
35
-------------Selamat Membaca------------
.
.
.
.
.
Hujan deras menguyur kota Jakarta di sertai petir kencang. Di lorong Rumah Sakit mewah itu beberapa orang terlihat gelisah menanti ke lahiran ke dua menantu Sandoro itu. Anto dan Budi tak berhenti mondar- mandir di lorong sedangkan untuk para Wanita hanya duduk santai di kursi tunggu. Meski ke dua wanita paru baya itu juga khawatir.
Tapi ke duanya tak menampakan khawatirannya. Bintang terlihat diam dengan wajah pusat pasi. Bagaimana tidak ia baru saja melihat sang Ibu mengeluarkan tanda darah hinga sang Ibu merintih mengatakan kata sakit berulang-ulang. Itu kali pertama Bintang menatap kesakitan sang Ibu dengan ke dua mata kepalanya sendiri.
Lucas jangan di tanyakan lagi bagaimana Khawatirnya dirinya. Meski kelahiran ke dua bagi Dea. Namun itu adalah pertama kalinya ia melihat Dea dengan wajah kesakitan dengan mandi keringat.
Ke adanya di dalam cukup kacau. Dea menarik rambut coklat Lucas dengan kencang di setiap ia mendorong keluar sang Putra. Entah ia sengaja atau tidak, yang pasti ia benar-benar menyiksa Lucas secara fisik. Di lengan Lucas terlihat bekas tancapan kuku-kuku panjang yang sedikit berdarah.
"Sedikit lagi Nyonya! Dorong lebih kuat lagi." Ucap sang Dokter.
Ahk !!!!!!!!!
Akh !!!!!!!!
Bukannya cuma Dea yang berteriak namun juga Lucas. Dea dengan kuat menarik rambut Dea lagi. Jujur saja suster yang memantaunya terkikik dalam diam. Ia tau sang Ibu sengaja melakukan nya. Entah apa alasannya, namun biasanya kelahiran ke dua tak sesakit kelahahiran pertama.
Sepertinya Dea itu ingin membalaskan dendam kepada Lucas. Melihat bagaimana gilanya Dea menarik rambut Lucas. Seakan ia membalaskan dendam saat kelahiran Putri pertama mereka. Saat itu ia hanya sendiri di dalam kamar persalinan.
Lucas datang ketika ia sudah merasakan sakit yang teramat. Dan saat itu Dea begitu ketakutan, dan tak memiliki pegangan tak seperti sekarang. Ia punya Lucas di sampingnya.
Licik memang! Namun begitu lah cara Dea balas dendam. Agar Lucas juga merasakan sakit yang ia rasakan. Ia ingin mengatakan pada Lucas secara tak langsung. Jika melahirkan itu sangat menyakitkan. Tak seenak membuatnya!
Saat Dorongan terakhir suara bayi menggema di seluruh ruangan. Napas Dea masih tak beraturan, Dokter wanita sudah berkepala tiga itu tersenyum melihat bayi mungil merah itu menangis kencang.
Seakan menyuarakan kelahirannya di dunia. Lucas tersenyum di sela ringisan nya. Dea melepaskan tarikannya di rambut Lucas begitu juga pegangannya di tangan Lucas. Sang Suster membersihan bayi Dea Setelah bersih ia melangkah mendekati Lucas.
"Selamat tuan Lucas, Putra tuan terlihat begitu tampan dan imut."ย Ucap sang Suster sambil memberikan bayi yang sudah rapi dan bersih dari noda darah itu ke tangan Lucas.
Lucas menerimanya dengan senyum lebar. Ia menimbang-nimbang sang bayi penuh kasih sayang. Tanpa sadarย ke dua sudut matanya mengeluarkan butiran Kristal
"Terimakasih telah lahir dengan selamat sayang. Papa mencintai mu." Bisik Lucas di telinga sebelah kanan sang Putra.
Bayi merah dengan mata tertutup itu menggeliat kecil dengan senyum kecil. Seakan ia tau apa yang sang Ayah katakan. Melihat sang Putra tersenyum Lucas mengecup pelan dahi, ke dua pipi, puncak hidung yang terlihat mancung dan berakhir di bibir merah kecil itu.
Dea di bantu membersihkan tubuhnya dan juga menukar bajunya. Setelah selesai baru lah Lucas menghampiri Dea dengan mengendong sang Putra.
"Kak berikan padaku, aku juga mau lihat," pinta Dea pelan.
Lucas memberikan sang Bayi pada Dea. Dea menggendongnya dengan senyuman tak kalah lebarnya. Jari telunjuk Lucas bermain di tangan kecil putranya. Sang Putra menggenggam jari tangan Lucas dengan kuat.
