Mimi Si Gadis Bayi

Mimi Si Gadis Bayi
Rumah Baru


__ADS_3

Bu Kinasih tersenyum sambil mencium ubun-ubun Mimi yang begitu lahap menyusu kepadanya, dan membelai rambut Mimi dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


...****************...


Di dalam kamarnya, Bu Kinasih yang sedang tidur sambil ngelonin Mimi yang juga sedang tertidur disampingnya sambil disusui olehnya. Bu Kinasih terbangun dengan perut yang sangat lapar, dia memperhatikan wajah Mimi yang tampak masih tertidur pulas sambil menghisap putingg susunya. Bu Kinasih mencoba melepaskan putingg susunya dari mulut Mimi secara perlahan agar Mimi tidak terbangun.


Ketika berhasil melepaskan putingg susunya dari mulut Mimi dan segera memasukkan empeng kedalam mulut Mimi, Bu Kinasih segera bangkit dan menuju keluar kamar membiarkan Mimi tidur pulas sendirian.


Bu Kinasih melihat jam dinding diruang tamu dan menunjukkan pukul 15.02. Perutnya sangat lapar, karena tadi terlalu lama menyusui Mimi hingga akhirnya sama-sama tertidur.


Bu Kinasih langsung menuju dapurnya, dan bergegas membuka tudung makanan yang berada di atas meja makan, dan untungnya masih cukup banyak makanan sehingga tak perlu memasak makanan lagi.


Tanpa berfikir panjang lagi, Bu Kinasih langsung mengambil piring dan langsung menuangkan makanan-makanan yang tersedia di atas meja makan tersebut dengan sangat banyak. Kemudian langsung memakan makanannya itu dengan sangat lahap.


Setelah selesai makan dan membuat perut Bu Kinasih kekenyangan, Bu Kinasih minum air putih kemudian duduk beristirahat sejenak sambil memegangi perut buncitnya yang sudah dipenuhi oleh makanan.


Setelah beberapa menit beristirahat, Bu Kinasih mengambil sebuah keranjang berisi tumpukkan pakaian bersih yang diletakkan di dapur samping lemari makanan. Kemudian membawa keranjang berisi tumpukkan pakaian itu menuju ruang tamu.


Tumpukkan pakaian itu dihamburkan kelantai, kemudian Bu Kinasih duduk ditengah pakaian yang dihamburkan olehnya itu. Setelah itu Bu Kinasih melipat pakaian-pakaian itu satu persatu. Tampak cukup banyak pakaian yang dilipat olehnya, dari pakaiannya sendiri seperti bra, daster, dan lainnya, sampai pakaian bayi dewasa milik Mimi seperti kaos, bodysuit, dan sebagainya juga.


Tak lama kemudian terdengar suara sepeda motor parkir tepat dihalaman depan rumah. Ternyata Dokter Rebecca datang mengunjungi rumah Bu Kinasih. Dokter Rebecca mengetuk pintu, dan dihampiri oleh Bu Kinasih untuk membuka pintu.


"Silahkan masuk, Bu!" Ujar Bu Kinasih yang mempersilahkan masuk kedalam rumahnya. Dokter Rebecca kemudian masuk kedalam rumah Bu Kinasih.


Bu Kinasih duduk di lantai untuk melanjutkan melipat pakaian-pakaiannya, sedangkan Dokter Rebecca ikut duduk dilantai juga sambil membantu Bu Kinasih melipat pakaian.


"Ibu Dokter nggak perlu membantuku melipat pakaian-pakaian ini, Bu!" Ujar Bu Kinasih yang tampak tak menyangka Dokter Rebecca membantunya melipat pakaian.


"Nggak masalah, Bu Kinasih. Aku senang membantumu." Jawab Dokter Rebecca yang tetap membantu Bu Kinasih untuk melipat pakaian.


"Aku nggak ingin merepotkanmu, Bu Dokter." Kata Bu Kinasih.


"Aku pun nggak merasa direpotkan, Bu Kinasih." Jawab Dokter Rebecca sambil melipat pakaian bayi dewasa yang dipegangnya.


