Momy? I'Am!!

Momy? I'Am!!
Chapter 18


__ADS_3

Bab 18


___________________________


.


.


.


.


Wajah cantik wanita itu terlihat begitu pucat. Pandangannya begitu kosong menatap air kolam berenang nan biru. Pulang dari rumah sakit membuat dirinya merasa kehilangan separuh usia hidupnya.


"Demi aku? CK ! Semua itu hanya alasan untuk membenarkan perkataan mu, saja Papa. Kenapa harus ...hiks...hiks.." Wanita itu tak lagi bisa membendung tangis yang ia tahan sudah dari dua jam yang lalu.


Pertahanannya roboh begitu saja. Ia tak lagi bisa berpura-pura tak tau dan berpura-pura jika semua yang terjadi itu bukan karenanya.


Mutia melangkah mendekati ranjang kamarnya. Ia menarik laci nakas di samping tempat tidurnya. Dengan tangan tangan bergetar ia meraih amplop putih berlambang Rumah Sakit.


Ia meremasnya menjadi tak berbentuk lagi. Ke dua matanya memerah menunjukan amarah dan rasa sakit sekaligus.


Flashback on


Budi Wijayanto, membuka ke dua matanya perlahan. Ia di sambut oleh tatapan khawatir dari anak dan Istrinya. Budi tersenyum dan berucap jika ia baik-baik saja.


"Mutia! Sudah saatnya kau tau apa yang terjadi sebenarnya. Siapa Dea sebenarnya, agar kau tak salah paham dan membencinya," tutur Budi pada sang anak dengan suara pelan.


"Apa yang membuat aku salah paham padanya, Papa? Jelas-jelas semua itu adalah sebuah fakta jika Papa lebih mencintai Dea yang bukan putri kandung Papa. Bahkan Papa sakit hanya karena dia," ucap Mutia dengan wajah sedih.


"Tia! Coba dengarkan dulu apa yang akan Papa sampaikan. Setelah itu keputusan ada padamu, Mama harap kau akan mengerti," kini giliran Ani yang memberikan suara.


Mutia menghela nafas kasar, ia memutuskan mendengarkan penjelasan ke dua orang tuanya.


"Jenni Wijayanto, dia adalah Bunda kandung Dea. Adik Papa yang hamil di luar nikah bersama pacarnya yang tak mau bertanggung jawab," Budi mencoba membuka kisah lama. Manik mata tua nya dengan menatap langit-langit Rumah Sakit.

__ADS_1


"Jenni Wijayanto?" Ulang Mutia dengan kening mengerut. Wanita cantik itu tak tau jika ia memiliki seorang Bibi.


"Kau tak mengingatnya bukan?" tanya Ani.


"Aku tak tau jika Papa mempunyai adik perempuan. Dan aku tak ingat siapa itu," aku Mutia.


"Tentu saja kau tak mengingatnya. Waktu itu kau berusia tiga belas tahun dan Dea baru berumur delapan tahun saat kejadian kebakaran itu terjadi. Saat itu kami berada di luar kota karena pekerjaan aku dan Mama menitipkan kau bersama Jenni!" jelas Budi lirih ia seakan membuka luka lama yang telah mengering.


"Rumah kebakaran karena saingan Papa mencoba membunuh Papa. Mereka mencoba menyusup ke rumah. Singkat cerita Bibi Jenni lah yang melindungi kau dan Dea, saat pembunuhan bayaran itu mengejar kalian. Ia di tikam berkali-kali di depan kalian berdua. Namun ia masih sempat melawan dan mendorong kau dan Dea ke laur dari rumah. Ia bahkan menusuk pembubuh itu di kaki saat ia mencoba membunuh kalian. Namun nasib baik berpihak pada Kau dan Dea. Kalian di selamatkan oleh tetangga saat kau dan Dea berteriak dan rumah terbakar." Air mata Budi luruh dan Ani menetes deras mengingat pengorbanan Jenni untuk putri mereka.


"Namun kalia.." Budi tak lagi bisa melanjutkan cerita nya. Karena ia merasa tak tahan saat melihat bayang wajah malang adiknya.


"Kau dan Dea, mengalami trauma dalam hinga harus melakukan terapi kejiwaan. Kau dan Dea melupakan semua yang terjadi saat di terapi. Saat itu kami mengadopsi Dea menjadi putri kami. Karena itu kami terlihat lebih menyayangi Dea. Tapi, Mutia! Tidak pernah satu detik pun kami tak mencintaimu. Karena kau adalah putri kami yang berharga." Ucap Ani menggenggam tangan Mutia.


Mutia membeku mendengar ucapan ke dua orang tuanya. Budi menghapus kasar air matanya.


"Alasan kenapa kami menjodohkan Dea alih-alih dirimu itu karena kebaikanmu Tia. Kami tau kau tak bisa mempunyai anak bukan? Kamu mengetahuinya saat kau melakukan operasi usus buntu. Karena Dokter sialan itu tak sengaja merobek rahimmu. Saat kau duduk di bangku SMA. Jika Lucas dan keluarga nya tau apa kau pikir mereka akan membiarkan kau menikah dengan Lucas?" Ucap Budi menatap serius Mutia.


"Lucas akan membujuk keluarganya, Papa. Kami bisa melakukan bayi tabung dan aku yakin itu akan berhasil." Kilah Mutia dengan wajah tak terima.


