Momy? I'Am!!

Momy? I'Am!!
Chapter 24


__ADS_3

Bab 24


_______________________


.


.


.


.


.


Ruangan mewah di salah satu kamar kelas satu itu begitu sunyi. Hanya dentingan jarum jam yang mengisi kesunyian di ruangan mewah itu. Bukan karena tak ada orang di dalam sana. Hanya saja semuanya bungkam saat wanita cantik berwajah pucat itu membuka mata.


Sudah satu jam lebih Ibu satu anak itu membuka mata dan mulutnya. Namun setelah itu orang-orang yang berada di dalam kamar itu memilih menutup rapat bibir mereka. Sama halnya dengan Dea. Namun bedanya adalah Dea terdiam dengan tatapan mata penuh kehampaan.


Lucas menoleh menatap wajah pucat berserta bibir kering memutih itu dengan pandangan pedih. Ia baru tau apa yang terjadi pada wanita yang duduk di ranjang pesakitan itu. Ia jelas tau Istrinya itu masih syok dengan apa yang terjadi.


Jangan tanyakan dirinya! Karena ia pun sama Syok nya dengan sang Istri. Mulai dari kematian Ibu mertua aslinya, penculikan Dea dan juga siapa Dea sebenarnya. Membuat Lucas begitu syok. Namun beda lagi dengan ke dua orang tua Lucas.


Mereka terlihat biasa saja, dan Lucas menduga ke dua orang tuanya tau siapa Dea sebenarnya. Namun yang jadi pertanyaan di benak Lucas adalah apa yang sebenarnya terjadi? Hingga ke dua orang tuanya memilih Dea menjadi menantu mereka.


Jika yang berjanji adalah Budi Widyanto yang merupakan Ayah kandung Mutia itu berarti harusnya Mutia yang berada di posisi Dea. Namun kenapa ke dua orang tuanya menginginkan Dea bukan Mutia? Namun Lucas hanya mendesah pelan.


Srakk !!


"Mama!" Seru suara gadis kecil nyaring masuk ke dalam ruangan Dea setelah pintu rawatnya di geser kasar.


Semua mata tertuju pada Bintang yang setengah berlari mendekati ranjang Dea. Ia dengan cepat naik ke atas ranjang dan memeluk Dea dengan sangat erat. Terdengar jelas Iskan keras mengalun dari bibir mungil keturunan Sandoro itu.


Tangan Dea terulur menepuk-nepuk bahu Bintang dengan gerakan lembut. Mata yang tadinya menatap hampa kini terukir lagi cahaya kehidupan. Dea masih punya Bintang anak yang sangat ia cintai bukan? Jadi ia harus tetap bertahan di tengah rasa takut dan bayang masa lalu.


"Tidak apa-apa sayang. Mama baik-baik saja, Bintang tidak usah khawatir." Tutur Dea pelan dengan di temani rintikan air mata yang terjun perlahan di sudut ke dua mata bulatnya.

__ADS_1


Santi Lilian, menatap haru ke arah ke dua orang yang menjadi bagian keluarganya. Anto Sandoro menggenggam tangan sang Istri dan mengisyaratkan untuk memberikan Dea dan Bintang ruang. Santi menganguk mengerti dan ke duanya keluar dari ruangan Dea. Melihat ke dua sahabatnya keluar, Budi dan Ani pun ikut keluar dari ruangan Dea.


Kini yang ada di sana hanyalah Lucas dan ke dua bidadari dalam hidupnya itu. Lucas merasakan perasaan sesak di hulu hatinya melihat ke duanya menangis. Lucas mendekatkan tubuhnya dan merentangkan ke dua tangannya untuk memeluk ke duanya.


Ke tiganya berakhir dengan menangis bersama. Terlihat begitu menyedihkan dan mengharukan di saat bersamaan. Telah puas menangis selama kurang lebih tiga puluh menit. Bintang tertidur di pelukan Dea, jari tangan Dea menyentuh pipi Bintang yang masih tergenang air mata. Dengan perlahan Dea mengusap air mata sang Putri.


"Biar aku pindahkan Bintang ke ranjang satunya lagi. Karena bekas jahitan mu belum mengering dan jika Bintang tidur lebih lama lagi di pelukanmu aku takut jahitannya akan lepas." Ucap Lucas meraih tubuh Bintang


Dea menurut saja, karena sejujurnya ia menahan rasa sakit di perutnya karena tekanan tubuh Bintang. Karena tak ingin Bintang khawatir ia terlihat seperti biasa saja. Lucas memindahkan Bintang di ranjang tunggu pasien yang tersedia untuk kamar VVIP kelas satu itu.


Perlahan ia membaringkan Bintang di atas tempat tidur. Ia menarik selimut putih tebal hinga batas dada sang putri. Lucas menunduk dan mengecup ke dua pipi sang putri. Lucas tau dengan jelas bagaimana khawatir dan takutnya sang putri saat Dea di culik.


Saat Lucas berganti baju di rumah sebelum kembali ke kantor polisi saat itu ia mendengar tangis sang putri. Lucas hanya menatap nanar pintu kamar Bintang tanpa berani masuk. Ia tak tau harus menjawab apa pada Bintang jika anak itu bertanya apa dirinya telah menemukan Dea. Lucas tak berani menjawab jika dirinya belum menemukan dimana Dea berada.


Namun sekarang Lucas baru berani melihat ke arah Bintang. Namun jauh di lubuk hati Lucas merasa terluka saat ia kehilangan anak yang harusnya bisa menghirup udara segar. Harusnya anaknya bisa menangis keras saat ia di lahir kan. Lucas mengepalkan ke dua tangannya. Ia berjanji akan menemukan lelaki gila itu. Dan akan ia buat lelaki itu mendapatkan hukuman mati.


