Mimi Si Gadis Bayi

Mimi Si Gadis Bayi
Selamat Tinggal Adya


__ADS_3

Bu Kinasih yang tak mempedulikan tangisan Mimi, malah tertidur sambil tetap menyusui ngelonin Mimi dengan erat dan membiarkannya menangis tersedu-sedu.


...****************...


Disiang pagi hari, Mimi duduk di teras belakang rumah. Sambil menyaksikan Bu Kinasih yang sedang mencuci pakaian. perasaanya masih sangat galau karena masih mengingat kekasihnya yang hari ini akan bertunangan dengan pacar barunya.


Dalam hati Mimi sangat ingin melarikan diri dari jeratan Bu Kinasih yang selama ini memenjarakannya dirumah ini. Tetapi masih belum punya keberanian karena masih trauma dengan hukuman Bu Kinasih waktu itu saat dirinya pernah hampir saja berhasil melarikan diri, tetapi masih berhasil digagalkan oleh Bu Kinasih. Mimi juga kehilangan rasa optimisnya untuk melarikan diri karena keterbatasan dirinya karena lututnya lumpuh dan tak bisa berjalan dengan baik sehingga harus merangkak.


Hati Mimi semakin pesimis, ketika berfikir seandainya dirinya berhasil melarikan diri, apakah Aryan masih mau menerima dirinya untuk menjadi kekasihnya? Sedangkan Mimi sekarang merasa cacat karena tak bisa berjalan, tak bisa lagi memberikan keturunan atau anak, bahkan secara fisik giginya pun sudah ompong tak ada satupun di didalam mulutnya.


Bu Kinasih yang selesai mencuci pakaian dan menjemur pakaian-pakaiannya, kemudian duduk di samping Mimi sambil menikmati pemandangan hutan dan kebun kecil dibelakang rumahnya. Bu Kinasih juga tampak tersenyum bahagia melihat kegalauan Mimi dihadapannya.


"Sudah, nggak usah Mimi pikirkan lagi pria itu. Dan nggak usah lagi berfikir untuk jatuh cinta. Karena dipastikan nggak ada orang yang mencintai gadis cacat seperti Mimi. Mimi harus sadar, nggak ada orang yang membutuhkan gadis cacat jika Mimi berada diluar sana, dan dipastikan tak ada yang mencintai Mimi." Ujar Bu Kinasih dengan kata-kata yang justru menjatuhkan mental Mimi sehingga membuat Mimi semakin pesimis.


Mimi hanya diam, kemudian Bu Kinasih melanjutkan, "Lebih baik Mimi disni, kalau disini sudah jelas ada orang yang sangat mencintai dan menyayangi Mimi. Dan itu adalah Mama, karena Mama justru sangat senang jika Mimi memiliki kondisi fisik yang seperti ini sekarang. Jika Mimi disini, Mimi pasti merasa lebih dicintai daripada hidup diluar sana. Disana nggak ada yang membutuhkan Mimi. Orang-orang yang mendekati Mimi paling hanya karena merasa kasihan melihat kondisi fisik Mimi, tetapi belum tentu mereka menyayangi Mimi."


Mimi kembali meneteskan air matia, dan tidak ingin berdebat dengan Bu Kinasih atau siapapun. Hatinya masih terus memikirkan Aryan. Sangat disayangkan saat itu baru semalam jadian dan berpacaran dengan Aryan, tetapi hanya menikmati waktu yang sangat sebentar, dan akhirnya terpisah dan tak pernah bertemu lagi hingga saat ini.


Penyekapan ini tak hanya membuat Mimi terpisah dari keluarga dan kekasihnya, tetapi juga kehilangan masa depannya yang lebih layak. Masa mudanya hanya terbuang dirumah ini. Masa depannya kini hanyalah menjadi seorang bayi dewasa yang entah kapan akan berakhir waktunya.


...****************...


Sore hari kisaran jam 16.00, Dokter Rebecca datang kerumah Bu Kinasih dengan membawakan makanan beberapa kotak Pizza. Mimi memandangi kotak Pizza itu, karena Mimi adalah penggemar Pizza. Dia sangat ingin segera memakannya karena sudah lama sekali tidak makan Pizza.


Dokter Rebecca duduk di sofa ruang tamu, dan Bu Kinasih pergi ke dapur untuk membuat dua cangkir teh hangat. Sedangkan Mimi duduk di sofa untuk menemani Dokter Rebecca yang membuka kotak Pizza itu, sehingga tampak Pizza yang masih segar dipandang mata.


