
Mimi yang hanya duduk diam menyaksikan ibu susu dan tante angkatnya itu sedang memperkosa seorang gadis bersama-sama. Tampak seperti kedua wanita raksasa yang sedang memangsa dan menggarap tubuh gadis kecil.
...****************...
Malam semakin larut dan menunjukkan pukul 23.00 waktu setempat. Dokter Rebecca yang telah puas menikmati tubuh Adya, sudah pulang satu jam yang lalu. Bu Kinasih pun telah selesai makan malam dan juga telah selesai memberikan makan berupa bubur bayi kepada Mimi.
Kini Bu Kinasih yang seperti biasa hanya memakai sarung untuk menutupi tubuhnya dimalam hari, menggendong Mimi kedalam kamar karena sudah waktunya untuk tidur.
Didalam kamar, Bu Kinasih duduk bersandar ditembok di atas kasur kapuk sambil menyusui Mimi dipangkuannya. Tubuh Mimi didekap dengan erat, dan mengayun-ayunkan tubuh Mimi untuk menimang-nimang Mimi sambil menepuk-nepuk bokongg Mimi dengan lembut.
Bu Kinasih memandang wajah Mimi yang sedang menyusu kepadanya itu sambil tersenyum. Wajah Mimi yang menghisap putingg susu Bu Kinasih dengan lahap tampak terlihat layu karena dirinya mulai mengantuk dan akan tertidur. Sesekali matanya memandang wajah Bu Kinasih yang sedang tersenyum sambil menyusuinya sambil menimang-nimang tubuhnya itu.
"Kenapa, nak? Enak susunya mama?! Ya, sayang?!" Tanya Bu Kinasih dengan lembut dan tampak penuh sifat keibuannya.
Mimi yang mulutnya sedang menghisap putingg susu Bu Kinasih, tak mungkin bisa menjawab perkataan Bu Kinasih. Dia hanya berusaha menelan air susu yang terus keluar dari putingg susu Bu Kinasih yang terus mengalir kedalam mulutnya.
"Minumlah sepuasnya, nak! Air susu mama memang di ciptakan hanya untukmu seorang. Kamu nggak perlu takut jika nanti bakal ada bayi lagi yang akan merebut air susu Mama darimu, nak! Mama nggak ingin punya bayi lagi selain kamu, sayang! Cukup Mimi aja bayi mama. Makanya air susu ini hanya Mimi saja yang berhak menguasainya." Ujar bu Kinasih. "Mama janji, nggak akan ada bayi lain yang bisa merebut air susu Mama darimu. Mama janji, nak!"
Tak lama kemudian, Mimi secara perlahan mulai memejamkan matanya. Pertanda bahwa Mimi sudah tak bisa menahan kantuknya dan akhirnya tertidur sambil tetap menyusu dibuah dada dan dalam dekapan Bu Kinasih.
Dimata Bu Kinasih, betapa polosnya wajah Mimi ketika tertidur sambil disusui olehnya. Bu Kinasih tampak tersenyum bahagia melihat kecantikan wajah Mimi yang tertidur di pelukannya sambil menyusu kepadanya.
"Kau cantik sekali, sayang! Kau akan disini bersamaku selamanya. Dan kau akan tetap seperti ini selamanya." Kemudian Bu Kinasih mencium kening Mimi yang sedang disusuinya sambil tertidur, kemudian memeluk tubuh Mimi dengan erat sambil tersenyum bahagia.
Lebih setengah jam berlalu, Bu Kinasih yang masih duduk bersandar ditembok dan sedang menyusui Mimi juga akhirnya mulai ikut mengantuk. Bu Kinasih kemudian memandang kembali wajah Mimi yang masih disusuinya tampak sudah tidur nyenyak di buah dada besar dan dekapannya. Meskipun sesekali mulut Mimi terlihat masih menghisap putingg susunya.
