nggak akan pernah dewasa, dan kau hanyalah seorang bayi kecil selamanya!" Ujar Bu Kinasih sambil tertawa.
Mimi kembali terdiam karena malas berdebat dengan wanita gila seperti Bu Kinasih, yang terobsesi menjadikan dirinya seperti bayi.
"Oh ya, Mama akui Aryan itu sangat tampan, nak! Dan tampak dewasa! Makanya Aryan itu nggak cocok untuk berpacaran dengan bayi sepertimu!" Cetus Bu Kinasih yang terus mendoktrin Mimi agar pasrah dengan kondisinya sekarang.
"Jika Mama mengingat wajah Aryan dengan jelas, apakah Mama mengingat wajah keluargaku juga?" Tanya Mimi yang juga mulai merasa rindu dengan keluarga aslinya.
"Mama pun nggak hanya mengenali wajah Aryan, nak! Bahkan keluargamu, dan keluarga sahabatmu itu dengan jelas, karena setiap hari muncul di televisi. Untungnya sekarang kasusnya sudah ditutup karena nggak ada penyelesaian, dan mereka sekarang nggak pernah lagi muncul di TV." Jawab Bu Kinasih
Mimi kemudian kembali meneteskan air mata, karena dia sangat merindukan kekasih yang sangat dicintainya itu dan keluarganya dirumah. Mimi ingin sekali mendengar kabarnya. "Apakah Mama ada berbicara dengan Aryan?"
"Tentu saja, sayang. Makanya Mama tahu kalau dia sangat ramah. Bahkan orangnya mudah sekali berbaur dengan orang yang baru dikenalnya seperti Mama." Jawab Bu Kinasih.
"Ya, dia memang laki-laki yang baik. Aku sangat mencintainya hingga sekarang. Aku sangat merindukannya." Kata Mimi yang air matanya terus menetes karena sangat merindukan Aryan. "Apa yang Mama bicarakan dengannya?"
"Tentang berita bagus dan sangat menggembirakan, sayang." Jawab Bu Kinasih sambil tersenyum.
"Apa itu?" Mimi jadi penasaran ingin tahu tentang kabar Aryan sekarang.
"Untuk apa Mimi mengetahui apa yang kami bicarakan? Pria itu sudah nggak mempedulikanmu, Mimi! Dia sudah mempunyai kekasih." Jawab Bu Kinasih.
"Maksudnya?!" Mimi terkejut.
__ADS_1
"Ya, dia sudah punya kekasih. Mimi pikir saat Mama bertemu dengannya, dia itu sedang sendirian?! Tidak, nak! Dia sedang bersama pacarnya." Kata Bu Kinasih dengan perasaan bahagia.
".... Pacar baru?" Jantung Mimi berdebar kencang.
"Bukan hanya pacar, sayang. Besok mereka bertunangan, dan akan menikah delapan bulan lagi." Jawab Bu Kinasih.
"Tunangan?" Air mata Mimi semakin tak terbendung. Mimi menjadi patah hati ketika mengetahui jika kekasih yang dicintainya itu kini sudah mempunyai kekasih baru. Mimi seolah tak percaya dengan hal ini.
"Sudahlah, nak! Mimi nggak perlu lagi memikirkan Aryan. Dia sudah mendapatkan yang lebih baik dari Mimi, bahkan dia dan kekasihnya tampak serasi." Kata-kata Bu Kinasih terus membuat panas hati Mimi. "Apalagi kekasihnya itu sangat cantik, gadis itu dewasa, bukan bayi kecil sepertimu."
"AKU JUGA GADIS DEWASA, MA..!! BUKAN BAYI..!!" Mimi tak kuasa menahan kesedihannya. Tetapi Bu Kinasih terus berkata-kata yang menjatuhkan mentalnya.
"Lihatlah dirimu, Mimi! Apakah kamu sekarang layak disebut gadis dewasa? Dari ujung rambut hingga kaki Mimi hanya tampak seperti bayi! Bahkan Mimi pun masih netekk sama Mama! Bahkan berak dan kencing pun masih harus didalam popok, dan Mama yang setiap hari cebokin Mimi. Ingat, Mimi adalah bayi! Dan fokuslah untuk tetap disini menjadi bayi untuk menemani Mama selamanya! Anak bayi harus bersama ibunya, sedangkan gadis dewasa memang harus bersama kekasihnya! Gadis itu lebih cocok dengan Aryan! Dan Mimi lebih baik hidup bersama Mama!" cetus Bu Kinasih.
"Tolong, Ma!! Cukup sudah!! Aku nggak ingin menjadi bayi lagi! Aku mohon! Bebaskan aku..!! Aku sangat mencintai Aryan..! Aku nggak mau Aryan menikah dengan orang lain!" Mimi bersujud dihadapan Bu Kinasih dan terdengar isakan tangis yang menunjukkan bahwa dia tak kuasa menahan tangisnya, sambil memohon agar Bu Kinasih bisa luluh hatinya dan membebaskannya.
"Tidak, Mimi. Kau harus sadar, Aryan nggak mungkin bisa menerimamu lagi. Bahkan pria lain pun nggak ada lagi yang mau menerimamu!" Ujar Bu Kinasih. "Lihatlah dirimu, apa kelebihanmu? Kau lumpuh, nggak bisa memberikan keturunan karena sudah nggak bisa haid, gigimu pun ompong. Jadi apa kelebihanmu jika dibandingkan dengan pacarnya sekarang?"