Bukankah nyawa harus di bayar dengan nyawa? Itulah yang pantas untuk lelaki psikopat itu.


"Kak" Panggil Dae pelan.


Dea memeluk Lucas dengan erat. Perlakuan spontan Dea membuat Lucas sedikit terkejut. Namun lelaki imut itu langsung membalas pelukan Dea. Ia tau Dea butuh dukungan saat ini.


"Semuanya akan baik-baik saja, aku akan melindungi mu, mulai saat ini dan seterusnya. Jangan khawatir, istirahatlah lagi." Tutur Lucas membelai rambut kepala belakang Dea.


Dea menganggukkan kepalanya lemah. Lucas membantu Sohyun untuk berbaring di atas ranjang. Ia membenahi rambut Dea yang menutupi wajah cantik sang Istri.


"Tidurlah di sampingku, Kak!" pinta Dea ke tika Lucas akan turun dari rajang.


Lucas menampilkan senyum manisnya. Ia merebahkan tubuhnya di samping Dea. Dea memilih masuk ke dalam pelukan Lucas. Ia membenamkan wajahnya ke dada bidang Lucas. Tangan Lucas membelai perlahan punggung Dea, ia mencoba memberikan ketenangan pada Sea.


"Pejamkan ke dua matamu, tidur yang nyenyak karena di luar sana sudah ada Polisi yang berjaga jadi jangan takut," ucap Lucas pelan.


Ia tau rasa takut masih menyelimuti Dea. Karena setiap ia memejamkan mata ia akan berteriak dan menangis. Dokter mengatakan bayangan masa lalu Dea kembali menghantuinya. Dan ia harus menjalani beberapa terapi kejiwaan.


lucas menyetujui nya, namun saat ini Dokter mengatakan untuk jangan meninggalkan Dea sendiri di dalam ruangan. Karena akan memicu rasa takut itu datang lagi.

__ADS_1


*         *         *


Gadis imut itu terlihat begitu telaten mengupas kulit Apple. Dea hanya menatap Hani dengan senyum hangat. Gadis itu sesekali melemparkan lelucon konyol pada Dea. Saat itu pula tawa Dea akan terdengar di dalam kamar.


Di samping itu lelaki berwajah anime itu menatap Dea dalam diamnya. Sesekali Bara tersenyum lebar saat melihat tawa bebas Dea. Di ruangan mewah itu kini hanya ada Bara dan Hani yang menemani Dea. Karena Lucas pulang ke rumah untuk membawa beberapa keperluan Dea.


Lelaki imut itu mempercayakan Dea pada Bara. Dan itu memberikan Bara kesempatan untuk bersama Dea. Ia tau Lucas tak tau siapa dirinya sebenarnya. Hingga mempercayai kan Dea padanya.


Yang Lucas tau tentang dirinya adalah Dokter yang menyelamatkan Dea dan juga kakak dari Hani Dirgantara. Hanya sebatas itu saja yang lelaki imut itu tau. Tak seperti Bara yang tau banyak tentang Lucas melebih lelaki itu sendiri.


"Bagaimana hubunganmu dengan Kak Mark,Hani?" Tanya Dea saat gadis imut itu menyuapi apple yang sudah di kupas.


"Berjalan lancar, Kak." Jawab Hani malu-malu.


"Siapa Mark?" tanya Bara terdengar jelas saat sang adik telah menjawab pertanyaan Dea.


Seketika tubuh Hani membeku, ia lupa jika kakaknya ada di belakang tubuhnya. Ia mengumpat dalam hati saat menyadari kebodohannya.


"Dosen kami, di Kampus." Jawab Dea yang menatap Hani yang masih terlihat membeku.


Dea tersenyum melihat wajah tak suka Bara. Lelaki itu terlihat over protektif pada Hani. Lihatlah bagaimana wajah Bara menatap wajah Hani saat ia telah berada di samping ranjang Dea.


"Astaga! Aku lupa jika hari ini jam masuk di tukar. Kak Dea! Aku pergi dulu ya, bye Kak !" Tutur Hani langsung kabur tanpa mendengar Jawaban dari ke dua orang beda jenis kelamin itu.


"Hei!!"  teriak Bara jengkel.


Ia tau pasti lelaki yang bernama Mark itu adalah lelaki yang adiknya itu sukai. Dea terkikik geli melihat wajah jengkel Bara yang begitu lucu. Baru kali ini Dea melihat Bara jengkel.


"Sudahlah Dokter Bara. Adik mu akan baik-baik saja. Karena Kak Mark adalah lelaki yang baik, aku bisa jamin jika Hani akan bahagia bersamanya," tutur Dea membela Mark.


"Aku tak peduli dia baik atau tidak. Aku tak rela adikku di miliki lelaki lain saat ini. Karena dia terlalu kecil untuk berhubungan dengan lelaki," jawab Bara dengan tegas.


"Wah! Wah! Ternyata seperti ini Dokter muda Dirgantara bisa cemburu ya," tutur Dea becanda.


"Aku tidak cemburu hanya saja aku merasa takut adikku terluka oleh sebuah pengkhianatan. Orang yang kita Cintai akan terlihat baik di awal namun akan berubah menakutkan di akhir," tutur Bara lirih.

__ADS_1


Dea seketika menatap wajah Bara dengan tatapan sendu. Ia mengerti dengan apa yang lelaki itu katakan. Ia juga pernah mengalami nya. Bukan satu kali namun dua kali dan rasanya begitu menyakitkan. Jadi wajar saja Bara tak suka jika Hani berpacaran.


__ADS_2