
Mimi hanya bisa pasrah tanpa ada perlawanan, karena sudah terbiasa diperlukan seperti bayi oleh Bu Kinasih. Apalagi peluang untuk dirinya melarikan diri dari tempat itu sangatlah kecil, karena dia sudah tak bisa berjalan normal lagi, dan hanya bisa merangkak seperti bayi untuk selamanya.
Mendengar suara kegirangan dari Bu Kinasih dan Dokter Rebecca membuat Adya yang tadinya tertidur dilantai akhirnya terbangun dari tidurnya.
Dokter Rebecca yang kebetulan berada duduk di samping Adya langsung memandangnya dengan mimik wajah yang tampak geregetan terhadapnya.
"Setelah ini giliranmu! Aku akan melatihmu untuk bertingkah laku seperti anjing. Jika kamu nggak menuruti perintahku, aku akan menyiksamu!" Ujar Dokter Rebecca terhadap Adya.
Adya yang lehernya diikat dengan rantai seperti anjing dan tanpa memakai pakaian sehelai kain pun hanya bisa tertunduk pasrah dan penuh ketakutan.
"Apakah anjingku ini sudah makan?" Dokter Rebecca bertanya kepada Bu Kinasih.
"Kalau sore ini aku belum memberinya makan, Bu Dokter." Jawab Bu Kinasih yang masih menggendong bayinya itu.
Sementara itu Adya yang telah dianggap sebagai seekor anjing hanya diam saja tanpa perlawanan.
"Kalau begitu, biar aku aja yang memberinya makan. Dimana biasanya kamu menaruh makanan buat anjingku ini?" Dokter Rebecca bertanya lagi.
"Ada di dapur, Bu. Saya taruh di kolong lemari samping bak sampah." Jawab Bu Kinasih.
"Kalau begitu biar saya aja yang mengambilkan." Dokter Rebecca langsung bangkit dari duduknya kemudian menuju ke dapur untuk mengambil makanan untuk Adya yang yang diperlukan seperti anjing.
Tak lama kemudian Dokter Rebecca membawakan makanan yang akan diberikan kepada Adya dengan wadah piring plastik, kemudian menaruhnya di lantai tepat dihadapan Adya.
Makanan itu berisi makanan-makanan sisa yang sudah menjadi sampah, seperti tulang ikan, beberapa potongan sayur, nasi yang sudah basi. Baunya pun sudah tidak sedap dan makanan itu lebih tampak seperti sampah.
"Ayo makanlah!" Dokter Rebecca memerintahkan Adya untuk memakan makanan itu.
Adya terpaksa memakannya, dan mengambil makanan itu dengan tangannya. Tapi Dokter Rebecca malah marah dan menginjak tangan Adya.
"AAAAHHHKKKH..!!" Adya berteriak kesakitan karena tangan kanannya itu diinjak oleh Dokter Rebecca.
"Eh, saya nggak menyuruhmu makan pakai tangan! Makanlah langsung dengan mulutmu!" Perintah Dokter Rebecca sambil menjambak rambut Adya dan menariknya kearah makanan yang sudah menjadi sampah tersebut.
Adya akhirnya memakan makanan itu tanpa menggunakan tangan, tetapi langsung menggunakan mulutnya, mirip seperti binatang peliharaan yang sedang makan.
"Bagus..! Makanlah yang lahap, ya! Habiskan, sayang!” Perintah Dokter Rebecca lagi, sambil mengawasi Adya agar Adya tidak makan menggunakan tangannya lagi.
Adya tampak seperti anjing yang sedang makan, memakan makanan yang diberikannya itu dengan lahap, tapi bukan berarti dia menyukainya. Terkadang beberapa kali dia ingin memuntahkan makanan itu karena merasa jijik, tapi daripada nanti bakal kelaparan dan karena takut disakiti oleh Dokter Rebecca, terpaksa dia berusaha untuk menelan makanan itu meskipun dengan sangat terpaksa.
"Anjing pintar!" Dokter Rebecca tersenyum sambil membelai rambut Adya yang sedang makan dengan lahap itu.