Bu Kinsaih kemudian mulai melepaskan putingg susunya dari dalam mulut Mimi dengan perlahan agar Mimi tidak terbangun. Tampak beberapa tetesan air susu yang keluar dan masih menempel di putingg susu Bu Kinasih. Kemudian membaringkan tubuh kurus Mimi di atas kasur kapuk yang yang didudukinya itu.
Setelah selesai membaringkan tubuh Mimi dengan perlahan, Bu Kinasih memasukkan kembali buah dadanya kedalam sarung yang dipakainya itu.
Kemudian ikut berbaring di samping Mimi dan bergegas memeluk Mimi seperti guling, lalu tidur pulas sambil ngelonin Mimi dengan penuh kasih sayang.
...****************...
Pagi hari telah tiba, Bu Kinasih yang hanya memakai bra putih dan celana pendek berwarna biru mengambil pil untuk menghentikan haid secara permanen yang dulu pernah diberikan oleh teman lama Dokter Rebecca yang bernama Dokter Oscar, untuk diberikan kepada Mimi dan Adya tanpa sepengetahuan mereka agar tidak pernah lagi mengalami haid atau datang bulan untuk selamanya. "Sudah waktunya kalian memakan pil ini sebelum kalian kembali haid lagi."
Bu Kinasih menghancurkan pil-pil itu hingga membentuk serbuk dan mencampur kedalam makanan mereka. Bu Kinasih mencampurkan pil itu kedalam makanan sampah untuk Adya, dan mencampurkan pil itu kedalam bubur bayi untuk Mimi.
Setelah di campurkan kedalam makanan mereka masing-masing, kemudian Bu Kinsaih memberikan makanan yang sudah tercampur pil itu kepada Mimi dan Adya.
Bu Kinasih memasukkan makanan Adya yang dibiarkan tak memakai pakaian sehelai pun kedalam kandang untuk Adya konsumsi. Kemudian Bu Kinasih memangku tubuh Mimi kemudian menyuapi makanan bayi itu kedalam mulut Mimi.
Mimi dan Adya melahap makanan mereka masing-masing, tanpa mereka sadari bila mereka tak akan pernah mengalami haid lagi.
Adya yang dibiarkan tak memakai pakaian didalam kandang memakan makanan sampah dengan lahap karena merasa sangat lapar. Sedangkan Bu Kinsaih yang sedang memangku tubuh Mimi dipangkuannya terus menyuapi bubur bayi kedalam mulut Mimi hingga habis tak tersisa.
Setelah Adya dan Mimi sama-sama sudah selesai makan, Mimi yang dipangku oleh Bu Kinasih kembali disusui oleh Bu Kinasih dan Adya pun menyaksikannya dari dalam kandang.
Adya menyaksikan Mimi yang sedang lahap disusui oleh Bu Kinasih tampak seperti bayi sungguhan yang tak berdaya.
Setelah lebih setengah jam Mimi disusui oleh Bu Kinasih, kemudian Mimi digendong dan diletakkan di depan kadang yang berisi Adya didalamnya. Agar Mimi dan Adya bisa saling menemani, sedangkan Bu Kinasih duduk di sofa dan baru saja memulai untuk sarapan.
Bu Kinasih sarapan beberapa roti tawar yang diolesi dengan selai stroberi dan ditemani oleh secangkir susu khusus ibu menyusui. Menikmati sarapannya dan membiarkan Mimi dan Adya menyaksikannya.
"Mimi..!" Adya menyapa Mimi dari dalam kandangnya.
"Ada apa, kak?" Mimi menjawab sapaan Adya.
"Kau ingat percakapan Dokter Rebecca dan Bu Kinasih kemarin sore? Bahwa malam ini aku akan dibawa kerumah baru Dokter Rebecca?" Tanya Adya kepada Mimi.
__ADS_1
"Ya, Kak. Aku masih ingat." Jawab Mimi.
"Itu artinya hari ini adalah hari terakhir kita bertemu, dan malam ini adalah akhir dari pertemuan kita." Kata Adya.
Mimi langsung terdiam sejenak, dia baru menyadari jika dia kemungkinan tidak akan bertemu Adya lagi. "Padahal aku sudah akrab dan sayang dengan Kak Adya."
