Mimi Si Gadis Bayi

Mimi Si Gadis Bayi
Kegirangan


__ADS_3

Sementara itu Adya masih menjerit-jerit kesakitan dilantai, tetapi Dokter Rebecca dan Bu Kinasih tidak mempedulikannya. Bu Kinasih dan Dokter Rebecca pergi meninggalkan Adya sendirian didalam gudang yang masih meronta-ronta.


Bu Kinasih dan Dokter Rebecca sedang duduk di ruang tamu sambil menikmati secangkir teh.


"Tampaknya rasa sakit di lutut Mimi sudah hilang. Soalnya sudah nggak terdengar lagi suara jeritan di dalam kamar." Kata Bu Kinasih


"Ya, sakitnya sudah nggak terlalu terasa lagi. Tetapi dia masih sedikit nyeri." Kata Dokter Rebecca.


"Aku jadi nggak sabar menunggu hasilnya besok. Aku ingin melihatnya merangkak kepadaku." Ujar Bu Kinasih.


"Dan besok pagi impianmu akan terwujud. Sebab besok pagi lututnya sudah lemah sempurna." Jawab Dokter Rebecca. "Apa yang kau lakukan jika Mimi sudah tidak bisa berjalan lagi?"


"Aku akan melepaskan semua rantai yang ada ditangan dan kakinya. Tapi aku lepaskan jika hanya ada aku. Tapi jika aku nggak ada dirumah, aku hanya merantai lehernya saja agar dia nggak bisa merangkak keluar rumah karena nggak ada yang mengawasi." Jawab Bu Kinasih. "Kalau Bu Dokter sendiri, apa yang akan Bu Dokter lakukan?"


"Kalau aku nanti akan membelikan kandang anjing yang besar untuk Adya." Ujar Dokter Rebecca. "Tapi aku bingung bagaimana cara membawanya kesini, karena jalan masuk kerumah ini hanya bisa dilewati satu sepeda motor."


"Kalau soal itu nanti kita bisa pikirkan, bu." Kata Bu Kinasih.


...****************...


Malam semakin larut, Bu Kinasih dan Mimi telah selesai makan malam bersama di dapur. Kini Bu Kinasih yang hanya memakai sarung tanpa menggunakan bra, menggendong tubuh Mimi yang tetap terikat dengan rantai, dan membawanya kedalam kamar karena sudah waktunya untuk tidur.


Didalam kamar, Mimi diletakkan di atas kasur kapuknya. Bu Kinasih pun melepaskan ikat rambut Mimi yang mengepang rambutnya menjadi dua bagian.


"Ma, apa yang Dokter itu suntikkan ke lututku tadi?" Mimi bertanya kepada Bu Kinasih.


"Tante Rebecca..!! Panggil dia dengan sebutan, Tante Rebecca..!! Ngerti..!!" Cetus Bu Kinasih kepada Mimi.


"ehm.. iya.. Apa itu yang Tante Rebecca suntikkan kepadaku? Hingga sekarang kakiku masih nyeri, Ma?" Tanya Mimi


"Kamu nggak usah khawatir, mulai besok nyerinya akan hilang. Dan mulai besok, rantai ditangan dan di kakimu ini nggak akan kamu pakai lagi." Jawab Bu Kinasih.


"Benarkah? Tapi kenapa bisa begitu?" Mimi menjadi bingung.


"Kenapa? Apakah kamu nggak senang mendengarnya?" Bu Kinasih bertanya balik.


"Setahun lebih rantai-rantai ini bersamaku untuk mengikat kedua tangan dan kakiku. Dan setahun lebih aku menjalani hidupku bersama Mama. Makanya aku tahu, nggak mungkin Mama berbuat sesuatu tanpa alasan yang menguntungkan diri Mama. Oleh sebab itu aku tahu nggak mungkin mama melepaskan aku begitu saja jika tanpa sebab yang jelas. Pasti Mama sudah merencanakan sesuatu buatku, yang jelas nggak mungkin menguntungkanku, tapi menguntungkan Mama." Jawab Mimi.


"Anak pintar. Ya sayang, Mama sudah merencanakan suatu hal untukmu. Coba kamu angkat betismu!" Ujar Bu Kinasih.


