
Bu Kinasih yang sedang menyusui Mimi masih tampak bahagia dan semakin bersemangat untuk menikmati harinya sebagai ibu yang tak pernah bosan untuk memelihara bayi dewasanya.
...****************...
Setelah jam makan siang, Bu Kinasih yang hanya memakai bra warna hitam celana pendek motif kotak-kotak warna biru menuju gudang tempat Adya disekap. Bu Kinasih melihat Adya yang sedang terkapar tak bisa berbuat apa-apa karena seluruh tubuhnya diikat dengan rantai dan tali.
Semakin hari tubuh Adya semakin memprihatinkan dan sangat bau kotoran tinja dan pesing. Karena tubuhnya yang terikat dengan erat dengan terpaksa Adya berak dan kencing disitu juga. Kotoran-kotoran tinja yang tak pernah dibersihkan sejak awal dirinya disekap, membuat kotoran tinja itu memenuhi isi sempakknya bahkan ada yang keluar menempel di paha hingga kaki bahkan jatuh kelantai hingga ikut menempel di badannya yang terbaring tak berdaya.
Bu Kinasih menghampiri Adya, sedangkan Adya hanya menatap Bu Kinasih yang tengah menghampirinya dengan tatapan tajamnya.
Ketika Bu Kinasih sudah berada didekat Adya, Bu Kinasih melihat kotoran-kotoran tinja yang menempel di tubuh Adya itu mulai bermunculan belatung-belatung yang keluar-masuk dari dalam kotoran tinjanya. Kondisi Adya terlihat sangat menjijikkan dari hari sebelumnya.
"Tolong lepaskan aku..!! Hiks..Hikks..!!" Adya kembali menangis terisak-isak dan memohon agar Bu Kinasih mau berbaik hati melepaskannya.
Tubuh Adya yang terbaring di atas kotoran tinjanya sendiri hingga membuat rambut indahnya juga ikut tertempel kotoran tinjanya bersama belatung-belatung yang berkeliling di rambutnya. Wajah Adya kini sudah tak lagi nampak cantik dan bersih, melainkan wajah yang sangat kotor dipenuhi kotoran-kotoran yang menghitam dan tampak sangat menjijikkan.
"Justru itu aku kemari, aku akan melepaskanmu." Jawab Bu Kinasih yang tersenyum. Meskipun tubuh Adya ini sangat bau kotoran tinja dan pesing, tetapi Bu Kinasih tak sedikitpun menutup hidungnya. Seolah ini adalah hal yang biasa baginya.
"Benarkah?" Adya nyaris tak percaya jika Bu Kinasih akan melepaskan rantai dan tali yang mengelilingi dan mengikat tubuhnya tersebut.
Ternyata memang benar, Bu Kinasih melepaskan seluruh tubuhnya dari ikatan tali dan rantai, hingga Adya bisa bebas menggerakkan tubuhnya. Adya tampak terkejut mengapa Bu Kinasih melepaskannya begitu saja.
Setelah semua rantai dan tali lepas dari tubuhnya, dia langsung bangkit untuk duduk dihadapan Bu Kinasih. Kedua tangannya langung membersihkan belatung-belatung yang menempel dan berkeliaran di seluruh tubuhnya.
"Sekarang pergilah!" Perintah Bu Kinasih kepada Adya.
Adya kembali terkejut, apakah semudah itu Bu Kinasih melepaskan dirinya.
"Ayo pergilah..! Jangan sampai aku berubah pikiran..!!" Perintah Bu Kinasih lagi kepada Adya.
Adya yang tak sanggup berkata-kata lagi hanya bisa mengeluarkan air mata bahagia. "Jika kau membebaskan aku, lalu bagaimana dengan dirimu? Aku takut nanti malah Dokter Rebecca akan menyakitimu, karena tahu kau yang membebaskan aku." Ujar Adya.
"Kamu nggak usah khawatirkan aku. Dokter Rebecca nggak mungkin menyakitiku. Ayo..!! Pergilah..!! Jika kamu terlalu mengulur waktu untuk segera pergi, aku akan berubah pikiran dan akan mengikatmu lagi disini..!!" Ujar Bu Kinasih.
"Terima kasih, Bu! Aku janji nggak akan melupakan kebaikan ibu! Terima kasih, Bu!" Kata Adya dengan wajah yang menyedihkan.
"Ayo pergilah..!!" Perintah Bu Kinasih.
