
Mimi yang masih digendong oleh Bu Kinasih, tanpa berkata-kata lagi langsung mengeluarkan air matanya. Dan seketika Mimi langsung menangis didalam kain jariknya. Sedangkan Bu Kinasih dan Dokter Rebecca langsung tertawa terbahak-bahak melihat Mimi yang tampak menangis dengan penuh patah hati.
"Ada banyak nama Aryan di dunia ini. Siapa tahu Aryan yang kalian maksud itu belum tentu adalah Aryan kekasihku!!" Mimi berusaha untuk menolak kenyataan dari dalam hatinya.
"Kamu nggak perlu khawatir, Mimi. Besok Tante akan foto kedua mempelainya dengan ponsel Tante, biar Mimi percaya dengan perkataan Tante!" Ujar Dokter Rebecca kepada Mimi.
"Wah, ide bagus itu, Bu Dokter! Saya malah jadi ikut penasaran nih seperti apa acara pernikahannya." Jawab Bu Kinasih dengan penuh suka cita, "Saya berharap besok Bu Dokter nggak lupa untuk fotokan acara Aryan!"
"Nggak perlu khawatir, Bu Kinasih! Besok saya nggak hanya memfoto acara pernikahan Aryan, bahkan saya juga akan merekam videonya dan akan segera saya perlihatkan spesial khusus untuk Mimi." Jawab Dokter Rebecca sambil tersenyum.
"Wah, itu justru lebih mantap lagi, Bu Dokter." Ujar Bu Kinasih.
Kedua Psikopat gila, Bu Kinasih dan Dokter Rebecca ini terlihat begitu bahagia apalagi sambil melihat wajah sedih Mimi yang memiliki hati yang sangat hancur pada saat itu.
Bu Kinasih dan Dokter Rebecca begitu antusias memanas manasi hati Mimi, sehingga makin tak terbendung kesedihan Mimi dan akan tetapi Mimi tetap berusaha tenang agar tangisannya pecah tidak pecah.
...****************...
Dimalam hari menjelang tidur, sekitar jam 23.00, Bu Kinasih yang berbaring diatas kasur, memeluk dan ngelonin Mimi seperti guling. Wajah Mimi bersandar tenang di buah dada besar Bu Kinasih yang sudah tertutup sarung yang lusuh. Rambut Mimi dibelai-belai dengan lembut oleh Bu Kinasih agar Mimi merasa nyaman bersandar di dadanya.
"Mama.." Mimi memanggil Bu Kinasih yang sedang memeluk sambil memeluk tubuhnya dan membelai rambutnya itu.
"Kenapa, sayang?" Bu Kinasih membalas sapaan Mimi.
"Bagaimana nasib wanita yang Mama kurung didalam gudang itu sekarang?" Tanya Mimi.
"Maksudmu Lola?! Dia baik-baik saja disana." Jawab Bu Kinasih.
"Apakah Mama perlakukan Lola sama seperti memperlakukan Dinar?" Mimi bertanya lagi.
"Kenapa Mimi tanyakan itu, nak? Itu bukan urusan Mimi. Tugas Mimi hanyalah cukup menjadi anak yang baik untuk Mama!" Jawab Bu Bu Kinasih.
Mimi tidak berkata apa-apa lagi, dia membayangkan betapa memprihatinkan nasib gadis yang bernama Lola itu yang saat ini ditinggal sendirian dalam kegelapan yang sangat mencekam karena tak ada cahaya sedikitpun saat malam hari di sekitar gudang itu.
...****************...
Pagi hari Mimi mulai terbangun dari tidurnya. Dia melihat Bu Kinasih yang didepan cermin pintu lemari sedang menyisir rambutnya yang berukuran sebahu dan agak beruban. Pertanda Bu Kinasih akan pergi melakukan aktivitasnya di pagi hari. Yaitu berjualan sayuran disebuah kampung langganannya.
"Sudah bangun, nak?" Tanya Bu Kinasih sambil menyisir rambutnya.
"Bukankah ini hari minggu?! Tumben Mama berjualan dihari minggu." Kata Mimi tampak heran.
"Karena ada yang ingin Mama beli setelah berjualan nanti. Pampers buatmu sudah hampir habis. Mama harus membelinya lagi." Jawab Bu Kinasih.
"Biasanya sebelum pergi berjualan pun Mama membangunkan aku untuk memandikan aku dulu." Tanya Mimi lagi.