Mimi terus memandang Pizza itu berharap akan mendapat bagian untuk memakannya. Dokter Rebecca tersenyum melihat wajah Mimi yang seolah tak sabar ingin ikut menikmati Pizza itu bersama mereka.


Tak lama kemudian, Bu Kinasih datang dari dapur dan membawakan dua cangkir teh hangat. Kemudian duduk juga di sofa dihadapan Dokter Rebecca.


Bu Kinasih dan Dokter Rebecca mengambil potongan Pizza itu dari dalam kotak Pizza yang terbuka lebar. Mimi ingin mengambil Pizza itu dengan tangannya, tetapi tangan Mimi malah ditepuk oleh tangan Bu Kinasih, "Eh, Mimi nggak boleh makan ini! Mimi masih bayi hanya boleh makan bubur bayi dan Asi! Ingat, itu!" Ujar Bu Kinasih seraya melarang Mimi untuk memakan Pizza favoritnya itu. Wajah Mimi pun menjadi memerah dan menundukkan kepalanya karena malu diperlakukan seperti itu.


Karena dilarang ikut memakan Pizza, Mimi hanya bisa menelan liurnya sendiri melihat kedua wanita gemuk dan sintal itu memakan potongan-potongan Pizza satu persatu. Ekspresi wajah Mimi sangat menampakkan bahwa dia berharap ikut diberikan potongan Pizza itu.


Mimi berusaha memberanikan diri untuk memintanya kepada Mama susunya itu, "Ma, bolehkah Mimi minta Pizzanya? Sedikit aja, Ma! Cuma pengen ngerasain aja." Pinta Mimi dengan nada yang agak manja berharap Bu Kinasih akan luluh dan mau membagi Pizza itu.


"Nggak boleh, sayang! Ini memang bukan untuk Mimi! Mimi nggak boleh makan ini!" Jawab Bu Kinasih sambil melahap Pizza yang dipegangnya itu.


"Sedikit aja, Ma! cuma buat menyantap kecil aja, kok!" Mimi mencoba meminta lagi, tetapi Bu Kinasih tetap tidak mau membagikan untuknya.


Merasa gagal meminta kepada Mamanya, Mimi kemudian meminta kepada Dokter Rebecca, "Tante Rebecca, Mimi minta Pizzanya, ya?! Mimi dari dulu sangat suka makan Pizza. Ini makanan favorit Mimi. Boleh ya, tante?! Sedikit aja!"


"Nggak boleh, Mimi sayang! Mamamu aja melarangmu, apalagi tante?!" Jawab singkat Dokter Rebecca terhadap Mimi yang sangat ingin menyantap Pizza yang dibawanya itu.


Karena tidak ada yang mau membagi Pizza itu kepadanya, terpaksa Mimi hanya bisa memandang kedua wanita raksasa itu makan Pizza favoritnya tanpa bisa sedikitpun menikmatinya. Mimi yang sebenarnya sangat ingin makan Pizza hanya bisa terus menelan liurnya karena keinginannya tidak bisa terwujud.


Sambil memakan Pizza, kedua wanita Psikopat Bu Kinasih dan Dokter Rebecca itu menikmati teh hangat sambil ngobrol, dan dipandangi oleh Mimi sambil mendengarkan pembicaraan mereka.


"Bagaimana kabar anjingmu, Bu Dokter?" Tanya Bu Kinasih yang juga menikmati secangkir teh hangatnya.


"Adya maksudmu? Oh ya, kebetulan aku baru aja mau ngabarin kamu soal itu. Adya sudah mati." Jawab Dokter Rebecca dengan santai.

__ADS_1


Mimi langsung terkejut mendengar hal itu,. "Benarkah?!! Kenapa Kak Adya meninggal?"


"Mimi, biasakan kalau orangtua lagi ngobrol jangan ikut campur! Nggak baik kalau ikut campur urusan orangtua!" Cetus Bu Kinasih dengan nada galak.


Setelah dimarahi oleh Bu Kinasih, Mimi terdiam. Tetapi kembali menangis ketika mengetahui bahwa sahabat barunya itu telah meninggal dunia.


"Oh ya, kenapa Adya mati, Bu Dokter?" Tanya Bu Kinasih.


"Hmmmm.. Dia bunuh diri. Aku juga baru melihatnya tak bernyawa didalam kandang saat aku baru datang kerumah baruku itu." Jawab Dokter Rebecca.


Sementara itu, Mimi yang menangis hanya bisa pasrah meratapi nasib sahabatnya itu. Air matanya tak terbendung, tetapi Dokter Rebecca dan Bu Kinasih sedikitpun tidak mempedulikannya.


