
Bab 20
-----------------------------------
.
.
.
.
.
"Anak siapa itu?"
Kaki jenjang wanita yang masih menyandang status sebagai Nyonya Sandoro itu terasa lemas. Lelaki yang bertanya tentang janin yang di kandungnya itu benar-benar membuat dadanya sesak.
Tangan kanan Dea berpegangan dengan besi penyanga tangga. Ia tersenyum kecut dengan apa yang di lontarkan ayah dari janinnya tersebut. Dengan terang-terangan Lucas telah meragukan dirinya.
Mungkin Dea masih bisa sabar saat Lucas meragukan dirinya. Namun saat mendengar lelaki itu meragukan janin yang ia kandung saat itulah Dea tak memiliki kesabaran lagi.
Lucas masih berdiri di tempatnya. Mata itu masih menatap punggung Dea yang berdiri di tangga. Lucas terdiam setelah melontarkan kata-kata itu. Sunguh! Dirinya pun tak tau jika ia bisa berkata demi kian.
Dea membalikan tubuhnya dan melangkah menuruni tangga mendekati Lucas. Ia berdiri di depan Lucas dengan wajah memerah karena marah.
"Apa yang kau katakan tadi?" tanya Dea tampa embel-embel kata Kakak di sana.
Emosi terlanjur menguasai wanita cantik itu. Lucas terdiam sesaat sebelum bibirnya kembali bergerak.
"Siapa Ayah dari anak itu?" ulang Lucas masih dengan nada yang sama.
Dea tersenyum kecut, tenggorokannya merasa pahit hanya untuk meloloskan air liurnya masuk.
PLAK !
Satu tamparan mengenai pipi kiri Lucas dengan cepat. Bunyi itu begitu nyaring di tengah malam yang sunyi. Lucas merasa perih di pipinya, rahangnya mengeras.
"Kau bertanya siapa Ayahnya? CK ! Kau begitu picik anda, Tuan Lucas Sandoro. Aku memberikanmu kesempatan untuk memperbaiki salahmu. Namun kau malah menudingku berselingkuh dengan Sahabatmu sendiri. Dan asal kau tau dia jauh lebih baik dari pada kau." Ucap Dea dengan lantang.
Lucas tertawa keras mendengar perkataan Dea. Ke dua tangan Dea mengepal di ke dua sisi tubuhnya.
"Baik? CK ! Kau tau apa tentang Kris? " ujar Lucas dengan suara berat dan mata mengelap.
"Setidaknya dia bukanlah lelaki hobi selingkuh dan tak tau malu sepertimu Tuan Sandoro!" Balas Dea lalu membalikan tubuhnya menuju kamar putrinya.
__ADS_1
Lucas merasa tertohok mendengar perkataan Dea. Ia meremas kasar surai hitam legamnya dengan frustasi.
Dea masuk ke kamar putrinya dengan perasaan cemas. Ia menyapu sekeliling kamar putrinya. Benar saja! Anak itu meringkuk di dalam selimut dengan tubuh bergetar. Dea melangkah cepat ke tempat tidur dan menarik selimut tebal itu ia membelai kepala sang putri.
"Bintang. Mama di sini tenanglah tak apa-apa!" Ucap Dea lembut.
Bintang meloncat memeluk Dea yang berada di pinggir tempat tidur. Dea membelai punggung sang Putri. Ia tau pertengkaran orang tua tak layak untuk di dengar oleh anak yang masih dalam pertumbuhan. Itu akan menganggu metalnya dan akan membuat si anak berubah kepribadian.
"Mama tidak apa-apa?" Tanya Bintang melepaskan pelukannya.
Dea tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Bintang adalah obat terampuh bagi Dea yang merasakan rasa sakit.
"Papa dan Mama, hanya bertengkar biasa saja. Jadi Bintang tak perlu takut dan khawatir. Ayo tidur! Mama akan menemani Bintang tidur malam ini," titah Dea yang dianguki oleh sang putri.