"Maafkan Mama, sayang. Mama tadi keasyikan bermain dengan Lola di gudang sampai nggak memperhatikan jam. Mama sampai terlambat untuk berjualan." Jawab Bu Kinasih, yang ternyata baru saja selesai memperkosa Lola di gudang. "Makanya maafkan Mama ya sayang, hingga tak sempat memandikan Mimi. Soalnya kalau Mama berjualan saat hari menjelang siang biasanya dagangan Mama kurang laku."
Mimi hanya sedikit menganggukkan kepalanya dan tidak menjawab apa-apa lagi.
Bu Kinasih selesai menyisir rambutnya dan segera menghampiri Mimi yang masih duduk diatas kasurnya.
"Maafkan Mama ya sayang karena pagi ini pun Mama nggak sempat membuatkan Mimi sarapan. Mimi netekk aja ya biar nggak kelaparan." Bu Kinasih segera mengangkat tubuh Mimi dan dibaringkan ke pangkuannya, kemudian mengangkat baju kaosnya yang berada tepat di depan wajah Mimi hingga buah dada besar yang tertutup bra putihnya itu terlihat, dan segera mengeluarkan buah dada besarnya itu untuk segera menyusui Mimi.
Bu Kinasih duduk menyusui Mimi dipangkuannya sambil menimang-nimang tubuh Mimi dan menepuk-nepuk bokong Mimi dengan lembut. Mimi yang sudah dua tahun lebih diperlakukan seperti itu oleh Bu Kinasih, sehingga dia sudah terlihat sangat pasrah karena sudah terbiasa menikmati air susu Bu Kinasih yang mengalir deras dari putingg susunya.
Mimi yang tampak pasrah disusui oleh Bu Kinasih, terus menghisap putingg susu yang menempel erat didalam mulutnya itu dengan waktu yang cukup lama. Sambil memandang wajah Bu Kinasih yang juga menatap wajahnya dengan senyuman dan tampak penuh dengan kasih sayang.
__ADS_1
Setelah setengah jam lebih disusui, akhirnya Bu Kinasih melepaskan tubuh Mimi dan membaringkan tubuhnya diatas kasurnya. Bu Kinasih kemudian memasukkan buah dadanya lagi kedalam bra putihnya dan menurunkan baju kaosnya lagi.
"Mama berangkat mencari nafkah dulu ya, nak!" Bu Kinasih mencium kening Mimi kemudian bergegas pergi meninggalkan Mimi sendirian didalam kamar dan mengunci pintu kamar dari luar.
Mimi yang tampak sudah kenyang setelah disusui oleh Bu Kinasih hanya berbaring diatas kasurnya sambil memeluk boneka kelincinya. Dengan tatapan pasrah dan tak tahu lagi harus berbuat apa lagi.
...****************...
Sekitar jam 11.00, Bu Kinasih baru saja selesai berjualan sayuran disebuah kampung dimana bahwa dikampung itu sudah banyak pelanggannya.
Dengan menggunakan sepeda motornya, dia beristirahat disebuah warung yang juga biasa menjadi langganannya.
Seperti biasa dia duduk disebuah bangku dan memesan es teh kepada ibu penjualnya. Sambil menonton televisi yang letaknya tidak jauh dari tempat duduknya.
"Bu Kinasih..!!" Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang sedang menyapanya.
Bu Kinasih menoleh ke arah suara itu berasal. Ternyata suara yang memanggilnya itu adalah suara Faida. Sahabatnya di tempat ida bekerja dulu saat masih menjadi cleaning servis dirumah sakit anak.
Faida yang sedang berdiri diluar warung tampak langsung segera menghampiri Bu Kinasih dengan penuh kegembiraan.
"Bu Kinasih, sudah lama banget kita nggak ketemu!" Faida langsung memeluk Bu Kinasih, tetapi Bu Kinasih hanya tersenyum melihatnya.
"Kau disini pasti dari rumah keluargamu bukan?" Tanya Bu Kinasih.
"Ya Bu." Jawab Faida dan kemudian langsung duduk di samping Bu Kinasih. "Akhirnya kita bertemu lagi di warung ini."
"Oh ya, bagaimana kabarmu sekarang?" Tanya Bu Kinasih.
"Aku sekarang sudah nggak bekerja lagi di Rumah Sakit Anak, Bu." Jawab Faida.
"Lho, kenapa?" Bu Kinasih tampak heran
"Memangnya sudah sejak kapan kamu berhenti kerja?" Bu Kinasih bertanya lagi.
"Sejak dua bulan yang lalu, Bu." Jawab Faida lagi.
