
"Lalu bagaimana kamu bisa selamat?" Padahal sudah jelas rumahmu sudah terkepung oleh para warga?" Dokter Rebecca bertanya lagi.
"Sebenarnya didalam ruang bawah tanah itu masih ada pintu rahasia lagi yang di dalamnya ada terowongan untuk menuju keluar yang langsung mengarah jauh kedalam hutan. Ayahku menciptakan pintu itu memang bertujuan untuk kabur. Maksudnya sebagai jalan pintas jika suatu saat identitas kami ini ketahuan oleh warga." Jawab Bu Kinasih. "Pintunya itu sengaja dibentuk samar menyerupai tembok agar tidak ketahuan. Dan pintu itu mengarah jauh ke hutan agar melarikan diri menjadi lebih mudah."
Bu Kinasih menyicip sedikit teh hangatnya kemudian menaruhnya lagi di atas meja, "Aku masuk kedalam pintu rahasia itu, dimana yang terowongannya memang sangat gelap dan sempit. Ketika aku berhasil keluar disebuah hutan dengan melewati pintu rahasia itu, aku menyaksikan dari kejauhan, ibu dan adikku dibakar hidup-hidup oleh warga. Bahkan rumahku pun sudah dibakar juga dan telah dilahap dengan api yang menyala-nyala."
Dokter Rebecca dan Mimi mendengar cerita Bu Kinasih dengan wajah Miris. Sementara itu Bu Kinasih terus melanjutkan ceritanya.
"Saat itu aku kebingungan, aku sedih, aku marah, aku dendam saat menyaksikan itu semua. Keluargaku tewas mengenaskan, rumahku rata dengan tanah. Sedangkan aku nggak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menyaksikan keluargaku dibantai, dan rumahku dibakar. Saat itu aku merasa nggak mungkin aku tinggal dan bertahan di kampung itu lagi."
"Aku melihat ada truk pengangkut kepala sawit yang kebetulan masih parkir dan akan siap berangkat. Secara diam-diam aku menyusup ke bak truk yang berisi kelapa sawit itu yang tertutup kain terpal. Hingga akhirnya truk itu berjalan dan meninggalkan desa itu dan membawaku ke kota ini, membuatku tinggal di kota ini hingga saat ini." Kata Bu Kinasih.
"Lalu bagaimana dengan Manika? Bagaimana kamu bertemu dengannya?" Tanya Dokter Rebecca.
"Dia adalah gadis lugu yabg yang pertama kali aku jumpai di kota ini. Awal hidup di kota ini aku nggak punya siapa-siapa, aku nggak punya keluarga, apalagi sejumlah uang untuk membeli makanan." Jawab Bu Kinasih.
"Aku membunuh seorang pengemis yang berpura-pura lumpuh di jalan Permata, dan mengambil semua uangnya, kemudian membuang jasadnya ke sungai di jembatan yang kebetulan arus dibawah jembatan itu sangat deras. Kemudian aku makan di warung tempat Manika bekerja, dan disitulah awal kami saling mengenal." Lanjut Bu Kinasih.
"Kau membunuh Pengemis di jembatan permata? Ya, aku memang pernah dengar beritanya bahwa ada seorang pengemis lumpuh yang ditemukan di sungai itu. Padahal dia diduga mati karena terjatuh dari jembatan. Ternyata kau yang membunuhnya?!" Ujar Dokter Rebecca.
"Ya Bu. Pengemis itu bukan mati karena jatuh,tetapi memang aku yang membunuhnya. Dulu sekitar satu kilometer dari jembatan itu ada sebuah warung. Nah, di warung itulah tempat Manika bekerja." Kata Bu Kinasih. "Sudah bertahun-tahun hingga warung itu sudah nggak pernah dibuka lagi. Karena pemiliknya sudah pindah keluar kota dan dengar-dengar warungnya sekarang sudah berubah menjadi restoran. Tapi aku sudah lupa di kota mana pemilik warung itu pindah. Karena sudah lama sekali aku nggak mendengar kabarnya."