...****************...
Malam hari sekitar pukul 22.00 di teras belakang rumah, Bu Kinasih yang hanya memakai daster tanpa memakai bra sedang berdiri menggendong dan menimang-nimang tubuh Mimi dengan kain jarik sambil menyusuinya untuk menidurkannya.
Dihadapannya tampak Adya yang masih tetap dibiarkan lehernya diikat dengan rantai yang dikaitkan di tiang rumah dan masih tidak diberikan pakaian sehelai kain pun, sedang duduk dilantai menyaksikan Bu Kinasih yang sedang menggendong dan menyusui Mimi agar Mimi tertidur pulas.
Bu Kinasih yang sedang menyusui Mimi sambil memandang tubuh Adya yang tidak memakai pakaian. Tatapan tajam Bu Kinasih tampak terlihat penuh nafsu, seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
Bu Kinasih kemudian melihat Mimi yang sedang disusui olehnya kini sudah tertidur pulas di pelukannya. Tampak mata Mimi yang sudah terpejam, meskipun mulutnya masih sedikit menghisap putingg susu ibunya itu dengan wajah yang sangat lugu.
Kemudian Bu Kinasih membawa Mimi menuju kedalam kamar. Bu Kinasih membuka pintu kamar dan langsung masuk kedalam kamar, kemudian meletakkan tubuh Mimi secara perlahan agar Mimi tidak terbangun dari tidurnya.
Setelah Bu Kinasih berhasil meletakkan tubuh Mimi di atas kasur kapuk itu, Bu Kinasih perlahan-lahan melepaskan putingg susunya yang masih sedikit terhisap didalam mulut Mimi secara perlahan.
Setelah selesai melepas putingg susunya itu, Bu Kinasih memasukkan kembali buah dadanya kedalam dasternya miliknya yang tanpa memakai bra. Setelah itu memasukkan empeng kedalam mulut Mimi untuk Mimi hisap sambil tertidur.
Setelah itu Bu Kinasih keluar dari kamar dan mengunci pintu kamar itu, kemudian bergegas menuju teras belakang kembali untuk menemui Adya.
__ADS_1
Bu Kinasih menghampiri Adya yang tak bisa kemana-mana karena kakinya tidak bisa berjalan dan rantai kuat yang mengikat lehernya tersebut.
Adya hanya tertunduk malu karena dipandangi terus-terusan oleh Bu Kinasih dengan tatapan yang tidak biasa.
Bu Kinasih duduk dihadapan Adya, membelai rambut Adya, setelah itu langsung menjambak rambut Adya, dan menariknya hingga wajah Adya mendekati wajah Bu Kinasih.
Adya semakin ketakutan karena dia tidak mengetahui apa lagi yang akan dilakukan Bu Kinasih terhadapnya. Mata Bu Kinasih semakin tajam menatap mata Adya dengan jarak yang begitu dekat. Dan secara tiba-tiba, Bu Kinasih langsung mencium bibir Adya dengan paksa sambil memeluknya dengan sangat erat dan begitu agresif.
Kedua tangan Adya berusaha mendorong dada Bu Kinasih agar Bu Kinasih melepaskan ciuman yang melumatt bibirnya itu. Tetapi tubuh dan lengan Bu Kinasih yang begitu besar dan kuat tak mampu melepaskan tubuh Bu Kinasih yang sedang memeluknya dengan erat.
Alis Adya mengkerut karena merasa sangat jijik akibat dipeluk dan dicium bibirnya oleh Bu Kinasih dengan penuh nafsu. Bu Kinasih yang nafsunya semakin memuncak semakin erat memeluk tubuh kurus Adya sehingga membuat Adya mulai kesulitan bernapas.
Beberapa menit kemudian Bu Kinasih melepaskan tubuh Adya dari pelukannya. Karena Bu kinasih melepas seluruh pakaiannya sendiri sehingga Bu Kinasih juga tidak memakai pakaian sehelai pun saat ini.