"Oh, jadi ada kegiatanmu sekarang?" Tanya Bu Kinasih
"Hmmm.. Belum ada, untuk sementara ini aq masih menganggur. Makanya aku mau menikmati masa santai dulu. Paling awal bulan depan aku baru memikirkan pekerjaan baru." Jawab Faida.
Bu Kinasih dan Faida berbincang-bincang sambil menikmati es teh dan es jeruk yang mereka pesan.
Tak terasa sudah satu jam mereka ngobrol, dan sudah waktunya Bu Kinasih harus bergegas pulang. Karena buah dadanya mulai nyeri dan tampak kencang pertanda sudah waktunya dia untuk menyusui Mimi.
Bu Kinasih ingin membayar minuman yang dipesan olehnya, tetapi justru Faida yang malah membayarkan untuk mentraktir Bu Kinasih.
"Terima kasih Faida, aku pulang dulu." Kata Bu Kinasih yang segera bergegas duduk diatas sepeda motornya.
"Bu Kinasih, apakah aku boleh mampir kerumah Bu Kinasih?" Tanya Faida.
"Maaf Faida, dirumah aku banyak kesibukan. Makanya aku nggak bisa mengajakmu kerumahku." Jawab Bu Kinasih.
Faida tampak kecewa, "Bu Kinasih, sejak kita saling mengenal, hingga saat ini aku belum mengetahui rumah Bu Kinasih. Bahkan sampai sekarang Bu Kinasih masih merahasiakan rumah Bu Kinasih dariku. Memangnya ada apa sih, bu? Kok Bu Kinasih susah banget diketahui rumahnya?"
Bu Kinasih tak menjawabnya, dan justru hanya tersenyum. "Aku pulang dulu, Faida. Sampai jumpa lagi." Bu Kinasih langsung bergegas pergi meninggalkan Faida sendirian.
Tetapi sifat rasa ingin tahu yang tinggi yang dimiliki Faida dari dulu hingga sekarang ternyata tidak pernah pudar. Kali ini Faida langsung bergegas menuju sepeda motornya dan bergegas mengendarai sepeda motornya untuk mengikuti Bu Kinasih dari belakang.
__ADS_1
Didalam perjalanan menuju pulang, Bu Kinasih dengan mengendarai sepeda motornya tidak menyadari bahwa Faida sedang mengikutinya dari belakang. Sebab, Faida mengikuti Bu Kinasih mengendarai sepeda motornya dengan menjaga jarak yang cukup jauh.
Hingga akhirnya, Bu Kinasih sampai disebuah jalan kecil diantara semak yang sudah jelas jalan kecil itu adalah jalan masuk menuju rumahnya yang hanya bisa dilewati oleh satu motor.
Bu Kinasih masuk kedalam jalan kecil itu. Tanpa disadari bahwa Faida sedang menyaksikannya masuk kedalam jalan kecil yang dikelilingi semak belukar itu.
Faida dengan sepeda motornya berhenti tepat didepan jalan kecil itu dan melihat keadaan jalan kecil itu. "Oh, berarti disini ya tempat jalan masuk rumah Bu Kinasih."
Faida ingin segera masuk kedalam jalan kecil itu, tetapi dia mengurungkan niatnya untuk masuk. "Kalau aku masuk sekarang dan Bu Kinasih melihatku, sudah pasti Bu Kinasih akan marah kepadaku karena aku mengikutinya tanpa seizinnya. Hmmm.. Berarti besok pagi aja aku kesini lagi, pas Bu Kinasih pergi berjualan." Ujarnya dalam hati.
Faida akhirnya kembali mengendarai sepeda motornya dan pergi meninggalkan jalan kecil itu yang menjadi tempat jalan masuk menuju rumah Bu Kinasih. "Mumpung aku masih nganggur, besok pagi aku kesini lagi. Sumpah aku sangat penasaran, kenapa ya dia begitu merahasiakannya keberadaan rumahnya. Apalagi sampai dia merahasiakannya kepadaku, padahal jelas bahwa aku ini sahabatnya."
...****************...
Sekitar jam 15.00, Dokter Rebecca tiba dirumah Bu Kinasih, dengan busana yang tampak elegan pertanda dia baru selesai ke suatu acara penting.
Saat itu pintu rumah dalam keadaan tertutup rapat. Dokter Rebecca yang juga memiliki kunci serep rumah itu karena dulu pernah diberikan oleh Bu Kinasih, tetapi ternyata ketika dicari kunci serepnya didalam tas kecilnya, ternyata tidak ditemukan. Akhirnya Dokter Rebecca terpaksa mengetuk pintu rumah untuk memanggil Bu Kinasih.
