
Bab 28
--------------------------------
"Sungguh! Aku benar-benar mencintaimu dan melupakan dia yang pernah bertahta di hatiku. Hanya kaulah Ratu di hati dan hanya kau satu-satunya."
~Lucas Sandoro~
.
.
.
.
.
Matahari terbenam di ufuk barat. Langit di atas kota Jakarta terlihat berwana jingga. Jari telunjuk tangan Wanita cantik itu tak mau diam. Bunyi ketukan kayu dengan jari telunjuk terdengar jelas. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh ibu muda satu anak itu.
Helaan napasnya terdengar sangat pelan. Ia duduk di kursi ruangan kerja sang suami. Waktu menunjukan pukul enam sore, itu berarti satu jam lagi Lucas akan pulang dari kantor. Namun Dea masih engan beranjak dari kursi ke besaran sang suami.
KLIK !
"Mama! Aku lapar." Adu Bintang yang masuk ke dalam ruangan dengan suara sedikit merengek.
Dea langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk. Dimana sang putri masih berdiri di sana. Ketukan jari tangan Dea terhenti, ia tersenyum dan berdiri dari duduknya. Kaki jenjangnya melangkah mendekati sang putri.
"Tuan putri telah lapar ternyata." Balas Dea membelai puncak kepala Bintang pelan penuh dengan kasih sayang.
Bintang menganggukkan kepala nya. Dea terkekeh kecil, melihat betapa mengemaskan nya sang putri.
"Kalau begitu ayo ke dapur, Mama akan membuat udang tepung kesukaan Bintang." Ucap Dea bersemangat dan menarik tangan Bintang menuju ke arah dapur.
Bintang tersenyum lebar, ia dengan senang hati melangkah bersama Dea ke arah dapur. Dea memang memiliki banyak pembantu di rumah besar itu. Namun untuk masalah makanan, ia akan memasaknya sendiri untuk keluarganya.
Sedangkan di lain tempat, lelaki berdarah Cina campuran Indonesia itu menatap laju kendaraan di bawah gedung tinggi. Bau obat-obatan tercium jelas, wajahnya terlihat semakin hari semakin pucat.
"Kris! Apa kamu lapar?" tanya sang Ibu dengan lembut.
Kris kebalikan tubuhnya agar bisa menatap wajah yang terlihat mengerut itu. Kris melangkah mendekati sang Ibu. Ia memeluk tubuh Susan dengan erat. Susan membalas pelukan sang putra tak kalah eratnya.
"Jangan pernah menyalahkan siapa-siapa atas apa yang terjadi Ma! Aku berharap Mama akan menerima Dea sebagai putri Mama. Karena dia juga adik ku yang tak bisa di akui oleh Papa!" ucap Kris masih dalam ke adaan memeluk tubuh Susan
"Ya, Mama tak akan menyalahkan siapa-siapa. Mama akan menerima Dea namun dengan satu syarat," tutur Susan dengan nada pelan.
Kris melepaskan pelukannya dan menatap Susan dengan pandangan intens.
"Maka sembuh lah. Akan Mama kabulkan apa pun yang kau mau. Termasuk memasang mama Wang, di belakang nama Dea," lanjut Susan lirih.
Kris tersenyum pahit, ia tak punya banyak waktu lagi. Kanker otak yang ia derita telah masuk di tahap akhir. Dan ia mengetahui terlambat, sangat terlambat. Sehingga baik itu kemoterapi atau pun operasi tak akan ada guna nya lagi.
"Ya. Aku akan sembuh, Mama!" Jawab Kris dengan menampilkan senyum hangat.
Setidaknya, ia akan memberikan sedikit harapan untuk sang Ibu. Ia tak ingin melihat Ibu hancur dengan kenyataan yang ada. Sudah cukup sang Ayah saja yang hancur mengetahui penyakitnya yang tak bisa di sembuhkan lagi.
__ADS_1
Susan tersenyum dan membelai pipi tirus Kris. Di balik pintu kamar ruangan Inap Kris, lelaki tinggi sempai itu menutup pintu kamar itu perlahan. Ia merasa perasaan sedih, mendengar percakapan Ibu dan anak itu.
Saat ia membalikan tubuhnya ternyata tuan Feng, suami dari Bibinya itu berdiri di belakang tubuhnya. Tuan Feng menghela napas letih. Chandra tau jika suami sang Bibi sekaligus Ayah kandung dari Dea itu juga terpuruk. Namun lelaki Cina itu tak menampakan nya.
"Apa Paman baru datang?" sapa Chandra berbasa-basi.
"Ya, kau tak masuk?" ucap Feng yang berbalik bertanya.
"Ah? Aku nanti saja masuk Paman. Karena sepertinya Kris mau berbicara secara pribadi dengan Tante," ucap Chandra agak canggung.
Bagaimana tidak, ia dan suami sang Bibi jarang bertemu. Dan jika bertemu mereka hanya berbicara sedikit saja. Beda halnya dengan Kris, mereka besar dan tumbuh bersama. Mereka berdua menjadi sepupu sekaligus Sahabat. Dan Lucas merupakan bagian dari mereka berdua.