"Angkat betisku?" Mimi Kembali bingung.


"Ya, cobalah, naikkan lututmu dan angkat betismu!" Bu Kinasih mengulang kembali perintahnya.


Mimi kemudian mencoba mengangkat betisnya, tapi dia merasa aneh, betisnya tampak bergetar. "Ma, betisku kenapa terasa sangat berat? Aku kesulitan mengangkat betisku!"


"Ya, sekarang sudah mulai terasa berat. Tetapi mulai besok kamu sudah nggak bakalan bisa mengangkat betismu lagi." Jawab Bu Kinasih.


"Maksudnya? Jadi apa yang disuntik ke lututku tadi?" Mimi sangat terkejut.


"Tenang, nak! Kakimu nggak lumpuh total. Kamu masih bisa menggerakkan paha sampai ke lututmu. Sesuatu yang disuntikkan ke lututmu hanya untuk melemahkan lututmu aja. Jadi dari lutut hingga telapak kaki sudah nggak bakal bisa kamu gerakan lagi, karena lututmu sudah nggak punya kekuatan lagi untuk menopangnya." Jawab Bu Kinasih dengan santai.


Mimi langsung syok mendengarnya. "Jadi Maksudnya....?! Aku sudah nggak bisa berdiri lagi?"


"Ya, begitulah sayang. Tapi Mimi tenang aja, Mimi masih bisa merangkak, kok." Bu Kinasih menjawabnya dengan tersenyum.


Mimi, sangat terkejut, terdiam, kemudian menangis. "Kenapa Mama semakin kejam kepadaku? Apakah masih belum cukup dari apa yang Mama lakukan terhadapku selama ini?!"


"Mama nggak kejam kok, sayang. Buktinya selama ini Mimi selalu Mama sayang, Mama rawat, Mama belai, Mama gendong, bahkan Mama tetekkin setiap hari. Dan semua itu Mama lakukan dengan penuh kasih sayang." Jawab Bu Kinasih yang masih tersenyum.


"Lalu Mama bikin aku nggak bisa berjalan lagi ini apa? Sama aja Mama membuat anak Mama lumpuh! Nggak ada orang tua yang sayang kepada anaknya yang menginginkan anaknya lumpuh..!!" Cetus Mimi yang masih menangis.


"Mama nggak jahat sama Mimi kok, nak.! Justru Mama lakukan itu agar Mimi semakin sadar jika Mimi adalah seorang bayi. Sebab nggak ada bayi yang bisa berjalan, nak! Bayi hanya bisa berbaring, tengkurap, dan merangkak. Jadi Mama lakukan ini hanya ingin membuatmu kembali ke kodrat sebagai bayi, yang nggak mungkin bisa berjalan." Jawab Bu Kinasih.


"Setelah ini, apalagi yang akan kamu lakukan terhadapku?" Air mata Mimi terus berderai menampakkan kesedihannya.


"Tunggu aja sayang, Mama nggak perlu memberitahu Mimi. Biar Mimi sendiri nanti yang akan menyaksikannya. Yang pasti, Mama akan membuat Mimi menjadi bayi seutuhnya, secara perlahan tapi pasti." Ujar Bu Kinasih.

__ADS_1


Mimi yang tidak bisa berbuat apa-apa akhirnya hanya menangis tersedu-sedu. Karena tak ada orang yang bisa menolongnya selama dirumah Bu Kinasih itu. Dia hanya dipaksa untuk menerima kenyataan apapun yang dilakukan Bu Kinasih terhadapnya, demi memuaskan obsesi Bu Kinasih sendiri.


"Menangislah sekarang, nak! Mama sengaja memberitahukan malam ini agar besok kamu tidak terkejut lagi ketika melihat lututmu sudah nggak mampu mengangkat betismu." Ujar Bu Kinasih.


Bagi Mimi, rumah Bu Kinasih ini adalah sebuah penjara yang selalu membuatnya mengalami tekanan mental. Penjara yang selalu mendatangkan nasib nahas yang dapat menyurutkan mentalnya sewaktu-waktu.


...****************...