"Wah! Dia menggenggam jari telunjuk tanganku dengan tangan kecil nya." Ucap Lucas takjub.
Dea terkikik geli, mendengar perkataan Lucas yang di nilai lebai. Maklum saja saat Bintang lahir Lucas tak ada di samping Dea. Dan bahkan saat Bintang berusia delapan bulan, barulah Lucas mau bermain dengan Bintang. Itu pun hanya hitungan menit saja.
Tapi sekarang lihatlah bagaimana antusiasnya sang suaminya pada sang Bayi.Membuat Dea gemas pada Papanya bukan Putranya.
"Tentu saja Kak. Kakak pikir ia tak bisa menggenggam dengan kuat?" Ucap Dea masih dengan wajah geli nya.
"Selamat atas kelahiran Putra pertama Kalian Nyonya dan Juga Tuan Lucas, dan Nyonya harus kita pindahkan ke ruangan rawat dulu." Ucap sang Dokter .
"Terimakasih Dokter." Jawab Dea dan Lucas serentak.
Dokter itu hanya tersenyum hangat. Dea memindahkan Sang Putra pada Lucas lagi. Saat itu ranjang Dea di dorong keluar dari ruangan bersalin. Saat ranjang Dea keluar dari ruangan. Semua orang yang menunggu di luar menatap Dea dengan pandangan lega. Dea hanya memberikan Senyum tipisnya.
Lalu Ranjang Dea di dorong lagi. Lucas keluar dari ruangan mengendong sang Putra.
"Papa bolehkan Bintang melihat adik Bintang?" Tanya Byul antusias.
"Tentu sayang." Jawab Lucas dengan duduk di kursi samping Bintang.
Bintang tersenyum dan mendekat wajahnya ke wajah sang adik. Ia mencium ke keseluruhan wajah sang adik. Membuat bayi merah itu menggelitik tak nyaman karena di ganggu.
"Jangan menciumnya begitu sayang. Dia akan menangis jika Bintang menciumnya sebanyak itu." Peringat Ani pada sang Cucu.
"Ah ! Maafkan Bintang Nenek." Ucap Bintang dengan senyum sesal.
"Tidak apa sayang. Bintang hanya tak tau saja bukan." Hibur Santi pada cucu pertama nya.
__ADS_1
๐๐๐
Hujan telah mereka, sisa hujan membuat bau anyir naik kepermukaan. Mutia menatap hamparan Danau di salah satu Panti Asuhan.
"Kenapa berdiri di sini? Kau akan ke dingin jika berdiri di sini." Ucap sebuah suara berat dengan menyematkan jaket kulit ke bahu Mutia
Mutia menatap wajah tampan lelaki yang lebih tua dua tahun di atasnya itu.
"Ah ! Tuan Jackson!" Jawab Mutia tak enak.
Jackson tersenyum melihat wajah Imut Mutia
"Apa yang kau pikirkan Mutia?" Tanya
Jackson ikut memandang air tenang Danau.
"Hari ini adikku melahirkan." Jawab Mutia begitu saja.
"Lalu Kenapa kau tak melihatnya?" Tanya Jackson lagi.
Mutia tersenyum kecut. Bagaimana ia bisa menghadapi wajah Dea dan Lucas lagi. Setelah apa yang ia lakukan. Ia dan Lucas resmi bercerai dua minggu setelah Lucas pulih. Miris memang, namun Mutia mencoba merelakannya.
"Dia adalah orang yang aku sakiti berulang-ulang kali. Aku bahkan menghancurkan rumah tangannya dengan suaminya. Dan terakhir aku menjebak suaminya hingga ia menikahi aku. Tapi tak lama hanya hitungan bulan saja. Kami bercerai karena rencana yang aku buat terbongkar. Bukankah aku wanita yang jahat Tuan!" Ucap Mutia dengan pandangan nanar.
"Ya, kau sangat jahat Mutia. Tapi aku tak bisa menyalahkan mu sepenuh nya. Karena aku punya kesalahan dalam hidupku. Kita semuanya punya Dosa yang tak kita katakan dan tak tampak Mutia. Karena itu aku tak berhak menghakimi mu." Jawab Jackson bijak.
Hati Mutia terasa menghangat mendengar jawaban Jackson. Jackson memang lelaki yang hebat. Di balik wajah tampan dan mapan. Ia bahkan mengelola sepuluh Panti Asuhan di Indonesia.
Mutia memutuskan untuk menenangkan diri di Panti Asuhan yang kebetulan di Kelola oleh Jackson. Ia ingin menebus dosa-dosanya dengan merawat anak-anak di Panti.
