
Dokter Rebecca kemudian menaruh secangkir teh hangatnya juga ke atas meja dan mulai fokus menyimak perkataan yang akan diceritakan oleh Bu Kinasih.
Bu Kinasih kemudian mulai menceritakan tentang dirinya kepada Dokter Rebecca. "Sebenarnya aku.................."
Baru saja Bu Kinasih mulai bercerita, tiba-tiba terdengar suara berisik dari dalam kamar. "Tunggu sebentar ya, Bu Dokter. Tampaknya bayiku sudah bangun tidur."
Bu Kinasih langsung bangkit dari tempat duduknya dan segera menuju kamar untuk menghampiri bayi dewasanya itu. Obrolan menjadi tertunda, dan Dokter Rebecca yang duduk di sofa kemudian ikut bangkit mengikuti Bu Kinasih menuju kamarnya.
Ternyata Mimi yang tampak hanya bertelanjang dada dan hanya memakai popok sambil menghisap empeng terbangun karena berak di popoknya. Sehingga isi popoknya Mimi dipenuhi oleh kotoran tinja. Dengan segera Bu Kinasih mengangkat tubuh Mimi menuju toilet dan disaksikan oleh Dokter Rebecca yang terus mengikutinya.
Didalam toilet yang tampak sangat kumuh, Bu Kinasih merobek popok yang dipakai Mimi dan berisi kotoran tinja itu. Aroma bau kotoran tinja sangat tercium jelas menyengat hidung. Tetapi Bu Kinasih dan Dokter Rebecca terlihat sangat biasa dengan aroma itu yang tercium di hidung mereka.
Dokter Rebecca memperhatikan Bu Kinasih yang sedang membersihkan bagian sensitif Mimi dari kotoran-kotoran tinja yang menempel dengan air dan sabun.
Setelah selesai membersihkan tubuh Mimi dari kotoran tinjanya, Bu Kinasih mengangkat tubuh Mimi kembali menunju kamar, dan diikuti oleh Dokter Rebecca dari belakang.
Didalam kamar Bu Kinasih mengoleskan bedak bayi ke bagian sensitif Mimi, setelah itu memakaikan popok yang baru kepada Mimi.
Ketika sudah selesai, Bu Kinasih mengangkat tubuh Mimi dan membawanya keruang tamu bersama Dokter Rebecca.
Bu Kinasih duduk di sofa sambil membaringkan Mimi dipangkuannya, ditemani oleh Dokter Rebecca yang sudah tidak sabar menunggu kisah tenang perjalanan hidup Bu Kinasih.
"Bisakah kau bercerita sekarang, Bu Kinasih?" Dokter Rebecca tampak semakin tak sabar menunggu Bu Kinasih bercerita.
"Ya, tentu. Tapi apakah Bu Dokter siap mendengar dan percaya cerita tentang diriku?" Bu Kinasih mulai memastikan.
"Justru itu yang sudah lama aku tunggu." Jawab Dokter Rebecca.
"Hmmm.. Perlu Bu Dokter ketahui, aku dulu tinggal disebuah desa yang sangat jauh dari kota ini. Jika dari kota ini, perjalanan membutuhkan waktu sekitar 12 jam." sambil memangku Mimi dan membaringkan kepada Mimi di dada besarnya, Bu Kinasih mulai menceritakan masa lalunya.
"Kau punya keluarga? Apakah mereka masih tinggal disana?" Dokter Rebecca tampak mulai serius memperhatikan Bu Kinasih yang sedang bercerita.
"Keluargaku disana sudah mati." Jawab Bu Kinasih.
"Mati? Kenapa bisa?" Tanya Dokter Rebecca
"Mungkin Dokter nggak nyangka, aku berasal dari keluarga yang unik." Jawab Bu Kinasih.
"Unik? Maksudnya?" Dokter Rebecca tampak bingung.
"Kebiasaan unik. Yang sangat jarang orang temui. kebiasaan itu sangat menjijikkan bagi orang lain, tapi sangat menyenangkan bagi kami." Jawab Bu Kinasih.
"Aku masih belum mengerti apa maksudmu itu. Ceritakan secara detail biar aku benar-benar paham!" Pinta Dokter Rebecca.
Mimi pun yang saat ini bersandar dipangkuan Bu Kinasih pun ikut penasaran ingin mendengarkannya.
"Aku hidup dan berasal dari keluarga Psikopat." Bu Kinasih langsung menjawab intinya.
"Keluarga Psikopat? Berarti semua keluargamu memiliki kegilaan yang sama denganmu?" Dokter Rebecca terkejut, bahkan Mimi pun ikut terkejut.