"Nggak perlu kamu tangisi, nak! Dia hanyalah seekor anjing. Tak patut kau tangisi seperti itu." Ujar Bu Kinasih sambil membelai rambut Mimi.


Mimi tidak menjawabnya dan hanya tetap menangis. Masih teringat jelas didalam ingatan Mimi, bahwa sebelum Adya dibawa kerumah baru Dokter Rebecca, Adya sempat berjanji kepadanya bahwa Adya akan berhasil melarikan diri dan juga akan datang kembali untuk menolongnya untuk membantu membebaskan dirinya. Tetapi dipastikan itu semua hanyalah sebatas impian semata yang tak akan terwujud, karena Adya sudah lebih dulu meninggalkan dunia ini.


Mimi terus menangis sehingga membuat Bu Kinasih dan Dokter Rebecca merasa terganggu ketik ngobrol bareng tapi dibarengi oleh tangisan Mimi.


Akhirnya Bu Kinasih kembali mengangkat tubuh Mimi dan membaringkan dipangkuannya, serta bergegas kembali menyusui Mimi. "Minumlah, nak! Biar kamu merasa tenang."


Mulut Mimi tertutupi oleh buah dada Bu Kinasih yang dipaksa untuk menghisap putingg susu Bu Kinasih, sehingga suara tangisan Mimi tampak tak terlalu keras karena mulutnya tersumbat oleh putingg susu Bu Kinasih. Dan akhirnya cukup membuat Bu Kinasih dan Dokter Rebecca lanjut mengobrol kembali.


"Lalu, apa rencana Bu Dokter selanjutnya ketika Adya sudah mati? Apakah Bu Dokter sudah merasa lega telah menuntaskan dendamnya Bu Dokter?" Tanya Bu Kinasih sambil menyusui Mimi yang sedang menangis terisak-isak.


"Seperti yang aku katakan waktu itu." Jawab Dokter Rebecca. "Awalnya aku melakukan hal ini hanya karena dendam kepada Adya. Tapi setelah aku jalani, aku justru menyukai kegiatan ini. Memelihara manusia untuk dijadikan anjing itu lebih mengasyikkan daripada memelihara anjing sungguhan."


Dokter Rebecca meminum sedikit teh di cangkir yang digenggamnya, kemudian melanjutkan ucapannya. "Jujur aku merasa kehilangan Adya ketika mengetahui bahwa Adya sudah mati. Padahal memelihara dia sudah menjadi bagian dari hobiku."


Mimi yang mulai berhenti menangis tetapi masih terisak-isak, turut mendengarkan ucapan Bu Kinasih yang ingin dirinya hidup bersama Bu Kinasih selamanya. Itu artinya, Bu Kinasih tak akan pernah membiarkan Mimi berhenti menjadi bayi dewasa miliknya untuk selamanya.


"Aku juga turut mendoakan semoga Mimi akan selalu hidup bersamamu selamanya. Karena Mimi memang pantas mendapatkan ibu sebaik dirimu, Bu Kinasih." Ujar Dokter Rebecca.


"Amin, Bu Dokter. Aku juga akan selalu mendukung apapun untu Bu Dokter asalkan Bu Dokter bahagia." Ucap Bu Kinasih.


"Amin, Bu Kinasih. Aku juga sudah berencana untuk mencari pengganti Adya didalam kandang anjingku." Ujar Dokter Rebecca


"Benarkah? Kira-kira siapa anjing pengganti Adya nanti, Bu Dokter?" Tanya Bu Kinasih.


"Entahlah, aku belum tahu itu siapa penggantinya. Yang pasti hobiku ini sudah membuatku kecanduan ingin terus memelihara manusia didalam kandang. Aku harus mencarinya!" Ujar Dokter Rebecca. "Kini aku merasakan, pantesan orang-orang Psikopat suka banget mempermainkan korbannya. Ternyata disaat aku sudah terjun didalamnya, ini memang sungguh menyenangkan. Membuat aku seperti nggak bisa berhenti melakukan hal ini, dan akan terus menaklukkannya."


"Ya, Bu. Setiap orang seperti kita pasti punya cara masing-masing untuk menyalurkan hobinya. Seperti aku, menjadi ibu untuk Mimi sekarang bukan hanya sekedar hobi, tapi juga sudah sebagai kebutuhan. Aku sudah sepeti tak bisa hidup tanpa Mimi." Bu Kinasih langsung mencium ubun-ubun Mimi yang masih disusuinya dan tampak tak berdaya. "Mama sayang banget sama Mimi." Ujarnya.


