Momy? I'Am!!

Momy? I'Am!!
Chapter 16


__ADS_3

Bab 16


______________


.


.


.


.


.


Lelaki tampan bermata tajam itu menatap Dea dengan pandangan tak terbaca. Dea hanya sesekali menatap ke arah lelaki berdarah Cina itu.


"Kenapa Kakak menatap aku seperti itu?" tanya Dea yang tak tahan dengan cara lelaki itu menatapnya.


"Apa Lucas masih menyakiti mu, Hem?" tanyanya tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Dea.


"Tidak lagi, Kak!" Ucap Dea mengaduk minumannya perlahan.


"Pembohong! " Decis lelaki itu menatap Dea dengan rahang mengeras.


"Aku tidak bohong Kak! Sekarang dia tak lagi menyakitiku," ucap Dea yang tak semuanya bohong.


Beberapa bulan belakangan Lucas tak lagi menyakitinya. Setidaknya saat ia mengingat kembali apa yang telah terjadi.


"Dulu juga begitu, kau mengatakan Lucas tak menyakitimu. Namun kenyataannya dia berselingkuh dengan Kakak mu sendiri. Dan kau tau akan hal itu namun memilih buta dan tuli dengan apa yang terjadi Dea. Aku mohon jangan lakukan hal itu lagi. Aku tak suka kau tersakiti olehnya. Meski dia adalah Sahabatku sediri." Tuturnya menatap Dea dengan wajah letih.


Dea menatap lelaki itu dengan senyum tipis. Ia tau hanya lelaki bermarga Wang itu yang ada di pihaknya. Dia yang selalu ada untuk Dea di saat dirinya merasa letih dan tak bertenaga.


"Sudahlah Kak, itu sudah menjadi masa lalu. Dan jika boleh tau Kak, kemana saja menghilang dua tahun yang lalu?" tanya Dea mencoba mengalihkan topik.


Kris menghela nafas dan mengeluarkannya dengan kasar. Ia menatap Dea sebentar lalu melirik jam arjeloji nya. Ia tak ingin membahas hal itu dengan Dea. Mungkin lebih tepatnya belum saatnya Dea tau kenapa dia menghilang dan pergi dari Dea.


"Maaf kan aku, De! Sepertinya aku harus kembali ke Hotel. Karena ada rapat penting sebentar lagi. Kapan-kapan kita bicara lagi." Ucap Kris berdiri dari kursi di ikuti oleh Dea.


"Baiklah, Kak! Aku pun akan ke suatu tempat. Hati-hati di jalan Kak!" tutur Dea lembut.


"Apa kau mau aku antar?" tanya Kris pada Dea yang di jawab gelengan kepala oleh Dea.


Kris keluar dari cafe bersama Dea ke duanya tersenyum sebelum Kris melangkah pergi dari Dea. Dea hanya menatap punggung Kris yang menjauh darinya. Setelah itu baru lah Dea pergi menuju rumah sakit.


Dea melangkah masuk ke dalam ruangan Dokter muda itu dengan senyum mengembang. Lelaki bermata tajam itu membalas senyum Dea.


"Kau datang." Ucapnya melangkah mendekati Dea.


"Tentu saja Dokter Bara, apa kita bisa memeriksa diriku. Karena aku merasa tak enak badan dan juga sering pusing belakangan ini," keluh Dea sedang kan Bara Dirgantara hanya mendengarkannya dengan sesama.


"Naiklah ke tempat tidur lebih dulu. Aku akan meminta Dokter Mia memeriksa mu. Karena kau taukan aku bukan Dokter ahli kandungan." Ucap Bara dengan senyum.


"Ahli kandungan?" ulang Dea bertanya dengan wajah bodoh. Dea heran bukankah Bara adalah Dokter Umum dan mengambil tambahan Ahli saraf.


"Iya, karena sepertinya kau hamil." Ucap Bara santai lalu melangkah keluar dari ruangannya.

__ADS_1


Dea masih berdiri di tempat yang sama. Dea tak lah bodoh ,ia mengerti apa yang Bara maksud. Ia baru ingat jika beberapa mingu ia telat datang bulan. Ia pikir itu adalah hal biasa karena ia stres beberapa bulan.


