Momy? I'Am!!

Momy? I'Am!!
Chapter 32


__ADS_3

32


-----------Selamat membaca-----------


"Kau dan aku di persatuan Oleh takdir yang telah lama terikat. Mungkin kau lupa akan benang merah yang telah kau ikat sendiri padaku. Namun aku tak pernah melupakannya."


~Dea Amelia Wijayanto~


.


.


.


.


Anak lelaki berumur tiga belas tahun itu menyisir jalanan di gang rumahnya. Tak jauh dari dirinya berdiri, ke dua indra pendengarannya bisa menangkap bunyi tangisan. Ia berlari mendekati gadis kecil berumur delapan tahun itu.


Gadis cantik bergaun putih dengan renda di ujungnya terlihat tengah menangis. Ia menangis di karenakan terjatuh dari atas pohon mangga.


"Ada apa kenapa kau menangis?" Tanya sang anak lelaki itu menekukkan kakinya guna menyamakan tingginya dan sang gadis kecil.


Anak kecil itu mendongak menatap wajah imut sang lelaki yang tengah terlihat khawatir.


"Kakiku terluka Kak, dan aku tak bisa menyelamatkan kucing kecil itu." Tunjuk nya pada lutut kakinya yang terluka dan juga pada dahan pohon.


Di atas sana terlihat ada anak kucing yang terlihat ketakutan. Ia bisa naik namun tak bisa turun. Awalnya gadis kecil itu hanya ingin melihat pohon mangga yang sedang berbuah. Namun melihat ada anak kucing yang ketakutan ingin turun. Ia menjadi kasihan dan ingin menolong.


Namun niat baiknya tak berbuah baik, ia malah terpleset saat akan memanjat hinga tempurung lutut kakinya lecet mengeluarkan darah. Lelaki yang duduk di bangku SMA itu tersenyum melihat betapa menggemaskannya gadis kecil itu.


"Kakak akan menolongnya dulu dan baru akan mengantarkan mu pulang." Ucapnya.


Langsung saja ia memanjat pohon yang tidak terlalu tinggi itu. Ke dua mata bulat bening sang gadis kecil itu terlihat kagum pada lelaki yang tua enam tahun darinya itu. Ia tersenyum lebar saat tangan lelaki itu menggapai tubuh kucing malang itu. Ia bahkan melupakan rasa sakit dari kakinya yang terluka saat melihat anak lelaki itu membawa turun kucing itu.


"Wah! Kakak hebat. Terimakasih Kak telah menolong Kucing lucu ini." Ucapnya menerima uluran Kucing dari lelaki bernama Lucas Sandoror itu.


"Sama-sama adik manis. Oh iya! Siapa nama mu, hem!" tanya Lucas yang terlihat semakin gemas melihat gadis kecil itu mengelus kepala kucing kecil yang berwarna abu-abu itu.


"Dea. Namaku Dea Amelia Wijayanto, nama Kakak siapa?" tanya Dea pada Lucas.


"Lucas. Tunggu! Siapa nama mu tadi?" ulang Lucas yang merasa tak asing dengan  nama anak gadis manis di depannya itu.


"Dea!" jawabnya singkat.


"Kau anaknya Tante Jenni?"" tanya Lucas terdengar ragu-ragu.


"Iya, tapi bagaimana bisa Kakak tau nama Mamaku?" Tanya Dea penasaran seketika menghentikan laju elusan nya pada kepala Kucing kecil itu.


"Mama mu dan Mama ku, tengah mencari keberadaan mu. Ayo cepat pulang !" Ucap Lucas pada Dea.


"Jadi Kakak anaknya Bibi Santi?" Kini giliran Dea yang bertanya.


Lucas mengangguk, lelaki imut itu merasa lega. Pasalnya, Ibunya dan Ibu si gadis kecil itu tengah kalang kabut mencarinya. Lucas yang baru sampai rumah saja langsung ikut membantu mencarinya.


Ia dengar dari sang Ibu jika Dea adalah gadis yang cukup hiperaktif jadi sering tak terkontrol. Meski ia tak tau wajah Dea, ia hanya mengandalkan warna gaun yang di sebut oleh Sang Ibu. Lucas baru menyadari jika baju yang anak gadis di depannya itu memakai gaun berwarna putih.


"Tapi Kucing ini bagaimana?" Tanya Dea pada Lucas.


"Ah! Kucing itu milik tetanggaku. Jadi tenang saja nanti akan aku berikan. Kita bawa pulang dulu saja." Ucap Lucas.

__ADS_1


Dea mengangguk kepalanya pertanda setuju. Namun saat Lucas akan melangkahkan kakinya Dea meringis kesakitan.


"Ada apa?" Tanya Lucas menoleh kebelakang ke arah Dea.