"Lanjutkan saja ceritamu yang tadi. Aku semakin penasaran." Ujar Dokter Rebecca. Sementara itu Mimi yang berbaring di dada Bu Kinasih pun juga semakin ikut penasaran mendengar ceritanya.
"Awalnya aku makan di warung tempat dia bekerja itu, menggunakan uang hasil rampasan pengemis yang aku buang ke sungai tadi. Kami kemudian berkenalan, dan mulai akrab. Awalnya aku berniat mencari celah untuk memperkosanya, tetapi entah mengapa aku justru mendapatkan kelemahannya lebih awal. Sehingga aku nggak perlu melakukan pemerkosaan untuk mendapatkan dan menikmati tubuhnya."
"Aku tahu kelemahan yang kau maksud, dia penderita Sindrom Paraphilic Infantilism, bukan?! Kau pernah ceritakan itu." Kata Dokter Rebecca.
"Benar sekali, Bu Dokter. Sindrom yang dimilikinya ini yang membuat dirinya terobsesi untuk bertingkah seperti bayi. Disitulah kelemahannya sehingga aku bisa masuk kedalam hatinya yang berperan sebagai ibu untuknya." Kata Bu Kinasih.
Bu Kinasih bercerita panjang dan lebar mengenai kisah percintaannya dengan gadis yang bernama Manika itu, ceritanya sangat panjang dan tak terasa dia bercerita hampir setengah jam.
"Tapi disaat kami saling mencintai, pernah suatu ketika Manika secara tiba-tiba menjadi sangat takut kepadaku." Kata Bu Kinasih.
"Apa? Kenapa dia sempat mendadak menjadi taku kepadamu, Bu Kinasih?" Tanya Dokter Rebecca.
"Saat dia mengetahui identitas asliku dari keluarga apa aku berasal." Jawab Bu Kinasih. "Saat itu, saat kami sudah tak bisa lagi terpisahkan karena cinta, tanpa sengaja aku bertemu dengan Pamanku yang bernama Paman Umbara yang tinggal di desa lain."
"Di desa lain? Apakah Pamanmu yang bernama Umbara itu seorang Psikopat juga?" Tanya Dokter Rebecca lagi.
"Ya Bu, aku sudah katakan bahwa semua keluargaku itu Psikopat. Tempat tinggalnya jika dari kota ini, letak Desanya lebih jauh lagi. Kalau dari kota ini kesana menempuh jarak waktu hingga sehari semalam." Jawab Bu Kinasih.
"Hmmm.. Lumayan jauh juga." Kata Dokter Rebecca.
"Saat itu tanpa sengaja kami bertemu Paman Umbara saat dia mampir di kota ini untuk urusan dagang."
(FLASHBACK):
Saat itu Bu Kinasih dan Manika sedang mampir di pinggir jalan untuk memakan es campur di sebuah pedagang kaki lima. Bu Kinasih nggak menyangka ternyata seorang yang juga pembeli itu adalah Pamannya yang juga mampir untuk memakan es campur.
__ADS_1
"Lho, Kinasih. Ngapain kamu disini?" Sapa Paman Umbara
"Lho, Paman Umbara? Ngapain Paman disini?" Tanya Bu Kinasih.
"Biasa, istirahat sebentar dari berdagang." Paman Umbara kemudian berbisik ditelinga Bu Kinasih agar tidak terdengar oleh si penjual es campur tersebut, "Syukurlah kamu masih hidup. Aku memang mendengar hanya kamu yang masih di hidup saat penggerebekan itu."
Manika tampak bingung dengan apa yang Bu Kinasih dan Paman Umbara bicarakan.
"Paman, perkenalkan ini adalah Manika." Bu Kinasih memperkenalkan Manika kepada Paman Umbara.
Mereka makan es campur bertiga di pinggiran itu. Setelah itu Bu Kinasih mengajak Paman Umbara untuk singgah dikamar kostnya.