"Ya, semua keluargaku Psikopat." Jawab Bu Kinasih. "Mungkin menurut Bu Dokter apa yang saya lakukan ini sudah sangat gila. Tapi sebenarnya apa yang saya lakukan ini masih belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan mereka."
"Berarti keluargamu jauh lebih gila lagi daripada kamu?" Tanya Dokter Rebecca yang semakin penasaran.
"Ya, tentu saja." Jawab Bu Kinasih sambil memeluk dengan erat Mimi yang sedang berbaring dipangkuannya ke dadanya.
__ADS_1
Bu Kinasih melanjutkan kembali penjelasannya, "Ayahku seorang pedagang sayuran. Dia sering keluar kota untuk menjual hasil panennya dengan menggunakan mobil box. Ayahku juga punya hobi sebagai pengrajin patung. Tapi bukan patung yang terbuat dari batu atau kayu, melainkan manusia yang kami bunuh kemudian kami awetkan dengan bahan pengawet sehingga seperti bentuk Mumi dengan berbagai macam gaya."
"Ibuku seorang Biseksual dan memiliki nafsu yang sangat tinggi. Dia suka sekali berhubungan intim dengan ayahku bahkan tak mempedulikan waktu, dan juga sering sekali memperkosa korban yang kami culik terutama wanita sebelum dibunuh dan dimakan"
Dokter Rebecca semakin terkejut, "Dimakan..? Maksudmu, kalian membunuh dan memakan korban kalian? Kalian juga kanibal?"
"Ya bu, ibuku suka memasak manusia yang ayahku culik dari kota. Jika pulang dari kota, ayahku sering membawa beberapa korban didalam mobil boxnya untuk diperkosa sekaligus dimakan bersama-sama dengan kami. Tak ada satupun korban yang bisa selamat dan bertahan hidup ketika sudah berada didalam rumah kami. Entah itu menjadi seni patung, ataupun menu makanan buat kami." Jawab Bu Kinasih.
Dokter Rebecca semakin penasaran, dia semakin ingin tahu tentang kehidupan Bu Kinasih di masa lalu yang ternyata lebih sadis dari yang dia lihat saat ini.
Mimi pun yang sedang berbaring dipangkuan dan bersandar di dada Bu Kinasih semakin tegang mendengar cerita dari induk susunya itu.
"Sudah sangat banyak korban-korban yang kami bunuh bahkan kami makan. Sudah tak terhitung lagi jumlahnya, bahkan sudah menjadi menu spesial buat kami." Kata Bu Kinasih.
Tak satupun orang kalian biarkan hidup?" Tanya Dokter Rebecca.
"Tidak juga, diantara semua korban yang kami culik dan kami bunuh, tapi hanya ada satu korban yang tetap kita biarkan hidup. Dan itupun hanya satu korban kesayangan ibuku." Lanjut Bu Kinasih.
"Korban kesayangan?" Tanya Dokter Rebecca.
"Ya Bu, hanya satu orang ini yang nggak boleh dibunuh. Bahkan sangat dilarang ibuku untuk membunuhnya. Dia adalah seorang wanita yang saat itu berusia sekitar 25 tahun. Aku nggak tahu nama aslinya, selama bersama kami ibuku memberinya nama Dolly." Jawab Bu Kinasih.
"Dolly?" Tanya Dokter Rebecca
"Ya, Dolly." Jawab Bu Kinasih. "Karena kata ibuku dia lebih cocok jadi boneka pemuas nafsu buat kami. Ibuku selalu merawatnya dan mencambuknya jika Dolly nggak mau nurutin kemauan kami. Selama didalam kandang, dia hanya diberi makan jangkrik hidup dari makanan burung ayahku. Bahkan terkadang dia kami beri makan ulat atau cacing segar."
Mimi tiba-tiba merasa jijik mendengar apa yang dimakan oleh wanita yang diberi nama Dolly itu. Tetapi Dokter Rebecca hanya fokus mendengar cerita dari Bu Kinasih.
"Awal ayahku menculiknya saat dia masih berusia sekitar 16 tahun. Saat ayahku pertama kali membawanya kerumah, dia masih memakai pakaian sekolah SMA karena Ayahku menculiknya saat dia pulang sekolah sendirian dengan berjalan kaki." Lanjut Bu Kinasih.
"Tapi diantara korban-korban yang lain, kenapa hanya Dolly yang dibiarkan hidup? Sedangkan yang lain kalian bunuh, bahkan kalian makan atau menjadi karya seni?" Tanya Dokter Rebecca.