Dirumah Sakit Anak tempat Bu Kinasih bekerja, tepat jam 09.00 pagi Bu Kinasih menemui Pak Anung si Kepala Cleaning Servis di Rumah Sakit itu, untuk menyampaikan berita pengunduran dirinya.


Di dalam ruangan Kepala Cleaning Servis, Pak Anung tampak terkejut mendengar hal itu dari Bu Kinasih sendiri.


"Jujur saya sebenarnya sangat suka caramu bekerja. Kamu lebih rajin daripada Cleaning Servis lainnya. Kamu tidak mempedulikan apapun selain pekerjaanmu jika dibandingkan dengan karyawan yang lain. Saya sendiri sebenarnya nggak ingin kamu mengundurkan diri. Tapi apa mau dikata, ini semua adalah hakmu untuk mengambil keputusan." Kata Pak Anung.


"Terimakasih Pak sudah menilai baik tentang pekerjaan saya. Kebaikan Pak Anung akan selalu saya ingat." Jawab Bu Kinasih.


"Kalau boleh tahu, apa yang membuat kamu mengundurkan diri dari pekerjaan ini? Apakah sudah mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik lagi, atau karena merasa nggak cocok dengan teman-teman disini?" Pak Anung bertanya.


"Tidak keduanya Pak." Jawab singkat Bu Kinasih.


"Lalu apa yang membuat kamu mengundurkan diri? Dan kalau bukan karena pekerjaan baru, jadi setelah ini kamu akan bekerja dimana?" Tanya Pak Anung kembali.


"Maaf Pak, saya nggak bisa ceritakan karena ini berkaitan dengan privasi saya." Jawab Bu Kinasih.


"Hmmm.. Baiklah..!! Oh ya, apabila karena saya sangat suka dengan pekerjaan kamu, apabila kamu ingin bekerja disini lagi, jangan sungkan-sungkan untuk memasukkan surat lamaranmu kesini lagi." Pesan Pak Anung.


"Terimakasih Pak Anung." Jawab Bu Kinasih.


Setelah Bu Kinasih selesai berkomunikasi dengan Pak Anung, Bu Kinasih kemudian menuju ruangan Dokter Rebecca. Tetapi karena Dokter Rebecca sedang sibuk melayani Pasien, dia langsung melewati ruangan itu dan menemui Faida yang sedang bekerja mengepel lantai.


"Hai Faida." Bu Kinasih menyapa sahabat seprofesinya itu.


"Lho, Bu Kinasih kok nggak pakai seragam kerja? Memangnya Bu Kinasih nggak kerja hari ini?" Tanya Faida yang merasa heran karena Bu Kinasih tidak memakai seragam kerja.


"Hari ini aku resmi mengundurkan diri, Faida." Jawab Bu Kinasih.


"Nggak ada apa-apa. Aku hanya ingin berhenti aja." Jawab Bu Kinasih.


Faida mendadak menangis dan langsung memeluk erat sahabatnya itu, ketika mengetahui bahwa Bu Kinasih tidak bersama lagi dengannya.


"Sudah, nggak perlu menangis!" Ujar Bu Kinasih kepada Faida yang memeluknya dengan erat.


"Gimana nggak menangis, Bu?! Selama setahun ini kita selalu bekerja bersama. Ibu selalu menjadi teman curhatku juga selama disini. Sekarang Bu Kinasih mengundurkan diri tanpa ngomong dulu sama aku!" Jawab Faida.


"Ya sudah, Maafkan aku jika aku nggak ngomong terlebih dahulu sama kamu!" Ujar Bu Kinasih. "Oh ya, aku harus pergi dulu!"


Faida melepaskan pelukannya. "Bolehkah aku mengetahui rumahmu? Aku pengen sekali mampir kerumah ibu."


"Maafkan aku Faida, aku harus pergi. Aku yakin suatu saat kita akan ketemu lagi." Kemudian Bu Kinasih pergi dari Rumah Sakit itu dan meninggalkan Faida begitu saja.


...****************...


Mimi mendengar suara sepeda motor parkir didepan rumah. Dari suara sepeda motornya sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah suara sepeda motor milik Bu Kinasih.