"Aku juga.. Selama aku disini, kau sudah aku anggap sebagai adikku sendiri." Ujar Adya yang mulai ikut bersedih.
Mimi mulai meneteskan air matanya, "Sama kak, aku juga. Kak Adya juga sudah aku anggap seperti Kakakku sendiri."
Melihat Mimi yang meneteskan air mata, Adya kemudian menjulurkan tangannya dari dalam kandang untuk mengusap air mata Mimi, "Aku pasti akan merindukanmu, Mimi. Aku berharap suatu saat kita akan bertemu lagi. Tapi tidak dalam situasi terbelenggu seperti ini, aku berharap kita bertemu kembali dalam situasi yang sudah hidup dalam kebebasan."
"Amin, kak." Mimi terus mengeluarkan air matanya dan membasahi pipinya.
"Kau masih ingat janjiku? Aku pernah berjanji untuk bebas dari sini bersamamu. Untuk itu, jika dirumah baru Dokter Rebecca nanti aku berhasil melarikan diri, aku pasti akan bersama para Polisi untuk datang kesini lagi dan membebaskanmu dari penjara ini juga. Aku janji itu..!!" Ujar Adya yang berusaha untuk menghibur Mimi yang sedang bersedih.
"Ya, Kak. Amin.. Aku juga selalu berdoa kepada Tuhan agar Kak Adya berhasil melarikan diri. Aku selalu berdoa agar kita sama-sama kembali menghirup udara kebebasan, dan tidak ada lagi yang memenjarakan kita." Jawab Mimi yang masih bersedih.
Bu Kinasih yang masih sarapan di sofa kemudian mengejek Adya dan Mimi, "Teruslah berkhayal untuk bebas! Biar kalian semakin sadar itu semua hanyalah khayalan yang nggak mungkin bisa terjadi."
"Kau begitu percaya diri, Bu Kinasih..!!" Cetus Adya.
"Kita lihat saja, sayang! Kau akan selamanya tinggal dirumah Dokter Rebecca sampai mati. Dan Mimi pun akan selamanya tinggal disini sampai mati." Kata Bu Kinasih kepada Adya sambil menikmati secangkir susu hangatnya.
"Mimi..! Kemari, nak!" Bu Kinasih memanggil Mimi. "Ayo Mimi! kemarilah, nak!"
Mimi dengan terpaksa menuruti perintah Bu Kinasih dan merangkak menghampiri Bu Kinasih yang memanggilnya, karena sudah jelas Mimi sangat takut kepada Bu Kinasih.
Setelah Mimi sampai di depan kaki Bu Kinasih, tubuh Mimi kemudian diangkat oleh Bu Kinasih dan dibaringkan dipangkuan dan disandarkan di dadanya dengan mendekapnya erat-erat.
"Lihatlah bayiku ini! Sangat nurut kepadaku, bukan?! Dia nggak berani menentangku! Bahkan dia tampak manja kepadaku!" Kata Bu Kinasih yang memamerkan perlakuannya terhadap Mimi yang hanya berbaring pasrah di dada Bu Kinasih. "Kau tahu sudah berapa lama Mimi bersamaku? Sudah setahun lebih, bahkan jika dihitung-hitung hampir stau setengah tahun. Dan sedikit pun nggak ada peluang untuk bebas, apalagi sejak lututnya lumpuh dan tidak bisa berjalan lagi. Sama sepertimu juga, bukan?! Yang sudah tak bisa berjalan lagi."
Adya hanya diam mendengar apa yang dikatakan Bu Kinasih, sambil menyaksikan Mimi yang hanya pasrah berbaring dipangkuan Bu Kinasih.
Adya masih tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menyaksikan Mimi yang tampak tak berdaya sedang disusui oleh Bu Kinasih.
