
"Ya Bu, tapi untungnya aku punya keluarga disana. Makanya aku merasa aman kapan pun aku kesana." Jawab Bu Kinasih.
"Aku menjadi semakin penasaran dengan tempat itu. Sepertinya tempat itu sangat menantang. Bagaimana jika besok kita berangkat? Aku langsung ambil cuti." Dokter Rebecca sangat begitu antusias.
"Hmmm... Apakah Bu Dokter yakin? Disana cukup berbahaya untuk para pendatang." Ujar Bu Kinasih.
"Bukannya kamu punya keluarga disana, dan kau tadi bilang kita akan merasa aman jika ada yang kita kenal disana, bukan?!" Jawab Dokter Rebecca sambil berharap Bu Kinasih mau diajak ke desa itu..
Bu Kinasih terdiam sejenak untuk berfikir sambil memandang wajah bayi dewasanya yang saat itu masih bersandar dipangkuannya.
Wajah Mimi tampak takut dan tatapan mata Mimi yang berkaca-kaca menatap wajah Bu Kinasih yang memberi isyarat bahwa Mimi takut untuk pergi kesana dan tolong jangan pergi kesana.
Tapi Bu Kinasih malah tersenyum melihat wajah ekspresi ketakutan yang ditampakkan oleh bayi dewasanya itu.
"Baiklah, Bu Dokter.. Besok siang kita akan berangkat kesana." Jawab Bu Kinasih kepada Dokter Rebecca, dan membuat Mimi menjadi tampak kecewa dan semakin ketakutan.
"Oke, Bu Kinasih. Berarti besok aku akan mengirimkan surat cuti ke tempat kerjaku." Dokter Rebecca tampak sangat bahagia.
Dokter Rebecca akhirnya bangkit dari tempat duduknya menuju keluar rumah karena sudah waktunya untuk pulang.
Bu Kinasih juga bangkit dari tempat duduknya sambil menggendong tubuh Mimi untuk mengantarkan Dokter Rebecca menuju didepan pintu keluar.
"Besok siang aku kesini. Kau bersiap-siap aku jemput dari depan jalan saja, karena aku membawa mobil." Saran Dokter Rebecca.
"Baiklah, Bu Dokter. Karena memang jalan masuk menuju rumahku ini mobil nggak bisa masuk. Oh ya, apakah besok kita alan berangkat bertiga saja termasuk Mimi?" Tanya Bu Kinasih yang sambil berdiri didepan pintu keluar sambil menggendong bayinya itu.
"Tidak, Bu Kinasih. Aku akan bawa anak buahku untuk menjadi supir dalam perjalanan kita." Jawab Dokter Rebecca.
...****************...
Dimalam hari saat didalam kamar, Bu Kinasih yang hanya memakai bra warna cokelat dan celana pendek mempersiapkan pakaian-pakaiannya dan Mimi beserta kelengkapannya untuk dimasukkan kedalam koper, karena besok mereka akan berangkat menuju kampung rahasia itu, yaitu kampung Psikopat.
Mimi hanya duduk terdiam menyaksikan apa yang dilakukan Bu Kinasih dihadapannya. Dalam hatinya masih ada rasa ketakutan setelah mendengar cerita tentang desa Psikopat itu siang tadi. Sebenarnya Mimi berharap untuk tidak pergi kesana, tapi seperti biasa dia tidak bisa berbuat apa-apa, semua Bu Kinasih yang menentukan untuk dirinya.
Tiba-tiba Bu Kinasih terkejut, "Astaga! Mama dan Tante Rebecca lupa, nak! Bukannya tadi siang Tante Rebecca datang kesini untuk memperlihatkan foto pernikahan Aryan kepadamu, ya?! Biar kamu yakin bahwa yang menikah itu benar-benar Aryan."
"Aku sudah nggak peduli lagi dengan hal itu!" Jawab Mimi
"Maksudnya?" Tanya Bu Kinasih.
"Ya, aku sudah nggak peduli lagi dengan hal itu. Lagian juga entah itu Aryan yang aku maksud atau bukan, itu sudah nggak berpengaruh apa-apa. Aku tetap disini, dan hingga sekarang belum mendapatkan kebebasan." Jawab Mimi.
"Anak pintar.. Mama salut sama kepintaran Mimi sekarang ini, bahwa apapun yang terjadi Mimi tetap berada disini." Kata Bu Kinasih. "Ya begitulah, nak! Karena Mimi juga hanyalah seorang bayi! Mimi nggak pantas mendapatkan cinta dari Aryan. Sebab, Mimi hanya butuh cinta dari Mama."
