Momy? I'Am!!

Momy? I'Am!!
Chapter 26


__ADS_3

Bab 26


_______________________


.


.


.


.


.


Suasana terasa kian memanas saat gadis cantik itu menatap tak suka pada lelaki imut itu. Dan lelaki imut itu terlihat santai saja, meski ia harus berhadapan dengan gadisnya. Ah! Tidak, mulai saat ini gadis di depannya itu adalah Kakak Iparnya tak lebih.


"Seenaknya kau mencampakkan aku setelah apa yang kita lakukan selama ini, huh!" Teriaknya untuk ke dua kalinya.


Beruntung sungai siang hari tak ada yang menyambangi selain mereka berdua. Dimana Lucas meminta Mutia bertemu di bawah jembatan. Gadis itu tak terima karena Lucas memutuskan hubungannya begitu saja.


"Terserah apa yang kau katakan Tia, karena yang meminta aku menikahi Dea adalah dirimu dulu. Jadi jangan salahkan aku memilih bersamanya," tandas Lucas penuh keyakinan.


Mutia Wijayanto menatap Lucas dengan pandangan tak percaya. Karena saat itu pria ini jelas tau mereka tak punya pilihan lain selain menerima perjodohan itu. Di karenakan ayah Mutia yang mempunyai penyakit jantung.


"Kau jelas tau keadaannya dulu, Lucas! protes Mutia dengan suara turun beberapa oktaf.


Ia lelah dengan apa yang terjadi. Bukankah pria ini tau bahwa dirinya begitu mencintainya. Namun setelah apa yang mereka lewati, lelaki itu seenaknya memutuskan hubungan begitu saja. Dengan alasan tak ingin menyakiti sang Istri.


"Tapi saat itu kau tak mau mendengarkan aku untuk bertahan. Kita melakukan semuanya demi ke dua orang tua kita. Jadi sekarang anggap saja itu demi ke dua orang tua kita lagi, seperti dulu!" putus Lucas tenang.


"Apa?" teriak Mutia tak percaya dengan apa yang baru saja Lucas ucapkan.


Mutia tertawa pahit. Ia tak tau jika Lucas bisa berubah seperti itu. Perasan lelaki ini tak lagi sama seperti dulu. Dimana dulu hanya ada nama Mutia Wijayanto di dalam nya. Entah kemana perginya namanya? Apa sudah terhapus oleh nama Dea Amelia Wijayanto? Ah! Tidak kini sudah jelas namanya adalah Dea Amelia Wang.


"Aku sudah mengatakan semuanya padamu. Jadi, hubungan kita mulai saat ini dan seterusnya telah berakhir." Ucap Lucas membalikan tubuhnya melangkah pergi.


"Kau mencintainya?" tanya Mutia lantang.


Bodoh! Pertanyaan yang bodoh. Sudah jelas bukan jika lelaki imut itu mencintai Dea. Itulah yang membuat lelaki itu memutuskan hubungan mereka. Akan tetapi, Mutia tak tau kenapa ia bisa melempar pertanyaan bodoh itu pada Lucas. Membuat langkah kaki Kucas terhenti.


"Ya, aku mencintainya." Aku Lucas cukup lantang tamypa membalikan tubuhnya menghadap lagi pada Mutia. Melihat bagaimana ekspresi wajah menyedihkan Mutia.


"Akan aku katakan pada ke dua orang tua mu apa yang kita lakukan selama ini di belakang, Dea!" Ancam Mutia lantang dengan napas memburu karena amarah yang telah sampai di ubun-ubun.


Lucas membalikan tubuhnya menghadap Mutia. Terlihat jelas ke dua rahangnya mengeras.


"Lakukan saja, kau pikir hanya orang tuaku yang serangan jantung nantinya. Ingat! Papa mu juga akan serangan jantung jika tau anaknya membuka aibnya sendiri!" Lucas membalikkan ancaman yang di lempar kan padanya, dengan suara rendah.


Mutia terdiam mendengar ancaman Lucas. Ia lupa jika sang ayah juga memiliki riwayat penyakit jantung. Walau pun Budi Wajayanto telah tau hubungan dirinya dan Lucas. Namun apakah Budi bisa bertahan dari rasa malu yang ia buat.


"Jika kau ingin menggali lubang untuk keluarga ku. Maka galih juga satu lubang lagi untuk Papa mu. Karena yang hancur bukan hanya aku sendiri tapi kau juga," peringat Lucas. Ia membalikan tubuhnya dengan melangkah lebar mendekati mobilnya dengan ke dua tangan mengepal di ke dua sisi tubuhnya.


Mutua ambruk begitu saja. Ia menangis keras, ke dua matanya hanya bisa menatap nanar mobil Lucas yang melaju meninggalkan dirinya sendiri. Mutia merasakan perasaan terluka begitu dalam. Ia mengepalkan ke dua tangan nya, erat.

