Momy? I'Am!!

Momy? I'Am!!
Chapter 8


__ADS_3

Bab 8


"Luka tetaplah luka! Yang akan terasa menyakitkan. Meski luka yang tak berdarah sekali pun ! Dan tak terlihat sekali pun."


~Author~


.


.


.


.


.


.


Pagi hari terlihat begitu cerah dengan malu-malu sang mentari keluar dari balik awan putih. Wanita cantik itu mengusap perutnya yang tak lagi datar. Ia memutuskan untuk jalan sehat di komplek perumahannya.


Kegiatan pagi yang selalu di di lakukan nya selama empat bulan belakang. Meski tanpa di temani oleh sang Suami yang tengah sibuk dengan perusahan. Dea tak pernah mempermasalahkan hal itu. Meski sikap Lucas terkesan dingin padanya. Dea mencoba tak mengambil hati untuk itu.


Saat ia berhenti di depan kursi taman untuk sekedar beristirahat. Dea mengusap peluh yang turun dari dahinya. Mata bulat jernih Dea menyapu  seluruh taman yang tertata rapi dan indah itu.


Mata Dea tiba-tiba menyendu saat melihat gadis sebayanya tengah bercengkrama dengan temannya. Mereka becanda saat joging pagi. Dea tau siapa ke dua gadis cantik itu. Mereka satu angkatan dengan nya yang satu bernama Dinda dan satu lagi bernama Vivi.


Dinda dan Vivi tinggal di komplek yang sama dengan Dea. Suara tawa ke duanya terdengar oleh Dea. Ke dua gadis itu menceritakan tentang kuliah dan lelaki yang populer di kampus.


Dea ikut tersenyum melihat kehangatan ke duanya. Ia jadi teringat dengan Somi. Walaupun gadis itu telah mengkhianati persahabatan mereka. Sohyun tak bisa membenci Somi sepenuhnya.


"Kenapa duduk sini tak pulang Dea Amelia Sandoro!" Seru Suara di belakang tubuh Dea.


Dea dengan cepat membalikan tubuhnya menatap lelaki yang telah berpakaian rapi dengan jas hitam . Dea berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Lucas, sang suami.


"Apa Kak Lucas sudah mau berangkat?" tanya Dea melihat ternyata mobil Lucas berada di belakang tubuh lelaki imut itu.


"Ya, pulanglah ke rumah," titah Lucas yang di angguki oleh Dea.


Lucas membalikan tubuhnya dan masuk ke dalam mobil. Ia langsung melajukan mobilnya tanpa menatap Dea sekali lagi. Hati kecil Dea terasa perih melihat perlakuan Lucas padanya. Tak ada ciuman di dahi atau pun kata-kata indah untuknya atau bayi yang ia kandung.


Dea mendesah dan melangkah menuju rumahnya. Kehidupan yang Dea jalani tidak lah indah seperti orang-orang duga. Kecuali para pembantunya yang tau pasti apa yang ia rasakan .


Lucas pulang dengan tampang kusut dan masuk ke dalam rumah. Ia langsung menuju kamar ia dan Dea. Dea terkejut saat Lucas masuk dengan bantingan pintu kencang.

__ADS_1


"Apa ada hal buruk terjadi, Kak?" tanya Dea dengan suara pelan menghampiri Lucas yang terlihat marah.


"Tentu saja ada, selama ada kau di kehidupanku aku akan merasa semuanya masalah." Teriak Lucas lantang.


Dea terdiam mendengar apa yang Lucas katakan.


"Enyah lah dari hidupku Dea! " Ucap Lucas lagi dengan kencang sambil mendorong tubuh Dea hinga ia jatuh kelantai dengan rintihan ke sakittan.


Lucas sama sekali tak peduli. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi dengan geraman. Dea meremas dress hamilnya saat rasa sakit di perutnya terasa begitu menyakitkan. Dea berdiri dengan ringgissan dan melangkah ke arah tempat tidur.


Dea mengusap perutnya perlahan dengan nafas tak teratur. Kandungannya baru berusia tujuh bulan. Perlakuan kasar Lucas belum juga berubah padahal Dea tau anak yang tengah ia kandung adalah anak Lucas. Namun lelaki itu terlihat tak peduli dengan sang janin.


Ke dua mata Dea terbuka perlahan. Peluh membanjiri tubuhnya nafasnya tak teratur. Ia merasakan mimpi itu bukanlah mimpi biasa. Dea yakin apa yang ia mimpikan adalah bekas dari ingatan masa lalunya. Dea meraba perut datarnya.


Dea tau jika di sana memang pernah ada kehidupan. Dan kehidupan itu telah berbentuk menjadi anak kecil yang cantik.


KLIK


Bunyi pintu terbuka membuat Dea mengalihkan penglihatannya ke arah Lelaki tampan yang baru saja masuk. Dea baru sadar jika dirinya tak berada di dalam kamarnya.


Lelaki berjas putih kebesaraan itu menatap Dea dengan mata tajamnya. Membuat Dea terdiam cukup lama melihat wajah sempurna sang lelaki membuat Dea terlena.


