
Bab 12
"Aku mulai ragu dalam menggenggam. Dia mulai merusak saraf pikiranku. Hingga aku terus memikirkan dirinya."
~Lucas Sandoro~
.
.
.
.
.
Langkah kaki anggunnya memasuki perusahan pencakar langit. Perusahan terbesar number satu di Indonesia. Saat ia melewati para pegawai semuanya menunduk hormat dengan tebaran senyum. Wanita yang masih terlihat Remaja di umurnya hampir menginjak angka tiga puluhan itu benar-benar membuat banyak Orang-orang terpesona.
"Siang, nyonya Sandoro." Sapa sekretaris Lucas saat Dea sampai di depan pintu masuk ruangan Presdir.
"Pagi Sekretaris Hana!" Jawab Dea dengan senyuman ramah. "Apa suamiku ada di dalam?" tanya Dea pada Hana.
"Presdir masih di ruang rapat Nyonya. Nyonya boleh masuk dan tunggu di dalam. Nyonya mau saya buatkan minuman apa?" tanya Hana dengan nada sopan. Tak lupa memberikan senyum ramah pada istri sang bos.
"Oh begitu, cukup teh hangat saja Sekretaris Hana." Tutur Dea lalu masuk ke dalam ruangan Lucas.
Mata Dea cukup liar melihat ke arah semua arah. Lalu Dea mendapatkan tempat yang bagus untuk meletakan beberapa titik kamera tersembunyi. Ia meletakkannya dengan cepat di beberapa titik. Setelah itu Dea melangkah mendekati sofa tempat duduknya.
Ting !
Hampir saja body Dea menyentuh empuknya sofa. Namun suara pesan masuk mengurungkan niatnya. Dea melangkah ke arah meja kerja Lucas. Ternyata lelaki itu meninggal kan Ponselnya di atas meja. Dengan jelas Dea bisa melihat pesan masuk tersebut tanpa harus membukanya. Karena di layar tertera jelas apa yang di kirim.
Senyum sinis tercetak jelas di wajah Dea. Dea dengan santai kembali ke sofa dan duduk di sana. Tak lama Hani masuk meletakan teh hangat di atas meja dan keluar dari dalam.
Hanya sepuluh menit Dea menunggu di sana. Barulah pintu masuk terbuka lagi menampilkan wajah Lucas. Lelaki itu sempat terkejut dengan kehadiran Dea di dalam ruangannya.
Dea berdiri dari duduknya dan tersenyum ke arah Lucas. Lelaki imut itu ikut mengembangkan senyum tampa ia sadari.
"Sejak kapan kau di sini?" tanya Lucas menatap Dea yang kini berada di depannya.
"Sudah sepuluh menit yang lalu, Kak! Aku ingin mengajak Kakak makan siang bersama menjemput Bintang di sekolah. Apa Kak Lucas tidak berkeberatan kan, makan bersama aku dan Bintang?" Tanya Dea dengan mata penuh harap.
Lucas terlihat berpikir, ia memang tak mempunyai jadwal penting selain memeriksa laporan baru.
"Oke tunggu sebentar." Tutur Lucas melangkah ke meja kerjanya untuk mengambil Ponsel yang tak sengaja ia tinggalkan.
Lucas membuka pesan di layar ponselnya. Dia terdiam cukup lama membelakangi tubuh Dea. Dea tau jika Lucas pasti memikirkan ajakan Mutia, sang kakak. Namun Dea tak ingin Lucas sampai bersama sang kakak. Ia melangkah dan memeluk tubuh Lucas dari belakang. Membuat Lucas terperanjat karena pelukan tiba-tiba Dea.
"Aku ingin kita bisa meraih banyak waktu bersama termasuk dengan Bintang, Kak. Putri kita pasti bahagia bisa bersama Papa dan Mamanya," tutur Dea membuat Lucas terdiam.
Dia memang tak pernah menghabiskan waktu bersama Bintang Bukankah jika Lucas bersama Bintang menghabiskan banyak waktu sang putri akan menyayanginya. Lucas kembalikan tubuhnya membuat Dea memeluk Lucas dari depan.
__ADS_1
"Oke. Kita pergi bersama kemana pun kalian mau," tutur Lucas akhirnya.
"Terimakasih, Kak!" Ucap Dea langsung melayangkan kecupan pipi kanan Lucas lalu melepaskan pelukannya.