Mimi hanya tetap diam diam nggak menjawab apapun dari perkataan Bu Kinasih.
Sambil melanjutkan aktivitasnya memasukkan perlengkapan didalam koper, Bu Kinasih melanjutkan, "Ini pasti karena tadi siang Mama keasyikan bercerita terlalu lama sampai Tante Rebecca pun akhirnya lupa memperlihatkan foto-fotonya padamu."
Bu Kinasih memandang wajah Mimi yang hanya duduk sambil menundukkan kepalanya sambil tersenyum, "tapi Mimi nggak perlu khawatir ya, nak! Masih ada hari esok, Mama akan meminta Tante Rebecca untuk memperlihatkan foto-fotonya kepadamu. Semoga Mama nggak lupa lagi."
"Aku sudah bilang kalau aku sudah nggak pedulikan itu lagi..!! Intinya aku tidak peduli hal itu lagi!!" Mimi berusaha menegaskan.
Akhirnya Bu Kinasih selesai memasukkan barang-barang nya kedalam koper dan siap untuk berangkat besok untuk menuju kampung rahasia itu. Totalnya ada dua koper.
Bu Kinasih kemudian merenggangkan kedua tangannya, "Akhirnya selesai juga barang-barang Mama masukkan kedalam koper. Jadi besok kita tinggal berangkat."
"Mama.." Mimi menyapa Bu Kinasih.
"Ada apa, sayang?" Bu Kinasih menjawab sapaan Mimi.
"Aku takut pergi kesana. Aku mohon kita tetap disini." Saran Mimi yang masih dipenuhi rasa takut, "Mending kita nggak usah pergi, Ma! Kita disini aja! Aku mohon!"
Bu Kinasih menghampiri Mimi, kemudian menyandarkan wajah Mimi ke dadanya. "Mimi nggak usah takut, ada Mama yang selalu ada buat Mimi. Nggak akan Mama biarkan siapapun yang mencoba memisahkan Mama dengan Mimi."
...****************...
Pagi hari tampak mendung, angin begitu dingin. Waktu tepat menunjukkan kisaran jam 7 pagi. Mimi masih tertidur pulas didalam kamar tepat diatas kasur kapuk sambil menghisap empeng di mulutnya.
Sedangkan Bu Kinasih sedang asyik berada didalam gudang memperkosa gadis tawanannya yang bernama Lola itu, dan keduanya tanpa mengenakan pakaian sehelai pun. Tetapi leher, kedua tangan dan kaki Lola tetap terikat dengan rantai.
Tampak Bu Kinasih begitu menikmatinya, sedangkan Lola yang diperkosa hanya bisa terus menjerit dan mengumpat, "AAAHH..!! AAAHHH..!! HENTIKAN BANGSAATT...!! HENTIKAAN..!! AAAH...!! AAAAHH..!! DASAR ANJIIIINNGG...!! AAAHH..!! AAAAHH...!!"
__ADS_1
Tak sedikitpun Bu Kinasih mempedulikan umpatan Lola. Bu Kinasih sudah terbiasa mendengar umpatan Lola setiap disetubuhi, dan tidak berpengaruh apa-apa baginya.
Di tempat lain, tepatnya dihalaman rumah depan, secara mengejutkan terdengar suara sepeda motor asing yang menuju rumah Bu Kinasih, kemudian berhenti dan parkir didepan rumah Bu Kinasih.
Sosok asing itu membuka helmnya, ternyata itu adalah Faida. Sahabat Bu Kinasih yang kemarin mengikuti Bu Kinasih dari belakang menuju pulang kerumahnya tanpa disadari olehnya.
"Kayaknya memang ini deh, rumah Bu Kinasih. Soalnya nggak ada rumah lain lagi selain yang ini." Faida berkata dalam hati.
Faida menoleh ke kanan dan ke kiri, untuk memastikan bahwa memang tidak ada lagi rumah lain selain rumah itu. Yang membuatnya semakin yakin bahwa ini memang rumah Bu Kinasih.
Faida turun dari sepeda motornya kemudian berdiri di halaman depan rumah itu, kemudian mengeluarkan ponselnya dan memotret kondisi rumah Bu Kinasih yang begitu kumuh.