"Entahlah, itu maunya ibuku. Ibuku cuma pernah bilang kalau wanita itu sangat cantik dan sangat menggemaskan baginya. Itu saja. Kami semua boleh memakainya untuk dijadikan pelampiasan nafsu. Bahkan aku pun diperbolehkan memukul tubuhnya jika Dolly menolak melayani nafsu kami, yang penting jangan sampai mati terbunuh, dan yang paling penting Dolly jangan sampai melarikan diri. Setelah selesai dipakai tubuhnya harus dikembalikan lagi kedalam kandang." Jawab Bu Kinasih.
Bu Kinasih melanjutkan ceritanya lagi, "Setiap hari ibuku memperkosanya siang dan malam. Terutama saat ayahku pergi ke luar kota untuk mencari nafkah dan mencari korban yang akan diculiknya. Tangan dan kaki Dolly tak pernah lepas dari ikatan rantai. Ibuku selalu tidur dengannya, bahkan ibuku terkadang memanggilku masuk kedalam kamarnya untuk menemaninya memperkosa Dolly bersama-sama. Dan wanita itu selalu dijadikan boneka nafsu nggak hanya untuk ibuku, tetapi untuk ayahku, aku, bahkan adikku sudah sering menikmati tubuhnya." Kata Bu Kinasih.
"Berarti ketika ayahmu datang, ibumu dan ayahmu memperkosa wanita itu bersama-sama?" Tanya Dokter Rebecca.
"Ya Bu Dokter. Saya sering melihat ayah dan ibuku bersama-sama memperkosa wanita itu. Bahkan kami berempat pernah memperkosa ramai-ramai wanita itu. Adik laki-laki saya pun sudah berkali-kali memperkosa wanita itu sejak dia masih berusia 14 tahun." Jawab Bu Kinasih.
"Setelah aku mendengar sedikit ceritamu tentang keluargamu ini, ternyata kau mempunyai sifat yang sama dengan ibumu. Sama-sama mempunyai korban kesayangan khusus untuk dipelihara." Kata Dokter Rebecca. "Bedanya ibumu menjadikan korban kesayangannya sebagai boneka pelampiasan nafsu, sedangkan kau menjadikan korban kesayanganmu sebagai bayi."
"Hmmm.. Entah mengapa justru aku sendri baru menyadari hal itu." Kata Bu Kinasih.
Kalian benar-benar keluarga yang unik. Aku pernah mendengar cerita seperti itu di film, tapi aku nggak nyangka ternyata kehidupan ini ada di dunia nyata." Cetus Dokter Rebecca.
"Hmmm... sebenarnya justru banyak orang-orang seperti keluargaku ini, Bu Dokter. Tapi hidup mereka tersembunyi." Jawab Bu Kinasih.
"Lalu bagaimana dengan kelanjutan cerita keluargamu?" Dokter Rebecca ingin Bu Kinasih melanjutkan ceritanya.
Bu Kinasih melanjutkan kembali ceritanya, "Kegiatan keluarga yang aku ceritakan tadi itu sudah menjadi rutinitas kami sehari-hari, membunuh, menyiksa, memperkosa, praktek kanibalisme. Kami adalah keluarga yang sangat bahagia. Bertahun-tahun kami tinggal di desa itu, nggak ada satupun warga di desa itu mengetahui bahwa kami adalah keluarga Psikopat. Hingga suatu ketika..........
(FLASHBACK):
Saat aku masih berusia 20 tahun, saat itu menyambut menjelang malam tahun baru. Aku nggak menyangka disiang harinya adalah hari terakhir aku melihat keluargaku.
__ADS_1
Saat itu kami sedang menyekap dua wanita yaitu ibu dan anak gadisnya, yang dibawa oleh ayahku dari kota.
Ayahku bernama Pak Nohan sedang diluar rumah dan aku nggak tahu saat itu dia sedang ngapain. Ibuku bernama Bu Kyati sedang di dapur bersama salah satu korban wanita yang akan dijadikan menu makan malam menyambut tahun baru. Ibuku memiliki tubuh yang besar dan gemuk seperti aku sekarang ini. Oleh sebab itu dia pasti nggak kesulitan menangani korbannya sendiri yang jelas memiliki tubuh lebih kecil dan lebih langsing darinya.
Wanita berusia 38 tahun tahun itu dibawa ke dapur oleh ibuku yang diikat di sebuah kursi, untuk di persiapkan menjadi menu makanan acara tahun baru dirumahnya bersama keluargaku. Mulutnya disumbat kain putih agar tidak bisa berteriak. Sedangkan anak wanita itu yang masih berusia 18 tahun dikurung di dalam ruangan bawah tanah untuk jadi menu selanjutnya, dan saat itu aku sedang memperkosa anak gadisnya diruang bawah tanah.
