
Bab 27
---------------+-----------------
.
.
.
.
.
Gadis cantik itu menatap lelaki bermata tajam di depannya itu dengan wajah bahagia. Begitu pula sebaliknya dengan lelaki yang di tatap. Ke duanya bertemu atas keinginan sang Gadis.
"Kapan kita memulai rencana kita?" Tanya Mutia yang tak sabar.
"Tunggu saja, kita akan menjalaninya secara pelan dan matang. Jadi cukup bersabar Kak." Ucapnya dengan suara berat.
"Baiklah. Tapi jangan terlalu lama, karena aku sudah tak tahan memisahkannya dengan Lucas. Setidaknya kita melakukan pertukaran yang adil. Dimana kau mendapatkan Dea dan aku mendapatkan Lucas ku kembali." Ujar Mutia dengan penuh semangat.
"Ya." Ucap sang lelaki itu menyetujui perkataan Mutia. "Aku harus pergi dulu, karena aku tak ingin ada yang melihat kita berdua. Itu tak akan baik untuk rencana kita." Ucap sang lelaki langsung berdiri dari kursi yang ia duduki.
"Ya. Sebaiknya begitu, agar tak ada yang tau rencana kita." Ucap Mutia setuju.
Sang lelaki berpakaian serba hitam dengan masker berserta topi itu langsung melangkah pergi meninggalkan Mutia sendiri di dalam cafe. Mutia tersenyum penuh kelicikan. Bukan Mutia Wijayanto namanya akan menyerah begitu saja.
Ia akan tetap mempertahankan Lucas Sandoro di sisinya. Karena hanya lelaki imut itu yang di inginkan dan di Cintai olehnya. Mutia menyesap perlahan Coffi hitam tanpa gula itu dengan senyum tipis sedikit miris. Coffe pahit itu mengingatkan ia pada kisah Cintanya. Tepat sepahit coffe yang ia minum saat ini.
"Pahit! Tapi cukup membuat ke dua mataku terbuka lebar. Aku tak akan mengalah lagi pada Dea. Enak saja ia merebut lelaki yang aku cintai. Cukup sudah aku meminjamkan Lucas untuk nya. Dan kini saatnya mengambil Lucas dari tangannya." Tuturnya dengan menatap kaca transparan yang memperlihatkan jelas kegiatan orang-orang yang berlalu lalang di hari minggu pagi.
Di belakang tubuh Mutia lelaki tampan itu masih tak percaya. Dengan apa yang di rencanakan Mutia dengan lelaki yang tak terlihat wajahnya. Beruntung Cafe mewah itu memiliki sekat pembatas. Hingga Mutia tak tau siapa yang duduk di belakang tubuhnya.
"Astaga! Gadis itu memang lebih gila dari yang aku perkirakan." Gumamnya pelan.
Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di lantai dua kamar mewah sepasang suami istri itu. Terlihat masih berada di dalam selimut tebal. Meski waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi. Namun tak ada tampak pergerakan jika ke duanya akan bangun dari tidur.
Tubuh polos yang di hangatkan oleh selimut tebal berwana merah maron dengan motif kupu-kupu, menjadi penutupnya. Tangan kekar lelaki imut itu memeluk perut sang Istri dengan erat. Seakan jika ia melepaskan pelukannya wanita itu akan pergi meninggalkannya.
Kamar yang beberapa jam yang lalu temaram kini telah terang dengan bantuan Cahaya matahari. Hembusan napas ke duanya terdengar teratur. Namun sepertinya ke duanya tak bisa tidur lebih lama lagi. Terbukti ketukan keras dari luar pintu kayu itu memaksa roh ke duanya kembali ke raga masing-masing.
"Ma! " Teriak Bintang dari luar kamar dengan ketukan keras.
Tubuh Dea menggeliat pelan di ikuti oleh tubuh Lucas yang memeluk Dea dari belakang. Dea mengucek ke dua matanya lalu terbuka perlahan.
"Kak Lucas lepaskan tanganmu dari perutku. Bintang memanggil ku itu." Ucap Dea karena saat ia mencoba melepaskan pelukan Lucas lelaki itu malah semakin mengeratkan nya.
Bahkan wajah imutnya di benamkan ke ceruk leher Dea. Mau tak mau Dea harus bersuara.