"Mungkin Bu Kinasih selama ini nggak mau memberitahukan dimana keberadaan rumahnya karena malu dengan kondisi rumahnya yang seperti ini." Komentar Faida lagi dalam hati setelah melihat langsung kondisi rumah Bu Kinasih yang sangat memprihatikan.
Bahkan jendela-jendela dirumah Bu Kinasih tak ada satupun yang memakai kaca, hanya tertutup jeruji besi sehingga tampak seperti jendela penjara.
Faida berjalan perlahan menuju pintu depan. Dia pun mengintip dari jendela yang terpasang jeruji besi itu.
Saat Faida mengintip kedalam, rumah itu tampak sepi tak ada orang satupun. Dia melihat setiap perabotan didalam isi rumah itu yang kurang tertata dengan baik.
Sementara itu, Dokter Rebecca baru saja tiba didepan jalan masuk menuju rumah Bu Kinasih bersama kedua anak buahnya yang bertubuh garang dan kekar dengan menggunakan mobil.
Dokter Rebecca harus masuk kedalam dengan berjalan kaki karena di jalan menuju rumah Bu Kinasih itu hanya bisa dilalui oleh satu motor dan dipastikan mobil tidak bisa masuk.
"Bena, Bhanu, kalian harus pergi dari sini dulu, karena kalau parkir disini nanti bisa menimbulkan kecurigaan orang yang lewat." Saran Dokter Rebecca kepada kedua anak buahnya itu. "Aku harus jemput Bu Kinasih beserta bayinya dulu kerumahnya dengan berjalan kaki. Nanti akan aku hubungi ketika kami sudah mulai mendekati keluar jalan ini."
"Baik, Bu!" Jawab salah satu anak buahnya yang bernama Bena.
"Tapi ingat, kalian jangan pergi terlalu jauh! Jadi begitu aku hubungi untuk menjemput kami, kami nggak terlalu lama menunggu kalian datang." Saran Dokter Rebecca lagi.
"Baik, Bu! Kami akan menunggu kabar dari Bu Dokter." Jawab salah satu anak buahnya lagi.
"Bagus! Kalau begitu pergilah sebelum ada orang lain yang melintasi jalan ini dan melihat kita disini!" Perintah Dokter Rebecca.
Kedua anak Buah Dokter Rebecca akhirnya pergi meninggalkan tempat itu dengan mengendarai mobil. Sedangkan Dokter Rebecca langsung bergegas kedalam hutan untuk menuju rumah Bu Kinasih.
Sementara itu Faida berkeliling sekitaran rumah untuk mengintip keadaan rumah, "Mana Bu Kinasih, ya?! Kok nggak ada?! Kayaknya dirumah ini lagi nggak ada orang."
Setelah diintip ternyata itu adalah kamar Bu Kinasih. Faida melihat keadaan sekitar seperti lemari pakaian yang terlihat sangat tua. Kemudian Faida melihat tepat dibawah jendela.
Faida agak sedikit terkejut ketika melihat tepat dibawah jendela tepat dia berdiri ada seorang gadis cantik yang sedang tertidur pulas dengan posisi terlentang di atas kasur kapuk yang sangat lusuh. Gadis itu berambut panjang terurai dan berpakaian seperti bayi dan tidur pulas sambil menghisap empeng di mulutnya, gadis itu juga tampak memakai Pampers atau popok. Dan jelas gadis yang masih tertidur pulas itu adalah Mimi.
"Siapa gadis ini? Kok penampilannya kayak bayi?" Tanya Faida dalam hati yang sangat terheran-heran penampilan gadis itu yang menyerupai gadis dewasa.
Faida hanya diam tak bersuara agar tidak membangunkan Mimi yang sedang tertidur pulas, karena Faida masih belum menyadari bahwa gadis itu sebenarnya adalah korban penculikan yang dikurung didalam kamar itu.
Tetapi Mimi seketika terbangun dari tidurnya karena terganggu oleh bayangan yang secara tiba-tiba menutupi wajahnya, dan melihat ternyata ada bayangan orang yang sedang berdiri dari jendela didekatnya.
Mimi langsung terkejut dan bangkit dari tidurnya dan langsung melihat jendela. Betapa terkejutnya Mimi ketika melihat seorang wanita yang sedang berdiri didepan jendela.
"Hai..." Faida menyapa Mimi karena masih belum sadar jika Mimi itu sebenarnya adalah korban penculikan.
Mimi hanya diam, karena dia juga mengira bahwa wanita itu adalah teman Bu Kinasih yang lain yang sengaja diajak Bu Kinasih untuk bertamu kerumah dan sedang berkeliling rumahnya.