Kini mereka berdua sama-sama tidak memakai pakaian sehelai pun. Tampak jelas perbandingan bentuk dan warna kulit keduanya. Bu Kinasih yang bertubuh gemuk besar dan berkulit hitam, sedangkan Adya berkulit putih dan kurus.
Adya tampak gelisah melihat Bu Kinasih yang tak memakai pakaian sambil menatap dirinya dengan tajam. Tanpa pikir panjang lagi Bu Kinasih kembali mendekap paksa tubuh Adya ke pelukannya, sehingga mereka berdua tampak berguling dilantai.
Adya mulai menangis karena dipaksa untuk melayani nafsu birahi Bu Kinasih.
"JANGAAN..!! JANGANN..!!" Sambil menangis Adya berusaha untuk melepaskan tubuhnya dari dekapan erat Bu Kinasih yang tengah menikmati tubuhnya. Tetapi tak sedikitpun dirinya berhasil melepaskannya.
Tangan Kinasih mulai meraba dan memasuki kedalam bagian tubuh sensitif Adya, membuat Adya berteriak-teriak histeris karena kesakitan. Tetapi Bu Kinasih tidak mempedulikannya, Bu Kinasih tetap menjalankan aksinya untuk memuaskan birahinya.
"AAAAHKKK..!!! TOLOONGG..!! TOLOONGG..!!" Adya berteriak-teriak meminta pertolongan tetapi ditempat itu tak ada yang yang mendengarnya.
Suara teriakannya hanya sampai kedalaman kamar yang terkunci dari luar membuat Mimi yang tidur sambil menghisap empengnya akhirnya terbangun dari tidurnya. Mimi mendengar suara teriakan Adya yang terdengar dari arah teras belakang rumah itu.
Tetapi Mimi yang mendengar teriakan Adya itu hanya diam didalam kamar dengan wajah dan perasaan prihatin kepada Adya, karena Mimi tahu apa yang dilakukan Bu Kinasih kepada Adya saat ini begitu tidak manusiawi.
Mendengar teriakan-teriakan Adya dari luar kamar, membuat Mimi kembali teringat sahabatnya bernama Dinar yang dulu sering diperkosa sesama jenis oleh Bu Kinasih sejak Dinar masih hidup.
Kini Mimi kembali membayangkan saat Dinar diperkosa dengan sadis oleh Bu Kinasih. Padahal Mimi tidak pernah melihat kejadian dengan mata kepalanya sendiri dimana Bu Kinasih memperkosa Dinar.
Jeritan-jeritan tangis Adya membuat bayangan tersendiri dalam pikiran Mimi yang memperlihatkan Dinar yang menjerit-jerit dengan tangisnya ketika tubuh kurusnya digarap dengan paksa oleh Bu Kinasih yang bertubuh gemuk dan lebih besar darinya.
Jeritan-jeritan Adya dan bayangan Dinar yang memprihatinkan secara perlahan membuat hati Mimi menjadi pilu. Air mata Mimi yang masih menghisap empeng akhirnya menetes karena turut merasakan penderitaan yang dialami Adya dan Dinar.
Kini Dinar telah lama tiada, menimbulkan perasaan menyesal sangat mendalam yang membuat Mimi terpaksa harus tinggal dirumah ini, meninggalkan keluarga, teman juga sahabat, dan kehidupan lamanya untuk menjalani kehidupan barunya sebagai bayi milik Bu Kinasih dari lebih setahun yang lalu hingga detik ini, atau mungkin untuk selamanya.
...****************...
Sekitar jam 16.00 sore Bu Kinasih dan Dokter Rebecca ketemuan di sebuah toko hewan untuk membeli sebuah kandang anjing. Dokter Rebecca datang dengan menggunakan mobilnya, sedangkan Bu Kinasih dengan sepeda motor bututnya.
Di toko hewan ada banyak kandang dari berbagai jenis kandang, bahan, dan ukuran. Dokter Rebecca yang ditemani oleh Bu Kinasih sedang memilih kandang anjing yang cocok untuk memasukkan Adya untuk tinggal didalamnya.
