
Adya tak bisa berkata-kata, dia teringat dirinya yang semalam menjadi pelampiasan nafsu oleh Bu Kinasih. Kini dia mulai kembali merasa ketakutan, karena berfikir bisa jadi dia bakal bernasib sama dengan temannya Mimi itu.
...****************...
Sore hari sekitar jam 5 sore, Dokter Rebecca sudah tiba di rumah Bu Kinasih. Dokter Rebecca menuju teras belakang rumah untuk menghampiri Adya yang berada didalam kandang anjing yang letaknya berada di teras belakang rumah itu.
"Aku akan melatihmu untuk bersikap layaknya anjing, Adya! Jika kamu nggak menuruti perintahku maka aku nggak segan-segan menyakitimu!" Ujar Rebecca kepada Adya yang masih tertekuk didalam kandang.
Sementara itu Bu Kinasih sedang asyik mandi bersama dengan Mimi di sumur, dan membiarkan Dokter Rebecca menjalankan kegiatannya untuk mengurus Adya.
Rebecca mendorong kandang anjing berisi Adya itu menuju ruang tamu. Adya hanya memandangnya saja dengan pasrah sambil melihat Rebecca yang mendorong kandangnya dengan beban yang sangat berat.
Bu Kinasih melihat Dokter Rebecca yang sedang kesulitan mendorong kandang anjing itu yang sangat berat karena ada Adya didalamnya.
"Tunggu sebentar, Bu Dokter! Saya memakaikan pakaian ke anakku dulu. Nanti saya akan membantu Bu Dokter mendorong kandang itu setelah anakku sudah aku pakaian baju." Ujar Bu Kinasih yang baru selesai mandi bersama Mimi.
"Terima kasih Bu Kinasih, saya tunggu disini kalau begitu." Jawab Dokter Rebecca.
Bu Kinasih menutup tubuhnya dan Mimi dengan handuk dan menggendong tubuh Mimi menuju kamar untuk memakai pakaian. Sementara itu Dokter Rebecca duduk di atas kandang Adya.
Adya yang berada didalam kandang hanya melihat bokong Dokter Rebecca yang sedang duduk di atas kandangnya dan tepat berada di atas kepalanya. Adya memang sudah tak punya harga diri lagi bagi Dokter Rebecca.
Beberapa lama kemudian Bu Kinasih yang sudah memakai pakaian baju kaos putih dan celana pendek berwarna hitam, keluar kamar dan menghampiri Dokter Rebecca yang sudah menunggu sambil duduk di atas kandang Adya.
Sementara itu Mimi dengan menghisap empeng di mulutnya, dibiarkan sendiri merangkak dari kamar menuju ruang tamu untuk menyaksikan apa yang dilakukan Bu Kinasih dengan Dokter Rebecca terhadap Adya.
"Maaf sudah menunggu lama Bu Dokter." Kata Bu Kinasih yang menghampiri Dokter Rebecca yang masih menunggunya.
"Nggak apa-apa, Bu Kinasih. Maaf kalau aku sudah terlalu banyak merepotkanmu." Ujar Dokter Rebecca.
"Nggak masalah, Bu. Justru aku malah senang melihat Bu Dokter yang begitu bersemangat sekarang." Jawab Bu Kinasih sambil tersenyum. "Ayo kita sama-sama dorong kandang ini, Bu Dokter!"
Dokter Rebecca akhirnya dibantu oleh Bu Kinasih untuk mendorong Kandang yang berat itu karena ada Adya didalamnya, dari teras belakang rumah menuju ruang tamu.
Setelah berada di ruang tamu, kandang yang menampung Adya itu ditaruh di tengah-tengah ruangan. Bu Kinasih langsung menghampiri Mimi yang sedang duduk dilantai, dan menggendong Mimi menuju sofa hanya untuk menyaksikan bersama-sama seperti menonton sebuah pertunjukan, menyaksikan Dokter Rebecca melatih Adya sebagai anjing seorang diri.
Rebecca berdiri tepat dihadapan Adya. Wajah Adya penuh belas kasihan mengharap Dokter Rebecca mau berbesar hati membebaskan dirinya, meskipun dia tahu kalau itu tidak mungkin.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Adya?" Tanya Dokter Rebecca dengan tatapan mata yang yang tajam, tetapi Adya hanya diam dengan tatapan yang memprihatinkan.