Bu Kinasih membuka pintu kamar, dan menuju lemari pakaian. Bu Kinasih membuka baju kerjanya dan hanya memakai bra warna hitam dan celana pendek warna hitam.


Setelah itu Bu Kinasih menghampiri Mimi yang sedang duduk di atas kasur dan bersandar di tembok. Bu Kinasih mengambil kunci dari sakunya, dan membuka semua rantai yang mengikat tangan dan kaki Mimi.


Setelah selesai membuka semua rantai yang mengikat tangan dan kaki Mimi, Bu Kinasih mulai mundur untuk mengatur jarak antara dia dengan Mimi.


"Ayo, sayang! Kemarilah..!" Bu Kinasih mengulurkan kedua tangannya untuk menyambut kedatangan Mimi.


Mimi hanya diam melihatnya, tanpa berkata apa-apa.


"Ayolah sayang! Kemarilah! Datangi Mama!" Bu Kinasih memanggil lagi.


Mimi yang tangan dan kakinya sudah dilepaskan dari rantai yang selama lebih dari setahun membelenggunya, mencoba berusaha berdiri.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba dia terjatuh, Karena lutut Mimi sudah tidak kuat menopang berat tubuh Mimi. Mimi mencoba menggerakkan kakinya, tetapi kaki yang bisa digerakkan hanya sebatas paha hingga lutut saja, lutut kebawah tidak bisa digerakkan lagi. Tetapi Mimi sudah tdiak terkejut lagi, karena Bu Kinasih sudah menceritakannya malam tadi.


"Aku nggak bisa." Jawab Mimi.


"Mama nggak menyuruhmu berdiri, nak! Mama hanya menyuruhmu menghampiri Mama. Mendekatlah, nak dengan cara merangkak!" Perintah Bu Kinasih kepada Mimi.


Mimi tampak bersedih bahwa ternya benar jika hari ini dia sudah tak bisa berjalan lagi.


"Kenapa wajahmu seperti itu? Ayo kemarilah, nak! Mama sudah menunggu..! Merangkaklah, nak!" Bu Kinasih mendesak Mimi untuk menghampirinya.


Mimi yang bersedih mulai merangkak mendekati Mimi dengan pasrah.


"Bagus, sayang! Ayolah, nak! Datang ke pelukan Mama!" Bu Kinasih menampakkan wajah haru.


Mimi semakin mendekati Bu Kinasih dengan merangkak layaknya bayi yang sedang mendekati ibunya.


"Bagus, nak! Bagus!" Bu Kinasih mendadak mengeluarkan air mata sambil tersenyum, pertanda air mata bahagia.


Mimi akhirnya sampai ke uluran tangan Bu Kinasih. " Bagus, nak! Anak pintar..!!" Bu Kinasih langsung memeluk dengan erat dan menciumi pipi dan wajah Mimi.


Tangisan haru akhirnya pecah dari raut wajah Bu Kinasih karena akhirnya salah satu impiannya terwujud, yaitu Mimi merangkak kepadanya.


"Mimi sayang..!! Anak Mama Sayang..!!" Bu Kinasih yang sangat kegirangan menggendong tubuh Mimi sambil mendekapnya dengan erat dan nggak henti-hentinya menciumi wajah, kepala hingga dada Mimi.


Sambil menggendong Mimi, Bu Kinasih mengambil kain selimut untuk dililitkan ditubuhnya dan menjadikannya gendongan bayi untuk menggendong Mimi. Setelah Mimi dimasukkan kedalam gendongan dari selimut itu, Bu Kinasih menciumi tubuh Mimi lagi.


Mimi tampak risih atau merasa tidak nyaman karena Bu Kinasih terus mendekap dan menciumi tubuhnya. Tetapi tubuhnya yang lebih kurus tidak bisa menghindari dekapan tubuh Kinasih yang gemuk.


"HAHAHAHA..!! HAHAHAHA..!!" Bu Kinasih yang menangis bahagia akhirnya tertawa terbahak-bahak, untuk mengekspresikan dirinya betapa bahagianya dia sehingga tampak gila. Sedangkan Mimi hanya bisa pasrah.