Mimi diam hanya menatap wajah wanita itu dengan penuh kecurigaan. Sedangkan Faida tersenyum padanya dengan sangat ramah.
"Hai...!!" Faida menyapa lagi sambil tersenyum ramah. "Boleh kita berkenalan?" Faida langsung menyodorkan tangannya dari luar jendela.
Mimi memandang tangan Faida dengan penuh ragu-ragu. Tetapi dengan perlahan Mimi akhirnya mengulurkan tangannya dan akhirnya bersalaman dengan Faida.
"Faida, itu namaku." Faida tersenyum sambil memperkenalkan dirinya kepada Mimi. "Oh ya, nama kamu siapa?"
"Putri. Sebenarnya nama asliku Putri. Tapi sejak Mama membawaku kesini, Mama yang mengganti namaku menjadi Mimi." Jawab Mimi.
"Berarti sekarang nama kamu Mimi ya? Kamu cantik kalau berpakaian seperti itu." Faida kembali tersenyum sambil memuji penampilan yang tampak seperti bayi. "Oh ya, tadi kamu bilang 'Mama'? Maksudnya Mama kamu yang dimaksud itu apakah Bu Kinasih?"
Mimi langsung merasa heran, kok wanita itu seperti tidak mengetahui tentang Bu Kinasih yang menculik dirinya. "Ya, Mama yang aku maksud itu adalah Mama Kinasih."
"Ha?" Faida mendadak menjadi bingung dan penasaran, sejak dulu Bu Kinasih nggak pernah cerita jika Bu Kinasih mempunyai anak gadis yang berkarakter seperti bayi.
Mimi pun juga ikut bingung melihat ekspresi wajah Faida yang juga tampak kebingungan.
__ADS_1
Sementara itu sesampainya dihalaman rumah, Dokter Rebecca langsung terkejut melihat ada sepeda motor asing sedang parkir didepan rumah Bu Kinasih.
"Sepeda motor siapa ini?" Mendadak Dokter Rebecca memiliki firasat yang tidak baik dengan keberadaan sepeda motor itu.
Dokter Rebecca langsung mengeluarkan pistol yang selalu dibawanya dan disimpan didalam tas kecilnya. Dan segera bergegas menyelidiki siapa pemilik sepeda motor asing itu.
Dengan segera Dokter Rebecca berkeliling sambil menoleh kanan dan kiri untuk memeriksa keadaan sekitar.
Faida menjadi berpikir keras, "Jadi selama ini bayi yang Bu Kinasih maksud itu, adalah seorang gadis??"
Mimi pun semakin tak mengerti mengapa wanita dihadapannya itu tampak kebingungan, "Kakak kenapa? Kok Kakak nampak kebingungan? Memang Mama nggak pernah bercerita tentang aku?"
"Oppps.. begini ya adik, Bu Kinasih sebenarnya nggak tahu kalau aku datang kesini. Aku memang sahabatnya Bu Kinasih sejak dia masih bekerja di Rumah Sakit Anak itu." Kata Faida.
"Jadi, Kakak kesini tanpa sepengetahuan Bu Kinasih?" Tanya Mimi.
"Ya, kemarin aku mengikutinya dari belakang tanpa dia sadari saat dia pulang menuju rumah ini." Jawab Faida
Mendengar jawaban Faida, akhirnya Mimi mengetahui bahwa Faida sama sekali tidak mengetahui kejahatan Bu Kinasih atas penculikan dirinya. Mendadak Mimi menangis dan langsung menarik tangan Faida dengan erat, "Tolong aku..!! Tolongg...!!"
"Tolong? Maksudnya?" Faida semakin kebingungan.
Sambil menggenggam tangan Faida Mimi menangis penuh harap, "Aku sebenarnya diculik oleh Bu Kinasih dan dipaksa untuk menjadi bayinya! Aku mohon bebaskan aku dari sini!!"
"Diculik? Jadi kamu ini sedang diculik Bu Kinasih?" Mendengar hal itu akhirnya Faida juga menyadari bahwa gadis yang berada dihadapannya itu sedang diculik oleh Bu Kinasih. "Berarti kamu bukan anak kandung Bu Kinasih?
"Ya Kak, aku diculik dan dibawa kesini dan dipaksa untuk menjadi bayinya. Aku mohon Kak, tolong aku keluar dari sini!" Tangisan Mimi tak terbendung.