Tapi bagi wanita telat satu atau dua bulan tak datang bulan adalah hal biasa. Karena pengaruh stres yang mereka alami. Namun ia tak merasakan mual seperti saat ia hamil Bintang.


"Nyonya Sandoro! Kenapa berdiri di sana. Ayo naik ketempat tidur," titah gadis cantik itu pada Sea.


Entah sejak kapan gadis muda itu masuk ke dalam ruangan. Dea yang tersadar pun melakukan menuju ranjang dan merebahkan dirinya. Mia mengcek kondisi Dea dan memeriksa detak jantung Dea.


"Wah! Dokter Bara memang hebat dan juga peka ya." Tutur Mia menatap Dea dengan senyuman.


"Apa aku benar-benar hamil Dok?" tanya Dea pelan, mencoba memastikan sekali lagi.


"Ya, jika aku prediksi itu satu atau dua bulan. Tapi untuk memastikannya kita bisa melakukan USG," jelas Mia.


"Aku ingin memastikannya."


"Baiklah, tunggu aku akan mengambil mesin USG !" Titah Dokter Mia bergerak cepat.


Dea tersenyum di sambut senyuman juga oleh Dokter Mia. Mia melangkah ke arah peralatan medis Bara. Dokter Mia bersyukur jika di ruangan lelaki dingin itu juga menyimpan mesin USG.


Ia menariknya mendekat ke arah ranjang. Mia membuka kancing baju kemeja hitam Dea. Lalu mengoleskan jell di sana. Baru lah ia menempelkan alat tersebut. Benar saja terlihat jelas gumpalan daging di sana.


Dea merasa ke dua matanya memanas. Ia kembali merasakan perasaan yang sama. Dokter Mia tersenyum melihat Dea menangis haru.


"Usianya baru satu bulan, selamat Nyonya Sandoro. Sebentar lagi sepertinya Nyonya akan memiliki anak ke dua." Ucap Mia masih memperhatikan daging yang menggumpal itu.


Mata Mia melihat begitu Iri pada Dea. Bagaimana tidak Dea begitu beruntung memiliki suami sehebat Lucas Sandoro, pengusaha muda yang berbakat. Rumah tangga yang sempurna. Dan bahkan wajah Sohyun masih terlihat seperti seorang remaja dari pada seorang Ibu.


Mia sangat berharap bisa memiliki hidup sesempurna Dea. Ia tak tau hidup seperti apa yang Dea jalani dengan Lucas. Namun semua Orang yang menatap Dea akan mengatakan mereka iri dengan hidup Dea.


"Aku telah mengambil dua foto USG Nya. Dan akan memberikan resep Obat penguat kandungan . Juga Vitamin untuk bayinya agar jadi anaknya kuat dan pintar." Ucap Mia penuh semangat.


"Terimakasih Dok," ucap Dea penuh syukur dengan nada parau.


Di balik pintu Bara hanya menatap Dea dengan senyum masam. Ia menghela nafas letih dan menutup perlahan pintu ruangannya.


"Kau benar hamil ternyata, namun apa dia akan memperlakukanmu dengan baik. Di saat dia punya wanita yang ia cintai selain dirimu," tutur Bara lirih, "Haruskah aku merebut kau darinya. Seperti apa yang pernah ia lakukan padaku dulu?" tanya Bara entah pada siapa.


Di lain sisi Lucas melonggarkan dasinya dengan rasa marah dan wajah yang merah padam. Di wajah imutnya terdapat tanda lebam dan di sudut bibirnya pecah. Darah segar masih bertengger di sana.


"Sialan sekali, Wang Kris! Kurang ajar! " Hanya umpatan dan geraman yang terdengar dari bibir merah itu.


"Lucas!!" Teriak lelaki bertelinga lebar itu masuk ke ruangan Lucas dengan wajah khawatir.


Lucas menatap jengah lelaki tinggi itu. Ia membalikan tubuhnya menghadap gedung pencakar langit lainnya.


"Pergilah Chan! Aku sedang tak ingin berdebat," usir Lucas dengan suara tak bersahabat.