__ADS_1


"Tidak akan aku biarkan kalian bahagia. Karena aku akan membuat kau dan dia hancur berkeping-keping. Jika aku tak bisa memiliki mu, maka Dea pun tak akan bisa memiliki mu," ucap Mutia tidak terima dengan apa yang terjadi.


Setelah itu ia berteriak nyaring dengan tangis pilu. Ia memukul dadanya berulang-ulang kali.


Sedangkan di tempat lain, Dea terlihat begitu serius dalam menggambar sketsa. Hingga tak menyadari jika gadis cantik tengah memperhatikannya dari luar kelas.


Namun lama kelamaan Dea sadar jika tengah di perhatikan. Ke dua matanya menatap ke arah pintu masuk. Ia tersenyum lebar saat sebelah tangan gadis itu melambai ke arah Dea tanpa suara.


Dea menatap ke depan saat itu ia melihat Mark juga tersenyum ke arah sang gadis. Gadis imut di sampingnya terlihat mendengus tak suka melihat pujaan hati tersenyum pada gadis lain. Dea yang menyadari itu pun meletakan pensil yang di apit ibu jari dan jari tengahnya.


"Tenang saja Hani! Gadis itu sudah punya kekasih." Bisik Dea pelan di samping Hani.


Hani menatap Dea, ibu satu anak itu menganggukkan kepala yakin. Barulah wajah yang awalnya cemburu itu mengembangkan senyum. Dea yang melihat tersenyum dan mengeleng kan kepalanya.


Lima belas menit berlalu ke duanya keluar dari kelas. Gadis cantik itu masih setia menunggu Dea. Dea keluar bersama dengan Mark dan Hani.


"Hai! Dea," sapa gadis itu saat Dea dan ke dua orang di samping Dea mendekat.


"Oh? Hai Somi. Maaf membuat mu lama menunggu," jawab Sohyun tak enak hati.


"Tidak apa-apa. Kak Mark, siapa nama gadis imut ini?" Tanya Somi beralih tatap dari Mark ke Hani yang berada di samping Mark.


"Nama nya Hani!!" ujar Mark memperkenalkan Hani pada Somi.


Hani mengulas senyum manisnya


pada Somi. Di balas dengan senyuman oleh Somi.


"Kau kekasihnya Kak Mark?" Tanya Somi dengan pandangan mata menatap Hani dan menoleh menyelidik ke arah Mark.


Yah! Walau pun hati Mark masih sering berdetak saat di dekat Dea. Namun karna kehadiran Hani ia merasa perasaan itu sudah mulai menghilang. Karena Hani begitu imut dan juga ceria. Bagaimana Happy Virus untuk dirinya. Dia suka kepribadian Hani yang hangat dan ceria.


"Dea ada yang ingin aku katakan pada mu. Hari ini kau ada kelas lagi?" tanya Somi pada Dea.


"Tidak, hari ini kelas Kak Mark adalah kelas terakhir. Ada apa?" tanya Dea dengan wajah penasaran.


Bukan hanya Dea yang penasaran. Tapi Mark juga terlihat penasaran pada apa yang ingin Somi katakan pada Dea.


"Kita duduk di cafe saja bagaimana. Aku merasa tak nyaman mengatakannya dengan berdiri," jawab Somi.


Dea menganggukkan kepalanya. Somi menatap Mark dan Hani bergantian. Melihat bagaimana Somi melihatnya Mark mengerti.


"Hari ini aku ada kencan dengan Hani. Jadi kalian berdua saja dulu. Walaupun aku juga penasaran," tutur Mark tak enak.


Karena ia sudah terlajur janji dengan Hani. Hani mematap Mark dan ke dua gadis sebaya lelaki yang ia cintai itu sesaat. Lalu ia membuka mulutnya.


"Kita batalkan saja rencana kita, Kak! Lain kali juga bisa," ucap Hani merasa sungkan.


"Tidak usah. Aku hanya butuh Dea saja. Kalau begitu kami pergi duluan ya. Selamat bersenang-senang." Ucap Somi langsung menarik Dea menjauhi ke duanya.


Mark hanya mengangkat ke dua bahunya saat Hani menatap ke arahnya. Sedangkan di belakang tubuh Somi dan Dea, pengawalnya mengikuti kemana mereka pergi.


"Apa kau tak risih di ikuti seperti ini, De?" tanya Somi pelan.

__ADS_1


"Risihlah, tapi mau bagaimana lagi. Aku juga takut jika sendiri" jawab Dea jujur.


Somi hanya tersenyum dan mengandeng tangan Dea menuju gerbang kampus. Ke duanya memutuskan duduk di salah satu Cafe di seberang kampus.


* * *


Dea masih membecakan cerita putri salju tanpa sadar jika ke dua mata sang putri telah terpejam. Saat Dea merasa tak ada pertanyaan dari Bintang menatap wajah Bintang yang telah damai. Dea tersenyum dan membenarkan selimut di tubuh Bintang.