"Kakiku sakit." Jawab Dea manja.


Lucas tersenyum geli melihat tingkah Dea. Ia berjongkok di depan Dea.


"Naiklah ke punggung ku, kaki mu pasti masih sakit bukan?"


Dea dengan senang hati naik ke punggung Lucas. Ke dua tangannya di kalung kan ke leher Lucas dengan masih mengendong sang kucing kecil. Dan kakinya di bilit kan ke pinggang Lucas.


Lucas langsung melangkah menjauhi dari tempat ke duanya berada.


"Kak!" panggil Dea.


"Ya, ada apa?" Tanya Luca pelan.


"Kenapa Kakak terlihat sangat keren sekali?" tanya Dea yang membuat rona merah di ke dua pipi Lucas.


Dea adalah anak perempuan pertama yang berkata demikian padanya. Karena biasanya perempuan akan mengatakan dia imut. Dan Lucas benci akan hal itu.


"Be.. Benarkah?" tanya Lucas yang agak grogi.


"Ya." Jawab Dea mantap.


Meski Dea baru berumur delapan tahun. Namun karena ia tinggi, ia terlihat berumur sebelas tahun. Rambutnya panjang, mata bulat bening, bibir merah merekah dan hidung mancung. Ia terlihat seperti boneka berjalan. Sangat cantik seperti ibunya masa muda.


Keturunan Wijayanto memang terlahir sempurna. Seperti Pamannya Budi Wijayanto yang terlahir begitu tampan bak dewa yunani kuno. Namun matanya begitu tegas dan menakutkan. Membuat banyak lawan tak berkutik hanya sekali tatap olehnya. Dan Jenni Wijayanto Ibunya, tak bisa di katakan lagi kecantikan bak bonekanya.


Saat muda ke dua anak dari keluarga Wijayanto itu selalu menjadi bintangnya di mana pun keduanya berada. Tak satu pun yang bisa menolak pesona kecantikan dan ketampanannya. Hingga kecantikannya menurun pada Dea dan Juga Mutia tentunya.


"Jika aku sudah besar nanti maukah Kakak menikah denganku? Aku akan tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Dan akan aku pastikan akan menjadi Istri Kakak Lucas!" ujar Dea dengan tak tau malunya.


"Apa Kakak tak mau menikah dengan aku suatu saat nanti?" Tanya dengan polos.


Belum sempat Lucas menjawab suara dua orang wanita cantik berlari mendekati nya dengan wajah panik.


"Dea!!" Seru ke duanya.


Lucas menurunkan Dea dengan perlahan di bantu Santi dan Jenni.


"Kenapa kau bisa terluka?" Tanya Jenni panik melihat lutut sang putri berdarah.


"Ia terluka karena ingin memanjat pohon untuk menolong kucing yang ia bawa itu Tante!" Jawab Lucas.


"Astaga, Dea kau begitu berhati baik sama seperti Mama mu saat muda." Tutur Santi kagum melihat Dea.


Namun wajah Dea kecil terlihat sedih. Membuat Santi dan Jenni heran.


"Ada apa sayang kenapa kau sedih begitu? Apa lukanya masih sakit?" Tanya Jenni pada putrinya.


Dea mengeleng kan kepalanya. Lucas dan Santi hanya menatap Dea dengan wajah berbeda ekspresi.


"Lalu kenapa?" Kini gilira Santi yang bertanya pada anak sahabatnya itu.


"Aku meminta Kak Lucas menikah dengan ku saat aku sudah besar nanti tapi sepertinya Kakak Lucas tak mau dengan ku, Bibi!"" Ucap Dea membuat ke dua wanita dewasa itu terdiam.


Sedangkan Lucas menatap Dea dengan wajah memerah. Ia cukup tau apa maksud dari perkataan Dea. Beda halnya dengan Dea bukan?  Lucas tau jika Dea akan tumbuh menjadi gadis cantik suatu saat nanti. Bahkan Lucas berani bertaruh Dea akan tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.

__ADS_1


Ke dua wanita dewasa itu tertawa terpingkal-pingkal mendengar penuturan Dea. Sedangkan Dea memasang wajah masam dan cemberut. Lucas mengeleng kan kepalanya melihat ke dua Wanita dewasa itu.


"Astaga! Jadi karena itu Dea merasa sedih?" Tanya Santi setelah mengontrol tawa nya.


"Kenapa Dea mau menikah dengan Kakak Lucas?" Kini giliran sang Ibu yang bertanya setelah mampu mengontrol tawanya.


"Kakak Lucas keren, Dea akan merasa aman jika Kakak Lucas bersama Dea. Karena Kak Lucas adalah pahlawan Dea. Dea ingin mempunyai suami yang akan selalu melindungi Dea nantinya. Karena Dea tak punya Papa yang melindungi Dea. Jadi Dea ingin Kakak Lucas yang akan melindungi Dea!" Jawab Dea begitu jujur.