"Lihatlah bayiku ini baik-baik! Setelah kau melihat bayi kecilku ini, yang sudah hampir satu setengah tahun tinggal disini, tidur disini, makan disini, netekk disini, apakah kamu masih berfikir jika bebas dari kami itu adalah perkara mudah? Tentu tidak, anjing kecil!" Ujar Bu Kinasih yang meremehkan Adya.
Adya pun hanya terdiam karena belum bisa membuktikan ucapannya.
...****************...
Waktu menunjukkan jam 00.05 tengah malam. Dengan suasana pemandangan yang gelap mengelilingi rumah Bu Kinasih itu. Hanya cahaya lampu semprong yang memberikan sedikit cahaya remang-remang dirumah Bu Kinasih.
Dokter Rebecca yang sudah tiba dirumah Bu Kinasih, kini bersiap untuk membawa kandang anjing yang berisi Adya yang masih dibiarkan telanjangg untuk dibawa pergi dari rumah Bu Kinasih.
Bu Kinasih memasang kembali roda-roda dibawah kandang, agar lebih mudah mendorong kandang anjing berisi Adya tersebut.
Setelah selesai memasang roda-roda dibawah kandang, Dokter Rebecca menyumbat mulut Adya dengan sesuatu yang berbentuk bola yang diikat tali yang mengelilingi pipinya, kemudian menyuntikkan obat penenang dengan efek yang cukup lama, agar ketika dalam perjalanan nanti Adya tidak bisa memberontak.
Bu Kinasih dan Dokter Rebecca mendorong kandang berisi Adya menuju keluar rumah. Dokter Rebecca kemudian mengikat kandang berisi Adya itu dengan tali yang tebal untuk disangkutkan ke motor sport bewarna hitam milik Dokter Rebecca yang dipinjamnya dari salah satu anak buahnya itu.
Adya yang sudah disuntikkan dengan obat penenang memang masih belum tertidur, tetapi efek obat itu membuat hanya duduk lemah didalam tak berdaya, dan hanya bisa menyaksikan apa yang dilakukan Dokter Rebecca dan Bu Kinasih terhadapnya.
Dokter Rebecca menyalakan mesin sepeda motornya, kemudian mengendarai sepeda motornya yang menarik kandang anjing berisi Adya tersebut, melewati hutan yang gelap menuju pinggir jalan.
Bu Kinasih pun mengikuti dari belakang dengan mengendarai sepeda motor bebek bututnya untuk memantau pergerakan Adya dari belakang.
Sementara itu, kedua anak buah Dokter Rebecca sudah menunggu di pinggir jalan yang sepi dengan menggunakan mobil. Kursi belakang mobil sudah direbahkan agar memudahkan mereka memasukkan kandang anjing berisi Adya itu kedalam mobil.
__ADS_1
Tak lama kemudian, terlihat cahaya lampu sepeda motor sport milik Dokter Rebecca dari dalam hutan. Salah satu anak buahnya Dokter Rebecca itu memperhatikan kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada orang yang melintas, kemudian menyalakan lampu senternya untuk memberi isyarat kepada Dokter Rebecca bahwa situasi sedang aman.
Mengetahui bahwa situasi sedang aman, Bu Rebecca keluar dengan sepeda motornya yang menarik kandang Adya dari dalam hutan, dan menghampiri kedua anak buahnya dengan mobil yang sudah siap mengangkut kandang Adya. Yang juga disusul oleh Bu Kinasih dengan sepeda motor bututnya.
Kedua anak buahnya Dokter Rebecca itu bergegas memutuskan tali yang menarik kandang itu, kemudian segera mengangkat kandang anjing berisi Adya itu masuk kedalam mobil, sebelum ada orang lain yang melintas dan melihat kegiatan mereka itu.
Setelah Adya dan kandangnya sudah berada didalam mobil, kedua anak buah Dokter Rebecca menutup rapat pintu mobil, dan bergegas pergi mengendarai mobil itu menuju rumah Dokter Rebecca yang baru.
Setelah anak buahnya pergi dengan menggunakan mobil yang mengangkut Adya dan kandangnya itu, Dokter Rebecca juga segera pamit kepada Bu Kinasih.