"TOKK..!! TOOKK..!! TOKK.." Dokter Rebecca mengetuk pintu, dan melakukannya berkali-kali.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu kamar terbuka dari dalam rumah itu. Dokter Rebecca mengintip dari jendela yang terbuat dari jeruji besi. Tampak Bu Kinasih yang terlihat tampak kusam dengan rambut berantakan dan hanya menggunakan bra putihnya dan celana pendek. Yang menandakan bahwa Bu Kinasih baru terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ketukan pintu daei Dokter Rebecca.
Bu Kinasih menghampiri pintu rumahnya tempat dimana Dokter Rebecca berdiri, kemudian bergegas membuka pintu rumah itu.
"Maaf aku tadi ketiduran, Bu Dokter." Kata Bu Kinasih yang bra putihnya tampak basah pertanda bahwa Bu Kinasih sedang menidurkan sambil menyusui Mimi hingga akhirnya ikut tertidur.
"Seharusnya saya yang minta maaf, Bu Kinasih. Karena telah mengganggu tidur siangmu." Jawab Dokter Rebecca. "Rencananya aku tadi saya tadi ingin langung masuk kedalam rumah tanpa harus membangunkan tidurmu dan bayimu. Tapi tampaknya kunci serep rumahmu tertinggal di ruang kerjaku."
"Nggak masalah, Bu Dokter. Ayo masuk!" Ajak Bu Kinasih dan Dokter Rebecca bergegas masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
Bu Kinasih seperti biasa menuju dapur dan membuatkan teh hangat. Setelah itu kemudian membawa kedua cangkir teh hangat itu ke ruang tamu untuk dinikmati oleh mereka berdua sambil duduk di sofa.
"Kedatanganku kesini karena ingin menepati janjiku kemarin. Aku akan memperlihatkan kepada Mimi tentang foto-foto dan video pernikahan Aryan bersama istrinya." Kata Dokter Rebecca.
"Wah, benarkah?! Coba saya lihat dulu!" Bu Kinasih tampak antusias ingin melihatnya.
Dokter Rebecca langsung membuka ponselnya dan membuka galeri untuk memperlihatkan foto-foto dan video pernikahan Aryan itu, kemudian memperlihatkan ke Bu Kinasih.
Bu Kinasih memperhatikan satu persatu foto-foto dan video yang berada di ponsel Dokter Rebecca. "Wah, bagus banget Bu. Aku jadi nggak sabar ingin Mimi melihat ini semua."
"Kalau begitu bawa Mimi kesini, kita perlihatkan foto-foto ini kepadanya." Ajak Dokter Rebecca.
"Tapi Mimi masih tidur siang Bu. Aku tadi netein dia cukup lama sampai dia benar-benar tertidur. Sangking lamanya dia netekk dan nungguin dia tidur nyenyak aku sampai ikut tertidur juga." Jawab Bu Kinasih.
"Kalau begitu, kita tunggu aja sampai Mimi terbangun Bu. Kasihan dia masih tidur." Kata Dokter Rebecca.
"Terima kasih, Bu Dokter." Kata Bu Kinasih sambil menikmati secangkir teh hangatnya. Dokter Rebecca pun menikmati teh hangatnya juga.
"Oh ya, Bu Kinasih. Aku sudah menepati semua janjiku kepadamu. Tetapi ada satu janjimu yang belum kamu tepati kepadaku." Ujar Dokter Rebecca.
"Benarkah? Apa itu Bu Dokter?" Bu Kinasih tampak bingung.
"Kau pernah berjanji padaku untuk menceritakan semua tentangmu, tentang masa lalumu, dan apapun tentangmu." Jawab Dokter Rebecca. "Waktu itu kami berjanji padaku jika aku sudah memenuhi semua janjiku, kau akan menceritakan semua tentangmu. Tapi hingga sekarang kamu belum menceritakannya."
"Oh, begitu.." Bu Kinasih kemudian menaruh secangkir teh hangatnya tadi ke atas meja. "Baiklah, Bu. Saya akan menceritakan semuanya dari awal. Terutama tentang masa laluku, bersama keluargaku, Manika, bahkan mantan suamiku."
Dokter Rebecca kemudian menaruh secangkir teh hangatnya juga ke atas meja dan mulai fokus menyimak perkataan yang akan diceritakan oleh Bu Kinasih.
__ADS_1
+++BERSAMBUNG+++