Sesampai di kamar kost Bu Kinasih, Mereka bertiga duduk dilantai yang beralaskan karpet. Bu Kinasih menyuguhkan teh hangat untuk dinikmati mereka bertiga.
"Syukurlah kau masih hidup, Kinasih." Kata Paman Umbara.
"Ya Paman, aku sempat melarikan diri sebelum pembakaran rumahku itu terjadi." Kata Bu Kinasih. "Hingga sekarang aku nggak tahu mengapa para warga sampai bisa mengetahui identitas keluargaku "
"Aku tahu siapa yang membongkar identitas keluargamu dikampung, Kinasih." Kata Paman Umbara.
"Paman tahu darimana? Siapa pelakunya?" Bu Kinasih menjadi penasaran.
"Menjelang terjadinya penggerebekan itu, kebetulan aku ada disitu. Saat itu aku baru tiba di desamu untuk singgah di rumahmu." Paman Umbara mengambil tehnya dan mencicipinya. "Kebetulan warga tidak hafal wajahku, jadi mereka nggak mengetahui kalau aku juga sebenarnya adalah keluarga jauhmu. Saat aku mampir disebuah warung untuk mampir membeli rokok, tiba-tiba muncul seorang wanita berlari telanjang tanpa pakaian sehelai pun kearah kerumunan warga."
"Wanita telanjang? Maksudnya Dolly?" Bu Kinasih bertanya dengan sedikit terkejut.
"Saya nggak tahu namanya, tapi dari bentuk memar di wajah dan bekas luka-luka ditubuhnya, aku yakin pasti wanita itu adalah korban peliharaan kalian." Jawab Paman Umbara.
"Entahlah, yang jelas dia berhasil melarikan diri dari rumah kalian. Dan dia melapor kepada para warga. Disitulah awal mula terjadinya penyerangan di rumahmu." Kata Paman Umbara.
(FLASH REWARD):
"Disitulah akhirnya aku mengetahui mengapa warga mengetahui identitas asli keluargaku jika kami adalah keluarga Psikopat." Kata Bu Kinasih. "Gara-gara Manika mendengar pembicaraanku dengan Paman Umbara tepat dihadapannya, dia akhirnya terkejut karena mengetahui tentang asal usul diriku dan keluargaku. Dia sangat takut denganku, bahkan dia sempat menangis di dalam kamar kostku itu dan ingin segera pergi, tapi aku menahannya."
"Lalu bagaimana caramu untuk membuatnya nggak takut lagi denganmu?" Tanya Bu Kinasih.
"Menenangkan orang yang memiliki sindrom bayi dewasa tentu sangatlah mudah. Aku hanya tinggal langsung menarik tangannya ke arahku, memangku tubuhnya dan menyandarkannya di dadaku. Kemudian aku bergegas menyusuinya untuk meyakinkannya bahwa aku nggak mungkin menyakitinya." Jawab Bu Kinasih. "Meskipun saat itu aku bukanlah ibu menyusui sehingga aku belum menghasilkan Asi nyata untuknya, tapi dengan dia menghisap putingg susuku seperti bayi itu langsung membuatnya merasa tenang."
Mimi yang hanya diam terus menatap wajah Bu Kinasih untuk mendengarkan kelanjutan kisahnya.
"Malam harinya, saat Paman Umbara sudah pulang kembali ke desanya, aku menceritakan semuanya tentang masa laluku kepada Manika. Dia sangat terkejut tercampur rasa takut. Tapi secara perlahan aku berhasil meyakinkannya, dan aku berjanji akan meninggalkan sifat jahatku, dan juga berjanji untuk terus menjadi ibu yang baik buatnya." Kata Bu Kinasih.
Waktu deni waktu terus berjalan, tetapi Bu Kinasih belum selesai menceritakan masa lalunya saat masih muda dan bercinta dnegan Manika.
