
Bab 30
------------
"Kenapa Harus ada dusta di antara Kita. Hingga kau berakhir mengkhianati ku untuk ke sekian kalinya. Aku tak tau akan tetap bertahan atau pergi dari dirimu tuk selama-lamanya."
~Dea Amelia Wijayanto~
.
.
.
.
.
Mata bulat bening yang dulu terlihat bercahaya kini, tak terlihat lagi. Yang ada hanya pandangan kosong ke depan. Air mata tak lagi menetes membasahi ke dua pipi. Bukan karena telah mengering, namun karena air matanya telah membeku. Membeku bersama hati yang kian kelabu.
Rasa sakit dari sebuah penghianatan membuat ia menjadi raga tampa jiwa. Terlalu dalam ia terbenam di lautan luka. Entah di mana jiwanya berada saat ini. Tak satu pun yang tau kemana perginya jiwa yang tersakiti itu.
Sreek !!
Bunyi tirai putih polos di tarik secara perlahan. Seketika cahaya matahari mengisi seluruh ruangan yang awalnya terselimuti oleh kegelapan. Lelaki berkulit albino berahang tegas itu menatap sang wanita yang bersandar di atas ranjang dengan pandangan terluka.
Ia mendekati ranjang secara perlahan. Ia mendudukkan bodynya di pinggir ranjang. Ia meraih tangan Wanita cantik yang terlihat semakin pucat itu. Bahkan selang infus tak berpengaruh banyak untuknya. Sudah dua minggu semenjak ke jadian ia melihat sang suami berciuman di atas altar pernikahan.
Saat itu ia pingsan dan di bawa ke Villa milik lelaki yang menyandang gelar ke Dokteran itu. Lelaki bernama Taeyong itu senantiasa merawat Dea. Des tak ingin pulang ke rumah, ia bahkan tak mau memakan apa pun. Bahkan untuk minum pun ia tak mau. Hingga Bara memaksa memasang Infus agar ada pasokan makanan yang masuk ke tubuh Dea.
Dea tak memberontak, di karenakan kehabisan tenaga. Meski Bara sering kali mengajak Dea berbicara, namun Dea tak mau membuka mulutnya untuk membalas perkataan Bara. Dea hanya diam dengan pandangan kosong.
Sungguh. Rasanya hati Bara tercabik melihat bagaimana ke adaan wanita yang ia cintai saat ini. Bagaimana bisa Lucas membuatnya seperti saat ini. Apakah sebegitu cintanya wanita itu pada Lucas. Hingga melihat penghianatan Lucas. Dea tak mengamuk malah terlihat mati jiwa. Hingga menyisakan Bara sebuah raga saja.
Di luar sana pihak berwajib berserta Lucas dan yang lainnya tengah kalang kabut mencari Dea. Tentu saja namanya juga masuk, di karenakan ia adalah orang terakhir yang bersama Dea. Lelaki yang membawa Dea
Bara tau adik dan keluarganya pasti khawatir padanya. Di tambah pemberitaan jika dirinya menculik istri dari pengusaha sukses itu. Beruntung Villa yang Bara beli bukan atas namanya. Namun atas nama bawahannya.
Hingga setidaknya Bara akan aman-aman saja. Dan di sekeliling Villa tak ada perumahan mewah. Yang ada hanya perumahan warga biasa yang tak memiliki televisi. Dengan begitu Bara bisa berkeliaran dengan bebas.
"Sampai kapan kau akan begini, De?" tanya Bara dengan suara lirih.
Tak ada sautan dari bibir Dea. Bata mengusap wajah Dea dengan pelan. Ia mengembangkan senyum pahit melihat ke adaan Dea.
"Apa kau tak kangen dengan Bintang? Kembalilah Dea! Jadilah wanita yang kuat. Jika kau seperti ini kau akan merugikan dirimu sendiri dan juga membuat Bintang menderita," lanjut Bara lagi.
Bola mata hitam Dea bergerak menatap ke arah Bara. Bara tersenyum lebar saat ada pergerakan dari Dea. Bara yakin Dea merasakan perasaan Bintang. Ia yakin saat nama putrinya di sebut anggota tubuh bereaksi.
"Apa kau ingin bertemu dengan Bintang?" tanya Bara lagi memastikan.
Dea mengangguk kan kepalanya berulang-ulang kali. Bara membenarkan anak rambut Dea yang menutupi wajahnya. Karena gerakan Dea membuat anak rambutnya jatuh menutupi sebagian wajahnya. Tangan Bara menarik anak rambut Dea ke samping di selipkan ke belakang telinga kanan Dea.
"Baiklah aku akan membawa Bintang ke sini untuk mu." Tutur Bara lagi dan langsung berdiri dari duduknya.
Sedangkan di lain tempat Lucas terlihat kacau. Sangat kacau, ke dua matanya terlihat seperti mata Panda yang menghitam. Rambutnya tak terus, Mutia yang menatap Lucas dari kejauhan berdecak jengkel. Di dalam rumah Lucas tak hanya ada Lucas dan Bintang saja.
