
Bab 23
__________________________________
.
.
.
.
.
Wajah pucat pasi dengan darah yang merembes dari selangkanya tak membuat Dea berhenti berlari. Setelah lepas dari tali yang di potong oleh lelaki psikopat itu Dea langsung menerjangnya dengan menendang masa depan lelaki itu.
Naas saat Dea kabur perutnya di terhantam ke ujung meja. Hingga membuat darah segar keluar begitu saja. Ia masih berlari menuju jalan keluar dari hutan. Ia harus tetap berlari takut jika lelaki itu bisa mengejarnya setelah apa yang Dea lakukan padanya.
"Woi!!! Berhenti kau sialan!" Benar saja lelaki tua itu mengejarnya.
Dea tak mau menyerah ia harus tetap hidup. Ke dua mata Dea menatap penuh harap saat ia hampir sampai di jalan raya.
"Berhenti!" Seru lelaki itu semakin mendekat.
"Apa yang harus aku lakukan! Tuhan tolong aku." Pinta Dea saat ia tak lagi mampu bertahan.
Matanya berkunang-kunang, ke dua telapak kakinya melepuh karena berlari tampa alas kaki.
Benar saja Tuhan menjawab doa Dea. Kebetulan mobil polisi yang sedang berpatroli berhenti saat berada di depan Dea. Ke dua lelaki berseragam itu turun dari mobil dan melangkah cepat ke arah Dea.
"Pak, tolong saya!" Tutur Dea lirih sebelum ambruk.
Beruntung lelaki berumur empat puluhan itu cepat menangkap tubuh Dea yang tumbang. Sedangkan lelaki gila itu bersembunyi di balik semak-semak belukar.
"Sial." Umpatnya saat melihat ke dua orang abdi negara itu membawa tubuh Dea ke dalam mobil.
Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat. Sedangkan di tempat lain lelaki berdarah campuran itu menatap sang Ibu dengan pandangan memohon.
"Mama pasti tau kemana Dea berada. Aku mohon tolong kembali kan Dea, Ma." Pinta Kris dengan wajah memelas.
__ADS_1
Sedangkan Chandra hanya menatap Ibu dan anak itu dengan wajah tak dapat di gambarkan. Wanita paru baya yang masih cantik di umur yang tak lagi muda itu terlihat masih bungkam.
"Dia adik ku, Ma! Itu semua salah Papa tak ada hubungannya dengan Dea. Aku mohon! Hanya Mama yang bisa membujuk paman itu untuk melepaskan Dea!" Tutur Kris lagi.
"Mama tak ada hubungannya dengan penculikan Dea. Dan kau jelas tau Mama tak tau apa pun tentang wanita itu. Dan berhenti seperti ini Kris! kau terlihat menyedihkan." Jawab Susan lalu berdiri dari duduknya melangkah meninggalkan ruangan tamu masuk ke kamarnya.
Chandra mendesah resah, ia tau jika Bibinya itu keras kepala. Hampir sama dengan Kris sang sepupunya. Chandra melangkah mendekat dan menepuk bahu Kris pelan.
"Kita pasti akan menemukan Dea. Dia pasti baik-baik saja kau tak usah khawatir." Tutur Chandra pelan meski tak yakin dengan apa yang ia ucapkan. Chandra tak ingin penyakit Kris bertambah parah.
* * *
Ke dua mata bulat bening itu terbuka perlahan. Saat ke dua matanya terbuka wajah khawatir lelaki imut itu pertama kali terlihat. Wajah itu terlihat begitu khawatir dengan penampilan yang semerawut.
"Kakak!" seru Dea pelan.
"Ya, aku di sini." Jawab Lucas menyentuh wajah Dea perlahan.
Lucas langsung menuju ke Rumah Sakit pinggir kota saat mendapatkan kabar bahwa wanita dengan ciri-ciri seperti Istrinya di temukan di pinggir hutan. Lucas bersyukur karena kembali melihat wajah Dea. Namun di samping itu ia merasa miris dengan ke adaan sang Istri.
Lucas langsung membawa Dea menuju Rumah Sakit mewah di Jakarta detik dan jam itu juga. Lucas bahkan memberikan penjagaan ketat di luar pintu ruangan rawat Dea.
"Jakarta Hospital, apa kau lapar?" Tanya Lucas membelai rambut Dea pelan.
"Berapa lama aku tak sadarkan diri?" Tanya Dea lagi melihat ke arah sekelilingnya.
"Satu hari. Apa ada yang sakit jika ada katakan agar aku bisa memanggil Dokter agar kesini." Tutur Lucas lagi menatap ke dua bola mata hitam itu.
Dea merasa ada yang aneh dengan Lucas. Karena di seolah-olah menghindar dari apa yang ingin Dea tanyakan. Dea menurunkan tangannya ke arah perut ratanya. Tunggu! Dea merasakan perutnya rata tampa ada daging yang menunjol di sana. Dan ia juga merasakan nyeri di sana.
Telapak tangan Dea masuk ke dalam baju pasien yang dia pakai. Perutnya ternyata di perban jantungnya mulai berdegup kencang. Ia bahkan kesulitan bernafas ia meraba lagi dengan pelan.
