Mimi Si Gadis Bayi

Mimi Si Gadis Bayi
Rencana Dokter Rebecca


__ADS_3

Mimi hanya pasrah bersandar di dada Bu Kinasih sambil menghisap empengnya. Sedangkan Bu Kinasih tak berhenti membelai rambut Mimi dengan lembut.


...****************...


Dua minggu telah berlalu sejak Adya disekap dirumah Bu Kinasih. Dokter Rebecca hampir setiap hari kerumah Bu Kinasih pada sore hari, kecuali hari minggu.


Bu Kinasih dan Dokter Rebecca pun menyaksikan Adya dan Mimi semakin akrab, karena sering melihat mereka ngobrol bareng meskipun Adya berada didalam kandang.


Terkadang juga Adya dikeluarkan dari dalam kandang dengan rantai anjing yang mengikat lehernya agar tidak bisa pergi kemana-mana.


Bu Kinasih dan Dokter Rebecca sedang duduk di sofa butut sambil menikmati secangkir teh hangat, sambil menyaksikan Adya yang sedang berada didalam kandang dan sedang ditemani oleh Mimi yang sedang duduk di luar kandang tepat dihadapan Adya sambil menghisap empengnya.


"Kau lihat, bayimu tampaknya sangat akrab dengan anjingku." Kata Dokter Rebecca sambil memegang secangkir teh hangat miliknya.


"Ya, Bu Dokter. Bayiku tampaknya menyukai anjingmu. Jika aku perhatikan juga, anjingmu tampak jinak jika bertemu dengan bayiku." Jawab Bu Kinasih yang kemudian menikmati secangkir teh hangat miliknya.


"Oh ya, Bu Kinasih. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu. Tapi....... tampaknya ini bukanlah berita yang mengenakan, entah itu bagi kita, ataupun entah itu bagi bayimu dan anjingku." Kata Dokter Rebecca.


"Apa itu, Bu?" Tanya Bu Kinasih


"Hmmmm... aku juga bingung harus mulai dari mana untuk menjelaskannya. Karena bagiku ini tampak sangat berat." Ujar Dokter Rebecca dengan wajah agak murung.


"Seberat apapun itu berita, pasti akan lebih terasa berat jika nggak disampaikan, Bu Dokter. Karena juga akan menimbulkan rasa penasaran bagi yang ingin mendengarkan beritanya." Kata Bu Kinasih.


"Bu Kinasih, aku sudah membeli rumah yang pernah aku rencanakan dan pernah aku ceritakan padamu saat itu." Kata Dokter Rebecca.


"Oh ya, aku ingat. Waktu itu Bu Dokter pernah mengajakku untuk ikut tinggal disana apabila Bu Dokter sudah membeli rumah itu." Kata Bu Kinasih yang ternyata masih mengingat hal itu.


"Ya, Bu Kinasih. Aku sudah putuskan untuk membeli rumah itu. Aku tentu membelinya tanpa sepengetahuan anak-anakku. Karena rumah itu aku beli memang khusus sebagai tempat menyalurkan hobi baruku ini. Rumah itu bagus dan cukup besar, juga sangat jauh dari jangkauan orang. Sama pula seperti rumah ini yang jauh dari tetangga. Dilengkapi halaman yang luas dan ruang bawah tanah yang bisa kita jadikan tempat rahasia untuk mengurus anjing-anjingku." Ujar Dokter Rebecca


"Anjing-anjing, ibu?! Maksudnya Bu Dokter nanti akan berencana memelihara anjing lebih dari satu?" Bu Kinasih menjadi heran.


"Ya, Bu Kinasih. Aku sudah cek ruang bawah tanah itu dan tempatnya lumayan luas meskipun gelap. Tapi sudah dipasang lampu sehingga menjadi tidak masalah." Jawab Dokter Rebecca.


"Jadi, siapa lagi anjing yang akan ibu adopsi selain Adya?" Tanya Bu Kinasih yang menjadi penasaran.


