Momy? I'Am!!

Momy? I'Am!!
Chapter 34


__ADS_3

34


---------Selamat Membaca----------


"Ketika kau mencintai seseorang dengan segenap jiwa dan Ragamu. Dan kau di kecewakan dengan menorehkan luka di hatimu. Kau akan memberikan dia kesempatan ke dua bahkan ketiga. Bodoh ! Mungkin, karena Cinta Memang membuat Otak menjadi tak bekerja dan hatilah yang mengambil alih fungsi Otak."


~Dea Amelia Wijayanto~


.


.


.


.


.


.


.


.


Lucas menggerjab ke dua matanya berkali-kali. Ke dua iris matanya menyapu ke segala isi ruangan. Tak ada penampakan Dea di ruangan mewah itu. Lucas seketika panik, ia mencabut selang infus yang menancap ke dalam nadi tangan kanannya. Ia meringis saat mencoba turun dari ranjang.


Ia tak menghiraukan darah segar mengalir dari pergelangan tangannya.  Akibat mencabut jarum infus dengan paksa. Ia turun dengan perlahan, tak ada tenaga yang ia miliki. Namun ia tetap memaksa untuk turun.


BRUK !


Bunyi tubuh Lucas jatuh cukup keras. Membuat wanita yang tengah berada di kamar mandi keluar dengan cepat. Seketika ke dua matanya membulat sempurna melihat Lucas terjatuh di lantai meringis.


"Kakak!" Teriaknya kesal namun terselip ke khawatir di Suaranya.


Lucas mendongak melihat wajah wanita yang ingin ia cari sudah berada di depan wajahnya. Dea membantu Lucas berdiri dan membantu ia tidur di atas ranjang lagi.


"Astaga! Tanganmu berdarah Kak? Kenapa kau mencabut jarum infusnya? Astaga! Menyebalkan." Itulah kata-kata yang keluar dari bibir Dea dengan wajah panik.


"Aku akan memangil Dokter atau pun suster agar itu tidak berdarah lagi. Dan ingat jangan turun dari ranjang." Lanjut Dea dengan Peringatan di akhir katanya.


Lucas hanya menatap wajah Dea tanpa berkedip. Entah ia mendengarkan perkataan Dea entah tidak. Yang jelas lelaki itu hanya menatap wajah Dea, seakan jika ia mengedipkan matanya sebentar Dea akan menghilang dari pandangannya.


Dea akan membalikan tubuhnya guna keluar dari ruangan rawat Lucas Namun Lucas mencekal pergelangan tangannya. Membuat Dea mengalihkan pandanganya ke arah Lucas.


"Jangan pergi!" pinta Lucas dengan suara lirih.


Dea mendesah letih. Ia tak tau jika Lucas segitu takutnya jika ia pergi dari hadapan Lucas.


"Aku hanya akan memanggil Dokter saja sebentar. Aku tidak akan pergi darimu Kak. Jadi lepaskan tanganku dulu." Tutur Dea.


Tapi Lucas tak kunjung melepaskan cekalan tangannya.


"Tekan saja tombol merah di atas. Dokter akan ke sini, kau tak usah kemana-mana." Ucap Lucas dengan wajah polosnya.


Dea tertegun, ia lupa jika ada tombol pemanggil di atas ranjang. Karena terlalu panik melihat ke adaan Lucas ia jadi lupa jika ada tombol merah di atas ranjang. Dea menekan tombol itu satu kali.


Dan tak butuh waktu lama, Dokter dan dua orang perawat masuk ke dalam ruangan Lucas. Dokter memeriksa ke adaan Lucas. Sedangkan perawat satunya memasangkan Lucas jarum Infus yang sempat lelaki itu Copot. Sedangan satu lagi keluar dari ruangan Lucas setelah sang Dokter muda mengatakan sesuatu.


"Ke adaan Tuan Lucas sudah baik-baik saja. Yang perlu di lakukan saat ini adalah tidak banyak bergerak agar benang jahitan di perutnya tidak lepas. Saat jahitannya di lepas, tuan Lucas sudah di perbolehkan Pulang." Ucap Dokter tersebut.


"Terimakasih Dokter." Ucap Dea.


"Ya, sama-sama Nyonya." Ucapnya dengan senyuman.


Ke dua tenaga medis itu keluar dari ruangan Lucas Kini tinggal lah mereka berdua di ruangan itu.

__ADS_1


"Maafkan aku." Ucap Lucas dengan suara penuh penyesalan.


Dea menatap wajah bersalah Lucas. Dea tak tau harus bagaimana lagi. Namun ia tak bisa membohongi dirinya sendiri. Jika ia mencintai lelaki itu.


"Jika aku memaafkan mu Kakak, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Tanya Dea dengan suara pelan.


"Apa pun! Jika kau menginginkan aku mati saat ini juga akan aku lakukan." Jawab Lucas mantap tanpa keraguan.


Dea tersenyum tipis mendengar jawaban yang Lucas berikan padanya. Ia sudah mendengar cerita dari Mama nya, jika Mutia tak bisa hamil. Dan Mutia sengaja menjebak Lucas saat Lucas sedang pusing karena ia di culik. Dan Dea tak menyangka di mana perginya otak jenius Lucas.