"Sifat keibuanmu memang sangat tinggi, Bu Kinasih. Mimi sangat beruntung memiliki ibu sepertimu. Dan aku pun juga akan melakukan hal yang sama. Aku akan membuat anjing-anjingku nanti akan merasa beruntung jika aku pelihara." Jawab Dokter Rebecca yang mempunyai pemikiran semakin gila, sama seperti Bu Kinasih.


...****************...


Kini sudah dua tahun Mini disekap didalam rumah Bu Kinasih, dan diperlakukan layaknya bayi dan hidup berdua bersama Bu Kinasih.


Rambut Mimi semakin panjang, dan tampak semakin cantik meskipun wajahnya kusam dan tanpa makeup. Berbeda dengan Bu Kinasih yang sedikit lebih gemuk dari sebelumnya, karena terlalu banyak makan, akibat efek serbuk penambah Asi yang dia konsumsi waktu itu, yang membuat Asi di dalam dadanya terus memproduksi dan membuat pola makannya semakin banyak. Buah dadanya pun masih tetap kencang dan tidak tampak kendor meskipun sudah banyak Asi yang diminum oleh Mimi langsung dari buah dadanya. Karena terus memproduksi. Bahkan apabila Bu Kinasih terlambat menyusui, rasa nyeri di buah dadanya amatlah menyakitkan sehingga Bu Kinasih berusaha untuk tidak menunda waktu untuk menyusui Mimi


Bu Kinasih datang kedalam kamar, membawa kue tart dengan lilin angka satu diatasnya lengkap api kecil yang sudah menyala di lilin itu untuk memberikan kejutan kepada Mimi. "Selamat ulangtahun yang ke satu tahun untuk anak Mama...!"

__ADS_1


Mimi yang sedang duduk diatas kasur kapuknya tidak sedikitpun merasa bahagia. "Ulangtahun yang ke satu? Ini sudah tahun kedua aku berada disini."


"Nggak ada angka dua di ulangtahunmu, nak! Juga nggak ada angka tiga, empat, bahkan seterusnya. Selamanya Mama akan merayakan ulangtahunmu yang ke satu tahun. Usiamu nggak akan bertambah!" Jawab Bu Kinasih.


"Aku seharusnya sudah berulang tahun beberapa bulan lalu, usiaku seharusnya ke 21 tahun." Jawab Mimi.


"Nggak ada angka 21 tahun buatmu, nak! Sekali lagi, selamanya usiamu hanya 1 tahun!" Cetus Bu Kinasih.


Mimi menggelengkan kepalanya, sudah dua tahun disini Bu Kinasih tetap memperlakukan hal yang sama kepadanya dan tidak ada perubahan.


"Sudah, nggak usah bikin Mama marah, nak! Ayo cepat tiup lilinnya!" Ujar Bu Kinasih, "Ayo cepat..!!"


Mimi yang takut jika Bu Kinasih marah terpaksa meniup lilin itu hingga api kecilnya padam.


"Anak pintar..!!" Bu Kinasih tampak kegirangan dan langsung memeluk Mimi dan mencium pipi, kening, dan ubun-ubun Mimi sambil membelai rambut panjangnya.


Bu Kinasih meletakkan kue tar itu dilantai, dihadapan Mimi sambil memberikan pisau kue kepada Mimi. "Nah, sekarang potong kuenya, sayang! Ayo potong!"


Mimi memotong sedikit kue itu, Bu Kinasih pun tampak kegirangan menyaksikannya.


"Anak pintar..!! Nah, sekarang suapin Mama!" Bu Kinasih kemudian membuka mulutnya agar Mimi memberikan kue itu kedalam mulutnya.


Mimi yang merasa sangat terpaksa memberikan potongan kue tart itu kedalam mulut Bu Kinasih dengan tangannya. Dan Bu Kinasih kemudian melahap kue yang diberikan oleh Mimi itu.


Bu Kinasih pun merasa kegirangan, "Terimakasih anak Mama, sayang!" Bu Kinasih kembali memeluk Mimi dengan erat. Mimi pun hanya diam tak merasa bahagia sedikitpun.


Mimi hanya berfikir, sudah dua tahun waktunya terbuang disini. Masa mudanya terutama di usianya yang sebenarnya adalah sudah 21 tahun ini, seharusnya dia manfaatkan bersama teman-teman seusianya untuk berjalan-jalan, melakukan aktifitas pekerjaannya, melanjutkan kuliahnya, bahkan seharusnya di usia 21 tahun ini dia sudah memiliki kekasih. Tapi dimata Bu Kinasih Mimi tetap hanyalah bayi berusia 1 tahun.