"Entahlah. Aku juga belum mencari mangsa baru. Jujur awalnya aku melakukan ini semua hanya untuk balas dendam kepada Adya yang telah menghancurkan rumah tanggaku. Bahkan kehadiran Adya telah merenggut kebahagiaanku dengan. Tapi entah mengapa aku jadi berfikir ternyata dibalik semua ini aku malah menemukan hobi baruku, kehadiran Adya sekarang justru berbalik menjadi kebahagiaanku sekarang." Jawab Dokter Rebecca.


Dokter Rebecca meminum sedikit teh hangatnya kemudian melanjutkan lagi perkataannya, "Entah mengapa aku merasa jadi lebih bahagia sekarang. Selama aku bercerai dengan Pak Dwija, hidupku selalu dipenuhi rasa sakit hati dan dendam yang sebenarnya membuat hidupku selama ini tak tenang. Kini aku menemukan hobi baru yang bisa membuatku lebih bahagia daripada sebelumnya. Memelihara anjing membuatku merasa sangat puas."


"Aku jadi merasa Bu Dokter menjadi lebih sadis daripada aku. hehehhe..!" Bu Kinasih sambil tersenyum.


"Entahlah.! Aku juga mulai berfikir ingin menambah anjing baru. Mungkin dengan adanya anjing baru yang lucu-lucu dan cantik akan membuatku lebih terhibur lagi. Jujur aku jadi kecanduan untuk melakukan hal ini. Aku selalu memikirkan hal ini. Bahkan sepertinya aku bakal tak bisa tenang tanpa melakukan hal ini. Aku menjadi kecanduan, Bu!" Ujar Dokter Rebecca.


"Oh, begitu. Aku selalu mendukungmu, Bu Dokter. Itulah sebabnya aku memelihara bayi cantik seperti Mimi. Karena dengan melakukan hal inilah aku menjadi merasa telah menemukan kebahagiaan bahkan sangat bahagia." Balas Bu Kinasih.


"Ya, Bu Kinasih. Kini aku mengerti sekarang, mengapa kamu begitu menikmati kesendirian dan hanya ingin hidup bersama bayimu saja. Karena disitulah letak kebahagiaannya. Aku pun sudah menemukan kebahagiaanku. Orang lain yang belum pernah melakukan apa yang kita lakukan sekarang ini, pasti nggak akan paham." Ujar Dokter Rebecca.


"Saya sangat setuju dengan pendapat Bu Dokter. Aku yakin siapapun orangnya yang melakukan hal yang seperti kita lakukan ini, pasti akan ketagihan. Karena keberadaan peliharaan kita ini menjadi penghilang stres atau penghibur yang paling mujarab." Jawab Bu Kinasih.

__ADS_1


"Oleh sebab itulah mengapa aku membeli rumah baru yang lebih besar. Karena aku ingin mengerjakan hal ini bukan karena ingin balas dendam lagi, tapi melainkan sebagai penyalur hobi baruku yang membuatku menjadi sangat terhibur dan lebih bahagia. Anjing-anjing itu nanti akan menjadi sarana hiburanku nantinya." Kata Dokter Rebecca.


Sementara itu Adya yang berada didalam kandang dan Mimi yang duduk di luar kandang tepat dihadapan Adya hanya bisa mendengarkan dan menyaksikan apa hal gila yang Dokter Rebecca dan Bu Kinasih bicarakan.


"Jujur entah mengapa aku ikut bahagia jika Bu Dokter menjadi bahagia sekarang." kata Bu Kinasih.


"Terima kasih, Bu Kinasih. Untung pada saat itu aku mendengar kata-katamu, yaitu balas dendamlah dengan cara yang menyenangkan. Mungkin jika saat itu aku nggak mendengarkan apa yang ibu katakan pada saat itu, mungkin aku nggak bakal tahu betapa menyenangkannya melakukan hal ini. Melakukan hal ini juga bisa menjadi sebagai obat penghilang stres!" Ujar Dokter Rebecca sambil menggenggam kedua tangan Bu Kinasih.