"Kalau begitu aku akan mendobrak pintu depan untuk membebaskanmu. Kamu tunggu disini!" Ujar Faida.
"Jangan, Kak! Kalau Kakak dobrak pintu itu, Mama akan sadar kalau Kakak ada disini buat menolongku! Lebih baik Kakak lapor Polisi sekarang! Aku mohon kak, telepon Polisi segera!" Mimi meratap penuh harapan.
"Baiklah, kebetulan pacarku adalah Polisi. Aku akan menghubungi Pacarku sekarang!" Faida langsung mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan langsung menghubungi Pacarnya itu.
Mimi menatap wajah Faida dengan penuh harapan yang dinantikannya selama hampir dua setengah tahun, yaitu bisa melarikan diri dari penjara rumah Bu Kinasih ini.
Faida berusaha menelepon Pacarnya yang Polisi itu berkali-kali tetapi tidak ada jawaban. "Waduh, pacarku nggak menjawab teleponku, nih! Tapi kamu nggak perlu khawatir, aku akan memotret dirimu dan mengirimkan segera ke cowokku."
Faida langsung memotret wajah dan penampilan Mimi beberapa kali dengan kamera ponselnya dan langsung mengirimkannya ke kontak pacarnya itu.
"Gimana kak? Apa foto-fotonya sudah kakak kirim?" Tanya Mimi dengan perasaan harap-harap cemas.
"Ya, sudah. Bahkan aku juga sudah nge-share lokasinya disini. Jadi saya pastikan hari ini akan ada para Polisi datang kesini untuk membebaskanmu. Kamu tenang aja, ya!" Jawab Faida yang berusaha menenangkan Mimi yang penuh kekhawatiran.
"Terima kasih, Kak. Sekarang aku mau Kakak segera pergi dari sini sekarang sebelum ketahuan Mama!" Pinta Mimi.
"Kenapa begitu?" Tanya Faida
"Ya, Kak. Jangan sampai Mama sadar kalau Kakak ada disini dan sudah menghubungi Polisi. Nanti Mama keburu kabur dan membawaku lari dari sini sehingga aku nggak jadi bebas lagi." Jawab Mimi.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar sedang berbunyi, pertanda Bu Kinasih sedang membuka kunci pintu kamar itu.
"Mama datang, Kak! Ayo buruan pergi!" Mimi segera menyuruh Faida pergi sebelum terlihat oleh Bu Kinasih. Faida langsung bergegas tunduk dibawah jendela agar tidak terlihat oleh Bu Kinasih.
Pintu kamar segera terbuka, tampak Bu Kinasih yang seperti biasa hanya menggunakan bra didalam rumah dengan bra warna putih dan celana pendek masuk kedalam kamar, dan menghampiri Mimi.
"Lho, anak Mama sudah bangun ya? Pasti haus ya, nak?!" Bu Kinasih yang mendekati Mimi kemudian langsung mengangkat tubuh Mimi dan menggendongnya menuju keluar kamar.
Faida mengintip dan melihat sosok tubuh besar Bu Kinasih yang sedang menggendong tubuh Mimi yang kurus menuju keluar kamar. Faida yang memang memiliki rasa penasaran yang tinggi, mengikuti kemana Bu Kinasih membawa Mimi yang digendongnya itu.
Bu Kinasih duduk diruang tamu, dan membaringkan Mimi dipangkuannya. Sementara itu Faida yang mengikuti tanpa Bu Kinasih sadari dan mengintip dari luar jendela ruang tamu untuk melihat apa yang dilakukan Bu Kinasih.
"Netekk dulu ya, nak! Mimi pasti haus." Bu Kinasih mengeluarkan buah dada besarnya dan langsung menyusui Mimi yang bersandar di pangkuannya.
Faida sangat terkejut melihat Bu Kinasih sedang menyusui gadis dewasa. Yang sudah jelas gadis itu bukanlah anak kandungnya.
Faida sangat terkejut karena ini pertama kalinya dia melihat bahwa ada si penculik lagi menyusui korbannya yang diculik, dan apalagi korban yang disusui penculik itu bukanlah bayi sungguhan melainkan orang dewasa yang dipaksa berkarakter seperti bayi.
Secara diam-diam, Faida mengeluarkan ponsel dari sakunya lagi dan akan memotret Bu Kinasih yang sedang menyusui Mimi untuk mengabadikan momen itu.
+++BERSAMBUNG+++
__ADS_1