Ia menecup kening Bintang dan mematikan lampu, menyalakan lampu tidur. Dea menutup pintu kamar Bintang perlahan. Hampir saja Dea berteriak keras karna terkejut. Lucas langsung membekap mulut Dea.


Dea mengelus dadanya berulang-ulang kali. Lucas benar-benar hampir membuat jantung Dea keluar dari tempatnya. Bagaimana tidak saat ia membalikan tubuhnya Lucas telah berada di depannya. Dan hebatnya reflek Lucas begitu cepat.


"Apa Bintang, sudah tidur?" Tanya Lucas pada Dea sambil melepaskan bekapannya di mulut Dea.


"Ya, dia baru saja tidur. Kak Lucas, baru saja pulang?" tanya Dea melihat wajah lelah Lucas saat ini.


"Ya, aku baru saja pulang." Jawab Lucas melongarkan dasinya.


Lelaki imut itu bahkan belum berganti baju. Ia hanya meletakan tas kerjanya di ruangan kerja dan langsung mencari Dea. Karena melihat jam di dinding Lucas yakin Dea berada di kamar Bintang. Hingga Lucas memutuskan ke kamar Bintang.


Siapa sangka saat ia sampai Dea tengah menutup pintu kamar Bintang. Dan hal hasil, wanita yang ia cari itu hampir menjerit karna terkejut.


"Apa Kakak mau makan atau mau membersihkan tubuh dulu?" tanya Dea pada sang suami.


"Aku ingin bersihkan tubuh dulu. Bisakah kau membuatkan aku coklat hangat saja," pinta Lucas menatap Dea dengan pandangan tak terbaca.


"Aku siapkan Kakak air hangat untuk membersihkan tubuh dulu. Baru aku buatkan coklat hangat," putus Dea melangkah menuju kamar mereka.


Lucas hanya mengekori Deadari belakang. Hingga Dea masuk ke kamar mandi. Lucas memilih baju tidur yang akan ia pakai. Setelah itu Dea keluar dari kamar mandi. Baru lah Lucas masuk ke dalam kamar mandi.


Tak butuh waktu lama bagi Dea membuat coklat hangat untuk Lucas. Ia juga membuat gren tea hangat untuknya. Ia melangkah masuk ke dalam kamar dan meletakan satu gelas coklat hangat di atas nakas.


Dea duduk di sofa yang terletak di sudut kamar mereka. Dea menyesap pelan teh hijau yang ia buat. Lucas keluar dengan baju tidur warna hitam dari bahan sutra bermotif garis horizontal.


Lucas melangkah mendekati Sofa dengan menyambar gelas kaca terlebih dulu. Ia duduk tepat di samping Dea. Dea menatap sang suami dan tersenyum hangat. Lucas membalas senyum Dea tak kalah lebutnya.


Lucas menyesap coklat hangat dengan perlahan. Lalu meletakan di atas meja di depan mereka. Lucas merebahkan tubuh di atas sofa. Dengan kepala di letakan di atas paha Dea. Sofa panjang itu sedikit membuat kaki Lucas terjulur karena tak mampu menyamai tinggi tubuh Lucas.


Dea meletakan gelasnya di atas meja di samping gelas coklat Lucas. Tangan Dea terulur menyentuh rambut Lucas dan mengusapnya perlahan. Usapan Dea membuat Lucas memejamkan ke dua matanya. Rasanya begitu nyaman.


"Aku sudah memutuskan hubunganku dengan Mutia hari ini. Dan aku jamin ke depannya Mutia tak akan menjadi masalah lagi," papar Lucas masih dengan mata terpejam.


Usapan Dea terhenti mendengar pengakuan Lucas. Saat itu Lucas membuka ke dua matanya. Lucas bangkit dari tidurannya.


"Dea! Maafkan aku, mungkin ini telambat tapi aku hanya ingin mengatakan. Maukah kau menjadi Istriku untuk selama-lamanya?" Tanya Lucas mengengam tangan Dea dan menatap mata Dea intens.


Dea tersenyum dan mengangukan kepalanya. Sebelah tangan Dea merogoh saku baju tidurnya. Ia mengeluarkan kotak kecil berisi cincin. Ke dua alis mata Dea menyatu pertanda tak tau apa maksud dari cinci yang Lucas sodorkan padanya.


"Mulai sekarang, cincin ini menjadi cincin pernikahan kita yang baru. Karena aku merasa cincin yang kau dan aku pakai sekarang terlalu dingin. Karena di sana tak ada kasih sayang. Dan angab saja dengan ini kita memulai kehidupan baru dari pernikahan kita."


Dea tersenyum semakin lebar. Lucas melepaskan cincin yang melingkar di jari manis sebelah kiri Dea. Cincin yang pernah Dea lepas saat amnesia. Lalu memasangkan cincin yang baru. Dea pun melakukan hal yang sama.


Kucas memeluk Dea dengan erat. Dea membalas pelukan Lucas.

__ADS_1


"De! Bagaimana jika kita make baby to night " Bisik Lucas sexsual di telinga kenan Dea.


__ADS_2