"Baiklah, Bu. Kalau itu memang kemauan Bu Dokter." Kata Bu Kinasih sambil melipat pakaian daster yang digenggamnya. "Oh ya, serbuk untuk melancarkan Asi yang Bu Dokter berikan itu, mantap banget!"


"Ya, aku tahu. Aku melihat buah dadamu sekarang lebih kencang dan lebih padat daripada biasanya." Jawab Dokter Rebecca.


"Ya, Bu Dokter. Asiku lebih melimpah. Bahkan aku yang biasanya menyusui hanya sekitar setengah jam atau terkadang hampir satu jam, kini aku bisa menyusui sampai dua jam." Ujar Bu Kinasih yang terlihat lebih bahagia.


"Benarkah?!" Dokter Rebecca tampak terkejut.


"Ya, Bu Dokter. Soalnya jika aku menyusui hanya sebentar, Asiku nggak mau berhenti menetes hingga membasahi BH dan bajuku." Kata Bu Kinasih. "Makanya aku harus menyusui dengan waktu yang lebih lama, itu pun tadi masih ada sedikit menetes."


"Wow, Mimi pasti sangat puas bisa meminum Asi yang sangat banyak." Ujar Dokter Rebecca.


"Ya, Bu. Aku melihat Mimi jadi lebih lahap meminumnya." Jawab Bu Kinasih. "Tapi setelah terlalu lama menyusui, aku jadi lapar banget tadi. Untungnya aku sudah masak lebih banyak dari biasanya, karena Bu Dokter sudah memberitahuku jika nanti aku bakal menjadi mudah lapar."


"Ya begitulah, itu karena buah dadamu telah memproduksi Asi yang berlebih, makanya kamu perlu tambahan nutrisi sehingga membuatmu menjadi mudah lapar." Kata Dokter Rebecca.

__ADS_1


"Tapi bagiku itu bukan masalah buatku, Bu Dokter. Yang penting Mimi merasa sangat puas menyusu kepadaku, karena memang itu tujuanku. Meskipun aku sekarang menjadi mudah lapar, tapi aku sangat bangga bisa menyusui Mimi lebih lama." Jawab Bu Kinasih sambil tersenyum.


"Kalau kau merasa bahagia, akupun ikut bahagia mendengarnya, Bu Kinasih." Ujar Dokter Rebecca. "Oh ya, Bu Kinasih. Aku ingin mengajakmu untuk mampir ke rumah baruku. Kau mau?"


"Ow, tentu saja aku mau, Bu Dokter. Aku juga sebenarnya penasaran dengan rumah barunya Bu Dokter." Ujar Kinasih


"Oh ya, kalau kau mau membawa Mimi sekalian, ga masalah. Aku bawa obat bius, agar Mimi nggak berusaha melarikan diri saat dalam perjalanan." Saran Rebecca.


"Mimi sedang tidur dikamar, Bu. Aku baru saja selesai menyusui dan menidurkannya, makanya aku baru melipat pakaian sekarang." Jawab Bu Kinasih. "Mimi nggak perlu ikut. Biarkan dia tidur di kamarnya."


"Hmmm.. Oke." Jawab Dokter Rebecca


"Kalau begitu saya selesaikan lipatan pakaian-pakaian ini ya, Bu! Baru kita pergi kerumah baru Bu Dokter." Ujar Kinasih.


"Oke, makanya saya membantumu biar cepat selesai." Kata Dokter Rebecca yang bergegas membantu Bu Kinasih agar cepat selesai melipat pakaian-pakaiannya.


Beberapa lama kemudian, pakaian-pakaian milik Bu Kinasih dan Mimi sudah selesai dilipat. Bu Kinasih yang dibantu oleh Dokter Rebecca, mengangkat tumpukan pakaian itu kedalam kamar.


Bu Kinasih membuka pintu kamar yang dikunci olehnya, kemudian masuk kedalam kamar yang diikuti oleh Dokter Rebecca dari belakang. Kemudian memasukkan tumpukkan pakaian yang sudah dilipat itu kedalam lemari pakaian.