Tiba-tiba saja pergerakan tangannya di berhentikan oleh cekalan tangan Lucas. Wajah lelah lelaki imut itu tertunduk. Dea terdiam dengan pandangan kosong.
"Dia......"
"Maafkan aku, De! Aku gagal melindunggimu dan juga dia. Maafkan aku!" Tutur Lucas dengan suara serak.
Ke dua sudut mata Dea mengeluarkan kristal bening dengan deras. Lucas mengigit bibir bawahnya keras. Matanya memanas ia tau pada akhirnya Dea juga akan tau. Lebih cepat dari dugaannya, lelaki imut itu masih ingat apa yang di katakan Dokter.
__ADS_1
Ketika wanita itu di pindahkan ke Rumah Sakit megah itu. Ia langsung di giring masuk ke dalam ruangan operasi. Dan dengan teganya Dokter mengatakan Lucas harus menandatangani surat pengakatan janin yang telah memiliki detak jantung itu.
Karna kondisi janin yang telah mati saat di perjalanan. Agar kondisi Dea tak memburuk dengan berat hati Janin Dea harus di angkat. Dengan tangan bergetar lelaki itu terpaksa menandatangani surat izin Operasi itu.
Keduanya menangis dalam ke adaan diam. Tak ada raungan di ruangan megah itu. Lucas melepaskan cekalan tangannya di pergelangan tangan Dea. Ia menundukan tubuhnya memeluk Dea. Ia tau istrinya terluka sama halnya dengan Lucas sendiri.
Ibu mana yang tak akan terpukul kehilangan buah hati. Ke dua tangan Dea bergetar memeluk tubuh Lucas dengan erat. Di ambang pintu Budi dan Ani menatap nanar pada ke dua suami istri itu.
Ani menutup pintu rawat itu kembali dengan perlahan. Ia menarik tangan Budi meninggal kan ruangan Dea. Ia tau ke duanya butuh waktu, ia dan Budi baru mendapatkan kabar ke adaan Dea.
Di lain tempat wanita cantik itu menatap lelaki berwajah Anime itu dengan pandangan tak mampu di baca oleh siapa pun. Entah apa yang tengah wanita itu pikirkan dan ia rasakan. Hanya wanita cantik itu dan tuhan yang tau.
"Apa kabar Kak? Ah, tidak seharusnya aku memanggilmu Nona Wijayanto sekarang bukan?" Ucapnya sinis.
"Ya, tentu saja. Aku baik-baik saja, lalu bagaimana dengan mu, Bara?" tutur Mutia dengan wajah tenang.
"Ah, makudku Dokter Bara," ralat Mutia dengan cepat.
Ke duanya duduk saling berhadapan di Cafe di dalam Rumah Sakit megah itu. Bara tersenyum sinis mendengar perkataan Mutia mantan gadisnya dulu. Gadis yang pernah begitu berharga baginya. Hingga membuat seorang Bara Dirgantara tergila-gila.
Namun siapa sangka semuanya telah berubah. Ia membenci Mutia Wijayanto, setelah apa yang gadis itu lakukan dulu. Dimana ia di jadikan lelaki ke dua dan di mafaatkan dengan hebatnya oleh gadis itu.
"Tentu aku juga baik setelah penghinananmu dulu Nona Wijayanto," jawab Bara dengan wajah dingin.
"Aku tak menyangka kita bisa kebetulan bertemu di Rumah Sakit ini. Dan aku sering kesini karna adik ku beberapa kali masuk ke Rumah Sakit ini. Tapi aku tak pernah bertemu dengan Anda Dokter Dirgantara, siapa sangka kita malah bertemu di Cafe ini bukan di Rumah Sakit." Tutur Mutia dengan menyesap coffi hangat yang tak lagi hangat karna ia dan Mutia melakukan aksi saling tatap dengan pemikiran masing-masing lebih dulu.
Bara tertawa sumbang dan sedikit senyum remeh sebagai penutupannya.
"Aku terlalu sibuk hingga tak bisa memiliki takdir buruk bertemu denganmu. Dan ngomong-ngomong soal adik mu, aku dengar kau bermain api dengan suaminya. Dan yah! Kau masih pemain yang handal hinga mengkhianati adik mu sendiri." Tutur Bara semgaja menyinggung Mutia lalu berdiri dari duduknya.
"Aku harus kembali bekerja." Pamit Bara dengan senyum menyerigai.
Ke dua tangan Mutia mengepal di bawah meja. Saat lelaki itu akan melangkah ia membalikan tubunya menatap wajah merah padam Mutia.
"Ah! Aku lupa mengatakan sesuatu padamu. " Ucap Bara santai. "Aku menyukai adik mu tapi sepertinya aku akan merebunya dari lelaki yang kau Cintai. Jika kau ingin bergabung denganku akan aku terima. Karna sepertinya Kau dan Lucas itu cocok bersama. Karna sama-sama seorang pengkhianat dan aku bersama Dea. Kami sama-sama tulus namun di lukai dengan cara yang menjijikan." Ucap Bara dengan nada menyindir. Lagi!
Lalu ia melangkah pergi begitu saja tampa mendengar jawaban Mutia. Wanita cantik itu menatap punggung belakang Bara dengan mata memerah.
"Awas kau Bara Dirgantara! Sialan!" Maki Mutia di dalam hatinya.
__ADS_1