Bagaimana ia tak memeriksa terlebih dahulu apa benar Mutia hamil atau tidak. Namun Lucas seakan langsung bleng seketika saat di ancam. Jujur saja Dea marah ketika Mama nya menceritakan tentang rekaman Video yang membuat Lucas kalang kabut.


Namun apa boleh buat, kayu sudah jadi arang. Dea tak bisa berbuat banyak. Apa lagi saat itu Lucas tak sadar melakukan nya dengan Mutia.


"Aku memaafkan mu Kak!" jawab Dea akhirnya setelah cukup lama terdiam.


Seketika wajah murung Lucas langsung berubah menjadi ceria kembali. Ia memeluk Dea yang duduk di pinggir ranjangnya. Dea membalas pelukan Lucas dengan wajah tak kalah bahagianya.


"Kak Lucas tau kenapa aku memberikan Kakak maaf?" tanya Dea di dalam pelukan Lucas.


Lucas melepaskan pelukannya menatap ke dua manik mata Dea..


"Kenapa?"


"Karena Kak Lucas adalah lelaki pertama yang menolongku, lelaki pertama yang melindungi ku dan lelaki pertama yang membuat aku ingin menikahi, Kakak!" jawab Dea dengan suara bahagia.


"Kau..."


"Ya. Aku Dea anak bergaun putih yang pernah kau gendong di punggung. Dan anak kecil yang meminta seorang lelaki imut menikah dengannya dan membuat lelaki itu berjanji akan menikahi ku." Jelas Dea.


Ke dua mata Lucas melebar, samar-samar ia mengingat moments itu. Ia memang pernah berjanji akan menikah dengan gadis kecil yang berhati baik. Dan teryata gadis itu adalah wanita yang kini menatapnya dengan penuh Cinta.


Jujur saja, dulu Lucas merasa kehilangan. Di saat anak itu tak pernah terlihat lagi. Dan sang Ibu tak pernah membicarakan Dea lagi. Dan pertama kali Lucas bertemu Dea lagi adalah saat ia sudah duduk di tingkat dua di bangku kuliah.


Namun Saat itu Lucas tak menyadarinya. Dan Lucas tak tau jika Jenni adalah adik kandung dari Budi. Bahkan saat ia tau siapa Ayah kandung Dea. Ia masih tak tau siapa Ibu Dea karena terlalu kalang kabut karena kehilangan Dea.


Ke dua tangan Lucas terangkat menangkup wajah Dea.


"Maafkan aku yang sepat melupakanmu. Dan maaf aku hampir tidak bisa menepati janjiku padamu. Aku pikir dulu kau pergi dariku dan aku tak tau kau kemana. Hingga aku melupakan janji yang aku buat. Dan beruntung Mama ku sepertinya tak melupakan janjinya padamu. Aku harus memperlakukan Mama ku dengan lebih baik lagi setelah ini. Maafkan aku, Dea. Dan aku sangat mencintaimu." Ucap Lucas dengan suara berat


Ke dua sudut bibir Dea terangkat ke atas membentuk senyuman. Di ikuti oleh Lucas. Namun di ke dua mata ke duanya menurunkan bening kristal hangat.


Ujian yang ke duanya dapat cukup membuat hati ke duanya pora-poranda. Lucas menarik wajah Dea ia memiringkan wajahnya. Material lunak tak bertulang itu menempel di atas bibir Dea.


Ke dua mata Dea terpejam menerima lumataan dari bibir Lucas. Tak ada nafsu di dalam ciuman ke duanya. Dea dapat merasakan ketulusan di dalam ciuman Lucas. Begitu lembut dan penuh cinta. Ke duanya masih meneteskan air mata penuh syukur.


SREK !


Bunyi pintu di geser, wanita paru baya itu terkejut dan dengan gerakan cepat ia menutup ke dua mata cucunya. Lucas melepaskan ciumannya. Dea merasa ke dua pipinya memerah.


Bahkan warna merah menjalar di ke dua telinga Dea. Lucas menghapus pelan air mata di ke dua pipi Dea. Ia pun menghapus air mata di pipinya dengan gerakan cepat. Ia tak ingin sang Putri melihatnya.


"Bintang!" Panggil Lucas dengan suara ceria. "Ayo kesini." Pinta Lucas pada sang putri yang baru saja di lepas dari penutup mata.


Bintang melangkah mendekati ranjang sang Ayah. Di sana Dea turun dengan perlahan dan menaikan tubuh Bintang ke atas ranjang.


"Mama hanya datang dengan Bintang saja? Dimana Papa?" tanya Dea mencoba menghilangkan ke gugupnya.


Santi tersenyum geli melihat wajah sang menantu. Bintang hanya menatap sang Ibu dan neneknya dengan wajah tak mengerti. Karena ketika pintu di buka sang nenek terkejut langsung menutup ke dua matanya. Padahal Bintang tak melihat apa yang terjadi di depan.


"Papa akan menyusul. Mama kesini membawa makan untukmu dan juga baju ganti." Jawab Santi dengan senyuman hangat nya.