__ADS_1
"Satu jam lagi." Jawab Dea dengan suara serak khas bagun tidur sedikit teredam karena wajahnya yang terbenam di ceruk leher Dea.
Dea sedikit merasa geli karena pergerakan bibir Lucas di lehernya.
"Tidak bisa Kakak, hari sudah mau siang. Bintang pasti lapar, jadi lepaskan aku." Ucap Dea
kembali mencoba melepaskan diri.
Namun Lucas tak kunjung melepaskan dirinya. Sedangkan di luar sana ketukan dan teriakan Bintang belum juga berhenti memanggilnya.
"Jika kakak tidak melepaskan aku. Maka aku tak akan mau melayani Kakak lagi." Ancam Dea membuat Lucas sedikit mengeram jengkel.
Namun mau tak mau lelaki imut itu melepas pelukannya dan menjauhkan wajahnya dari leher Dea. Dea meraih kimono tidurnya yang tergeletak di atas lantai. Ia memakainya dan melangkah menuju meja rias, guna merapikan rambutnya sedikit tak beraturan.
Dea berdecak jengkel dengan noda merah yang menghiasi leher jenjangnya. Ia menatap Lucas yang masih setia memejamkan mata dengan decak jengkel.
Dea menghirup udara perlahan dan membuangnya perlahan pula. Ia melangkah menuju pintu kamarnya dan membukanya. Terlihat Bintang telah rapi dengan memaki dress putih dengan motif polkadot.
"Pagi sayang." Sapa Dea dengan senyum di paksa.
"Ini sudah siang Mama!" Protes Bintang yang Dea tau putrinya itu mulai akan memasuki modus ngambek.
"Ah! Sudah siang ya. Maafkan Mama sayang Mamam telat bangun. Apa Bintang lapar? Mau di bikinkan apa hari ini?" Tanya Dea masih dengan senyum.
Namun masih tak di dengar suara sautan dari Bintang. Dea semakin melebarkan senyumannya. Ia tau Bintang kesal, karena biasanya jika di panggil beberapa kali Dea akan keluar. Namun ia sudah memanggil cukup lama dengan suara lantang. Namun Dea tak kunjung keluar dan menyahut.
Namun mendengar tawaran ke dua Dea, Bintang langsung mengangguk dan tersenyum lebar. Dea menghembuskan napas penuh syukur.
"Lalu mau makan apa hari ini Sayang?" Tanya Dea lagi.
"Nasi goreng, Mama!" Jawab Bintang penuh semangat.
"Oke! Tuan putri silahkan tunggu di depan televisi dulu. Mama akan menganti baju sebentar lalu akan segera memasak. Nanti setelah masak Mama akan memanggil Bintang." Ucap Dea.
Bintang mengangguk dan langsung melangkah pergi ke menuju ruangan televisi. Dea masuk kembali ke dalam kamar dan melangkah menuju lemari mengambil pakaian ganti. Setidaknya Dea harus mencuci wajah dan gosok gigi agar terlihat lebih segar.
Selesai memilih baju Dea melangkah masuk ke kamar mandi. Ia keluar lima menit kemudian, dan langsung menuju dapur. Sedangkan Lucas bangun tiga puluh menit kemudian. Ia mengerjap lucu, dan tersenyum seperti orang gila mengingat apa yang ia lakukan dengan Dea tadi malam.
* * *
Decak kagum dari bibir Bintang tak henti-hentinya terlontar. Bintang Sandoro adalah pencinta ikan. Bahkan di rumahnya di buatkan khusus tempat ikan di belakang rumah dengan dekorasi yang sangat cantik.
"Wah ! Ada Hiu yang berenang di atas sana." Pekik Bintang kesenangan menunjuk ke arah selatan di atas Aquarium.
Dea hanya terkekeh kecil melihat keantusiasan sang putri. Sedangkan Lucas tersenyum mendengarnya. Lucas menggenggam tangan Dea sedangkan Bintang berdiri di depan mereka.
Tak jauh dari mereka para pengawal dengan memakai baju biasa memantau pergerakan mereka. Lucas tak ingin mengambil resiko dengan ke adaan yang masih belum stabil.
Namum karena Dea meminta Lucas untuk keluar menemani Bintang ke Aquarium raksasa. Mau tak mau Lucas menganguk dengan cara membawa pengawal.