"Selamat pagi Nona Wijayanto," serunya pelan.


"Selamat pagi Dokter." Jawab Dea yang sadar dari pesona sang Dokter tampan yang tak murah senyum itu.


"Lebih baik. Tapi bukannya Anda yang menolong saya saat saya pingsan di taman?" tanya Dea yang ingat wajah penyelamatnya saat ia pingsan.


"Ya itu aku." Jawabnya santai masih dengan kegiatannya memeriksa Dea.


"Apa Dokter telah menghubungi keluargaku?" tanya Dea penasaran.


Karena jika ia benar-benar pingsan pasti pihak rumah sakit akan menghubungi keluarganya.


"Kami tak bisa membuka ponsel nona yang mati. Dan selain itu ponsel Nona terkunci dengan kata sandi," terangnya dengan suara datar.


"Ah! Iya aku lupa. Tapi terimakasih tidak menelfon keluargaku Dokter." Ucap Dea lega.


Kelegaan Dea mengundang tanda tanya di otak pintar lelaki berwajah anime itu.


"Kenapa kau tak ingin keluargamu tau kau di rumah sakit nona?" Tanya nya dengan dahi berkerut.


"Hanya tak ingin saja Dokter. Dan siapa nama Dokter karena aku ingin berterimakasih dengan baik dan benar." Ucap Dea mengembangkan senyumnya.

__ADS_1


Melihat Senyum Dea tiba-tiba saja ke dua sudut bibir lelaki itu terangkat ke atas.


"Bara. Namaku Bara Dirgantara." Ucap Bara santai dengan senyuman.


"Terimakasih banyak telah membantu aku Dokter Bara Dirgantara. Aku akan membalas kebaikan Dokter nanti." Ucap Dea penuh keceriaan.


Bara hanya mengangguk-angguk kepalanya. Lalu ia mengeluarkan benda persegi panjang lalu memberikan pada Dea.


"Wah Ponselku." Seru Dea menatap Ponselnya.


"Kalau begitu beristirahatlah Nona Wijayanto!" Ucap Bara membalikan tubuhnya.


"Tunggu Dokter Bara!" Seru Dea saat Bara akan meraih ganggang pintu.


"Ada apa?" Tanya Bara membalikan tubuhnya menghadap Dea.


"Berapa persen kemungkinan ingatanku bisa kembali. Aku tau Dokter pasti tau jika aku kehilangan ingatanku melihat cara Dokter bersikap kemarin." Ucap Dea dengan mimik penasaran.


"Kemungkinan Anda bisa mengingat lagi adalah 67% itu tergantung keinginan Anda Nona. Karena sepertinya ingatan itu Anda sendiri lah yang menahannya. Jadi jika Anda ingin mengembalikannya saya akan membantunya dengan hipnoterapi." Ucap Bara menatap Dea dengan mata tegasnya.


"Bisakah Ingatan itu di hapus untuk selama-lamanya. Aku tak ingin mengingat apa pun itu di masa laluku," tanya Dea membuat Bara menatap Dea dengan wajah tak bisa di baca.


"Bisa saja, tapi Anda adalah pasien pertama saya yang menolak ingatannya kembali." Ucap Bara dengan nada suara serius.


"Karena aku membencinya," lirih Dea dengan wajah sendu.


"Biar ku tebak Anda baru saja meraih puing-puing ingatan Anda kembali bukan? Dan itu membuat Anda tak suka dengan apa yang Anda ingat." Tebak Bara membuat wajah Dea menegang sesaat.


"Ya. Dokter benar-benar jenius." Ucap Dea menunjukan deretan gigi putih rapinya.


Melihat Senyum Dea, lelaki itu ikut tersenyum.


Di lain tempat Lucas dan Mark terlibat bangku hantam. Lelaki Sandoro itu berperang sangka bahwa Mark menyembunyikan Dea. Bukankah itu aneh! Dia bahkan berselingkuh di belakang Dea. Dan Dea tak boleh di sentuh oleh lelaki mana pun selain dia .


Cuih !


Mark meludah liur yang menyatu dengan darah. Ke adannya dan Lucas sama-sama kacau.


"Kenapa kau mencarinya, huh! Bukankah wanita itu sudah cukup untukmu ********!" Cibir Mark dengan senyum remeh.


"Diam kau *******!"


"Jika aku ******* maka kau apa,huh! Lelaki tak tau diri?" balas Mark tak suka."Kau berselingkuh bersama wanita dan kau marah Dea bersamaku. Sadarlah brengsek! Kau tak ada bedanya denganku namun setidaknya aku tak menyelingkuhi wanita yang menjadi Istriku. Dan aku memperlakukannya dulu dengan sangat baik berbeda denganmu," lanjut Mark.

__ADS_1


"Kurang Ajar kau!" berang Lucas tak suka.


Ke duanya kembali adu jontos. Wanita cantik yang dari jauh menontonnya hanya diam. Ia tak bisa ikut campur karena itu urusan para lelaki bukan bukan dia.


__ADS_2