Namun di sana ke dua pihak keluarga juga ada. Bahkan Wang Feng juga berada di sana bersama Kris. Saat mendengar Dea hilang, Feng merasa sangat ketakutan. Dua minggu tak memberikan hasil apa-apa dari pencarian Dea.
Dan itu membuat keluarga Besar itu kalang kabut. Bintang tak pernah berhenti bertanya, menangis bahkan ia mengamuk pada Lucas. Ia marah karena Ibunya belum juga di temukan.
__ADS_1
Dreeet !
Ponsel Mutia bergetar di dalam tas kecil yang ia sandang. Merasa ada getaran di dalam sana. Mutia langsung merogoh tas kecilnya. Ia mengeluarkan Ponsel mahal berwarna hitam itu. Jari-jari tangannya bergerak lincah membuka satu pesan dari Bara
📩 Bara
Bawa Bintang ke Villa ku malam ini. Aku tunggu jangan sampai kau tak bisa membawanya Kakak. Jika kau gagal aku akan membongkar rahasia mu!!
Mutia mengeram jengkel dengan isi pesan yang ia terima. Bagaimana bisa Bara mengancamnya begitu. Mau tak mau Mutia harus memutar otak nya. Agar bisa membawa Bintang keluar dari rumah tanpa sepengetahuan siapa pun.
Ia melangkah mendekati kamar Bintang. Di sama terlihat Bintang menatap kosong ke arah foto Dea yang tersenyum. Jika boleh jujur Mutia menyayangi Bintang seperti anaknya sendiri. Karena ia tak bisa memiliki anak. Ia menganggap Bintang adalah anaknya bersama Lucas.
Karena itu ia tak menyakiti Bintang saat Dea mengandung Bintang. Awalnya ia ingin membuat Dea kehilangan kandungannya. Namun saat melihat foto USGnya membuat Mutia mengurungkan niatnya.
Dan sampai Bintang lahir Mutia terlihat begitu antusias. Sampai Bintang berumur empat tahun, Mutia tak pernah tak menampakan perasaanya untuk Bintang. Namun terkadang ia merasa terluka dimana di saat Bintang menatapnya dengan pandangan benci. Bahkan jijik, itu bermula saat ia tak sengaja terpergok oleh Bintang saat sedang bercumbu dengan Lucas di ruangan kerja lelaki itu.
Saat itulah Bintang menatapnya dengan mata benci dan jijik. Namun meski begitu Mutia tak pernah marah ia selalu menyayangi Bintang walau anak itu membencinya. Atau bahkan jika Bintang menghina nya sekali pun, Mutia tak akan pernah bisa membenci Bintang.
"Bintang!" seru Mutia pelan.
Namun tak ada sahutan dari bibir Bintang. Ia merogoh tasnya mengeluarkan sapu tangan yang sudah di lumuri dengan bius. Dengan gerakan cepat Mutia membekap hidung Bintang. Bintang langsung kehilangan kesadaran.
Mutia membawa Bintang lewat jalan rahasia di rumah itu. Mutia mengenal seluruh jalan masuk dan jalan keluar rahasia dari rumah itu. Karena rumah yang Dea tempati adalah rumah yang ia dan Lucas beli. Karena itulah ia sangat mudah masuk dan keluar dari dalam rumah tanpa ketahuan oleh Dea saat ia berselingkuh bersama Baekhyun.
* * *
Tubuh Bintang menggeliat di atas kasur empuk itu. Ketika ke dua matanya terbuka ia terkejut dengan keberadaan Dea di samping tubuhnya. Bintang langsung terduduk melihat Dea tersenyum ke arahnya.
"Apa ini mimpi?" monolog Bintang.
Dea tersenyum lebar mendengar perkataan Bintang. Tangan lemah Dea terulur menyentuh wajah cantik sang Putri.
"Tapi kenapa Mama? Apa Papa melakukan kesalahan lagi pada, Mam" Tanya Bintang pelan.
Tak ada sahutan dari bibir Dea. Bintang menatap mata sang Ibu dengan pandangan sedih. Ia bisa melihat betapa terlukanya sang Ibu. Meski Bintang tak tau apa alasan Dea ingin hidup berdua saja dengan nya tanpa sang Ayah.
Namun bagi Bintang, itu tak apa-apa. Asalkan ada Dea sudah lebih dari cukup untuknya.
KLIK !
Bunyi pintu terbuka, terlihat Bara membawa nampan berisi satu mangkok bubur, satu mangkok nasi berserta lauk pauk dan juga dua gelas air putih.
"Paman yang menculik Mama dan aku?" Teriak Bintang lantang dengan wajah tak suka.
Bara tersenyum geli melihat wajah marah anak wanita yang ia cintai itu. Dea menggenggam tangan Bintang membuat Bintang menatap ke arah sang ibu dengan pandangan tak mengerti.