Jenni terasa tertohok dengan jawaban dari sang putri. Sedangkan Santi menatap Iba ke arah Dea. Lucas hanya menyeringgit heran menatap ke arah Dea.


"Oke!! Kalau begitu Bibi berjanji akan membuat Kakak Lucas menjadi suami Dea. Apa pun yang terjadi Lucas akan hanya menjadi suami Dea!" Janji Santi kepada Dea.


Jenni menatap Santi dengan ke dua mata berkaca-kaca. Ia merasa terharu dengan apa yang sahabatnya janjikan pada sang Putri.


"Kak Lucas akan menjadi suami mu nanti jadi jangan bersedih." Kini giliran Lucas yang angkat bicara.


Dea mengembangkan senyumannya begitu lebar. Ia menyeret kakinya lebih dekat dengan Lucas.


"Janji !" Ucap Dea menyodorkan jari kelingkingnya pada Lucas.


"Ya, janji!" Ucap Lucas mengaitkan jari kelingkingnya pada Dea.


Santi dan Jenni tersenyum haru. Jenni menyeka air matanya dan tersenyum melihat betapa lucunya anaknya dan Putra dari Sahabat nya.


Ke dua mata bulat itu terbuka perlahan. Ia mengusap air yang melekat di kedua sudut matanya. Ia memimpikan hal yang sama lagi. Dea tak tau apa itu adalah memori lamanya atau hanya mimpi aneh saja.


"Apa kau sudah sadar Dea?" Suara serak basah itu membuat lamunan Dea buyar.


"Aku ada dimana, Kak?" Tanya Dea pada Chandra yang telah berdiri di ranjang Rumah Sakit.


"Kini kita berada di rumah sakit Jakarta Hospital tempat di mana Lucas di rawat juga." Jawab Chandra lalu duduk di bangku di samping ranjang.


"Dimana Bintang, Kak?" Tanya Dea dengan wajah panik.


"Tenang saja, Bintang ada bersama sekretaris ku. Aku tak mengatakan keberadaanmu pada siapa pun. Dan aku ingin memberikan kau dan Lucas kesempatan terakhir. Jika hatimu masih tak bisa menerima Lucas setelah melihat ke adaannya maka aku tak akan menghalangi jika kalian ingin bercerai." Tutur Chandra.


Dea hanya terdiam mendengar perkataan Chandra. Entah kenapa hatinya masih tak siap berpisah dengan Lucas. Ia mencintai Lucas sangat dalam.


"Bagaimana dengan janinku apa dia baik-baik saja?" Tanya Dea pelan.


"Ya, dia baik-baik saja. Kata Dokter ia adalah janin yang kuat." Ucap Chandra.


Dea mendesah letih, ia berusaha sekuat mungkin mungkin untuk tetap bertahan. Demi Bintang dan janin yang ia kandung.


☔☔☔


"Berbicaralah pada Lucas, aku berharap ia akan membuka ke dua matanya saat mendengar suara mu." Ucap Chandra berdiri di samping Dea.


Ke duanya masuk ke rumah Lucas di saat jam malam. Dimana ke dua orang tua Lucas di minta pulang oleh Chandra. Dengan alasan ia akan menjaganya untuk malam ini. Dan ke dua orang tuanya setuju karna telah di paksa oleh Chandra dengan berbagai alasan.


Tak ada Jawab dari bibir Dea. Chandra keluar dari ruangan rawat Lucas. Dea melangkah mendekat ke arah ranjang. Ia meraih pergelangan tangan Lucas.


"Jika kau yang berkhianat tapi kenapa aku yang di hukum? Seharusnya kau yang di hukum Kak. Kenapa harus aku yang merasakan hukuman melihatmu seperti ini?" ucap Dea dengan suara jauh ke dalam tengorokan karena akan menangis.


"Aku bodoh! Seharusnya aku bahagia melihatmu seperti ini. Tapi kenapa rasanya begitu sakit, Kak?" Ucap Dra lagi.


Ia menangis keras di dada bidang Lucas. Sakit hatinya begitu tak tertahankan. Melihat Lucas terbaring dengan alat detak jantung dan selang infus membuat hati Dea remuk. Menatap wajah tirus dan pucat itu membuat seakan udara menipis di dekatnya.


SREAK !

__ADS_1


"Dea!" Seru sebuah suara ketika pintu ruangan rawat di geser.


Dea langsung membeku ketika mendengar namanya di sebutkan. Ia mengenal betul suara siapa itu. Dea secara perlahan menegakan kepalanya menatap wajah orang yang berdiri di ambang pintu masuk.


__ADS_2