"Terima kasih telah membantuku untuk mengurus anjingku. Besok aku akan mengajakmu ke rumahku agar kamu tahu dimana letak rumah baruku ini." Ujar Dokter Rebecca.
"Sama-sama, Bu Dokter. Terima kasih juga telah mempercayakan aku sebagai temanmu." Jawab Bu Kinasih. "Oh ya, tadi pagi aku sudah mencampurkan pil penghenti haid kepada Adya dan Mimi, tapi mengapa hingga saat ini belum ada efek apa-apa? Padahal ibu pernah bilang nanti efeknya setelah makan pil itu, mereka akan langsung mendadak haid sehari, tapi itu adalah haid terakhir mereka, dan mereka nggak akan pernah mengalami haid lagi selamanya. Tapi mengapa hingga saat ini mereka belum mengalami haid terakhir?"
"Mungkin efeknya memang agak lambat, Bu. Kita tunggu aja sampai besok pagi. Jika sampai besok pagi masih belum ada efek apapun, aku akan menghubungi Oscar kembali untuk menanyakan mengenai efek pil itu." Jawab Dokter Rebecca.
"Baiklah, Bu. Semoga besok terlihat efeknya." Jawab Bu Kinasih.
Dokter Rebecca tersenyum, kemudian mendadak mendekap tubuh Bu Kinasih dan mencium bibirnya. Bu Kinasih yang awalnya terkejut langsung membalas ciuman itu, sehingga Dokter Rebecca dan Bu Kinasih saling berciuman dengan kedua tangan masing-masing yang saling mendekap dan meraba bagian dari pinggang, hingga ke bagian dada. Sambil teringat kembali bayangan saat mereka saling bercumbu saat mereka sama-sama memperkosa Adya tadi.
Setelah saling berciuman dan saling meraba dengan waktu yang cukup lama, akhirnya mereka sama-sama menghentikan aksi mereka.
Dokter Rebecca tersenyum manis sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya dan memberikannya kepada Bu Kinasih. "Nih, ambillah untukmu dan untuk Mimi!"
Bu Kinasih bingung sambil memperhatikan dua bungkusan, berupa satu bungkusan berisi obat berbentuk pil dan satu bungkusan lagi berupa serbuk yang diberikan oleh Dokter Rebecca kepadanya, "Apa ini, Bu Dokter?"
"Hadiah untukmu. Aku sengaja memintanya kembali kepada Oscar khusus untukmu dan untuk Mimi." Jawab Dokter Rebecca yang menyodorkan kedua bungkusan itu kepada Bu Kinasih.
Bu Kinasih kemudian mengambil dua bungkusan berupa pil itu dari tangan Dokter Rebecca, "Apa fungsi kedua benda ini, Bu Dokter?"
"Bungkusan yang berupa pil itu kamu berikanlah kepada Mimi. Itu adalah pil perontok gigi. Cara menggunakannya sama seperti pil penghenti haid yang kau berikan kepada Mimi dan Adya itu." Jawab Dokter Rebecca.
"Pil perontok gigi?" Bu Kinasih merasa heran.
"Ya, ada satu hal lagi yang aku pikirkan untuk Mimi tapi sepertinya kamu belum sempat memikirkannya. Kamu terobsesi agar Mimi tampak seperti bayi sungguhan, bukan?! Seseorang yang masih bayi tentunya masih belum punya gigi. Jadi, jika makanan yang kau campur dengan serpihan pil itu, jika menyentuh gigi Mimi, maka secara otomatis gigi Mimi akan rapuh dan keropos dengan sendirinya. Giginya akan retak perlahan dan akhirnya pecah dengan mudah hingga ke akarnya. Membuat mulut Mimi menjadi ompong total tanpa gigi." Jawab Dokter Rebecca lagi.