"Tidak sayang. Paman Bara lah yang membantu Mam pergi dari Papa. Dan membawa Bintang ke sini biar bisa hidup bersama Mama selama-lamanya," jelas Dea.
"Ah. Begitu, maafkan Bintang, Paman!" ucap Bintang dengan wajah tak enak.
"Tidak apa-apa anak manis. Sekarang ayo bujuk Mama mu untuk makan dan Bintang juga harus makan. Setelah Mama mu sembuh kita akan berjalan berkeliling desa dan juga melihat air laut," ucap Bara hangat.
Bintang tersenyum begitu juga Dea. Bara merasakan perasaan lega karena kembali bisa melihat Dea hidup dan menerima kenyataan yang ada. Dea dan Bintang makan di temani oleh Bara.
Sesekali Bintang melontarkan candaan untuk sang Ibu agar Dea tersenyum. Benar saja Dea tersenyum karena candaan Bintang. Ke tiganya seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Bara membawa Dea dan Bintang ke taman belakang Villa di mana di sana terlihat hamparan bunga mawar yang begitu indah. Bintang bermain di kolam ikan yang terlihat begitu indah. Karena anak berumur enam tahun itu pecinta ikan.
"Setelah ini apa yang ingin kau lakukan, De?" tanya Bara saat mereka hanya berdua sementara Bintang masih sibuk bersama Ikan-ikan.
__ADS_1
"Aku akan mengirimkan surat cerai dan juga rekaman Video untuk keluargaku agar mereka tak khawatir. Maaf ya, aku jadi merepotkan mu. Hingga namamu masuk dalam daftar buronan karena aku," jawab Dea lirih.
"Tidak masalah Dea. Asalkan kau bahagia maka aku juga akan bahagia." Balas Bara dengan tulus.
"Sekali lagi terimakasih, Kak!"
"Hem, lalu apa kau akan hanya hidup berdua dengan Bintang?" tanya Bara lagi.
"Ya." Jawab Dea.
Bara hanya bisa tersenyum pahit. Untuk saat ini ia akan memberikan Dea kebebasan. Karena ia tau wanita yang kini duduk di kursi roda membutuhkan pemulihan diri dari rasa sakit yang ia rasakan.
Sedangkan di tempat lain Lucas mengamuk memecahkan semua perabotan rumahnya. Ia terlihat kesetanan, Keluarga Lucas tak bisa menghentikan apa yang sang putra lakukan. Bahkan kedua tangan nya mengeluarkan darah segar.
Mutia menatap geri Lucas dengan mata berair. Ia telah mencegah Lucas namun lelaki itu tetap menggila. Kehilangan Dea dan kini Bintang yang tak tau pergi kemana membuat Lucas kehilangan akal sehatnya. Orang-orang yang mendekat tak segan-segan ia lukai.
"Dimana istri ku dan anak ku, hah!!!" Teriak Lucas kesetanan.
Brak !
Tang !
Bruk !
"Sudah Lucas. Mama mohon!" Pekik sang Ibu Lucas tak mau mendengar kan nya.
"Aku akan mati hari ini juga jika kalian tak juga menemukan mereka berdua!" Ancam Lucas meraih pecahan keramik tajam ke arah nadi tangannya.
Serentak semua orang yang melihat nya memekik kencang. Para pembantu dan pengawal tak bisa berbuat banyak. Lucas benar-benar di luar dugaan. Ia adalah lelaki nekat.
"Lucas jangan seperti ini," cegah Mutia ketakutan.
"CK! Dasar kau perempuan ******. Ini semua karena mu. Jika aku tak bisa bersama Dea, maka kau juga tak akan bisa bersama ku. Aku lebih baik mati dari pada hidup tanpanya!" Ucap Lucas dengan mata memerah.
Kepala Mutia mengeleng ketakutan. Lucas menekan pecahan kaca itu dan menariknya. Membuat darah segar mengalir dari urat nadi tangan kirinya.
"Tidak!!!!!" Teriak orang-orang.
Lucas tersenyum kesetanan. Ia benar-benar gila, ia tak kuat lagi berlagak kuat di depan banyak orang. Ia berlagak kuat saat ada Bintang di dekatnya. Karena ia tak ingin membuat anaknya ketakutan. Namun saat ini Bintang mau pun Dea tak ada di samping nya. Maka kematian adalah jalan satu-satunya yang terbaik menurut Lucas.
Tubuh Lucas ambruk saat saat itu pengawal dan Mutia berlari mendekati Lucas. Santi pingsan saat melihat sang putra kehilangan kesadaran. Anto panik melihat sang istri dan sang Putra dalam ke adaan tak sadarkan diri.
.
.
.
.
.
.
.
"Aku tak bisa hidup tanpa mu. Jika kau pergi dariku maka kematian lah yang akan aku peroleh. Karena aku sangat mencintai mu. Hidup untuk mu maka aku akan mati jika tampa mu."
~Lucas Sandoro~
__ADS_1