Dokter Rebecca mengambil suatu didalam tas yang ditaruhnya di atas meja, dan mengeluarkan sebuah benda dari dalam tas itu yang ternyata adalah sebuah cambuk, yang biasa digunakan untuk melatih anjing.
Dokter Rebecca membuka pintu kandang, dan menyuruh Adya merangkak keluar dari kandangnya. Lalu duduk berlutut dihadapan Dokter Rebecca.
"Saya ingatkan sekali lagi, jika kamu nggak menuruti perintahku maka cambuk ini akan menyakiti tubuhmu, ngerti..!!" Perintah Dokter Rebecca kepada Adya yang duduk berlutut dihadapannya. "Latihan pertama yang sangat mudah, julurkan lidahmu! Ayo cepat!"
Adya malah menundukkan kepalanya, dan tidak mau menjulurkan lidahnya.
"PRAAAKKK..!!" Suara cambukkan menggelegar dari punggung Adya.
"AAAHHKK..!!" Adya tampak kesakitan dan punggungnya tampak goresan merah bekas cambukkan yang dilontarkan kepadanya. Air mata Adya pun menetes karena tak kuasa menahan perihnya.
"Sudah aku bilang, kalau kamu nggak mau cambuk ini menyakitimu maka turuti semua perintahku, ngerti..!!" Dokter Rebecca memberi peringatan lagi kepada Adya.
Mimi yang sedang duduk sambil dirangkul dan bersandar di bahu Bu Kinasih sangat prihatin melihat perlakuan Dokter Rebecca terhadap Adya yang begitu kejam.
"Aku perintahkan sekali lagi, julurkan lidahmu sekarang! CEPAAAT....!!" Dokter Rebecca memerintahkan Adya lebih tegas lagi.
Adya terpaksa menjulurkan lidahnya seperti anjing, sambil mengeluarkan air mata dan menundukkan kepalanya.
"Bagus, kini kamu mulai tampak seperti anjing. Ingat, biasakan untuk menjulurkan lidahmu mulai dari sekarang. Jika tidak, aku nggak akan segan-segan untuk membuatmu menderita!" Dokter Rebecca memberikan ancaman kepada Adya.
Dokter Rebecca kemudian mendekatkan kaki kanannya kepada Adya, "Sekarang jilat kakiku! Ayo jilat!"
Adya yang masih menjulurkan lidah semakin tak kuasa menahan air matanya. Dia terpaksa menuruti perintah Dokter Rebecca untuk menjilati kaki Dokter Rebecca.
__ADS_1
Adya menjilati kaki Dokter Rebecca dari telapak hingga mata kaki. Dokter Rebecca telah membuat Adya semakin hari semakin hilang harga dirinya.
"Hahahaha...!! Anjing pintar! Nah, sekarang kamu dekati Bu Kinasih, dan jilat juga kakinya. Ayo cepat..!!" Dokter Rebecca memerintahkan Adya lagi untuk menjilati kaki Bu Kinasih juga yang sedang duduk di sofa sambil merangkul Mimi.
Adya merangkak mendekati Bu Kinasih, kemudian menjilati kaki Bu Kinasih juga yang jelas dilakukannya hanya karena terpaksa.
Adya pun menjilati kaki Bu Kinasih, dan Bu Kinasih pun membalasnya dengan membelai rambut Adya sambil tersenyum. "Anjing pintar!"
"Bagus, kau semakin jinak! Sekarang kamu jilat juga kaki anaknya Bu Kinasih yang duduk disampingnya itu! Ayo cepat..!!" Dokter Rebecca memerintahkan lagi kepada Adya untuk menjilati kaki Mimi.
Tetapi Mimi yang tidak tega melihat kondisi Adya langsung menekuk kakinya, karena tidak mau memberikan kakinya untuk dijilat oleh Adya.
"Julurkan kakimu, nak! Ayo..!!" Bu Kinasih membujuk Mimi untuk menjulurkan kakinya agar bisa dijilat Adya. Tetapi Mimi tetap tak mau menjulurkan kakinya.