"Benarkah? Oh, terima kasih Bu Dokter Rebecca. Jujur aku pun nggak sempat memikirkan hal itu." Bu Kinasih tampak tersenyum kegirangan. "Bu Dokter benar, jadi selain tidak haid atau datang bulan, bayi itu juga nggak punya gigi. Maka Mimi nggak boleh punya gigi. Hahaha...!!"
"Ya, Bu Kinasih. Dan satunya lagi yang berupa serbuk, itu khusus untuk Bu Kinasih konsumsi malam ini sebelum tidur!" Ujar Dokter Rebecca.
"Untuk aku? Apa ini?" Bu Kinasih bertanya lagi.
"Itu untuk memperlancar Asi. Efeknya jauh lebih baik daripada susu khusus ibu menyusui yang biasa ibu beli di toko. Bu Kinasih sudah cukup lama menjadi ibu menyusui, tentu Asi ibu sekarang tidak sederas pada saat awal ibu menjadi ibu menyusui, bukan?! Jika Bu Kinasih meminum serbuk itu sebelum tidur, pagi nanti Asi ibu akan kembali deras lagi seperti saat awal Bu Kinasih menjadi ibu menyusui." Jawab Dokter Rebecca.
"Oh begitu, ya inilah yang memang aku butuhkan agar Asiku semakin lancar untuk menyusui Mimi. Hahaha..!!" Bu Kinasih tampak bahagia dan kegirangan kembali. "Apakah ini bisa bertahan lama?"
"Bu Kinasih jangan pernah remehkan produk yang diciptakan oleh sahabatku, Oscar. Dia tidak pernah menciptakan sesuatu yang biasa saja." Ujar Dokter Rebecca sambil tersenyum. "Selama ibu masih tetap menjadi ibu menyusui, atau selama ibu masih rutin menyusui, Asi ibu akan tetap deras seperti awal saat menjadi ibu menyusui. Bahkan efeknya bisa sampai bertahun-tahun. Yang penting air susu ibu harus selalu dikeluarkan setiap hari untuk menyusui."
"Terima kasih banyak, Bu! Aku jadi nggak sabar ingin segera meminumnya." Kata Bu Kinasih yang tersenyum bahagia.
"Tapi serbuk ini juga ada resikonya, Bu." Ujar Dokter Rebecca. "Asi ibu nanti akan terus mengalir deras seperti awal saat menjadi ibu menyusui meskipun ibu sudah bertahun-tahun menjadi ibu menyusui, itu berarti itu bisa semakin menambah nafsu makannya ibu. Nantinya ibu akan menjadi mudah lapar dan harus banyak makan sehingga membuat ibu menjadi semakin gemuk."
"Oh, kalau soal itu sama sekali nggak jadi masalah buatku, Bu Dokter. Aku pasti harus banyak makan terutama sayuran agar Asiku berkualitas untuk Mimi." Jawab Bu Kinasih.
"Resiko yang kedua, jika ibu terlambat menyusui atau jika ibu ingin berhenti menyusui, buah dada ibu nanti akan merasakan nyeri yang teramat sangat selama kurang lebih kisaran seminggu. Karena Asi yang tertahan didalam buah dada ibu tidak segera dikeluarkan. Nanti buah dada ibu akan semakin kencang dan ukurannya lebih besar dari biasanya. Tetapi setelah seminggu kemudian rasa nyerinya akan hilang dan Bu Kinasih bukanlah seorang ibu menyusui lagi." Kata Dokter Rebecca.
"Hmmm.. Berarti nyeri banget dari biasanya ya jika aku terlambat menyusui. Nggak masalah juga buatku, Bu Dokter! Aku memang nggak pernah berniat untuk berhenti menyusui Mimi. Bahkan aku ingin Mimi menikmati Asiku selamanya." Jawab Bu Kinasih.
"Baiklah. Selamat menikmati harimu sebagai ibu yang sempurna untuk Mimi, Bu Kinasih!" Ujar Dokter Rebecca sambil tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih, Bu Dokter. Jujur kau sangat menyukai hadiah yang ibu berikan ini." Jawab Bu Kinasih membalas senyumannya.
+++BERSAMBUNG+++