Sedangkan di tempat lain Bara membantu fakir miskin di Posko pengobatan di salah satu Desa di dekat Bali. Ia memilih menyibuk kan diri setelah keluar dari penjara. Ia sempat di penjara tiga hari. Dan itu membuat ia merenungi perbuatan nya.
"Kakak!" Seru Hani menghampiri Bara di ikuti oleh Mark di belakang tubuhnya.
"Kenapa kau kesini?" Tanya Bara dengan wajah ke heranan.
"Malam Kakak Ipar." Sapa Mark dengan wajah sedikit tak enak.
Bara hanya membalas sapaan Mark dengan senyum kecil. Ia tau Mark sangat mencintai sang adik. Melihat kesunguhan Mark yang berulang kali ia tolak. Namun Mark tak mau menyerah sama sekali. Itu membuat Bara yakin Mark adalah lelaki terbaik untuk Hani.
"Aku kesini karna merindukan Kakak. Dan sekaligus mengatakan jika bulan besok aku dan Kak Mark akan bertunangan. Dan kami sudah mendapatkan persetujuan dari Papa dan Mama." Jawab Hani dengan senyum mengembang.
"Kakak akan pulang bukan?" Tanya Hani dengan raut wajah penuh harap.
"Tentu saja." Jawab Bara yakin.
"Terimakasih Kakak Ipar. Karena jika Kakak Ipar tidak pulang maka aku dan Hani tak akan bertunangan. Karena ia ingin Kakak Ipar menjadi saksi pertunangan kami." Tutur Mark dengan wajah ceria.
Ke tiganya mengobrolkan banyak hal. Sesekali terdengar gelak tawa di ruangan sempit itu.
6 Tahun kemudian
Lucas terlihat memarahi Bintang di ruangan kerjanya. Bintang hanya mendunduk dengan wajah takut. Anak yang berumur enam tahun itu kini telihat begitu cantik dengan wajah imutnya.
Dea masuk membawakan segelas susu dan juga cemilan ke dalam ruangan kerja Lucas.
"Papa tak mau lagi melihat Bintang bersama mereka ingat itu!" putus tegas Lucas dengan wajah menyeramkan.
Dea hanya tersenyum kecil melihat betapa menakutkannya jika Lucas telah marah.
"Kenapa tak di jawab Bintang Sandoro! Kau dengarkan apa yang Papap katakan!" hardik Lucas.
"Ya, Papa. Bintang tak akan mengulanginya lagi." Ucap Bintang semakin menunduk.
Dea meletakan nampan berisi makanan ringan di atas meja di Sofa diruangan luas itu. Dan melangkah menghampiri Lucas dan Bintang.
"Bintang, tolong ajarkan Jun di kamar. Karena seperti jika Bintang yang mengajarkan nya ia akan cepat mengerti." Seru Dea sambil tersenyum hangat.
"Baik, Ma!" Jawab Bintang langsung keluar dari ruangan Lucas tanpa menatap wajah menakutkan Lucas.
"Kenapa kau membebaskan tahanku Nyonya Santoso?" Seru Lucas dengan suara berat.
Dea membalikan tubuhnya yang membelakanggi Lucas. Ia menampilkan senyuman lebarnya dan mendekat ke arah Lucas. Ia tau jika Lucas sudah marah benar-benar menakutkan.
Ia duduk di pangkuan Lucas dengan wajah masih sama. Lucas mendesah letih, jika sudah begini Lucas bisa apa. Dea selalu saja membela baik Putri dan Putra mereka jika sudah salah.
"Ayolah sayang. Bintang sudah Remaja dia bukan lagi anak-anak. Jadi wajar jika ia bermain dengan teman-temannya keluar sana." Ucap Dea sambil mengalungkan ke dua tanganya di leher Lucas.
"Tapi itu sudah keterlaluan Dea. Dia berbohong saat aku tanya." Ucap Lucas menatap ke dua manik mata Dea.
"Itu karna kau terlalu Posesif sayang. Kau setiap jam selalu menanyakan dia diamana dan dengan siapa. Dia juga punya prifasi sayang," bela Dea.
__ADS_1
Itu benar, lucas selalu mengawasi Putrinya satu itu. Karna ia melihat ada yang berbeda dengan sang Putri. Karena biasanya Bintang cukup tak acuh dengan penampilanya. Tapi sekarang telah memakai lipsbalm. Dan selalu tampil cantik setiap hari.
Dan puncaknya ketika Lucas tak sengaja memergoki Bintang tengah berjalan dengan seorang lelaki kira-kira dua tahun lebih tua darinya. Saat itu Lucas menjadi Papa yang Posesifย yang menakutkan.