"Menjadi seorang ibu untuk seorang bayi dewasa ternyata sangat merepotkan tetapi juga sangat menyenangkan. Dengan menjadi ibu, aku benar-benar merasa dibutuhkan, aku benar-benar merasa dicintai dengan sangat tulus dengan orang yang memanggilku Mama. Baginya aku adalah satu-satunya orang yang menjadi tempat dimana dia tidak perlu malu lagi menampakkan aib yang dimilikinya. Aku dan Manika benar-benar tidak bisa dipisahkan. Aku membutuhkannya sebagai pemuas nafsu, sedangkan dia membutuhkanku sebagai seorang ibu untuknya. Hingga akhirnya suamiku mengetahui hubungan rahasia kami dan saat itu aku dan suamiku sudah memiliki bayi berusia 7 bulan yang aku beri nama Mimi." Lanjut Bu Kinasih.
Mendengar cerita Bu Kinasih yang sangat panjang dengan akhir yang dramatis dan berujung kematian antara Manika, suami Bu Kinasih, dan Mimi yang asli yaitu bayi berusia 7 bulan membuat Dokter Rebecca dan Mimi terdiam dengan wajah yang miris bercampur haru.
Bahkan Mimi pun mengeluarkan air mata saat mengetahui betapa menyedihkannya kisah masa lalu Bu Kinasih dengan Manika, dan juga kematian bayinya yang bernama Mimi.
__ADS_1
"Aku nggak habis pikir ternyata begitu kelam kehidupanmu, Bu Kinasih. Terutama tentang bersama Manika dan bayimu." Kata Dokter Rebecca.
"Berkat Manika aku menjadi ketagihan berprofesi sebagai seorang ibu. Sejak Manika masih hidup dan menjadi bayi dewasaku, aku nggak pernah membunuh lagi. Saat itu setelah bekerja, aku lebih fokus menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga yang damai. Manika berhasil menumbuhkan sifat keibuan didalam diriku yang awal sebenarnya tidak ada didalam diriku. Manikalah yang mengajarkanku bahwa menjadi ibu itu sangat menyenangkan." Kata Bu Kinasih.
"Manika memang sosok gadis yang hebat!" Ujar Dokter Rebecca.
"Bu Dokter belum pernah memelihara bayi dewasa, bukan?! Coba deh Bu Dokter memelihara bayi dewasa, aku yakin pasti Bu Dokter bakal ketagihan. Karena ada sensasi luar biasa yang belum pernah dirasakan seorang ibu lainnya ketika melihara bayi dewasa." Saran Bu Kinasih.
"Hmmmm.. begitu ya?! Untuk saat ini belum aku pikirkan hal itu, tapi nggak menutup kemungkinan suatu saat aku akan mencobanya jika rasa penasaranku mendadak muncul." Jawab Dokter Rebecca.
"Aku jamin, Bu Dokter nggak akan menyesal melakukannya." Ujar Bu Kinasih.
"Oh ya, mengenai Pamanmu yang bernama Paman Umbara itu, di desa mana dia tinggal?" Tanya Dokter Rebecca.
"Desa itu letaknya nggak ada yang mengetahui, Bu Dokter. Bahkan tidak ada di dalam peta." Jawab Bu Kinasih.
"Maksudnya itu adalah desa tersembunyi?" Dokter Rebecca bertanya lagi.
"Ya Bu Dokter. Desa ini adalah Desa rahasia yang kelompok kami bangun disebuah hutan." Jawab Bu Kinasih.
"Kelompok??" Dokter Rebecca menjadi bingung kembali.
"Ya Bu, kelompok." Jawab Bu Kinasih. "Perlu Bu Dokter ketahui, antara keluarga Psikopat satu dan keluarga Psikopat lainnya itu sebenarnya saling mengenal. Bahkan mereka memiliki Komunitas sendiri yang sangat rahasia dan tersembunyi."
Bu Kinasih melanjutkan, "Jadi kesimpulannya, orang-orang di komunitas ini berinisiatif untuk membangun sebuah desa sendiri di dalam hutan. Karena selama ini mereka selalu menyiksa korbannya dalam keadaan diam-diam dan khawatir jika perbuatannya itu bakal diketahui oleh masyarakat sekitar."
