
Bab 11
"Kakak!" Seru Hani berdiri dari duduknya menghampirinya sang lelaki tampan.
Seluruh penghuni kantin universitas melihat kagum ke arah sang lelaki. Wajah Animenya membuat banyak para gadis menjerit dalam diam. Hani mengapit tangannya dan melangkah menuju tempat duduk.
Dea menatap lelaki itu dengan pandangan tak percaya. Lelaki itu menatap Dea tak kalah bingungnya. Hani menarik sang kakak untuk duduk di depan Dea.
"Perkenalan Kak Dea ini Kakak ku namanya Bara Dirgantara. Tampan bukan Kakak ku ini." Seru Hani bangga dengan ketampanan sang Kakak.
Bara hanya mengaruk kepala belakangnya mendengar pujian sang adik. Dea tersenyum lalu menganguk menyentujui apa yang Hani katakan. Dea merasa dunia memang sempit bagaimana bisa dari ribuan orang di dunia ini. Bagaimana bisa Dokter yang menolongnya adalah kakak dari gadis imut itu.
"Dan untuk Kak Bara, perkenalan ini Kak Dea. Kakak cantik yang aku ceritakan kemarin. Cantik bukan? Aku tak salah ngomong kan. Dan satu lagi Kak Bara jangan berpikiran aku mau menjodohkan Kakak dengan Kak Dea, loh! " ujar Hani lagi begitu cerewet.
"Hai. Dokter Bara!" sapa Dea ramah.
"Oh, Hai juga nona Dea!" jawab Bara agak kikuk.
Kening Hani berlipat mendengar interaksi ke duanya. Namun yang lebih membuat Hani penasaran adalah bagaimana bisa Dea dan sang kakak terlihat sedikit aneh.
"Kalian saling kenal?" Kata itu akhir nya meluncur juga dari bibir tipis Hani.
Ke duanya melihat ke arah Hani dan mengangguk-angguk kepalanya.
"Bagaimana bisa?" Tanya Hani penasaran.
"Dia adalah Wanita yang pingsan itu," Jelas Bara singkat.
"Benarkah? Wah dunia begitu sempit ternyata." Ucap Hani dengan senyum manisnya.
Dea ikut tersenyum melihat wajah bahagia Hani. Kini ia baru tau kenapa wajah Hani agak mirip dengan Dokter muda yang menolongnya. Meski sikap dan sifat ke duanya berbeda. Hani yang pemalu namun cerewet saat telah kenal. Sedangkan Bara lelaki tak banyak bicara namun tetap ramah dan baik.
"Ini dompetmu. Lain kali jangan pernah ceroboh Hani!" Tutur Bara memberikan dompet sang adik yang tertinggal di atas meja ruang tamu.
"Terimakasih, Kak!" Ucap Hani dengan senyum lebarnya menerima dompet milik nya dadi tangan sang kakak.
Hanya gumaman yang Bara berikan pada sang adik. Ke tiganya banyak cerita berbagai hal. Dea mulai akrab dengan Bara ternyata tak sekaku yang ia pikirkan.
Cukup lama mereka mengobrol sampai satu panggilan dari beda persegi itu membuat Bara harus beranjak. Karena panggilan dari Rumah Sakit membuat ia tak bisa lebih lama lagi di sana. Ia pamit dengan ke dua gadis cantik itu.
Dea dan Hani pun sama satu jam setelah kepergian Bara mereka pun harus mengikuti kelas. Hari-hari yang Dea jalani begitu menyenangkan karena Hani yang cerewet.
Karena telah selesai Dea dan Hani pulang ke rumah. Saat mobil Dea berhenti di depan rumahnya sebuah mobil yang ia kenal terparkir di tempat di depan pagar rumahnya. Dea masuk dengan perasaan tak menentu.
Di ruang tamu telah ada lelaki yang dulu ia hindari bersama wanita yang ia hindari pula. Somi melangkah mendekati Dea dan memeluknya .
__ADS_1
"Kemana saja kau dua, tiga hari ini? Kami mengkhawatirkan dirimu De!" ucap Somi di pelukan Dea
Dea melepaskan pelukan Somi dan melangkah menuju bangku di ruang tamunya.
"Aku hanya mencoba menenangkan diri saja," balas Dea dengan wajah tak terbaca.
"Kami menunggu lama di depan kampusmu cukup lama . Dan menghubungi nomor telepon mu namun ponselmu tak aktif." Kini giliran Suara Mark terdengar.
Ke duanya masih belum tau jika ingatan Dea telah kembali. Dea hanya tersenyum kecil melihat tingkah ke duanya.
Somi melangkah duduk di samping Dea. Mark yang duduk di depan Dea menatap Dea dengan tatapan khawatir.
"Apa kalian telah putus?" Ucap Dea yang membuat kening mereka berdua berlipat.
"Apa maksud mu, De?" tanya Somi tak mengerti apa yang Dea maksud.
"Kalian tak lagi berpacaran setelah mengkhianati aku, hem?" tanya Dea dengan suara tenang.
Ke dua orang itu membeku dengan jantung berlomba-lomba berdetak. Kini mereka tau ke mana arah pembicaraan Dea.
"Ingatanmu telah kembali?" tanya Mark dengan suara lemah.