"Sama-sama, Bu. Aku justru senang mendengarnya karena saat ini aku telah menemukan sahabat yang punya satu hobi yang serupa denganku." Jawab Bu Kinasih.


"Oleh sebab itu, Bu Kinasih... Aku mohon.. ikutlah tinggal bersama Mimi dirumah baruku! Kita akan menikmati kegembiraan kita bersama. Kita akan bersenang-senang disana. Aku akan menculik lebih banyak anjing lagi. Dan kamu pun boleh kapanpun dan berapapun jika ingin menculik lebih banyak gadis lagi untuk dijadikan bayimu." Pinta Dokter Rebecca yang masih menggenggam kedua tangan Bu Kinasih.


"Maafkan aku, Bu Dokter. Aku lebih betah disini. Mungkin rumah ini tak sebagus rumah yang Bu Dokter yang baru ibu beli. Tapi maaf, bu.. Aku hanya ingin tinggal disini. Karena aku sangat nyaman disini." Jawab Bu Kinasih sambil tersenyum.


"Apakah kamu nggak ingin menambah bayi lagi? Biar semakin banyak bayi yang menjadi hiburanmu?" Tanya Dokter Rebecca yang masih penuh harap.


"Tidak, Bu. Aku hanya ingin bayiku adalah Mimi seorang. Aku nggak ingin menambah bayi lagi. Jika suatu saat aku tiba-tiba mencari bayi yang yang baru lagi, itu berarti kemungkinan Mimi sudah mati sehingga aku harus mencari bayi baru untuk aku pelihara dan aku sayang." Jawab Bu Kinasih.


"Hmmmm.. Baiklah, aku hargai keputusanmu. Mungkin besok malam aku akan membawa Adya pergi kerumah baruku. Adya akan tinggal disana selamanya." Ujar Dokter Rebecca.


"Baiklah, Bu. Saya berharap apa yang ibu rencanakan selalu berhasil." Jawab Bu Kinasih.


"Terima kasih Bu Kinasih. Kau memang sahabat terbaikku. Besok aku akan memberikan kunci serep rumah baruku juga untukmu. Jadi kapanpun kamu ingin kesana, entah ada aku ataupun tak ada aku, silahkan datang kapanpun kamu mau." Ujar Dokter Rebecca.


"Terima kasih juga, Bu Dokter." Jawab Bu Kinasih. "Oh ya, lalu bagaimana dengan anak-anak ibu? Bukankah awal tadi ibu katakan kalau ibu membeli rumah itu tanpa sepengetahuan anak-anak ibu? Bagaimana jika anak-anak ibu nanti suatu saat akan curiga jika ibu jarang pulang?" Bu Kinasih kembali bertanya kepada Dokter Rebecca.


"Ide yang bagus, Bu. Tapi tampaknya itu sulit, apalagi gadis sebesar itu masih tergantung dengan ibunya. Tapi jika seandainya Mimi punya sifat seperti Hyuna yang begitu manja kepadaku, aku pasti sangat bahagia." Jawab Bu Kinasih.


"Aku harus segera mengajarkan Hyuna untuk mandiri, agar jika dia lulus sekolah nanti aku mudah membujuknya untuk kuliah di luar negeri untuk menyusul Kakaknya si Jarvis." Kata Dokter Rebecca.


"Semoga rencana ibu berhasil." Jawab Bu Kinasih.


"Amin, bu." Jawab Dokter Rebecca.


...****************...


Melewati senja hari didalam kamar, Bu Kinasih sedang membaringkan Mimi di atas kasur untuk mengganti popok Mimi yang baru saja berak didalam popoknya, dan ditemani oleh Dokter Rebecca yang masih belum pulang.


Setelah selesai mengganti Popok Mimi, Bu Kinasih mengangkat tubuh Mimi dan dibaringkan ke pangkuannya sambil membaringkan kepala Mimi di dada besarnya, kemudian Bu Kinasih memasukkan empeng kedalam mulut Mimi.