Suara cambukkan kembali lagi menggelegar ke punggung Adya, "PRAAAKK...!!"
"AAAHHKK..!!" Adya kembali menjerit kesakitan, membuat tangisannya pecah karena tak kuasa menahan sakit dari cambukkan itu. "Sakit....!! Hiks.. hiks..hiks..!!!"
"Ayo sayang, julurkan kakimu sekarang! Kalau tidak, kasihan anjing itu bakal dicambuk terus oleh Tante Rebecca, nak!" Bu Kinasih memerintahkan Mimi kembali.
Dokter Rebecca mencambuk Adya kembali tanpa ampun. Membuat Adya semakin kesakitan, dan air mata Adya sebagai bukti betapa sakitnya cambukkan yang dilontarkan Dokter Rebecca kepadanya.
Mimi yang melihat kejadian itu berkali-kali dihadapannya terpaksa menjulurkan kakinya untuk dijilati oleh Adya, agar Dokter Rebecca tidak terus mencambuk Adya.
"Hahahaha...!!" Bu Kinasih dan Dokter Rebecca tertawa terbahak-bahak menyaksikannya.
Sementara itu Mimi yang kakinya sedang dijilati oleh Adya, tak kuasa menahan tangisnya karena sangat tak tega terhadap Adya yang diperlukan secara tidak manusiawi. Mimi memalingkan wajahnya ke bahu Bu Kinasih yang sedang duduk disampingnya, karena tak sanggup melihat Adya dalam kondisi seperti itu. Bu Kinasih pun merangkul sambil mencium kening Mimi dengan perasaan sangat bahagia.
"Nah, sekarang kemarilah anjing manis! Ayo kemari..!! Dokter Rebecca kembali memanggil Adya.
Adya kemudian merangkak menghampiri Dokter Rebecca yang sedang berdiri didepan kandangnya. Kemudian duduk berlutut dihadapan Dokter Rebecca.
"Nah, sekarang latihan terakhirmu hari ini adalah menggonggong, ayo menggonggong! Aku pengen dengar gonggonganmu!" Perintah Dokter Rebecca lagi.
"Hiks..hikss..hikss..!!" Adya malah terisak-isak dengan tangisnya.
"Guk! Guk!" Jawab Adya sambil menunduk dengan air mata di pipinya.
"Gonggongan apa itu? Nggak sama persis seperti anjing lain. Ayo ulangi!" Perintah Dokter Rebecca.
"Gukk!! Guukk..!!" Adya kembali menjawab dengan gonggongannya.
"Masih kurang persis..!! Kalau gonggonganmu masih seperti itu, aku cambuk kamu lagi..!! Ayo yang bener...!!!" Perintah Dokter Rebecca kembali.
"GUUUKKK...!! GUUUKKK..!! GGGUKKK..!! GUUUKK..!!" Jawab Adya lagi sambil berderai air mata.
"HAHAHAHA...!! Ya, benar..!! Gonggongan itu yang aku maksud! Coba ulangi lagi..!!" Dokter Rebecca tampak sangat bahagia.
"GUKK..!!! GGGUKKK...!! GGUKKK..!! GGGUKKKKK.!!!" Adya terus menggonggong dan tak henti-hentinya pula air matanya berderai.
"Hahahaha...!!! Bagus..!! Anjing pintar..!! Nah, sekarang ayo kembali masuk kedalam kandang! Ayo masuk kandang..!!" Perintah Dokter Rebecca lagi kepada Adya.
Adya kemudian merangkak kembali masuk ke dalam kandangnya. Dokter Rebecca kemudian menutup pintu kandang Adya, dan mengunci kembali pintu kandang Adya dengan gembok. Kemudian membiarkan letak kandang berisi Adya itu berada ditengah ruang tamu.
"Latihan hari ini sudah cukup, besok aku akan melatihmu lagi! Dan ingat pesanku..!! Jika aku datang, kamu wajib menghampiriku sambil menggonggong, dan segera langsung menjilati kakiku. Jika tidak, aku nggak segan-segan bikin cacat wajahmu, PAHAM..!!" Pesan Dokter Rebecca kepada Adya.