Dea membenahi bantal kepala Bintang. Anak imut berumur enam tahun itu merebahkan tubuhnya di ikuti oleh Dea yang memeluk Bintang dari belakang. Bintang tak lah bodoh, ia tau ke dua orang tuanya tidaklah baik-baik saja.
Namun untuk saat ini Bintang tak akan banyak tanya. Ia pun sebenarnya takut dengan pertengkaran ke dua orang tuanya. Namun ia mencoba terlihat baik-baik saja di depan ke dua orang tuanya. Bintang dan Dea telah memejamkan mata. Hanya butuh waktu lima menit ke duanya berada di dalam mimpi.
Tarikan napas ke duanya terdengar teratur. Ke duanya terlalu lelah hinga bisa dengan cepat menyelami alam mimpi.
KLIK !
Pintu kamar itu kembali terbuka, lelaki dengan tampang kusut itu masuk ke dalam kamar. Ruangan kamar Bintang terlihat temaram hanya di sinari oleh lampu tidur saja.
Lucas melangkah mendekat ke ranjang. Ia menarik selimut yang tak sempat di pakai oleh ke dua wanita cantik berbeda usia itu. Lucas melepaskan dasi kerjanya dan menaruhnya di atas meja belajar putrinya. Ia tersenyum tipis melihat wajah ke dua wanita yang berarti dalam hidupnya itu.
Lucas membungkuk dan mengecup kening Dea. Dan mengecup bibir Dea dengan sangat pelan. Ia ikut merebahkan diri di ranjang cukup besar milik sang putri. Dan menarik selimut hingga batas dada Dea. Ia memeluk Dea dari belakang. Ketiga benar-benar terlihat begitu manis jika ada orang yang masuk ke kamar itu.
Bahkan orang-orang yang melihat posisi tidur ke tiganya di mana Lucas memeluk Dea dari belakang dan Dea yang memeluk Bintang sang putri dengan posisi yang sama seperti Lucas memeluknya. Mereka tak akan percaya jika dua orang dewasa itu sedang dalam posisi bertengkar hebat.
Tangan Lucas yang berada di perut Dea dapat merasakan perut wanita itu sedikit membuncit. Ia tersenyum merasakannya, kini ia yakin anak itu memang adalah anaknya. Tidak! Dari awal ia yakin anak itu benar-benar adalah darah dagingnya.
Hanya menyentuhnya saja Lucas merasakan perasaan nyaman. Lucas membenamkan wajahnya di ceruk leher Dea dan menghirup aroma lavender dengan perlahan. Ia tersenyum dan memejamkan matanya untuk menyusul Istri dan putrinya ke alam mimpi.
* * *
Sinar matahari terlihat malu-malu mengintip melalui celah jendela kamar berwana pink muda itu. Dea merasakan perutnya sedikit memberat. Dan ia juga merasakan hembusan nafas hangat menerpa leher jenjangnya.
Dea perlahan membuka ke dua matanya. Ia menggerjab beberapa kali menyesuaikan pencahayaan yang masuk ke dalam retina matanya. Kamar itu masih temaram karena jendela kamar dan gorden pintu jendela belum di buka. Meski Cahaya matahari masuk melalui celah yang ada.
Setelah ke sandarannya terkumpul Dea menundukkan kepalanya guna melihat apa yang membuat perutnya terasa sedikit berat. Benar saja dugaannya jika itu bukan tangan atau kaki putrinya. Lalu perlahan kepalanya menoleh kesamping kanan. Ke dua matanya membulat sempurna melihat rambut hitam legam milik suaminya yang tampak.
Wajahnya tak terlihat di karenakan lelaki itu masih dengan posisi yang sama seperti tadi malam. Dea mendesah letih, ia letih dengan sikap Lucas yang tak tertebak. Saat itu ia merasakan pergerakan di depan tubuhnya.
Dea menoleh ke arah samping kirinya. Di sana Bintang menggeliat pertanda sebentar lagi mata putrinya akan terbuka. Benar saja ke dua mata kecil sang putri terbuka menatap wajah Dea dan tersenyum.
__ADS_1
Dea membalas senyum sang putri. Namun ke dua mata sang putri terlihat melotot menyadari siapa yang berada di sebelah sang Ibu saat ia duduk dari posisi tidurnya.