Dulu saat masih gadis tubuhku tidak gemuk seperti sekarang ini, justru tubuhku saat itu masih langsing. Aku berubah menjadi gemuk ini sejak awa aku hamil.
Saat aku sedang asyik memperkosa anak gadisnya, tiba-tiba Radin adik laki-lakiku membuka pintu kamar di ruang bawah tanah, dan melihatku sedang memperkosa anak gadis berusia 18 tahun yang ibunya sedang di dapur untuk dijadikan menu makanan tahun baru. Dan gadis itu aku perkosa terlebih dahulu sambil menunggu gilirannya untuk dimasak juga dan dimakan untuk menu tahun baru.
Tanpa memakai pakaian sehelai kain pun, dan korban sedang terikat tali kedua tangan dan kakinya.
Saat Radin berdiri didepan pintu, Dia terlihat sangat panik dan penuh kekhawatiran.
"Mbak Kinasih..!!" Radin memanggilku.
"Lho, kamu ngapain disini..?! Kamu nggak lihat apa kakak lagi ngapain.?!" Aku yang terkejut langsung bangkit sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan menghampiri Radin yang sedang panik.
"Mbak, Mama mana..!! Cepat kita pergi dari sini..!!" Pinta Radin kepadaku.
"TOLONG AKU..!! TOLONG LEPASKAN AKU..!! AKU MOHON..!!" Gadis yang kuperkosa menangis merengek dalam kondisi yang memprihatinkan.
"Sabar, sayang! Sebentar kita lanjut bermain lagi, ya!" Kataku kepada gadis itu dengan tangan dan kaki yang terikat dan terbaring tak berdaya.
"Mama ada di dapur lagi masak. Memangnya ada apa sih?" Tanyaku heran kepada adikku itu.
"Warga desa bakal datang kesini untuk mengepung kita, Kak! Warga sudah tau tentang identitas kita.!" Jawab Radin yang sangat panik.
"Benarkah?!" Aku sangat terkejut mendengarnya.
"Iya kak.! Ayo cepat kita cari mama! Kita pergi dari sini..!!" Perintah Radin karena merasa kondisi rumahnya sudah tidak aman.
"Baiklah, kamu cepat temui mama di dapur. Aku pakai pakaian dulu..!! Cepat..!!" Aku memerintahkan adikku untuk memberitahukan kepada mama.
Sementara itu, Aku kembali menoleh kearah korbannya dengan tatapan mata yang tajam. Gadis yang menjadi Korban yang sedang menangis itu kembali menjadi sangat ketakutan.
"Padahal hari ini aku masih pengen lanjut bermain bersama kamu.. Aku masih belum puas menikmati tubuhmu.. Tapi sepertinya gagal dilanjutkan." Aku mengambil pakaianku yang tergeletak dilantai.
Setelah aku memakai pakaianku, Kemudian aku menghampiri gadis itu yang masih menangis terbaring di atas ranjang. Gadis itu sangat ketakutan ketika didekati olehku dengan tatapan yang sangat tajam.
"Aku harus pergi sekarang..! Kemari, sayang. Aku ingin memelukmu sebagai salam perpisahan kita." Aku memeluk gadis yang tak memakai pakaian itu dengan erat.
"CRAATT...!!" Tiba-tiba darah segar mengalir dari perut gadis itu karena aku menikam gadis itu.
"Selamat tinggal, sayang sekali kamu nggak sempat aku makan." Aku menusuk tubuh gadis itu yang tak memakai pakaian itu.
"CRAATTT.!!" Aku menikamnya kembali. Gadis yang menjadi korban itu merasa kesakitan.
"Terima kasih sudah melayani aku barusan." Aku kembali menikam gadis itu berkali-kali hingga akhirnya tewas.
(FLASH REWARD):
"Setelah aku menikam gadis itu berkali-kali hingga tewas, aku langsung keluar dari ruang bawah tanah. Tapi sayang, sebelum aku keluar, aku mendengar teriakkan-teriakan bahwa para warga berhasil menangkap seluruh keluargaku. Rumah kami benar-benar sudah terkepung, bahkan kecil kemungkinan untuk bisa melarikan diri dari banyaknya warga yang mengamuk itu." Kata Bu Kinasih.
"Lalu bagaimana kamu bisa selamat?" Padahal sudah jelas rumahmu sudah terkepung oleh para warga?" Dokter Rebecca bertanya lagi.
__ADS_1
+++BERSAMBUNG+++