"Paham..." Jawab Adya sambil menunduk.
"Eh, saya nggak mau dengar kamu berbicara lagi! Apapun yang aku perintahkan, kamu wajib menjawabnya dengan menggonggong! Apapun itu, Paham?!!" Pesan Dokter Rebecca lagi kepada Adya.
"GGUKKK..!! GGGUKKK...!!" Jawab Adya.
"Hehehe.. Nah, gitu dong! Anjing pintar! Kalau kamu jadi anjing pintar terus seperti ini, aku pasti sayang banget sama kamu!" Ujar Dokter Rebecca kepada Adya yang sudah berada tertekuk didalam kandang.
"Pertujukan yang sangat bagus Bu Dokter! Aku dan anakku sangat senang dan puas menyaksikannya. Kalau begitu aku akan buatkan teh hangat untuk kita berdua. Tunggu sebentar ya, Bu Dokter!" Setelah menyaksikan Dokter Rebecca melatih Adya sebagai anjing, Bu Kinasih yang duduk di sofa sambil merangkul Mimi bangkit dari sofa menuju dapur untuk membuatkan beberapa cangkir teh dan membiarkan Mimi duduk sendiri di sofa.
__ADS_1
"Apakah kamu hanya membuatkan dua cangkir teh saja? Bukankah kita sekarang ini sedang bertiga?" Tanya Dokter Rebecca.
"Bukankah kita memang berdua saja, Bu?" Kata Bu Kinasih.
"Apakah kamu nggak membuatkan teh untuk Mimi juga?! Kita disini sedang bertiga, Bu!" Ujar Dokter Rebecca
"Apakah ibu lupa? Mimi tidak minum teh, bu. Mimi khan masih nete. Jadi dia minum susu langsung dari sini!" Bu Kinasih menjawab sambil menunjuk buah dadanya sendiri.
"Oh ya, maaf aku lupa kalau Mimi hanya suka tete." Dokter Rebecca tersenyum.
Bu Kinasih pun tersenyum juga, dia kembali bergegas menuju dapur untuk membuatkan teh dan untuk dinikmati berdua bersama Dokter Rebecca.
...****************...
Malam hari tepat pukul 11.30, kembali Mimi terbangun dari tidurnya. Dia terbangun dikarenakan suara jeritan-jeritan suara yang kali ini berasal dari ruang tamu, tampaknya Bu Kinasih kembali memperkosa Adya lagi di ruang tamu itu.
"AAAHHKK...!! AAAHHKK..!!" Suara jeritan dan tangisan Adya tampak terdengar jelas. Mimi yang berada didalam kamar hanya bisa merasa prihatin dengan apa yang dialami oleh Adya yang lebih diperlakukan secara tidak manusiawi. Tampaknya Adya akan dijadikan pelampiasan nafsu oleh Bu Kinasih setiap malam.
Bu Kinasih memperkosa Adya dilantai tepat depan dikandang Adya dan membiarkan pintu kandang itu terbuka lebar. Dengan rantai anjing yang diikat dileher Adya dan dililitkan di tangan Bu Kinasih agar Adya tidak bisa kabur kemana-mana dari cengkeramannya.
Adya menangis kesakitan, sedangkan Bu Kinasih sangat begitu menikmatinya. Tubuh Adya tampak lemas karena kelelahan, sedangkan Bu Kinasih yang bertubuh sangat gemuk dan berkulit hitam masih sangat begitu bersemangat menggarap tubuh kurus Adya yang berkulit putih.
Setelah beberapa waktu yang sangat lama, tampaknya Bu Kinasih sudah selesai menggarap dan telah puas memperkosa Adya. Bu Kinasih yang tidak memakai pakaian dengan menampakkan kulit hitam bertubuh gemuk dan buah dada yang sangat besar menggantung di dadanya, bangkit setelah menindih tubuh kurus Adya yang terbaring dilantai tak berdaya, dengan leher yang diikat dengan rantai yang dililitkan di tangan Bu Kinasih agar Adya tak bisa menghindar kemana-mana yang tidak memakai pakaian sehelai pun juga.
Adya terbaring lemah dilantai sambil menangis terisak-isak, leher dan dadanya, bahkan lengannya banyak bercak-bercak merah, dan tak sedikit pula ada bekas gigitan, bahkan luka bekas cakaran.