"Kira-kira kandang yang ini bagus, nggak buat Adya?" Dokter Rebecca menunjuk salah satu kandang anjing yang berada didekatnya.
"Kayaknya terlalu besar, Bu. Kita harus mencari kandang yang nggak terlalu besar, untuk mengurangi ruang gerak tubuhnya agar sulit memberontak untuk melarikan diri." Jawab Bu Kinasih.
"Hmmm.. Betul juga. Kalau yang ini?" Dokter Rebecca menunjuk salah satu kandang lagi yang letaknya beberapa petak dari kandang yang ditunjuk pertama kali tadi.
"Nah, kayaknya ini yang pas. Yang ini bagus Bu." Jawab Bu Kinasih.
"Oke, kalau begitu kita beli yang ini aja. Adya pasti senang kita berikan hadiah ini." Ujar Dokter Rebecca.
Dokter Rebecca akhirnya membeli kandang anjing yang sudah disepakati oleh Bu Kinasih itu. Dia langsung membayar via debit di kasir, kemudian dibantu oleh karyawan toko hewan itu untuk mengangkat dan memasukkan kandang anjing itu kedalam mobil.
Setelah ke toko hewan, mereka mampir ke sebuah toko pakaian bekas untuk membeli beberapa kaos dan celana pendek untuk Adya pakai.
__ADS_1
...****************...
Setelah dari toko hewan dan toko pakaian bekas, mereka kemudian mampir kesebuah cafe untuk ngobrol sambil ngopi bareng.
"Oh ya, jika kamu setuju aku ingin memasang saluran listrik di rumahmu. Agar kamu bisa hidup dengan lebih baik di rumahmu bersama bayimu." Ujar Dokter Rebecca.
"Nggak perlu, Bu. Karena rumah saya itu adalah bangunan ilegal. Nggak ada sertifikat ataupun surat-surat lainnya. Makanya nggak mungkin rumah saya bisa dipasangkan saluran listrik. Bahkan nggak ada orang yang mengetahui rumah itu." Jawab Bu Kinasih yang juga menikmati secangkir kopi susunya.
"Aku juga berencana untuk membeli sebuah rumah yang jauh dari penduduk sekitar, dan juga tanpa sepengetahuan anakku." Kata Dokter Rebecca sambil menikmati secangkir kopi susu.
"Kenapa Bu Dokter nggak memberitahukan anak ibu? Apakah ibu nanti berencana untuk tidak tinggal dengan anak ibu?" Tanya Bu Kinasih.
"Bukan untuk ditinggali, tetapi rumah khusus untuk memelihara anjingku. Bahkan aku juga akan memintamu untuk tinggal disana bersama bayimu." Jawab Dokter Rebecca.
"Kenapa Bu Dokter menyuruhku untuk tinggal disana?" Bu Kinasih bertanya lagi.
"Agar kita sama-sama merasa lebih nyaman. Terutama akses jalan dan saluran listrik." Jawab Dokter Rebecca. "Dengan adanya listrik, kamu bisa mendapatkan hiburan dengan menonton televisi, atau mendengarkan musik, bayimu juga bisa menonton film kartun lucu kesayangannya. Dan yang terpenting lagi akses jalan untuk kita lewati lebih mudah."
"Maafkan aku, Bu Dokter. Tampaknya aku lebih betah tinggal dirumahku meskipun rumah itu sangat kumuh." Jawab Bu Kinasih.
"Apakah nggak sedikitpun kamu nggak ingin pindah rumah yang lebih baik lagi?" Tanya Dokter Rebecca.
"Ada banyak kenangan-kenangan dirumah itu, Bu. Terutama kenanganku bersama Manika yang memang nggak ingin aku lupakan. Hingga sekarang aku masih mencintai Manika meskipun dia sudah lama meninggal." Jawab Bu Kinasih.
Dokter Rebecca terdiam sejenak. "Aku penasaran dengan kisahmu dengan Manika, sampai sekarang kamu belum menceritakannya."
