Momy? I'Am!!

Momy? I'Am!!
Chapter 13


__ADS_3

Bab 13


"Jangan salahkan aku ! Karena ini semua bermula darimu. Jadi terima saja apa yang akan aku lakukan padamu dan dia."


~Dea Amelia Wijayanto~


.


.


.


.


Dea menatap was-was ke arah lelaki bermata tajam itu. Dea memberikan senyuman canggung. Ia duduk dengan cepat saat lelaki bernama lengkap Bara Dirgantara itu akan menjauhinya. Dea mencegat tangan Bara dengan tatapan memelas.


"Tolonglah Dokter Dirgantara! Berbohong lah satu kali ini saja," pinta Dea menatap Bara mengiba.


"Maaf Dea, seorang Dokter tidak di perbolehkan untuk berbohong. Karena itu melanggar etika ke Dokteraan," tolak Bara tegas.


"Tolong lah kali ini saja!" Dea lagi masih dengan ekspresi yang sama.


Bara melepaskan tangan Dea dan melangkah menuju pintu keluar.


"Dia akan meninggalkan aku dan anakku jika dia tau aku berbohong. Dia berselingkuh di belakangku jadi apa salah aku mempertahankan apa seharusnya menjadi milikku!" teriak Dea saat tangan Bara menyentuh ganggang pintu keluar membuat Bara terhenti.


"Tapi itu masalahmu," ucap Bara dengan suara tegas,"Berbohong tidak akan menyelesaikan permasalahan Dewa!" lanjut nya lagi.


"Kau tak tau bagaimana di khianati Dokter Bara Dirgantara? Makanya kau tak mau membantuku. Jika apa yang aku alami di alami oleh Hani apa kau akan berkata hal yang sama pada Hani, hah?" pekik Dea akhirnya karena kehilangan ke sabaran.


"Jika Hani, adik ku yang berada di posisimu. Maka aku akan membanting lelaki itu dan menjauhkan adikku dari lelaki ********. Agar adikku tak lagi di permainkan." Ucap Bara untuk terakhir kalinya dan langsung menarik pintu untuk keluar.


Dea menatap kepergian Bara dengan nanar. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dea ketakutan bagaimana jika Lucas marah dan langsung menceraikannya. Dia belum sempat membalas semua perlakuan Lucas padanya.


Lalu ia mengingat wajah sedih sang Putri. Dea tak menyangka bagaimana hati Bara terlalu dingin sampai mengatakan hal seperti itu padanya. Padahal dirinya telah menceritakan semuanya pada Bara. Namun sepertinya lelaki itu tidak peduli.


KLIK !!!!


Pintu kamar inap Dea terbuka kasar. Dea menatap ke arah pintu dimana Lucas masuk dengan wajah memerah. Ia takut jika Lucas akan mengamuk padanya. Dea mendudukkan kepala nya.


"Kak Lucas, maafkan aku," ucap Dea lirih dengan wajah menunduk karena takut melihat amukan Lucas.

__ADS_1


Lucas melangkah mendekati ranjang Dea dengan kedua tangan terkepal di ke dua sisi tubuhnya. Saat sampai di depan ranjang Dea. Lelaki imut itu membuat tubuh Dea membeku di tempat karena tindakan Lucas. Jantungnya pun merasa akan keluar dari tempatnya.


"Maafkan aku yang lalai menjagamu dan anak kita. Maafkan aku, De!" Ucap Lucas memeluk erat tubuh Dea.


Bahkan baju rawat di atas pundak Dea basah karena air mata Lucas. Dea sekarang baru merasa lega karena sepertinya Bara berbohong demi nya. Dea yang awalnya tidak membalas pelukan Lucas langsung membalasnya.


"Kak Lucas!" panggil Dea dengan suara di buat selirih mungkin. Air matanya jatuh dengan deras Dea terisak dengan keras.


Hati Lucas merasa terluka saat mendengar tangisan Dea. Ia memeluk tubuh Dea semakin erat.


"Maafkan aku, Dea!" ucap Lucas untuk ke sekian kalinya lagi.


Dea semakin menjadi di dalam pelukan Lucas. Bukankah akting harus total? Maka Dea sekarang telah menjual perannya dengan baik. Setelah puas menangis Lucas melepaskan pelukannya pada Dea. Ia menghapus air mata Dea dengan Ibu jarinya dengan lembut. Dea pun melakukan hal sama pada Lucas.


"Sekarang apa yang akan Kakak Lucas lakukan. Kak Mutia sepertinya tak menyukaiku. Bahkan saat Kak Lucas naik ke lantai atas ia meminta aku menceraikan Kakak. Dan jika tidak dia akan meracuni pikiran Kakak untuk menjauhi Kak Lucas dariku," tutur Dea dengan suara serat ke putus asaan.


"Tidak mungkin Dea. Tia tak mungkin melakukan hal seperti itu," bantah Lucas yang membuat hati Dea langsung memanas.


"Apa setelah apa yang dia lakukan padaku dan anakmu kau masih membelanya Kak?" ucap Dea tak percaya.