Dokter Rebecca melihat Mimi yang wajahnya tampak polos masih tertidur pulas di atas kasur kapuk sambil menghisap empengnya.


"Ayo, Bu Dokter!" Bu Kinasih dan Dokter Rebecca akhirnya keluar kamar kemudian mengunci pintu kamar itu, dan akan segera pergi menuju rumah baru Dokter Rebecca.


Bu Kinasih juga lebih memilih mengendarai motornya sendiri daripada harus dibonceng bersama Dokter Rebecca. Karena setelah dari rumah baru Dokter Rebecca, Bu Kinasih akan mampir dulu untuk membeli persediaan makanan untuk makan malam.


Mendengar suara sepeda motor sport Dokter Rebecca dan sepeda motor butut Bu Kinasih, Mimi yang ternyata hanya berpura-pura tidur langsung membuka matanya, kemudian merangkak ke jendela yang tertutup jeruji besi untuk melihat kedua wanita psikopat gila itu pergi meninggalkan dirinya sendirian didalam rumah.


...****************...


Sesampainya di rumah Dokter Rebecca, Bu Kinasih melihat rumah itu cukup luas meskipun hanya satu lantai. Tetapi dekorasi didalamnya sangat elegan dengan model ala barat. Rumah itu memiliki halaman yang luas dengan pagar tembok yang sangat tinggi, sehingga orang dari luar tak bisa melihat halaman dan suasana rumahnya. Rumah itu juga tampak jauh dari tetangga sehingga rumah itu tampak sendirian. Di belakang rumah juga dilengkapi dengan taman dan kolam renang.


Dokter Rebecca mengajak Bu Kinasih menuju suatu ruangan yang letaknya di bagian dapur. dan membuka kunci ruangan itu, yang ketika dibuka ternyata didalamnya adalah sebuah ruangan bawah tanah.


Dengan menuruni sebuah tangga, Dokter Rebecca dan Bu Kinasih masuk kedalam ruangan bahwa tanah itu yang suasananya sangat gelap. Dokter Rebecca menyalakan lampu sehingga suasana ruangan bahwa tanah itu menjadi tampak terang.


Didalam ruangan bawah tanah itu juga adalah tempat dimana Adya disekap. Tampak Adya berada didalam kandang yang diletakkan di pojok ruangan bawah tanah itu. Adya yang memakai kalung anjing bewarna hitam tampak tidak memakai pakaian sehelai pun ditubuhnya, menatap tajam kepada Bu Kinasih yang juga melihatnya.


"Hallo, Adya!" Sapa Bu Kinasih kepada Adya.


Adya tidak menjawabnya dan hanya menatap Bu Kinasih dengan tatapan yang sangat galak.


Bu Kinasih malah tersenyum, "Kau lupa denganku, Adya? Aku yang memeliharamu saat kamu masih tinggal dirumahku."


Adya tetap tidak menjawab dan hanya menatapnya saja. Bu Kinasih kemudian memandang Adya dari dekat, secara mengejutkan tiba-tiba ,"CUIIHH..!!" Adya langsung meludahi wajah Kinasih.


"EH, KAMU...!!" Dokter Rebecca tampak marah melihat sahabatnya itu diludahi oleh anjing peliharaannya.


"Tak perlu memarahinya, Bu Dokter!" Ucap Bu Kinasih sambil membersihkan wajahnya dengan tangan kanannya.

__ADS_1


"Tapi dia mulai kurang ajar!" cetus Dokter Rebecca.


"Namanya juga binatang, Bu Dokter! Mungkin dia jenuh didalam kandang sendirian tanpa ada yang menemaninya bermain." Ujar Bu Kinasih.


"Hmmmm.. Mungkin iya. Tampaknya kita harus mengajaknya bermain." Kata Dokter Rebecca.


"Sejak Adya tinggal disini, anjingmu ini menjadi cukup galak." Ujar Bu Kinasih kepada Dokter Rebecca.


"Mungkin dia mulai lupa denganmu." Jawab Dokter Rebecca sambil tersenyum.