Ia memang baru tau dua tahun belakangan jika ia tak bisa hamil. Karena ia di vonis mandul tapi ia tak tau jika rahimnya Sobek karena operasi. Ia merasa aneh karena ia sudah sering berhubungan intim dengan Lucas namun ia tak di kunjung hamil. Padahal dirinya tak pernah mengonsumsi obat pencegah kehamilan.


"Rahimmu Sobek Mutia Wijayanto! Kau tak bisa memiliki anak baik itu dengan cara bayi tabung pun. Kau pikir kami tak melakukan banyak upaya agar kau bisa memiliki anak! Tapi tak bisa kami lakukan Mutia!" Jelas Budi putus asa.


"Kami putuskan untuk menukar tempatmu dan Dea agar kau tak terluka. Jika kau bersama Lucas dan dengan 100% kau akan di paksa di madu atau di ceraikan Mutia Wijayanto. Kami tak ingin putri satu-satunya yang kami punya hancur begitu saja. Karena itu kau tak kami biarkan bersama Lucas. Karena kau tau ke dua orang tua Lucas terlihat baik di luar namun kejam di dalam saat mereka merasa terluka. Dan asal kau tau kami tau kau berselingkuh dengan Lucas di belakang Dea selama ini. Namun kami diam bukan karena tak peduli padamu namun kami berpikir kau akan melepaskan Lucas setelah bosan. Namun ternyata kami salah kau begitu gigih bertahan dengan Lucas! " Jelas Ani menatap sendu Mutia.


"Papa mohon lepaskan Lucas! Untuk Dea. Kau bisa mencari lelaki lain Mutia. Lelaki yang bisa menerima ke adaan mu," lanjut Ani lagi.


"Apa Papa dan Mama, pikir akan ada lelaki yang mau menerima wanita cacat ini? Tidak ada Ma! Tidak akan ada Pa! Dan hanya Lucas, yang aku cintai. Walaupun Bunda Dea mengorbankan nyawanya untuk aku. Aku tak peduli semua itu karena nyatanya anaknya mendapatkan semua yang aku inginkan jadi semuanya ku anggap impas dengan kehidupan yang Dea, terima selama ini." Ucap Mutia langsung melangkah pergi meninggalkan kamar inap sang ayah.


Meski Ke dua orang tuanya memanggilnya, Mutia tak peduli. Ia terus melangkah cepat meninggal kan rumah sakit.


Flashback off


"Aku tak mau melepaskan Lucas untukmu. Jika aku tak bisa memiliki anak setidaknya anakmu akan menjadi anakku jika Lucas menikah denganku. Dan untuk itu kau harus pergi bersama Bunda kandungmu." Ucap Mutia dengan tangan mengepal di kedua sisi tubuhnya.

__ADS_1


* * *


Anak berumur enam tahun itu menatap aneh sang Ayah. Bagaimana tidak lelaki imut itu tak ada hentinya mengonsumsi manga muda yang kadar asamnya membuat ke dua pipi Bintang mengembang.


"Kenapa kau melihat Papa, seperti itu Bi?" Tanya Lucas yang menangkap basah sang Putri melihat nya dengan pandangan aneh.


"Tidak ada." Bohong Bintang lalu berdiri dari duduknya di sofa di depan televisi.


Hari minggu merupakan waktu kumpul bagi keluarga kecil itu. Dea datang dengan es krim coklat kesukaan Bintang dan memberikan nya pada tangan Bintang.


"Mama, kenapa dengan Papa di terlihat aneh. Apa mungkin Papa kerasukan setan hamil hinga makan mangga muda." Bisik Bintang pelan di depan Dea.


Mendengar perkataan Bintang, Dea tertawa geli. Ia menatap Lucas yang masih asik menusuk potongan mangga muda dengan garpu dan masukannya ke dalam mulutnya sambil menatap layar televisi dengan serius.


"Sudahlah, tidak usah pedulikan Papa mu. Anggap saja dia Kesambet setan hamil." Ucap Dea mengelus pucak kepala Bintang.


Bintang hanya mendesah pasrah dan menjilat es krim coklat yang sedikit mencair itu. Dea melangkah menuju pagar rumahnya saat bunyi bel terdengar nyaring.


"Mbok! biar aku saja yang buka, itu pasti temanku." Ucap Dea mencegah pembantunya membuka gerbang.


"Baiklah nyonya." Ucapnya lalu melangkah pergi mengerjakan tugas yang sempat tertunda karena bel rumah.


Dea membuka pintu rumahnya. Ia tersenyum lebar saat menatap wajah Imut Hani yang berdiri dengan beberapa bungkus makanan.


"Kak Dea!" Sapa Hani tersenyum penuh semangat.


"Ayo masuk!" Ajak Dea membuka pintu pagar rumahnya dengan lebar.


Dea merasa ada yang memperhatikannya. Ia menatap ke arah jalan. Tak ada siapa-siapa membuat Dea mengangkat bahunya pertanda ia salah kira. Saat Dea masuk ke dalam rumahnya saat itulah lelaki berpakaian serba hitam keluar dari persembunyian nya.


"Hampir saja ketahuan! Untung saja aku sigap. Wang Dea, aku menemukanmu lagi anak manis!" Tuturnya dengan senyum licik.


Ia mengamati rumah besar yang di huni oleh Dea itu dengan pandangan aneh. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan tempat itu sebelum ada yang mencurigainya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2