"Ya, aku sudah mengingat semuanya," ucap Dea masih dengan intonasi dan wajah yang sama.
"Iya, kami kembali menjadi teman Dea. Kami harap kau mau memaafkan kesalahan kami," ucap Mark dengan suara penuh penyesalan.
Dea tersenyum hangat. Ia menggenggam tangan Somi dan menggapai tangan Mark untuk ia genggam lagi. Ke dua nya terkejut dengan apa yang Dea lakukan.
"Aku sudah memaafkan kalian jadi jangan merasa bersalah lagi. Yang sudah berlalu maka biarkan saja berlalu. Aku ingin kita bertiga menjadi Sahabat saja," ungkap Dea tulus.
Somi merasa air matanya tak bisa di bendung lagi. Ia kira Dea akan mengamuk seperti dulu. Namun ia tak mendapatinya, Dea telah jauh dewasa di umur yang matang.
Mark tertunduk mendengar perkataan tulus Dea. Ia menyesal mengkhianati Dea hanya karena perasaan nafsu semata.
Somi menarik tangannya dari tangan Dea. Begitu juga dengan Mark ke duanya memeluk Dea dengan erat.
"Sahabat!"
Seru ketiganya dengan wajah yang berbeda-beda. Somi terlihat bahagia begitu juga dengan Dea. Sedangkan Mark terlihat lega, ia merasa beban di hati nya menghilang begitu saja.
Lucas yang mendengar percakapan ke tiganya mulai dari saat pengakuan Dea ia membeku di tempat. Ia tak menyangka dengan mudah Dea memaafkan pengkhianatan yang dirinya dua orang itu lakukan.
Lucas cepat-cepat bersembunyi saat Somi dan Mark berserta Dea yang mengantarkan Ke duanya keluar dari rumah. Lucas melangkah dengan cepat masuk ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamarnya .
****
__ADS_1
Dea terlihat begitu serius mengajari Bintang pelajaran Bahasa Indonesia. Lucas yang berada di ruang tamu sekali-kali mencuri pandang ke arah Dea. Wanita itu begitu cantik dan sempurna. Baru kali ini Lucas mengakui hal itu.
Lalu pertanyaannya adalah kemana saja Lucas kemarin. Hinga ia tak tau jika Dea itu cantik dan juga pintar. Jawabannya adalah ia terlalu sibuk mengurusi Perusahaan dan Mutia selingkuhnya sekaligus kakak Iparnya sendiri.
"Aku mengantuk, Ma." Seru Bintang mengusap ke dua matanya yang lelah.
"Baiklah, sekarang Bintang tidur saja ya." Ucap Dea lembut sambil membereskan peralatan sekolah Bintang.
Bintang mengangguk dan berdiri dari duduk nya. Ia mengecup pipi Dea dan mengucapkan kata selamat malam. Saat Bintang melewati Lucas tangan kecilnya di cekal membuat Dea yang awalnya fokus pada tas sang putri menatap Bintang dan Lucas.
"Apa ciuman selamat malam tidak ada untuk Papa?" Tanya Lucas dengan suara lembut.
Bintang menatap sang ayah dengan pandangan bingung. Namun ia tetap mendekatkan bibirnya ke ke dua pipi Lucas.
"Selamat malam, Pa!" Ucap Bintang agak canggung.
"Hem! Selamat malam My Princess!" jawab Lucas pada Bintang.
Bintang melangkah meninggalkan ruangan tamu. Entah kenapa hati Dea merasa menghangat melihat dan mendengar perkataan Lucas. Karena ini adalah pertama kalinya ia melihat Lucas memperlakukan Bintang dengan penuh kasih sayang.
"Apa kau tak akan tidur Dea?" Tanya Lucas saat Dea akan melangkah ke arah dapur.
"Iya, Kak. Kakak Lucas pergi lah ke kamar lebih dulu. Aku ingin membuatkan coklat hangat. Apa Kakak mau aku buat kan coklat hangat?" Tanya Dea membuat Lucas sedikit salah tingkah.
"Jika kau tak keberatan boleh juga." Ucap Lucas langsung berdiri dan melangkah menuju kamar nya.
"Andai kau memperlakukan Bintang dan aku lebih awal sehangat tadi . Mungkin saja aku tak akan berubah seperti saat ini, Kak." Ucap Dea lirih lalu melangkah ke arah dapur.
Sedangkan di lain tempat wanita cantik menatap kertas berlambang rumah sakit itu dengan mata merah.
"Sial." Itulah Umpatan yang keluar dari bibir Mutia saat melihat hasil yang ia dapatkan.
"Awas saja kau, Dea! Aku tak akan melepaskan Lucas untuk mu. Dan Lucas, kau tak akan bisa meninggal kan aku begitu saja." Ucapnya dengan wajah menakutkan.
"Hentikan ini semua ini Mutia! " Seru suara Lelaki marah melihat Mutia seperti orang gila.
Wajah Mutia langsung memucat mendengar suara tegas itu. Lalu membalikan tubuhnya dengan gemetar.
Mulutnya terbuka melihat siapa yang berdiri di belakang tubuhnya. Kertas lambang rumah sakit itu ia remas dan di sembunyikan di belakang tubuh nya.
.
.
.
__ADS_1