Adya kemudian bangkit untuk berusaha berdiri dan akan segera pergi. Tapi justru yang terjadi adalah Adya malah terjatuh kembali. Adya mulai berusaha bangkit kembali, tetapi yang terjadi dia malah terjatuh lagi.
Adya akhirnya terkejut, ternyata lututnya tak mampu menopang berat tubuhnya.
"HAHAHAHA..!!" Bu Kinasih malah tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang terjadi denganku? Kenapa kakiku nggak bisa aku gunakan untuk berdiri?" Adya mulai panik.
"Kamu lupa ya kalau kalau kemarin, Dokter Rebecca menyuntikkan sesuatu ke lututmu?! Itu sebenarnya adalah untuk melemahkan lututmu. Jadi mulai hari ini lututmu sudah nggak bisa digunakan lagi untuk berdiri. Hahahaha...!!" Ujar Bu Kinasih sambil tertawa terbahak-bahak.
Adya hang mendengar hal itu sontak langsung menangis sambil memegangi kedua kakinya. Pantesan saja secara tiba-tiba Bu Kinasih melepaskan dirinya, yang ternyata Bu Kinasih hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya sudah tak dapat berdiri lagi.
Saat Adya masih menangis tersedu-sedu, sementara itu Bu Kinasih mengambil rantai dan mengalungkan ke leher Adya seperti binatang.
"Kamu nggak usah khawatir, meskipun kamu nggak bisa berdiri tetapi kamu masih bisa merangkak. Merangkaklah seperti anjing!" Ujar Bu Kinasih.
__ADS_1
Kemudian Adya menarik rantai yang telah mengikat leher Adya, untuk menggiring Adya keluar dari dalam gudang. "Ayo, merangkaklah keluar, aku mau membersihkan tubuhmu!"
Adya yang hanya bisa menangis, dipaksa untuk merangkak menuju keluar dari dalam gudang, sambil digiring oleh Bu Kinasih yang menarik rantai yang mengikat leher Adya. "Ayolah..!!"
Bu Kinasih terus menarik rantai yang mengelilingi leher Adya hingga tercekik, membuat Adya akhirnya terpaksa merangkak seperti anjing yang digiring oleh Bu Kinasih menggunakan rantai dilehernya untuk mengikuti perintah Bu Kinasih.
Adya keluar dari dalam gudang itu dengan cara merangkak, dan Bu Kinasih memandu Adya dengan cara menarik rantai itu seperti memandu seekor anjing kemana harus berjalan.
Adya terus merangkak melewati rerumputan dan melintasi perkebunan, sambil dipandu oleh Bu Kinasih yang menggiringnya dengan rantai mengelilingi leher Adya tersebut. Tampak Bu Kinasih seperti memandu seekor anjing yang ternyata itu adalah manusia.
Bu Kinasih terus menggenggam rantai yang mengikat leher Adya yang sedang merangkak untuk mengarahkan Adya ke sebuah sumur tempat biasa Bu Kinasih untuk mandi dan mencuci pakaian. Adya yang hanya bisa menangis sambil merangkak hanya bisa pasrah menuruti segala perintah dari Bu Kinasih terhadapnya.
Ketika telah sampai di sumur dan akan memandikan Adya, Bu Kinasih membuka seluruh pakaiannya Adya dengan langsung merobeknya. Membuat Adya kini tidak memakai sehelai kain pun untuk menutupi tubuhnya yang dipenuhi kotoran.
Bu Kinasih kemudian menimba air kedalam sumur tersebut dan menyiramkan air dari dalam timba itu ke seluruh tubuh Adya. Bu Kinasih menimba air dari dalam sumur itu lagi, kemudian menyiramkannya lagi ke seluruh tubuh Adya.
Setelah seluruh tubuhnya Adya sudah basah, bukan sabun mandi yang digunakan untuk membersihkan tubuh Adya dari kotoran-kotoran tinja dan belatung yang menempel di tubuhnya, melainkan sabun cuci yang biasa digunakan untuk mencuci pakaian. Setelah seluruh tubuh Adya termasuk rambutnya di lumuri oleh sabun pencuci pakaian itu, kemudian Bu Kinasih mengambil timba kemudian mengambil air dari dalam sumur itu lagi dan menyiramkannya ke seluruh tubuh Adya. Begitu seterusnya sampai tubuh Adya benar-benar bersih.
Setelah tubuh Adya mulai bersih kembali, wajah cantik Adya pun akhirnya tampak kembali, tetapi tidak secantik biasanya karena sekarang tidak memakai make up dan tampak pucat karena dipenuhi oleh rasa ketakutan yang tinggi.