Lucas terlihat asik mengobrol dengan Bintang. Entah apa yang sedang Ayah dan anak itu ucapkan. Dea membantu Santi menata makan di atas meja dan juga memasukan buah-buahan di dalam lemari pendingin.


💎 💎 💎

__ADS_1


"Bagaimana ke adaan Lucas?" tanya Feng pada Dea.


"Kakak Lucas, sudah baik-baik Paman!" Jawab Dea agak kaku.


Ke dua duduk di salah satu restoran Jepang bersama Kris. Feng memandangi wajah Dea yang terlihat makin berisi.


"Makanlah yang banyak, aku dengar kau hamil dan aku yakin Ibu hamil pasti banyak makan." Tutur Feng lembut.


"Ya, terimakasih makanannya Paman." Tutur Dea sopan.


Feng tersenyum lebar, sedangkan Kris hanya mengamati interaksi adik dan Ayahnya. Dea memang belum tau jika Feng adalah Ayah kandungnya. Dan Feng dan Kris berniat memberi tahu Dea hari ini.


Di ke dua sudut mengerut mata tua Feng mengalir air hangat yang sudah lama ia tahan. Ia tak bisa melihat sang Putri tumbuh besar. Ia tak bisa memberikan apa yang Jenni mau saat mengandung Dea. Dan tak bisa mendampingi Jenni saat wanitanya melahirkan Dea.


"Kenapa Paman menangis?" tanya Dea sedikit terkejut.


"Ah! Maafkan Aku." Ucap Feng menghapus ke dua sudut matanya.


Kris menyodorkan tisu pada sang Ayah. Dea menatap ke duanya dengan aneh. Dan ia merasakan perasaan aneh.


Setelah Dea menghabiskan makanannya barulah Feng buka mulut. Ia mengatakan apa yang ia ingin katakan begitu juga Kris. Dea terdiam mendengar perkataan ke duanya. Ia juga membeku saat mendengar permintaan maaf Feng dan Kris yang penuh penyesalan.


Dea berdiri dari duduknya. Melangkah mendekat ke arah Feng. Dengan gerakan cepat ia memeluk Feng dengan tangis pecah seketika. Kris ikut menangis melihat ke duanya. Dari sudut pintu Susan terdiam melihat nya. Ia tau semuanya adalah kesalahan nya. Meski tak sepenuh nya kesalahannya.


Karena ia tak pernah menyuruh lelaki itu membunuh Jenni. Karena bagaimana pun Jenni tak salah apa-apa. Namun lelaki yang mencintai nya  salah dalam menilai keinginan Susan hingga membunuh Jenni.


"Apa Tante sudah akan membuka hati untuk Dea!" Suara serak milik sang keponakan menyadarkannya.


"Dari awal Tante tak berhak membencinya bukan?" Tutur Susan yang mendapat balasan senyuman dari Chandra.


"Paman itu sudah tertangkap tadi malam. Apa Tante mau melihatnya ke tahanan?" tanya Chandra lagi.


"Iya. Setidaknya aku harus menyadarkannya. Dan karena aku juga ia membunuh Mama Dea bukan." Tutur Susan jujur.


Lalu ke duanya pergi keluar dari rumah makan Jepang itu.


*  *   *


4 bulan kemudian


Di sebuah Hotel mewah terlihat banyak Orang-orang yang tengah tersenyum bahagia. Des masuk ke dalam ruangan pengantin Wanita di bantu oleh Lucas. Kandungan Deatelah menginjak usia enam bulan. Hingga Dea agak kesusuahaan dalam berjalan.


"Dea!!!" Teriak Somi dengan wajah ceria.


Dea mendekat dan memeluk Somi dengan membelai punggung belakang Somi. Lucas hanya tersenyum melihat bagaimana interaksi ke duanya.


"Wah selamat ya Somi. Sebentar lagi kau akan melepas masa lajang bersama Leo Xioa." Tutur Dea penuh rasa bahagia.


"Terimakasih Dea. Tapi aku takut sekali Dea!" Keluh Somi.


"Apa yang perlu kau takutkan? Kau Ratunya hari ini dan Kak Leo seperti orang yang hangat dan baik," tutur Dea mencoba menghilang ketakutan Somi.


"Hai! Hai! Nona cantik yang sebentar lagi akan menjadi Nyonya." Seru Mark masuk ke dalam ruangan.


"Mark !" Seru ke duanya dengan wajah ceria.


Mark melangkah lebar dan memeluk ke duanya agak kesusahan. Namun kemeja belakang Mark di tarik oleh Lucas dengan paksa.


"Hei! Ada apa dengan Anda tuan Lucas! " Protes Mark tak suka.


"Jangan memeluk Istri orang tuan Mark !" Ucap Lucas sakratis.


Dea terkekeh melihat betapa cemburu nya Lucas. Entah kenapa Lucas selama beberapa bulan itu mengalami sikap Cemburu tingkat Over. Hingga Dea sedikit kewalahan bukan hanya beban berat di perut tapi sikap posesif Lucas juga.


Namun saat melihat wajah cemberut Mark terlihat. Somi dan Dea tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


__ADS_2