Momy? I'Am!!

Momy? I'Am!!
Chapter 6


__ADS_3

Bab 6


Kelopak mata Dea terbuka perlahan. Kepalanya berdenyut nyeri membuat bibir tipis pucat itu meringis. Tangannya menyentuh kepalanya yang terasa begitu sakit.


"Kau sudah bangun?" Suara merdu terkesan berat itu membuat kepala Dea semakin terasa sakit saja.


Tak ada jawaban dari bibir Dea membuat lelaki bersuara merdu itu berdecis tak suka. Namun Dea tak peduli akan hal itu. Entah kenapa ia merasa tak suka dengan apa yang ia ingat.


"Berapa lama aku tak sadarkan diri?" Tanya Dea menolehkan kepalanya kerah Lucas yang bersadar di dasbor ranjang.


"Tujuh jam," jawab Lucas singkat.


Ke dua alis mata Dea menyatu pertanda heran. Ia bukankah bersama Mark lalu kenapa bisa berada di kamar lelaki mesum itu. Tapi tunggu kamar lelaki mesum itu? Dea langsung mengelepar turun dari ranjang King Size milik Lucas yang sebenarnya juga kamarnya bukan?


Lucas terkejut saat Dea yang dengan tiba-tiba turun dengan cepat. Wanita cantik itu kehilangan ke seimbangan hinga body belakangnya menyentuh karpet berwarna merah di samping ranjang.


Akh !


Sakit !


Itulah yang Dea teriakan saat bodynya terhempas ke lantai. Lucas turun dari ranjang dan mengulurkan tangannya ke arah Dea. Namun Dea tak menerimanya. Ia berdiri dengan perlahan dan mengusap body belakangnya yang berdenyut nyeri.


"Dimana Kakak Mark?" Tanya Dea tanpa basa-basi saat ia telah berdiri tegak dengan wajah angkuh menahan sakit di kepala dan body belakangnya.


"CK! Sempat-sempatnya kau menanyai selingkuhan mu, padaku suamimu sendiri?" Sinis Lucas dengan rahang mengeras.


"Selingkuh? Suami sendiri? Ck! Dasar munafik! " Ucap Dea dengan pandangan mata nyalanya ke arah Lucas.


Kening Lucas berlipat mendengar perkataan Dea.


"Kau yang berselingkuh bukan aku tuan mesum! Dan aku peringatkan satu kali lagi. Aku tak sudi menjadi istrimu secepatnya antarkan surat cerai padaku. Aku akan pisah rumah denganmu," kesal Dea dengan wajah meremehkan.


Lucas terdiam mendengar apa yang Dea katakan. Melihat wajah Lucas terdiam Dea berani bertaruh apa yang di katakan olehnya tadi benar tepat sasaran. Dea mendesis saat kepalanya berdenyut lagi. Seakan ia lagi-lagi merasa de javu dengan keadaan saat ini.

__ADS_1


Dea melangkah keluar dari kamar Dea terhuyung-huyung. Ia menggapai dinding agar ia masih bisa melangkah.


"Mama!" Seru Bintang menghampiri Dea dan membantu Dea masuk ke dalam kamarnya.


Meski tubuh Bintang kecil dan hanya setinggi perut Dea namun gadis itu berusaha keras agar Dea bisa mengandalkannya.Dea masuk ke kamar dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Bintang menarik selimut hingga batas dada Dea.


Dea kembali memejamkan kedua matanya karena kepalanya semakin sakit. Bintang mengelap kening Dea yang di penuhi oleh butiran keringat dingin.


"Bertahanlah sedikit lagi Mama. Bintang akan membantu Mama agar lepas dari Papa dan hidup berdua dengan Mama. Bintang akan membahagiakan Mama." Janji sang putri mengecup telapak tangan kanan Dea.


Bintang mengingat dengan jelas apa yang terjadi satu tahun yang lalu. Dimana Mama dan Papanya bertengkar hebat hingga Lucas menampar Dea tepat di depan Bintang.


Sejak saat itu dia tak lagi menyukai sang ayah. Bintang membenci Lucas lebih dari yang siapa pun tau.


"Jika dia bahagia bersama wanita itu. Maka kita juga bisa bahagia berdua. Itu yang Mama janjikan padaku bukan? Bintang mohon, Mama cepatlah sembuh dan hidup berdua dengan Bintang. Bintang akan menganti nama belakang menjadi Wijayanto sama seperti Mama. Kita tak perlu hidup di dalam neraka ini lagi." Ucap Bimtang mulai menangis pelan.