Bu Kinasih membawa Mimi ke ruang tamu, kemudian membuka selimut yang dijadikan gendongan bayi itu dan menurunkan Mimi dilantai, setelah itu Bu Kinasih duduk di sofa. Bu Kinasih mengulurkan tangannya lagi untuk menyuruh Mimi mengulang kejadian dikamar tadi.


"Ayo, anak Mama sayang..!! Sini..!!" Bu Kinasih memanggil Mimi lagi dengan penuh rasa kegirangan.


Mimi yang hanya pasrah dan terpaksa menuruti kemauan Bu Kinasih. Dia merangkak untuk menghampiri Bu Kinasih.


"Anak Mama Pintar sekarang..!!" Bu Kinasih begitu bahagia saat Mimi sampai kepadanya dan langsung mengangkat tubuh Mimi dan membaringkan ke pangkuannya dan kembali menciumi wajah hingga dada Mimi.


Setelah puas menciumi tubuh Mimi, Bu Kinasih mengambil selimut tadi dan menyelimuti tubuh Mimi. Setelah itu Mimi yang berbaring dipangkuannya kemudian disandarkan di dadanya.


"Mulai hari ini, Mama nggak akan berlama-lama jauh darimu lagi, sayang! Karena mulai hari ini mama berhenti bekerja." Kata Bu Kinasih yang mendekap Mimi di pangkuannya.


"Kenapa Mama berhenti bekerja?" Mimi tampak kebingungan.


"Mama dapat pekerjaan baru yang lebih baik, dan tak harus meninggalkan rumah." Jawab Bu Kinasih yang tampak tersenyum bahagia.


"Pekerjaan baru apa?" Mimi bertanya lagi.


"Pekerjaan baru Mama adalah menjadi pengurus anjing peliharaan Tante Rebecca.!" Jawab Bu Kinasih.


"Anjing peliharaan? Maksudnya Mama gadis yang dibawa Tante Rebecca itu?" Mimi mengetahui bahwa anjing peliharaan yang dimaksud itu adalah Adya.


"Benar sayang! Jadi Mama nggak perlu capek-capek keluar rumah. Dan pastinya akan selalu ada untuk Mimi. Hahahaha..!!" Ujar Bu Kinasih yang dilanjutkan dengan tertawa terbahak-bahak.


Mimi hanya terdiam, melihat tingkah laku Bu Kinasih dan sahabatnya tersebut yang memperlakukan dirinya beserta gadis itu dengan semena-mena.


Setelah puas tertawa, Bu Kinasih kembali memandang wajah cantik Mimi yang berbaring dipangkuannya sambil didekap olehnya dengan terbalut selimut ditubuh Mimi.


"Hahahaha..!! Mimi.. Mama sayang banget sama kamu...! Mama akan melakukan apapun agar Mimi tidak pergi dari sini untuk meninggalkan Mama!" Ujar Bu Kinasih yang kebahagiaannya saat ini tak bisa terbendung.


Mimi hanya diam pasrah apapun yang dilakukan Bu Kinasih terhadap saat ini. Sementara itu, Bu Kinasih kembali mengeluarkan buah dadanya yang hitam besar dari balik bra warna hitam yang dipakainya dan akan kembali menyusui Mimi. Bu Kinasih mengarahkan putingg susunya itu ke dalam mulut Mimi. Mimi pun menghisap putingg susu Bu Kinasih itu dengan pasrah.


"Minumlah, nak! Susu ini untukmu!" Bu Kinasih menekan buah dadanya sehingga Asi yang mengarah kedalam mulut Mimi mengalir sangat deras tak terbendung kedalam mulutnya. Mimi yang tubuhnya tertutup selimut dipaksa untuk menghisap dan menelan air susu itu hanya bisa pasrah menerima nasibnya saat ini sebagai bayi dewasa oleh Bu Kinasih.


Bu Kinasih yang sedang menyusui Mimi masih tampak bahagia dan semakin bersemangat untuk menikmati harinya sebagai ibu yang tak pernah bosan untuk memelihara bayi dewasanya.


+++BERSAMBUNG+++

__ADS_1


__ADS_2