__ADS_1
Pengunjung Aquarium terlihat begitu ramai. Mengingat hari mereka datang memanglah harinya berlibur keluarga. Banyak beberapa keluarga terlihat bahagia bersama anak-anak mereka. Dan ada juga beberapa dari anak mudah mudi yang berpacaran.
"Papa! Mama ! Kita menonton pertunjukan lumba-lumba ya." Pinta Bintang saat melihat poster yang terpasang di layar datar besar menyerupai televisi itu.
"Ya, nanti kita ke sana." Jawab Lucas.
"Bagaimana jika kita berfoto terlebih dahulu di berapa tempat?" Usul Dea yang dianguki oleh Ayah dan anak itu.
Ke tiganya terlihat bahagia, Lucas mengendong Bintang di belakang tubuhnya. Beberapa kali mereka mengambil foto guna di jadikan kenangan. Gelak tawa terdengar dari bibir mereka saat menonton pertunjukan lumba-lumba.
Dan perjalan terakhir mereka adalah berfoto bersama lumba-lumba. Setelah itu ke tiganya pulang menuju rumah. Waktu menunjukan pukul lima sore. Wajah puas terukir jelas di wajah Bintang.
Mobil yang di tumpangi ke tinga nya berhenti di depan pintu rumah Lucas. Bintang yang berada di tengah ke duanya membuka suara.
"Terimakasih untuk hari yang paling menyenangkan Papa dan Mama. Bintang harap kita akan melakukannya lagi pada minggu berikutnya." Ucap Bintang dengan menatap ke duanya bergantian.
"Tentu saja sayang." Ucap Dea.
"Jika Bintang bahagia, Papa dan Mama juga ikut bahagia." Timpal Lucas.
"Bintang sayang Papa dan Mama." Seru Bintang setelah itu langsung mengecup pipi Lucas dan Dea lalu meringsut ke arah pintu dan membukanya.
Ia keluar dari mobil begitu saja. Sedangkan Dea dan Lucas yang masih berada di dalam mobil tersenyum lebar. Lucas merasa begitu bahagia, karena Bintang menerima kehadirannya dengan sangat baik.
Tidak ada hubungan kaku antaranya dan Bintang. Bintang di hati dan di hidupnya bercahaya begitu terang saat ini.
"Kakak bahagia?" Tanya Dea menatap wajah Lucas yang terlihat berseri.
"Tentu saja, aku sangat bahagia. Terimakasih Dea, telah memberikan aku putri secantik dan sepintar Bintang. Dan terimakasih sudah berada di sisiku meski aku telah menyakitimu terlalu dalam. Terimakasih telah bertahan denganku. Terimakasih telah menjadi istriku." Ucap Lucas memeluk tubuh Dea dari samping.
Sang supir yang masih berada di mobil tersenyum mendengar dan melihat tingkah sang tuan. Ia keluar dengan perlahan dan menutup pintu perlahan pula.
"Sama-sama Kak. Itu sudah menjadi kewajiban ku sebagai istri. Aku sudah berjanji di depan Tuhan akan menjadi istri yang setia mendampingi mu di kala susah, senang dan sakit sekali pun Kak." Jawab Dea membalikan tubuhnya menghadap ke arah Lucas.
Lucas mengembangkan senyumannya. Ia mendekatkan Wajahnya ke arah Dea. Wanita cantik itu memejamkan ke dua matanya. Wajah Lucas semakin mendekati wajah Dea. Ia memiringkan wajahnya .
Klik !
"Apa yang mau Papa lakukan?" Tanya Bintang yang membuka pintu dengan wajah penasaran.
Sedikit lagi! Hanya sedikit lagi bibir Lucas mendarat ke bibir tipis berwarna merah merekah milik Dea. Ia menjauh kan wajahnya dengan muka memerah malu. Dea membuka ke dua matanya dan tersenyum malu.
Dea yang membelakangi tubuh Bintang membalikan tubuhnya menghadap sang putri dengan senyuman.
"Tidak ada sayang. Papa hanya mencoba meniup mata Mama yang kemasukan bulu mata yang rontok." Bohong Dea yang langsung keluar dari dalam mobil.
"Oh !" Hanya itu yang keluar dari bibir Bintang.
Dea mengandeng tangan Bintang membawanya masuk ke dalam rumah. Lucas hanya mendesah jengkel, Bintang menggagalkan Ciumannya.
__ADS_1