"Oleh sebab itu mereka berinisiatif untuk membangun desa sendiri untuk bertujuan agar mereka nggak perlu diam-diam lagi untuk menyiksa korban bahkan membunuh atau memakannya." Kata Bu Kinasih. "Di desa itu, mereka bisa dengan bebas melakukan apapun yang mereka mau, tanpa harus khawatir di grebek. Desa itu akhirnya diberi nama Desa Psikopat".
"Desa Psikopat?" Tanya Dokter Rebecca.
"Ya Bu. Kata ayahku, dulu desa itu dibangun saat aku belum lahir. Awal desa itu dibangun hanya berjumlah 4 rumah. Terakhir kali aku kesana saat usiaku 19 tahun, dan saat itu desa itu sudah dihuni sekitar 20 rumah. Tapi nggak tahu sekarang ini berapa rumah sudah jumlahnya, karena sudah lama sekali nggak kesana." Kata Bu Kinasih
...****************...
Tak terasa waktu berjam-jam telah berlalu untuk bercerita. Hari semakin sore dan Dokter Rebecca sudah waktunya untuk pulang.
"Oh ya, Bu Kinasih. Jujur aku menjadi penasaran dengan desa Psikopat itu. Kebetulan besok anak gadisku akan berlibur bersama teman-teman sekolahnya selama dua minggu. Jadi untuk sementara mulai besok aku akan tinggal sendirian di apartemenku. Daripada aku sendirian dirumah nggak ngapa-ngapain, maukah kau menunjukkan kepadaku letak desa Psikopat itu? Kita sama-sama pergi ke desa itu." Ajak Dokter Rebecca.
"Lalu bagaimana dengan bayiku ini, Bu Dokter? Dia tak mungkin aku tinggalkan disini sendirian. Dia pasti akan mati kelaparan." Jawab Bu Kinasih.
"Aku akan membawakan obat bius khusus selama diperjalanan. Bius yang akan aku berikan nanti hanya melumpuhkan sementara seluruh tubuhnya selama diperjalanan, tapi dia masih tetap dalam keadaan sadar meskipun dia tak bisa menggerakkan tubuhnya. Dengan begitu dia juga bisa ikut menikmati perjalanan tanpa harus khawatir dia akan memberontak dan melarikan diri." Jawab Dokter Rebecca.
"Hmmm... Di depan gerbang Desa Psikopat itu dijaga oleh beberapa warga yang memang mendapat giliran sesuai jadwal yang dibuat untuk menjaga pintu gerbang agar orang-orang diluar desa nggak bisa sembarangan. Biasanya yang bertugas menjaga pintu gerbang itu adalah pria-pria dewasa yang menjadi warga disana." Kata Bu Kinasih.
"Memangnya kenapa kalau kita bukan warga disana? Apakah nggak boleh masuk?" Tanya Dokter Rebecca.
"Ketika kita baru didepan pintu gerbang, kita akan disuruh berhenti sementara hanya untuk ditanyakan apa tujuan kita kesana. Jika kita menjawab menuju kerumah salah satu warga disana, berarti kita aman. Karena kita sudah dianggap bagian dari mereka yang ternyata seorang Psikopat juga yang sedang berkunjung ke desa itu." Jawab Bu Kinasih. "Tetapi jika tidak ada orang yang dikenal disana, karena misalnya hanya ingin berjalan-jalan aja, kita tetap boleh dibiarkan masuk. Tetapi penjaga langsung melapor kepada warga secara cepat bahwa ada korban baru yang datang dengan sendirinya, dan warga bersiap untuk menangkapnya agar korban itu bisa dinikmati bersama."
"Wow, berarti kalau orang yang tidak dikenal masuk kesana, ibarat kita masuk kedalam kandang singa yang kelaparan dan siap menyantap kita?!" Ujar Dokter Rebecca.
__ADS_1
"Ya Bu, tapi untungnya aku punya keluarga disana. Makanya aku merasa aman kapan pun aku kesana." Jawab Bu Kinasih.
+++BERSAMBUNG+++