"Bukan begitu," uap Lucas cangung.


"Apanya bukan begitu. Bahkan ia mau berselingkuh dengan Kakak. Main di belakang adiknya sendiri. Jika Kakak benar-benar tak peduli lagi pada keluarga kita tak apa. Namun Kakak mengabaikan anakku yang malang," sudut Dea semakin menundukan wajahnya semakin dalam.


"Dea..." Ucap Lucas langsung di potong oleh Dea dengan cepat.


"Jangan mengatakan apa-apa lagi Kak Lucas. Aku kecewa padamu bagaimana bisa kau melakukan itu pada anakmu sendiri, Kak. Bukankah kita telah sepakat untuk memperbaiki hubungan kita. Tapi sepertinya Kakak tak mau." Ucap Dea langsung menarik selimut akan merehatkan tubuh lelahnya.


Lucas langsung mencekal tangan Dea. Membuat Dea menatapnya dengan pandangan sayu.


"Apa lagi, Kak?"


"Maafkan aku. Aku mohon jangan begini, mari kita bicarakan baik-baik," pinta Lucas terlihat putus asa.


Dea tersenyum tipis sangat tipis hingga tak satu orang pun yang tau jika bibir itu tengah tersunging. Dea membalikan tubuhnya menatap ke arah Lucas dengan pandangan sendu.


"Baiklah, bisakah Kak Lucas mengabulkan satu saja permintaanku?"


"Apa yang kau inginkan?"


"Jauhi Kak Mutia! Ini demi aku dan Bintang. Ingat Kak, kau punya Bintang bersamaku namun kau tak punya siapa bersama Kakak ku. Bahkan kita hampir punya satu orang lagi buah cinta kita. Tapi dia pergi karna ke cemburuan dan ke egoisan, Kak Mutia!" papar Dea dengan tegas.

__ADS_1


Lucas terdiam ia mencoba mencerna apa yang Dea katakan. Benar bukan dia tak punya siapa-siapa bersama Mutia. Jika dia memilih Mutia karna cinta maka Putrinya akan membenci dirinya seumur hidup. Namun jika ia memilih Dea maka pasti bukan hanya Bintang yang ia dapatkan namun sebuah keluarga yang bahagia.


Namun bukan berarti Lucas tak bahagia bersama Mutia. Gadis itu bisa juga memberikan Lucas keluarga kecil nantinya. Namun jika memilih Mutia keluarganya akan menentang hubungan ke duanya. Mengingat siapa Mutia bagi Dea.


Penyakit jantung sang ayah pasti akan kambuh. Dan Ibunya akan membenci Lucas seumur hidup wanita itu.


"Sudahlah Kak, sepertinya Kak Lucas sangat sulit untuk memilih. Sepertinya aku akan di tinggalkan lagi sekali lagi oleh lelaki yang aku cintai," ucap Dea lirih.


"Aku akan menjauhi Tia. Jadi aku mohon bertahan lah sedikit lagi. Aku yakin aku akan mencintaimu, De!" tutur Lucas dengan suara pelan.


"Benarkah Kakak akan menjauhinya demi aku dan Bintang?" tanya Dea pada Lucas dengan mata berbinar.


"Ya. Aku akan melakukannya, aku mohon tolong aku." Tutur Lucas mengangukan kepalanya.


"Terimakasih, Kak Lucas!" Ucap Dea senang ia langsung memeluk tubuh Lucas dengan erat.


Tangan Lucas membalas pelukan Dea. Ia membelai pungung belakang Dea pelan.


"Apa itu sakit sekali?" tanya Lucas menatap iba Dea.


Dea melepaskan pelukan Lucas, sebelum membalas tatapan Lucas dengan kening berlipat.


"Maksudku perut mu, kau pasti ke sakitan saat ia meninggal kan rahimmu," tutur Lucas menatap Dea sendu.


"Ya, sakit Kak. Tapi sekarang aku baik-baik saja karena ada Kakak Lucas di sisiku. Kak bisakah kau memeluk aku malam ini. Tidur bersama denganku malam ini," pinta Dea dengan wajah memelas.


Lucas mengangukan kepalanya. Dea mengeserkan tubuhnya. Lucas merebahkan dirinya dan di ikuti oleh Dea. Lucas memeluk Dea dari belakang.


Di pintu yang sedikit terbuka Bara hanya menatap Dea dan Lucas dalam diam.


"Semoga keputusan yang aku buat benar. Kau salah Dea aku pernah merasakan sebuah pengkhianatan dari gadis yang aku cintai," lirih Bara dengan raut letih.


Bara melangkah menjauh dari ruang Dea. Saat itu gadis cantik dengan rambut sebahu itu melangkah ke arah ruangan Dea. Ia berdiri dan membuka pintu itu secera pelahan.


Ia terdiam seribu bahasa saat melihat Lucas tidur memeluk Dea dari belakang. Ke dua tangannya mengepal di ke dua sisinya.


"Sial. Aku akan pastikan kau kalah lain kali, De!" ucapnya pelan lalu melangkah pergi dari sana.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2