"Manika itu nggak hanya kekasih sesama jenisku, tapi dia juga gadis bayi yang imut dan menggemaskan. Dialah orang yang pertama kali menumbuhkan sifat keibuan didalam diriku." Jawab Kinasih. "Kan sudah kita sepakati bersama, aku akan menceritakannya setelah Bu Dokter membantuku menyelesaikan proyekku untuk Mimi."
"Oh ya, aku masih ingat itu. Kini Mimi sudah kita bikin nggak dapat berjalan. Jadi tinggal satu lagi, kita akan membuat Mimi nggak pernah lagi haid atau datang bulan. Ya kan?!" Kata Dokter Rebecca.
"Benar sekali, Bu. Dan setelah itu aku berjanji akan menceritakannya." Jawab Bu Kinasih.
...****************...
Hari semakin gelap dan menunjukkan jam 18.30, Bu Kinasih bersama Dokter Rebecca menurunkan kandang anjing dari dalam mobil didepan jalan masuk kerumah Bu Kinasih. Karena jalan masuk menuju rumah Bu Kinasih itu tidak bisa dilewati oleh mobil.
Setelah kandang anjing itu berhasil diturunkan, Dokter Rebecca langsung bergegas mengendarai mobilnya untuk pergi dari tempat itu sebelum dilihat orang lain yang melintas.
Bu Kinasih mendorong kandang anjing itu dan disembunyikan dibalik semak-semak untuk sementara agar tidak dilihat oleh orang lain yang melintas itu juga.
Setelah itu Bu Kinasih mengendarai sepeda motor bututnya itu menuju tempat untuk menjemput Dokter Rebecca di tempat yang yang sudah direncanakan oleh mereka.
Bu Kinasih dan Dokter Rebecca tiba didepan jalan kecil menuju rumah Bu Kinasih. Mereka menghampiri kandang anjing itu kemudian menarik kandang itu dengan tali yang diikat ke sepeda motor Bu Kinasih sambil berboncengan menuju rumah Bu Kinasih.
Beberapa lama kemudian mereka akhirnya sampai dirumah Bu Kinasih. Bu Kinasih masuk lebih dulu kedalam rumah dan menyalakan semua lampu semprong di setiap ruangan agar tampak terang. Kemudian bersama Dokter Rebecca bergegas mendorong kandang anjing itu ke teras belakang rumah.
Setelah berada di teras belakang rumah, Bu Kinasih melepaskan semua roda kandang itu agar tidak mudah menggelundung. Dan menaruh kandang itu bersandar di tembok.
Adya yang berada disitu dengan kondisi lehernya dirantai hanya bisa menyaksikan apa yang yang dilakukan oleh Bu Kinasih dan Dokter Rebecca.
"Selamat datang dirumah barumu, anjing pintar!" Kata Dokter Rebecca kepada Adya sambil tersenyum.
Adya terkejut ketika mengetahui bahwa dirinya akan dimasukkan kedalam kandang. Dokter Rebecca melepas rantai leher Adya yang diikat di tiang. Sebelum memasukkan Adya kedalam kandang, Dokter Rebecca memakaikan kaos dan celana pendek kepada Adya yang dibeli di toko pakaian bekas sore tadi, agar Adya tidak terlalu kedinginan ketika tidur didalam kandang yang ditaruh di teras belakang rumah ini. Kemudian menggiring Adya untuk merangkak masuk kedalam kandang.
Adya berusaha untuk menolaknya tetapi dia tak kuasa menghalau dorongan dari Dokter Rebecca dan Bu Kinasih yang terus memaksanya untuk masuk kedalam kandang.
Setelah Adya berhasil dimasukkan kedalam kandang, Dokter Rebecca langsung mengunci pintu kandang itu dengan gembok.
"HAHAHA..!! HAHAHA..!" Bu Kinasih dan Dokter Rebecca tertawa terbahak-bahak menyaksikan Adya yang yang sekarang berada didalam kandang.
__ADS_1
Sedangkan Adya berusaha menahan tangisnya ketika harga dirinya sudah tidak ada lagi bagi kedua Psikopat itu.
+++BERSAMBUNG+++