Lucas takut jika sang Putri salah gaul. Atau berpacaran di usianya masih kecil. Dan baginya Putrinya itu masih kecil dan hanya milik nyaย dan Dea.
Lucu ! Bagaimana tidak? Dia lupa saat ia seusia Bintang ia telah di lamar oleh Dea. Dan gilanya ia menyetujui itu dan berjanji akan menikah dengan Dea.
"Aku akan mengawasinya Sayang. Jadi tak usah marah-marah padanya. Kau akan membuatnya takut padamu nantinya." Jawab Dea dengan bersandar di dada bidang Lucas.
Sudah !!! Tak ada lagi yang bisa Lucas katakan. Dea memang tau kelemahan Lucas. Dea tersenyum dalam diamnya.
"Jangan mengodaku Nyonya Sandoro jika tak ingin berakhir di atas ranjang saat ini juga." Ancam Lucas dengan suara semakin berat.
"Itukan sudah biasa." Jawab Dea dengan wajah memerah.
"Benarkah?" Tanya Lucas mencoba mengoda Dea.
"Ya tentu." Jawab Dea pelan.
Dea menarik kepalanya dan menatap Lucas dengan wajah mengemaskan. Lucas menarik wajah Dea dan menangkupnya dengan ke dua telapak tanganya.
"Jangan salahkan aku, karna kau yang memulai lebih dulu Dea."ย Ucap Lucas dengan wajah mesumnya.
Setelah itu Lucas langsung memagut bibir Dea cepat. Cukup panas pertarungan ke duanya. Entah sejak kapan ke duanya sudah berada di atas Soffa dengan posisi Lucas menindih Dea.
Kancing baju Lucas telah terbuka semunya. Kondisi Dea tak kalah kacau dengan Lucas. Dea mengecup leher Dea dengan lembut.
BRAK !
"Papa!"
Bruk !
Akh !
Tubuh Lucas terjatuh kelantai di alasi karpet. Sedangkan Dea mebenarkan bajunya yang sedikit terbuka. Ia tersenyum ke arah putranya yang berumur enam tahun itu.
"Apa yang Papa dan Mama lakukan?" Pertanyaan Polos dari Jun memberikan Dea tersenyum dengan wajah aneh.
"Ah! Papa dan Mama!" jawab Dea dengan wajah bingung,"Jun mau apa kenapa ke sini?" tanya Dea mengalihkan perhatian Jun.
"Jun mau bobok Mama bersama Mama!" Jawab Jun dengan wajah Imutnya.
"Ah! Begitu. Ayo sayang ke kamar." Jawab Dea langsung melangkah meninggalkan Lucas yang tengah merintih mengusap pingungnya yang membentur lantai.
"Dasar setan kecil itu. Padahal sendikit lagi." Keluh Lucas kesal Pada Jun.
Sejujurnya yang sering mengagalkan ke ingin Lucas bersama Des adalah Jun Sandoro. Dan selalu berakhir sama seperti saat ini. Dea mendorong nya dengan keras. Padahal di bawah sana tak kalah kerasnya dengan lantai.
"Ah ! Aku harus mandi air dingin lagi." Desis Lucas dengan wajah murung.
Di luar pintu masuk senyum evil tercetak jelas di wajah Cantik Bintang.
"Itu Hukuman untuk Papa siapa suruh mengagalkan rencana kencanku. Dan meminta aku menjauh Kak Vian." Tutur Bintang menatap pintu kayu ruangan kerja ayah.
.
.
.
"**Cinta membuatmu bertindak di luar Nalarmu. Hingga sering kali kita melakukan kesalahan karna Cinta yang kita miliki. Tak ada yang salah dalam mencintai. Meski pun yang kita lakukan adalah kesalahan. Namun yakinlah Hatimu dan Cinta akan menuntunmu memperbaiki kesalah itu. Karna Mencintai tampa kesalah itu berati kau belum merasakan apa itu cinta sebenarnya. Karna Normal kau harus merasakan Manis, Pahit, Asam dan Hambarnya Kata Cinta itu sesunguhnya."
~F.D.S~
~END~
~Jangan Lupa baca Season 2 nya juga ya all dengan judul yang sama โบ๏ธ๐***
Katakan selamat tinggal untuk cerita satu ini all..
Dan mohon maaf jika ada kesalahan dalam menulis. Dan juga terimakasih atas dukunggan nya.
Dan salam hangat dari Aku untuk semua para Raeders
โ๐๐๐
Mohon Like nya ya All..
โโโโโ**
__ADS_1