Bu Kinasih kembali menarik rantainya untuk menggiring Adya yang merangkak menuju teras belakang rumahnya, dan membiarkan tubuhnya tanpa memakai pakaian sehelai kain pun.
Setelah berada di teras, rantai yang mengikat leher Adya di kaitkan di tiang pilar rumah agar Adya tidak bisa lari kemana-mana. Kemudian Bu Kinasih menuju kedalam kamar untuk mengambil Mimi dan membawanya ke teras belakang itu juga.
Bu Kinasih yang sedang menggendong Mimi, duduk tepat dihadapan Adya yang lehernya diikat dengan rantai seperti anjing. Mimi yang dibaringkan dipangkuan Bu Kinasih, melihat Adya yang juga menatap dirinya.
Tak perlu pikir panjang, Bu Kinasih kembali mengeluarkan buah dada besarnya dari balik bra hitamnya dan menyusui Mimi kembali.
Bu Kinasih menyusui Mimi tepat dihadapan Adya yang bertujuan memang untuk dipamerkan kepada Adya, bahwa dia memiliki bayi dewasa yang sedang menyusu kepadanya.
...****************...
Sekitar jam 17.00 sore hari, Dokter Rebecca datang mengunjungi rumah Bu Kinasih. Karena Dokter Rebecca juga memiliki kunci rumah Bu Kinasih yang sengaja diberikan kepadanya, dia membuka pintu depan rumah dan langung menuju ke belakang.
Saat Dokter Rebecca sampai di teras belakang rumahnya, dia melihat Adya yang tak memakai pakaian sehelai pakaian pun tertidur dilantai dengan rantai yang mengikat lehernya, tampak seperti anjing peliharaan yang sedang tertidur.
Rebecca juga melihat Bu Kinasih yang hanya memakai bra warna hitam juga tertidur dilantai sambil ngelonin dan menyusui Mimi yang juga ikut tertidur didekapan Bu Kinasih. Mimi yang matanya terpejam sambil menghisap putingg susu Bu Kinasih tampak juga ikut tertidur pulas dengan wajah polosnya.
Dokter Rebecca sepertinya tak ingin kehilangan momentum itu. Dia langsung segera mengeluarkan ponselnya dan merekam situasi itu dalam sebuah video rekaman dari ponselnya.
Dokter Rebecca merekam video Adya yang tidak berpakaian sedang tertidur, dari wajah, leher yang terikat dengan rantai, hingga kaki Adya.
Dokter Rebecca juga merekam Mimi dari dekat yang sedang tertidur sambil menghisap putingg susu dari buah dada yang sangat besar dengan posisi di kelonin oleh Mamanya yaitu Bu Kinasih.
"Kenapa kau merekamku, Bu Dokter?" Bu Kinasih mendadak membuka matanya, terbangun dan mengejutkan Dokter Rebecca.
"Oopps, nggak ada apa-apa. Hanya saja aku melihat momen yang bagus untuk diabadikan." Jawab Dokter Rebecca.
Bu Kinasih kemudian melepaskan putingg susunya dari dalam mulut Mimi secara perlahan agar Mimi tidak terbangun dari tidurnya. Setelah putingg susunya berhasil dilepas, kemudian buah dada besarnya itu kembali dimasukkan kedalam bra hitamnya, kemudian bangkit untuk duduk.
Dokter Rebecca pun akhirnya ikut duduk dihadapan Bu Kinasih, yang ditengahnya ada Mimi yang sedang terbaring dengan masih tertidur pulas.
"Bolehlah aku melihat hasil rekamannya Bu Dokter?" Pinta Bu Kinasih kepada Dokter Rebecca.
__ADS_1
"Oww, tentu!" Jawab Dokter Rebecca yang kemudian memperlihatkan hasil rekaman videonya.
Bu Kinasih menyaksikan dirinya dan Mimi yang asyik menyusu kepadanya sampai tertidur pulas. "Video yang bagus. Aku ingin sekali memiliki video itu."
"Tapi bagaimana aku bisa membagikan video ini kepadamu? Sedangkan kamu sendiri juga nggak punya ponsel." Kata Dokter Rebecca.
"Kalau begitu maukah ibu untuk tidak menghapus video itu dari ponselmu? Jadi jika aku ingin melihat video itu lagi, aku akan meminjam ponselmu sebentar untuk melihatnya." Pinta Bu Kinasih.
"Oh, tentu saja. Video ini akan tetap berada di ponselku. Karena aku juga menyukainya." Jawab Dokter Rebecca.