"Aku kesini tidak untuk berdebar denganmu Lucas. Apa kau bertengkar dengan Kris, aku dengar dari sekretarisnya kalian bertengkar." Ucap Chandra berdiri di belakang tubuh Lucas


"Sudahlah Chandra, kau seharusnya pergi ke sepupumu saja. Karena dia pasti akan ikut membencimu jika kau datang ke kantorku."


"Hei! Bodoh! Kau itu sahabatku bagaimana bisa aku mengabaikan mu." Ucap Chandra menarik bahu Lucas hinga sudut bibir Lucas yang pecah terlihat jelas oleh Candra.


KLIK !!

__ADS_1


"Lucas!"  Seru suara bertepatan dengan pintu terbuka.


Ke dua lelaki itu menatap ke arah gadis yang baru saja masuk. Gadis itu membeku saat melihat mata bulat Chandra.


Lucas menatap Chandra dan menatap gadis itu bergantian. Ke duanya membeku dengan wajah syok.


"Ada apa Yolla?" tanya Lucas membuat ke dua orang itu kembali ke alam sadar.


"Ah! Tidak aku pikir kau sendiri tadi. Lain kali aku akan mampir lagi ke sini kalau begitu aku pergi." Ucap Yolla, lalu melangkah setengah berlari.


"Apa kau tak akan mengejar gadismu. Ah! Maksudku mantan kekasihmu," ledek Lucas membuat Chandra Winata tertegun sesaat dan memilih menerima saran Lucas.


*  *  *  *


Angin malam berhembus kencang menerbangkan helai rambut panjang berwana coklat itu. Mata wanita cantik itu terlihat resah. Ia meremas foto yang ia dapatkan dari orang suruhannya.


"Dia kembali." Ucapnya lirih.


"Apa yang ingin kau lakukan lagi Mutia Wijayanto! Kali ini Papa tak akan mengampuni dan melindungi mu lagi. Jika kau menyentuh adikmu maka kau tak akan bisa di terima dari rumah ini lagi," peringat Budi pada putri sulungnya.


Mutia membalikan tubuhnya menatap wajah tegas sang ayah. Ia tak suka jika sang ayah kembali memihak sang adik.


"Apa begitu sayangnya Pala pada Sea? Hinga melupakan aku, huh!" pekik Mutia marah pada Budi.


"Aku menyayangi Dea dan juga kau. Tapi kau sudah keterlaluan Mutia, Papa tak bisa melihat kau masuk ke dalam lumpur terlalu dalam," tutur Budi dengan nada tegas.


"Ini semua adalah salah Papa! Jika Papa tak menikahkan Dea dan Lucas, aku tak akan menjadi seperti ini," Mutia marah.


Wajah Budi Wiyanto langsung mengeras, namun sebisa mungkin ia mengontrol emosinya. Ia membalikan tubuhnya membelakangi tubuh Mutia.


"Jauhi Lucas dan Dea, jika tak ingin terluka!" Peringatan Budi melangkah pergi.


"Aku benci, Papa!" Teriak Mutia dengan keras membuat langkah kaki Tuan Wijayanto terhenti.


"Aku bilang aku mencintainya dia hanya milikku. Dan akan aku rebut dia apa pun yang terjadi walau harus melawan Papa sekali pun !"


Tuan Wijayanto membalikan tubuhnya dan menatap ke arah Mutia dengan wajah murka.


"Anak tak tau diri!" Teriak Budi dengan suara menggelegar.


Nyonya Wijayanto yang baru saja masuk ke dalam rumah terhenti dan berlari ke arah ruangan atas. Saat itu ia bisa melihat wajah bersitegang suami dan putrinya.


"Lagi pula Dea bukan adik kandungku dan juga bukan anak Papa dan juga Mama. Tapi kenapa Papa dan Mama membuat dia seolah-olah harta berharga keluarga Wijayanto? Bagaimana jika dia tau siapa Papa dan Mamanya yang sebenarnya, huh!" Ucap Mutia dengan wajah menantang.


Ani menutup mulutnya tak menyangka dengan apa yang di katakan oleh putrinya.


"Kau!" Teriak Budi murka dan ambruk ke lantai.


Nyonya Wijayanto berteriak melihat suaminya pingsan. Mutia pun ikut berteriak melihat sang ayah pingsan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2