"INI SEMUA SALAH MAMA..!! AKU BEGINI SEKARANG KARENA MAMA SENDIRI YANG MEMBUAT AKU CACAT SEPERTI INI..!!" Cetus Mimi sambil meluapkan kekesalan dan kesedihannya.
"Ya, betul. Mama yang bikin Mimi seperti ini. Karena Mimi memang lebih cocok seperti ini!" Bu Kinasih tersenyum bahagia melihat Mimi yang tampak sedih dan patah hati.
Kemudian Mimi yang tampak geram langsung ingin memukul wajah Kinasih, tapi mendadak terhenti karena masih ada rasa takut kepada Bu Kinasih.
"Eh, Mimi mau pukul Mama? Coba kalau berani! Ayo sini, pukul Mama sekarang!" Ujar Bu Kinasih.
Mimi pun akhirnya malah menurunkan tangannya. Sebab Mimi sadar nggak mungkin dengan kondisinya sekarang ini dia bisa mengalahkan Bu Kinasih yang tubuhnya jelas lebih besar dan lebih kuat darinya.
"Ingat, ya Mimi! Sempat Mama melihat Mimi seperti itu lagi mau mencoba memukul Mama, maka Mama nggak akan segan-segan menghukum Mimi lebih berat lagi dari sebelumnya, NGERTI..!!" Ancam Bu Kinasih terhadap Mimi.
"Ngerti, Ma!" Mimi menganggukkan kepalanya sambil menangis. Hatinya benar-benar hancur sekarang. Tak ada solusi yang dia dapat selain hanya menangis, meratapi kesedihan bahwa orang yang dicintainya telah memiliki kekasih.
"Oww, sayang! Kemarilah, nak!" Bu Kinasih kemudian menarik tubuh Mimi untuk dibaringkan ketempat tidur, dan Bu Kinasih pun berbaring disampingnya dan bergegas mengeluarkan buah dadanya untuk kembali menyusui Mimi sebelum tidur. Kepala Mimi ditempelkan ke buah dadanya dan memasukkan putingg susunya kedalam mulut Mimi.
Kini Mimi hanya bisa netekk sambil menangis. Meratapi nasibnya kehilangan pria yang dicintainya yang akan bertunangan dengan orang lain.
"Teruslah menangis, sayang! Memang sudah kodrat bayi untuk selalu menangis. Tapi jangan lupa bobo ketika sudah capek!" Ujar Bu Kinasih yang menyusui sambil ngelonin Mimi seperti guling.
Mimi hanya bisa menangis tersedu-sedu di pelukan Bu Kinasih sambil menghisap putingg susu Bu Kinasih. Dalam hatinya ingin sekali keluar dari tempat ini, dan segera mendatangi Aryan untuk menunjukkan bahwa dirinya masih ada, dan untuk menggagalkan pertunangan Aryan dengan kekasih barunya itu.
Bu Kinasih yang tak mempedulikan tangisan Mimi, malah tertidur sambil tetap menyusui ngelonin Mimi dengan erat dan membiarkannya menangis tersedu-sedu.
+++BERSAMBUNG+++
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Apakah Cerita Mimi Si Gadis Bayi ini diangkat dari Kisah Nyata atau Hanya kisah Fiksi belaka?...
Hai Kawan, di Episode selanjutnya saya akan menjawab pertanyaan dari beberapa Reader mengenai kisah Mimi Si Gadis Bayi ini Apakah kisah ini diambil dari kisah nyata, atau hanya fiksi belaka.
Di Episode selanjutnya, saya akan menjawab dan menjelaskan secara detail darimana saya mendapatkan ide cerita ini, darimana sumbernya, dan apakah sumbernya ini berasal dari kisah nyata atau hanya kisah fiksi dari imajinasi halu belaka.
Perlu teman-teman ketahui, bahwa ketiga Novel saya ini saling berkaitan, dari Kisah Mimi Si Gadis Bayi yang menceritakan tentang kehidupan Mimi yang disekap dan diasuh seperti bayi secara paksa oleh seorang ibu Psikopat gila yang bernama Bu Kinasih, kemudian dilanjutkan dengan seri Novel yang berjudul Dokter Rebecca yang menceritakan tentang secara detail kehidupan sahabat Bu Kinasih dari Novel Mimi Si Gadis bayi itu yang bernama Dokter Rebecca, dan seri novel Kisah Cinta Kinasih dan Manika yang menceritakan alur mundur tentang awal kehidupan Bu Kinasih dari masih muda sampai menjadi seorang ibu yang terobsesi untuk memiliki bayi dewasa.
__ADS_1
Terima kasih untuk para Readers yang senantiasa menunggu Novel di Episode ini up meskipun cukup lama. Hehehe.. Itu dikarenakan kesibukan yang teramat sangat saya di dunia nyata. Tetapi sesibuk apapun saya tetap terus berusaha up kisah ini sampai tamat.
Oh ya, sambil menunggu jawaban saya di episode selanjutnya, teman-teman Readers yang ingin menebak terlebih dahulu kira-kira nyata atau tidaknya kisah Mimi Si Gadis Bayi ini. Nyata atau tidak, ya? silahkan isi di kolom komentar, dan tunggu episode selanjutnya!