Di luar di depan pintu yang terbuka sedikit Lucas terdiam. Ia mendengar apa yang sang Putri katakan. Seburuk itukah dia di mata sang Putri. Hinga Bintang berniat mengganti nama belakang nya.


Lucas melangkah menuju kamarnya. Di saat Lucas masuk ke dalam kamar ia terduduk di lantai dingin kamarnya. Bayang-bayang tujuh tahun yang lalu mulai terputar kembali.


Flashback on


Lucas memandang jengah Dea yang mondar mandir dari kamar ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Dea lemas dan jatuh pingsan di kamar mandi. Lucas yang mendengar benda jatuh pun masuk ke kamar mandi.


Ke dua matanya membulat sempurna saat melihat tubuh Dea yang tergolek lemah. Lucas mengangkatnya membaringkan tubuh Lucas ke tempat tidur. Ia merogoh ponselnya menelfon Dokter keluarganya.


Tak butuh waktu lama Dokter pribadinya memeriksa ke adaan Dea. Lucas hanya memperhatikan gerak- gerik Dokter berumur tiga puluh sembilan tahun itu.


Tak ada raut wajah cemas di wajah Lucas. Yang ada di sana adalah raut wajah penasaran saja. Selesai sang Dokter memeriksa ke adaan Dea ia menghampiri Dea yang masih berdiri di belakang tubuh sang Dokter.


"Bagaimana ke adannya, Dok?" Tanya Lucas tenang.


"Nyonya muda Sandoro hanya kelelahan saja dan sedikit stres. Selamat Tuan Lucas sebentar lagi Tuan akan menjadi seorang ayah." Ucap Sang Dokter paruh baya itu dengan senyum lebar.

__ADS_1


Lucas membeku mendengar penuturan sang Dokter. Lalu beralih menatap wajah damai Dea di atas ranjang.


"Benarkah?" Tanya Lucas masih dengan memandang wajah Dea.


"Iya. Kalau begitu saya permisi dulu Tuan Muda." Pamitnya, Lucas mengangukan kepalanya.


Saat sang Dokter keluar dari kamar. Lucas mengusap kasar wajahnya berkali-kali. Dan menarik surainya dengan erangan frustasi. Lucas tak ingin semua ini terjadi. Karna niat nya hanya menikahi Dea dua tahun saja lalu menceraikannya dengan dalih Dea tak memberikan dia keturuan.


Namun jika sudah begini apa yang harus Lucas lakukan. Ia tak ingin gadis yang ia cintai kecewa pada dirinya. Keluarganya akan marah besar jika Lucas menceraikan Dea saat gadis itu mengandung keturunan Sandoro.


"Apa yang haru aku lakukan? Apa aku harus membuatnya mengugurkan anaknya. Agar aku bisa menceraikannya dan kembali pada kekasihku?" Ucap Lucas menatap wajah Dea yang masih terlihat tenang.


Namun akal sehatnya langsung kembali. Bagaimana bisa ia menjadi keji seperti itu. Bukankah janin yang di kandung oleh Dea adalah darah dagingnya juga. Bahkan binatang saja tak tega membunuh anaknya sendiri. Lalu Lucas yang seorang manusia malah ingin membunuh anak yang tak bersalah itu.


Namun itu akan mempersulit dirinya ke depannya. Dengan anak itu ia akan kesulitan menceraikan Dea. Lucas mengerang frustasi untuk ke sekian kalinya. Ia tau kekasihnya akan kecewa padanya nanti bukan jika tau Dea hamil anaknya.


Flasback off


"Apa ini karma untukku yang ingin meleyapkannya hinga ia membenciku?" Tanya Lucas pada dirnya sendiri.


Lucas merasa ragu di dalam hatinya. Apakah ia bisa menceraikan Dea dan kembali bersama wanita yang ia cintai? Namun Kenapa ia tak rela saat melihat Dea bersama lelaki bernama Mark itu.


Apa karna lelaki itu pernah menghianati Dea. Lalu apa bedanya dengan dirnya dan Mark? Mereka sama-sama menghiananti Dea. Mark menghianati Dea bersama Somi. Gadis yang menjadi sahabatnya sendiri.


Hinga membuat Dea menikah dengan Lucas karna tak punya pilihan lain. Namun setelah Lucas pikir lagi bukankah Dea menjadi korban disini. Namun cepat-cepat ia menepis pemikiran itu. Ia tak peduli mau Dea korban atau tersangka.


Yang jelas Dea telah membuat hidupnya berantakan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2