"Papa?" gumamnya pelan dengan ekspresi tak percaya.
Lalu ia menatap Dea dengan pandangan heran. Dea hanya mengembangkan senyumnya. Wajah putrinya itu begitu mengemaskan.
"Pergilah ke kamar mandi dan bersiap untuk sekolah!" titah Dea pelan.
Bintang menatap Dea sesaat dan beralih menatap rambut sang ayah. Hanya rambut dan tubuhnya saja yang terlihat bukan? Bintang turun dari ranjang dengan pelan dan melangkah keluar dari kamar. Ia pikir akan mandi di kamar mandi luar saja.
Dea heran dengan putrinya yang begitu dewasa. Ia selalu melakukan sesuatu berpikir terlebih dahulu tak seperti anak-anak di usianya. Dan itu membuat Dea begitu bangga padanya. Di tambah prestasi yang ia terima baik itu Akademik mau pun yang bukan Akademik.
Dea melepaskan pelukan Lucas dengan pelan. Namun bukannya terlepas lelaki itu malah menarik Dea semakin memeluknya dengan posesif. Dan membenamkan wajahnya di leher Dea semakin dalam.
"Lepaskan aku harus bersiap untuk menyiapkan sarapan dan keperluan Bintang!" ujar Dea yang tau jika Lucas pasti sudah bangun.
"Maafkan aku," ucap Lucas serak khas bagun tidur.
Dea terdiam mendengar perkataan Lucas. Yang sedikit kurang jelas, ia tak yakin apa Lucas baru saja minta maaf atau bagaimana.
"Apa yang kau katakan?"
"Maafkan aku, Dea!" Ulang Lucas suara yang lebih jelas karena ia tak lagi membenamkan wajahnya di ceruk leher Dea.
Dea membalikan tubuhnya agar bisa menatap wajah Lucas dengan jelas. Ia ingin melihat ekspresi wajah Lucas. Dea ingin tau apa lelaki itu benar-benar menyesal atau apa.
Ke dua mata Dea terkunci oleh mata sipit namun tegas itu. Wajah ke duanya sejajar hingga bisa merasakan hembusan nafas yang menerpa wajah masing-masing.
"Maafkan aku, Dea! Aku menyesal mengatakan kata-kata itu. Aku takut kehilanganmu, aku takut kau akan membala sku dengan perselingkuhan di belakangku. Dan asal kau tau Kris mencintaimu dan fakta itu membuat aku merasa gila saja saat mendapatkan foto ia memelukmu dengan posesif," papar Lucas dengan suara berat.
Dea terdiam ia membatu melihat wajah imut Lucas. Entah karena terhipnotis oleh kata-kata Lucas atau karena fakta yang baru ia temukan. Ia tak tau yang jelas ia merasa perasaan terlukanya tersiram air segar.
Sedangkan di lain tempat seorang pria paruh baya tampan berdarah Cina itu menatap putranya dengan pandangan terluka. Wajah putranya begitu pucat dengan bibir mengering dan tubuh di mandikan keringat.
"Kenapa harus dia Papa? Kenapa harus dia Papa? Ini begitu menyakiti kan bagiku Papa." Tutur Kris dengan bahasa Cina.
Tuan Wang hanya menatap Kris dengan pandangan menyesal. Ia merasa dunianya ikut runtuh karena apa yang terjadi. Banyak fakta yang membuat Wang yang masih terlihat tampan di usianya yang tak lagi muda itu.
"Apa nama wanita itu, Dea? Wanita yang kau cintai Kris? Maafkan Papa. Papa tidak tau jika kita akan terlibat hubungan yang rumit dengan wanita itu." Tutur tuan Wang dengan kerutan di wajah tampannya.
"Ini semuanya salah Papa hingga Mama Dea terbunuh. Dan aku harus hancur seperti ini karena Papa." Ucap Kris lemah.
"Maafkan Papa Kris!" Ucap Feng dengan rasa bersalah teramat dalam.
.
__ADS_1
.
.