Namun persahabatan mereka runtuh saat Lucas menikah dengan Dea. Kris mulai tak menyukai Lucas sejak saat itu. Dan entah kenapa Kris kembali ke Cina dengan beralasan jika perusahaan sang Ayah tengah membutuhkannya. Ia meninggalkan Hotel yang Chandra dan dirinya kelola dari nol.
"Oh. Begitu ternyata." Angguk Feng mengerti.
* *
Suami istri itu tengah bersantai di teras yang terletak di belakang rumah besar itu. Dea perlahan menyesap coklat hangat dengan perlahan. Lucas hanya memperhatikan wajah cantik Dea yang diterangi oleh sinar rembulan malam.
Waktu sudah menunjukan pukul dua belas malam. Namun ke duanya terlihat belum mengantuk. Setelah menemani Bintang tidur, bersama Lucas. Ke duanya memutuskan untuk bersantai di teras belakang di temani dua cangkir coklat hangat.
Dea meletakan perlahan gelas di atas meja di depan kursi yang mereka duduki. Kepala Dea di sandarkan di bahu Lucas. Lelaki berwajah imut itu mengembangkan senyumannya. Tangan kanannya merapatkan tubuh Dea padanya. Ke duanya memakai baju hangat untuk menghalau udara dingin di malam hari.
Mata Dea menatap lurus ke arah hamparan bunga Lily ke sukaannya yang sengaja ia tanam. Bunga itu terlihat tumbuh begitu subur. Tak ada suara yang keluar dari bibir ke duanya. Hanya helaan napas yang terdengar teratur. Seakan mereka hanya ingin menikmati sunyi malam dengan mendengarkan detak jantung masing-masing.
"Kak Lucas!" panggil Dea yang lama terdiam menatap bunga Lily tampa memutuskan padangannya dari hamparan bunga putih itu.
"Hem, ada apa?" tanya Lucas dengan gumaman di awal perkataannya.
"Apa Kakak sudah mencintaiku?" Tanya Dea dengan wajah menegadah guna melihat ekpresi wajah Lucas.
Dea mengebangkan senyumanya. Melihat ke sunguhan di wajah Lucas. Lelaki itu menoleh kan wajahnya ke arah samping kanan sedikit tinggi dari wajah Dea. Lelaki imut itu tersenyum lebar, membuat ke dua sudut bibir Dea semakin tertarik ke atas.
"Tapi sayangnya aku masih berada di tempat yang sama dengan mu, Dea Amelia Wijayanto!" seru sebuah suara yang berasal dari belakang tubuh ke duanya.
Dea dan Lucas langsung menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ke duanya saat melihat Mutia berdiri di pintu pembantas teras belakang dan ruangan dapur.
Lucas dan Dea berdiri dari duduknya dan menghadap ke arah Mutia. Gadis cantik itu tersenyum licik ke arah Dea. Ia melangkah mendekat dan berhenti empat langkah dari tempat Lucas dan Dea berdiri.
"Bukankah begitu Lucas sayang?" Tanyanya dengan senyum evil.
Kepala Dea langsung mendongkak guna melihat ekpresi wajah Lucas yang lebih tinggi darinya. Lucaz terdiam mendengar perkataan Mutia. Ia terlihat memandang Mutia dengan pandangan lurus tampa berkedip.
Ulu hati Dea terasa begitu nyeri melihat diam Lucas dan cara lelaki itu memandang Mutia.
"Kak Lucas!" panggil Dea.
"Jawablah sayang. Jangan membuat Dea khawatir seperti itu." Ucap Mutia dengan senyum menyerigai.
Lucas menoleh ke arah Dea. Wajah Dea terlihat melukiskan perasaan terluka. Lalu Lucas kembali menatap ke arah Mutia berdiri. Lucas melangkah mendekat ke arah Mutia. Tubuh Dea terasa kaku seketika.
"Tidak! Aku mencintaimu namun tempatmu lebih besar dari aku mencintai Dea!" Ucap Lucas tersenyum lebar saat ia berada di samping tubuh Mutia.
Dea mencolos mendengar pengakuan Lucas. Lelaki itu membalikan tubuh Mutua hinga menghadap ke arahnya langsung mengecup bibir Mutia dengan cepat.
__ADS_1
"TIDAK !!!!"
Teriak Dea bangun dari tidurnya. Tubuhnya mandi keringat dengan napas memburu. Mimpi yang Dea rasakan begitu nyata. Dea perlahan mencoba menetralkan degup jangtungnya yang berpacu dengan cepat. Ia menatap samping rajang di mana tak ada tubuh Lucas di temukan.
Perasaan langsung terasa tak enak. Ia turun dari ranjang dan melangkah keluar dari kamarnya. Ia berjalan dengan cepat menuju ruangan kerja Lucas. Namun ia juga tak menemukan ke beradaan Lucas.