Sedangkan Bu Kinasih duduk dengan santai sambil memakai pakaiannya kembali dengan tersenyum. "Malam ini ternyata lebih menyenangkan daripada malam kemarin. Aku harap besok malam kamu harus lebih menyenangkan lagi ya, sayang!"
Adya hanya bisa menangis dan menangis, dia terbaring sambil memeluk tubuhnya sendiri yang masih dibiarkan tak memakai pakaian.
"Sudah, kamu nggak perlu menangis..! Seharusnya kamu merasa bangga, karena kamu hanya seekor anjing tetapi ada manusia yang mau menikmati tubuhmu!" Ujar Bu Kinasih.
Adya masih menangis terisak-isak tak mempedulikan apapun perkataan Bu Kinasih yang sudah puas menikmati tubuhnya.
Setelah Bu Kinasih selesai memakai pakaiannya, dia kemudian bergegas mengambil pakaian untuk Adya yang sengaja ditaruh di atas kandangnya, kemudian melepaskan leher Adya dari rantai yang mengalungi dirinya agar mudah memasukkan baju dari lehernya.
Tubuh Adya dipakaikan pakaian kaos tanpa lengan dan celana pendek. Kemudian menggotong Adya untuk masuk kedalam kandangnya kembali.
Setelah Adya masuk kedalam kandang, Bu Kinasih menutup pintu kandang itu dan menguncinya dengan gembok.
"Jangan lupa, besok malam kita lanjut bersenang-senang lagi. Kamu harus selalu siap untuk memuaskan aku setiap malam!" Pesan Bu Kinasih kepada Adya sambil tersenyum.
Setelah itu Bu Kinasih pergi menuju kembali ke dalam kamarnya dan membiarkan Adya yang masih menangis sendirian didalam kandang.
Bu Kinasih masuk kedalam kamar, dan melihat Mimi sedang duduk di atas kasur kapuknya.
"Kenapa Mimi belum tidur, nak?" Tanya Bu Kinasih kepada Mimi.
"Aku mendengar suara teriakan, makanya aku terbangun." Jawab Mimi.
"Oh, begitu.. Maaf jika Mama dan anjing itu telah membangunkan tidurmu." Bu Kinasih menuju lemari pakaian dan membuka pintu lemari itu, untuk mengambil sarung yang biasa dia gunakan untuk menutupi dadanya hingga lutut saat tidur.
Bu Kinasih melepas semua pakaiannya, termasuk melepas bra miliknya ke lantai. Kemudian memakai sarung itu untuk menutupi tubuhnya.
Kemudian Bu Kinasih mengambil pakaiannya yang berada dilantai, kemudian pergi keluar kamar untuk menaruh pakaian kotor itu diruang belakang.
Bu Kinasih yang sedang menuju ruang belakang, melewati ruang tamu tempat Adya dikurung didalam kandang.
Tampak Adya yang belum tidur dan masih menangis terisak-isak di dalam kandangnya. Tetapi Bu Kinasih tidak mempedulikannya, dia tetap menuju ruang belakang untuk menaruh pakaian yang dilepaskannya tadi untuk ditumpuk dengan pakaian kotor. Setelah itu Bu Kinasih kembali menuju ke dalam kamar.
Bu Kinasih menghampiri Mimi yang belum tidur dan duduk di samping Mimi, memandangi wajah Mimi yang tampak cantik meskipun tidak berdandan. Kemudian membelai rambut Mimi yang mulai panjang.
"Kau cantik sekali, Mimi! Mama beruntung telah memilikimu." Ujar Bu Kinasih sambil membelai rambut Mimi.
Mimi hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Kemudian Bu Kinasih mencium kening Mimi yang hanya pasrah. Setelah itu Bu Kinasih menyandarkan kepala Mimi di dada besarnya, dan membelai rambut Mimi kembali.
__ADS_1
Mimi hanya pasrah bersandar di dada Bu Kinasih sambil menghisap empengnya. Sedangkan Bu Kinasih tak berhenti membelai rambut Mimi dengan lembut.
+++BERSAMBUNG+++