"Bu Dokter, jika besok malam kau akan membawa pergi Adya dari sini, berarti malam ini adalah malam terakhir Adya tinggal disini, bukan?!" Tanya Bu Kinasih yang sedang memeluk Mimi dipangkuannya.


"Ya Bu, lalu kenapa emangnya?" tanya Dokter Rebecca.


"Maukah kau ikut bersamaku bermain dengan Adya? Kita bersenang-senang bertiga malam ini sampai puas, anggap aja ini adalah perayaan malam terakhir Adya untuk kenang-kenangan. Hanya aku, kamu, dan Adya." Ujar Bu Kinasih yang sedang memeluk Mimi.


"Lalu, bagaimana dengan Mimi? Apakah Mimi tidak ikut?" Tanya Dokter Rebecca.


"Tidak, Bu. Hanya kita bertiga saja. Mimi biar duduk dipojok saja untuk menyaksikan kita bertiga. Mimi hanyalah anak bayi karena dia masih perawan." Jawab Bu Kinasih

__ADS_1


Dokter Rebecca tampak ragu, "Maaf, Bu Kinasih, aku bukanlah wanita penyuka sesama jenis sepertimu. Biar kau saja yang bermain dengan Adya. Aku hanya akan duduk di samping Mimi untuk menyaksikan saja kau bermain-main bersama Adya. Sambil menemani Mimi agar tak jenuh duduk sendirian di pojok." Jawab Dokter Rebecca.


"Baiklah Bu Dokter. Sayang sekali Bu Dokter nggak mau ikut, padahal ini sangat menyenangkan." Ujar Bu Kinasih.


Bu Kinasih kemudian bangkit sambil menggendong Mimi menuju lemari pakaian untuk mengambil rantai yang pernah mengikat Mimi dahulu. Kemudian mengikatkan kembali rantai itu ke leher Mimi dan mengaitkan rantai itu ke jeruji jendela yang tebal, dan menaruh tubuh Mimi dibawah jendela kamar itu, agar Mimi tak bisa kemana-mana.


Kemudian Bu Kinasih menuju luar kamar untuk mengeluarkan tubuh Adya dari dalam kandang, dan mengikat kembali leher Adya dengan rantai anjing yang ditaruh tak jauh dari kandangnya.


Bu Kinasih kemudian menggiring Adya yang sedang merangkak dengan menarik rantai anjing yang mengikat leher Adya, menuju kamar untuk kembali diperkosa di dalam kamar.


Belum masuk kamar, Adya yang merangkak ke dalam kamar sambil menangis ketakutan karena dirinya sudah tahu bakal diperkosa lagi oleh Bu Kinasih.


Adya sudah masuk kedalam kamar, dan Bu Kinasih langsung mengunci pintu kamar itu. Bu Kinasih kemudian membuka seluruh pakaiannya sehingga tampak tubuh hitam gemuk besarnya, dengan buah dada yang yang juga besar menggantung di dadanya. Dimata Adya, Bu Kinasih tampak seperti monster raksasa yang berkulit hitam yang siap untuk menerkamnya.


Bu Kinasih kembali menoleh ke arah Dokter Rebecca yang sedang menyaksikannya untuk mengajaknya lagi, "Ayolah Bu Dokter, ikutlah bermain bersama kami!"


"Biar Bu Kinasih aja yang bermain dengannya, aku hanya menyaksikan disini bersama Mimi." Jawab Dokter Rebecca yang kemudian duduk di samping Mimi.


"Baiklah, Bu Dokter. Aku harap Bu Dokter akan ikut bergabung ditengah permainan kami." Kata Bu Kinasih, yang kemudian menghampiri Adya yang sedang duduk menangis ketakutan di atas kasur kapuk.


Bu Kinasih tanpa segan-segan langsung menindih tubu kurus Adya yang kurusnya serupa dengan Mimi.