Dea panik. Tidak lebih tepatnya sangat panik, ia mengeledah semua rungan di dalam rumahnya. Namun masih tak menemukan tubuh Lucas. Dea ambruk kelantai dingin dengan terisak pelan. Ia terisak di depan ruangan tamu.
Ia merasa mimpi yang ia dapat adalah sebuah pertanda bahwa Lucas akan meninggalkannya. Ia mencintai Lucas, ia sangat-sangat mencintai lelaki itu. Ia merasa Lucas menjadi napasnya. Ia bergantung banyak hal pada lelaki itu.
"Dea!" Sebuah suara dari belakang tubuh Dea membuat ke dua mata Dea yang telah memerah menatapnya dengan pandangan terluka.
Lelaki berpakaian formal itu melangkah cepat dan membuang semarangan tas kerjanya. Ia dengan cepat merangkuh tubuh sang Istri masuk ke dalam pelukanya.
"Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang terjadi eoh?" Tanya Lucas panik.
Bagaimana tidak panik? Baru saja ia pulang dari kantor. Tubuh dan pikiran Lucas begitu letih karna lembur menyelesaikan proposal untuk tender berikutnya. Saat sampai di depan ruangan tamu ia malah melihat De menangis bersimpuh di lantai.
Tak ada Jawaban dari bibir Dea. Wanita yang telah melahirkan seorang putri cantik untuk lelaki itu hanya mengeratkan pelukannya di tubuh Lucas Seakan ia takut jika ia melepaskan pelukanya maka Lucas akan pergi meninggalkan dirinya.
Lucas menepuk-nepuk pungung belakang Dea pelan. Ia tau jika bukan saatnya ia untuk bertanya melihat ke adaan Dea. Entah sudah berapa menit mereka berpelukan. Dea tertidur dalam pelukan Lucas.
Lucas tersenyum menyadari jika Istri cantiknya tertidur di pelukanya setalah puas menangis. Lucas mengendong tubuh Dea menuju kamar ke duanya.
🍁 🍁 🍁
Lucas berlari menaiki anak tangga dalurat di perusahannya menuju atap gedung. Ia terasa mau gila saja saat menerima pesan dari gadis yang pernah berhubungan gelap dengannya.
Pintu penghubung atap terbuka dengan kasar hinga membuat bunyi gaduh. Di pembatas atap terlihat gadis cantik berpakain formal itu membelakanginya. Lucas berlari mendekati gadis itu. Dengan kasar Lucas membalikan tubuh gadis itu menghadap ke arahnya.
"Apa maksud dari pesan mu Mutia Wijayanto!!" Teriak Lucas dengan wajah merah padam.
Mutia tersenyum penuh kemenangan melihat wajah emosi Lucas.
"Tidak ada. Aku hanya ingin memberi tau padamu jika dia hidup di dalam sini." Ucap Mutia santai mengusap perutnya yang masih rata.
Lucas tersenyum sinis melihat wajah Mutia yang begitu mengesalkan di matanya.
"Jangan berbohong Mutia Wijayanto. Aku tak pernah lagi menidurimu bagaimana bisa kau hamil," ucap Lucas dengan keyakinan penuh.
"Ah itu. Baiklah kita akan lihat bagaimana ekspresi mu melihat video ini." Ucap Mutia dengan jari tangan bermain di layar ponsel yang ia gengam.
Ting !
Satu pesan masuk ke dalam Ponsel Lucas. Lelaki imut itu merogoh saku jas kerjanya. Ia menatap pesan video yang Mutia kirimkan. Tanganya menekan tombol Play, suara desahan serta rintihan terdengar jelas di telingga ke duanya.
Tubuh Lucas kaku seketika melihat jika dirinya melakukan hal itu lagi pada Mutia.
"Kau lupa? Saat itu kau mabuk berat karna kehilang Dea. Dan kau tau? Kau melakukannya denganku. Kau mendesahkan nama Dea. Ya, aku akui aku terluka. Namun tak masalah jika itu menghasilkan hal berharga bagiku." Ucap Mutia tampa rasa malu.
Mutia tersenyum menyerigai. Melihat Ponsel mahal itu terjun bebas dari tangan Lucas. Hingga membuat ponsel mahal itu terbelah dua karna saking kerasnya membentur lantai.
"Dan bagaimana jika Dea melihat dan mendengar desahan sexsimu sayang." Ledek Mutia dan melangkah meninggal kan Lucas dengan wajah pias.
Lucas ampruk kelantai atap dengan posisi berlutut. Ia menimju lantai yang terbuat dari semen kasar itu dengan kuat. Tak peduli kepalan tangan kanannya mengeluarkan darah segar. Ia tetap memukul lantai.
__ADS_1
Di balik tempat tersembunyi lelaki dengan pakain serba hitam dan masker, tersenyum puas. Rencana pertamanya berjalan mulus dan ia suka itu. Di tambah teriakan frustasi dan marah terdengar jelas di telinganya.
"Sama-sama penghianatan ! Cukup pantas bersama." Sinisnya lalu melangkah keluar dari persembunyiannya.