Bu Kinasih menaruh potongan kue tart yang agak besar di atas piring plastik dan satu sendok kecil. Sebuah potongan kue tart itu dimakan berdua bersama Mimi. Dia memotong kue tart itu dengan sendok kecilnya, lalu memakan kue itu. Kemudian dengan sendok itu juga dia memotong kue itu dan menyuapi potongan kue di sendok itu ke mulut Mimi.


Sambil menyuapi Mimi, Bu Kinasih memandangi wajah Mimi yang semakin cantik. Padahal wajah Mimi tampak kusam karena tak pernah lagi memakai makeup.


Entah kenapa, tiba-tiba birahi Bu Kinasih mulai bereaksi seolah ingin memperkosa Mimi. Sudah beberapa bulan memang Bu Kinasih tidak bersetubuh dengan korbannya. Dulu Bu Kinasih menggunakan tubuh Dinar untuk melampiaskan nafsunya, kemudian yang terakhir adalah tubuh Adya yang diperkosanya setiap malam. Setelah itu sudah berbulan-bulan Bu Kinasih tidak pernah lagi melampiaskan nafsunya.


Bu Kinasih terus memandangi wajah, dan seluruh tubuh kurus Mimi si bayinya itu, dan semakin mengundang nafsu Bu Kinasih. Itu disebabkan karena sudah berbulan-bulan nafsunya tidak terlampiaskan. Bu Kinasih kemudian mengalihkan pandangannya kepada Mimi dan berusaha menahan nafsu birahinya. Sebenarnya Bu Kinasih tak ingin memperkosa tubuh Mimi, karena bagi Bu Kinasih Mimi hanya sebatas bayi kecilnya saja, tetapi bukan untuk dijadikan pelampiasan nafsu birahinya.


Jantung Bu Kinasih semakin berdebar kencang, seolah tak tahan menahan luapan nafsunya ini. Dia terus berusaha agar tidak memperkosa Mimi.


Selama Mimi tinggal bersamanya, Bu Kinasih yang sudah terbiasa melihat dan membersihkan bagian sensitif Mimi tentu mengetahui bahwa Mimi sebenarnya masih perawan.


Itu juga adalah salah satu alasan dari beberapa alasan lainnya Bu Kinasih mengapa pada saat itu dia lebih memilih Mimi daripada Dinar sahabat Mimi untuk dijadikan bayi miliknya.


Sebab bagi Bu Kinasih, hanya bayi yang baru dilahirkan yang perawan, dan keperawanan Mimi inilah yang membuat Mimi lebih pantas menjadi bayi miliknya, daripada Dinar yang memang sudah tidak perawan lagi. Bahkan Bu Kinasih tak pernah mencoba menikmati nafsu birahinya kepada Mimi hingga sekarang. Sedangkan Dinar selama disekap oleh Bu Kinasih, terus-terusan dijadikan pelampiasan nafsunya setiap hari. Dan itu juga dilakukan kepada Adya yang juga memang sudah tidak perawan.


Karena untuk meredakan nafsu birahinya yang terus mengarah kepada Mimi, Bu Kinasih yang tetap tidak ingin memperkosa Mimi karena masih beranggapan Mimi adalah bayinya langsung pergi meninggalkan Mimi didalam kamar sendirian, sambil memegang piring plastik berisi kue tart itu dan tidak menghabiskannya.


Mimi kemudian tiba-tiba merasa heran dan aneh, ada apa dengan Bu Kinasih? Tidak seperti biasanya Bu Kinasih seperti itu jika bersamanya. Apalagi bagi Bu Kinasih ini adalah hari ulangtahunnya Mimi. Padahal Bu Kinasih tadi tampak kegirangan.


Bu Kinasih menuju dapur dan mengambil segelas air putih disebuah ceret dan menuangkannya di dalam gelas kaca, kemudian bergegas meminumnya. Pikiran Bu Kinasih menjadi bercampur aduk, antara Mimi yang hanya menjadi bayi kecilnya yang cantik, imut, dan menggemaskan, kini juga muncul didalam pikirannya Mimi dengan tubuh yang siap untuk dinikmati.


Apakah Bu Kinasih akan terus menjadikan bayinya, atau kini akan berubah menjadi pelampiasan nafsu, atau posisi menjadi keduanya yaitu sebagai bayinya dan sebagai pelampiasan nafsu?

__ADS_1


+++BERSAMBUNG+++


__ADS_2