"Terima kasih Bu." Kata Bu Kinasih.
"Oh ya, besok sore maukah kamu menemaniku ke toko hewan? Aku ingin mencari kandang anjing untuk tempat tinggal Adya." Ajak Dokter Rebecca.
"Kenapa nggak lusa aja bu? Bukankah lusa itu hari libur?" Tanya Bu Kinasih.
"Hari libur tentu aku nggak bisa. Karena anak gadisku sudah memboking waktuku untuk menemaninya seharian selama hari libur. Makanya aku mau besok saja." Jawab Dokter Rebecca.
"Baiklah, Bu. Adya memang perlu kandang." Ujar Bu Kinasih.
"Oh ya, ini ada paket yang waktu itu pernah aku pesankan untukmu yang dibeli secara online dari komunitas ABDL itu." Dokter Rebecca menyodorkan sebuah bingkisan paket yang terbungkus rapi dengan kertas dan lakban.
Bu Kinasih menerima bingkisan paket yang diberikan oleh Dokter Rebecca itu dan segera membukanya. Ternyata isinya adalah beberapa pakaian bayi dewasa, empeng berukuran besar yang pas untuk mulut Mimi, beserta kaos kaki warna warni.
"Wah, ini bagus sekali, Bu! Bahkan lebih bagus yang aku bayangkan." Bu Kinasih tampak kegirangan.
Bu Kinasih langsung membangunkan Mimi yang sedang tertidur, "Mimi, bangun nak! Coba lihat apa yang diberikan Tante Rebecca buat Mimi!"
Mimi yang dibangunkan oleh Bu Kinasih akhirnya terbangun dan melihat Bu Kinasih sedang memperlihatkan pakaian bayi dewasa untuk dirinya.
"Bu Dokter tunggu disini dulu ya! Aku mau menaruh bingkisan ini kedalam kamar sekaligus memakaikan salah satunya kepada Mimi." Ujar Bu Kinasih.
"Silahkan, Bu! Biar saya disini menemani anjingku Adya yang masih tertidur." Jawab Dokter Rebecca.
Bu Kinasih kemudian membawa bingkisan itu sambil menggendong Mimi menuju kedalam kamar dengan perasaan yang sangat bahagia.
Bu Kinasih yang tidak sabar, langsung membaringkan Mimi di atas kasur kapuknya, dan bergegas melepas seluruh pakaian yang dipakai Mimi, termasuk melepas popok Mimi yang sudah menampung penuh air kencing Mimi selama seharian ini.
Bu Kinasih memasukkan empeng kedalam mulut Mimi, dan juga memakaikan pakaian bayi dewasa yang baru kepada Mimi.
Mimi yang hanya bisa pasrah mengikuti apa kemauan Bu Kinasih. Dirinya semakin tampak seperti bayi sungguhan yang cantik. Lengkap dengan empeng di mulutnya. Dan yang terakhir Bu Kinasih memakaikan kaos kaki panjang bewarna putih dan popok baru untuk Mimi bewarna biru.
"Wah, Mimi tampak cantik sekali, nak!" Kata Bu Kinasih yang langsung mendekap tubuh Mimi ke pelukannya. Bu Kinasih tampak kegirangan, kemudian kembali menggendong Mimi menuju teras belakang kembali untuk diperlihatkan kepada Dokter Rebecca.
Sesampainya di teras, Bu Kinasih yang tampak kegirangan sambil menggendong Mimi langsung menyapa dan memperlihatkan kepada Dokter Rebecca yang sedang duduk di samping anjing peliharaannya.
"Bu, coba lihat! Apakah bayiku tampak cantik?" Bu Kinasih bertanya dengan penuh rasa kegirangan.
"Wow, Mimi cantik sekali, dan sangat menggemaskan!" Jawab Dokter Rebecca yang juga tampak takjub melihat Mimi yang berpakaian bayi dewasa barunya lengkap dengan empeng yang berada di mulut Mimi.
"Benarkah?" Ooww bayi kecil mama yang paling mama sayangi!" Bu Kinasih memeluk erat dan menciumi wajah dan tubuh Mimi sambil menggendong Mimi.
Mimi hanya bisa pasrah tanpa ada perlawanan, karena sudah terbiasa diperlukan seperti bayi oleh Bu Kinasih. Apalagi peluang untuk dirinya melarikan diri dari tempat itu sangatlah kecil, karena dia sudah tak bisa berjalan normal lagi, dan hanya bisa merangkak seperti bayi untuk selamanya.
__ADS_1
+++BERSAMBUNG+++