"AAAHHKK..!! JANGAN..!! TOLONG..!! TOLOONGG..!!" Adya menjerit kesakitan saat lubang sensitifnya dimasukkan beberapa jari milik Bu Kinasih. Bahkan hingga lecet dan sedikit luka.


Dokter Rebecca hanya menyaksikannya dengan tenang, sedangkan Mimi tampak miris dan ikut menangis menyaksikan penderitaan Adya. Untuk pertama kalinya Mimi melihat seorang wanita memperkosa sesama wanita. Selama ini Mimi hanya mendengar teriakannya saja dari luar kamar.


Adya terus menangis kesakitan, karena Bu Kinasih melakukannya dengan kasar. Bu Kinasih juga menciumi wajah Adya sambil memeluk tubuh kecil Adya dengan erat.


"AAAHHKK....!!! AMMPUUN...!!! JANGAANN...!!" Adya terus menjerit karena jari-jari Bu Kinasih yang mendekapnya dengan erat itu, keluar masuk kedalam lubang sensitifnya bahkan tak jarang pula mencakarnya.


Dokter Rebecca yang menyaksikan hal itu, entah mengapa tubuhnya jadi ikut terangsangg. Dokter Rebecca mulai meraba-raba tubuhnya sendiri, dan tak lupa mengacak buah dadanya sendiri. Mungkin karena Dokter Rebecca sudah lama tidak berhubungan badan sejak bercerai dengan suaminya. Sudah lebih satu tahun dia tidak pernah merasakan belaian dan berhubungan layaknya suami istri lagi.


Secara tiba-tiba Dokter Rebecca mendekap tubuh Mimi yang duduk disampingnya dan membuat Mimi terkejut. Dokter Rebecca menciumi bibir hingga wajah Mimi sambil memejamkan matanya, sedangkan Mimi merasa jijik karena ada orang asing yang mencumbui wajahnya selain Bu Kinasih.


Sambil mencumbui Mimi, Dokter Rebecca memegang tangan Mimi untuk dibimbing menuju buah dadanya yang juga tak kalah besar seperti Bu Kinasih. Dokter Rebecca pun menyuruh Mimi untuk mengacak buah dadanya yang besar dan empuk.


Tak lama kemudian, Dokter Rebecca melepaskan tubuh Mimi. Lalu melepaskan kancing bajunya dan mengeluarkan kedua buah dadanya yang berkulit putih dan sangat besar itu, lalu menjambak rambut Mimi dan menariknya menuju buah dadanya untuk kemudian menyuruh Mimi untuk menghisapnya.


Mimi yang ketakutan terpaksa menghisap buah dada Dokter Rebecca yang putih mulus dan sangat besar itu. Karena Dokter Rebecca bukanlah ibu menyusui seperti Bu Kinasih, maka tak ada setetes pun Asi yang keluar dari dalam putingg susu di buah dada Dokter Rebecca.


Tetapi meskipun demikian, hisapan dari mulut Mimi yang tampak seperti menyusu kepadanya itu cukup untuk membuat Dokter Rebecca semakin terangsangg. Dokter Rebecca kemudian melepaskan tubuh Mimi, dan kemudian berdiri untuk melepaskan seluruh pakaiannya sendiri.


Tampak tubuh Dokter Rebecca yang gemuk, montok, padat dan berisi, juga berkulit putih mulus berdiri dihadapan Mimi.


Dokter Rebecca yang sudah tanpa pakaian sehelai pun, langsung bergegas menghampiri Bu Kinasih yang sedang memperkosa Adya. Dan akhirnya ikut bersama Bu Kinasih untuk memperkosa Adya bersama-sama.


Mimi yang hanya duduk diam menyaksikan ibu susu dan tante angkatnya itu sedang memperkosa seorang gadis bersama-sama. Tampak seperti kedua wanita raksasa yang sedang memangsa dan menggarap tubuh gadis kecil.


+++BERSAMBUNG+++

__ADS_1


__ADS_2