"Padahal kami berpisah masih belum lama, tapi dia sudah lupa denganku." Kata Bu Kinasih sambil tersenyum juga.


"Bagiamana jika dia bermain denganmu terlebih dahulu?! Mungkin dengan begitu dia akan ingat denganmu." Saran Dokter Rebecca.


"Oh, apakah aku masih boleh bermain dengan anjingmu ini?" Tanya Bu Kinasih.


"Oh, tentu saja, Bu Kinasih. Selama kau berada disini, kau boleh bermain dengannya sesuka hatimu." Jawab Dokter Rebecca.


Dokter Rebecca mengambil rantai anjing yang letaknya berada didalam sebuah laci meja di samping kandang. Kemudian membuka kandang Adya, serta mengeluarkan Adya dari dalam kandang, dan mengikatkan rantai anjing itu di leher Adya.


Adya digiring dengan paksa oleh Dokter Rebecca dengan rantai anjing itu untuk keluar dari ruang bawah tanah itu menuju ke sebuah kamar. Adya mulai menangis sambil merangkak menuju sebuah kamar itu, karena dia sudah mengetahui bahwa kehadiran Bu Kinasih akan memperkosanya kembali.


Dokter Rebecca yang menggiring Adya masuk kedalam sebuah kamar dan diikuti oleh Bu Kinasih. Kemudian Dokter Rebecca memaksa Adya untuk naik keatas ranjang. Adya hanya bisa menangis karen sudah mengetahui apa yang terjadi.


"Silahkan, Bu Kinasih! Bermainlah sepuasnya dengan anjingku!" Ujar Dokter Rebecca sambil tersenyum.


"Tapi tampaknya kurang asyik jika Bu Dokter nggak ikut juga. Aku ingin Bu Dokter ikut juga!" Saran Bu Kinasih.


"Beneran nih, kalau aku boleh ikut juga? Apakah kalian nanti nggak merasa terganggu?" Tanya Dokter Rebecca.


"Tentu tidak, Bu! Justru kami malah senang jika Bu Dokter ikut bermain bersama kami." Jawab Bu Kinasih.


"Baiklah, Bu. Ayo kita lakukan!" Kata Dokter Rebecca.


Bu Kinasih langsung naik ke atas ranjang dengan sangat agresif kemudian mulai menggarap tubuh Adya. Bu Kinasih langsung membuka pakaiannya secara perlahan dan disusul oleh Dokter Rebecca.


"JANGAAAANNN......!!" Adya berteriak meminta pertolongan, tetapi dirumah Dokter Rebecca yang berhalaman luas dan jauh dari tetangga, tentu nggak ada yang bisa mendengar teriakannya.


Dokter Rebecca dan Bu Kinasih saling bercumbu dan memperkosa Adya bersama-sama dengan penuh semangat. Sementara Adya hanya bisa menangis pasrah karena sudah mengetahui bahwa tak ada satupun orang yang bisa menolongnya.


...****************...


Sementara itu di rumah Bu Kinasih, tepatnya didalam kamar. Mimi meraba jumlah giginya hanya tinggal sekitar empat atau lima gigi saja. Itu pun juga sudah terlihat rapuh dan diyakini tak lama lagi akan segera keropos juga.


Mimi menangis sendirian, meratapi nasibnya yang hingga kini belum ada satupun yang bisa menolongnya untuk membebaskannya.


Dia juga meratapi fisiknya yang semakin tidak sesempurna dahulu sebelum disekap oleh Bu Kinasih. Ditambah lagi, dia merasa kecantikannya semakin tak lengkap dengan kondisi gigi yang nyaris saja ompong.


Mimi menatap ketiga bonekanya yang berjejer di atas kasurnya dan bersandar ditembok.

__ADS_1


"Saat ini, aku merasa seperti kalian." Ucap Kinasih yang berbicara kepada ketiga bonekanya itu. "Aku merasa seperti boneka yang hanya diam didalam kamar. Dan hanya menunggu pemilikku datang untuk bermain denganku."


+++BERSAMBUNG+++


__ADS_2