"Ayo pergi, Kak!"" Tutur Dea sambil menarik tangan Lucas yang sempat membeku. Lucas merasakan jantungnya berdebar cukup kencang karena ciuman sederhana Dea. Di dalam perjalanan tak banyak kata yang Dea mau pun Lucas katakan.
Mobil mobil menepi di pinggir jalan di depan sekolah Bintang. Ke duanya keluar saat melihat Bintang dan anak-anak yang lainnya keluar dari pagar sekolah.
"Bintang!" seru Dea saat melihat Bintang menoleh ke arahnya.
"Mama!" Teriak Bintang berlari ke arah Dea dan memeluk kaki Dea. Dea tersenyum bahagia.
Deheman Lucas membuat anaknya baru sadar jika lelaki imut itu juga ikut menjemput nya.
"Apa tak ada pelukan juga untuk Papa?" Seru Lucas melihat ke arah Bintang dengan wajah lucu.
Ini kali ke duanya Bintang merasa heran dengan sang Ayah setelah tadi malam minta di cium. Bintang melihat ke arah Dea, melihat Dea mengangguk Bintang mengitari mobil, Lucas menekuk kakinya untuk bisa di peluk oleh sang putri.
Bintang memeluk Lucas membuat hati Lucas menghangat. Ini pertama kalinya ia merasakan sang putri memeluknya. Karena biasanya tak ada pelukan dari Bintang. Karena sang Putri sering kali menghindarinya karena salahnya juga.
"Apa kalian telah selesai saling memeluknya? Aku lapar!" rengek Dea dengan suara manja.
Ke dua sudut bibir Lucas terangkat ke atas melihat wajah dan rengekan manja Dea yang tak pernah ia lihat selama tujuh tahun bersama. Lucas mengendong tubuh Bintang dan membukakan pintu untuk Bintang masuk ke dalam mobil.
Dea pun ikut masuk ke dalam mobil. Bintang duduk di kursi belakang sedangkan Dea duduk di sebelah Lucas. Mobil Lucas melaju meninggal sekolah bertaraf Internasional itu.
Setelah menghabiskan sarapa siang ketiganya memasuki taman bermain. Ke tiganya seperti keluarga bahagia di lihat sekilas. Tawa dan canda tak pernah lepas dari ketiganya. Semua wahana permainan di naiki oleh ketiganya.
Saat telah lelah bermain ke tiganya duduk di bangku taman dengan Bintang di tengah ke duanya.
Dea terdiam mendengar Perkataan sang Putri. Ia tak tau jika sang Putri merasa minder dengan teman nya saat di tanya soal kemana ia pergi bersama keluarga. Karna biasanya dia hanya pergi berdua dengan Bintang tampa Lucas.
Lucas merasa hatinya nyeri dengan tampara dari kata-kata sang Putri. Ia memang seorang Ayah yang buruk bukan? Dan itu membuat Baekhyun merasa menjadi Ayah tak berguna.
"Ayo pulang Aku merasa sudah tak kuat lagi. Besok Bintang harus masuk sekolah kan dan Kak Lucas harus bekerja ayo kita pulang sebelum terlalu malam," ucap Dea dengan ceria.
Ke tiga pulang ke rumah saat sampai di rumah Dea dapat melihat mobil sang Kakak di depan rumah nya. Dea berdecis tak suka namun hanya bisa di telan di dalam hati saja.
"Kenapa Imo ada di sini?" Tanya Bintang saat ke tiganya masuk ke dalam ruang tamu.
"Bintang masuk ke kamar dan Mandi ya," tutur Dea dengan lembut.
Bintang menganguk lalu berlari ke arah kamarnya. Dea dapat melihat Lucas melangkah mendekati Mutia. Dea mengepalkan tangannya lalu melangkah mendekati ke duanya.
"Apa Kakak sudah lama datang?" tanya Dea selembut mungkin.
"Cukup lama," jawab Mutia singkat.
"Ada apa, Tia?" Tanya Lucas mendudukan tubuhnya di kursi.
Mutia pun ikut duduk di kursi. Dea melangkah mendekati kursi Lucas dan duduk di sebelah nya. Melihat itu mata Mutia tak lagi memandang adiknya itu dengan pandangan biasa.
"Kau ada waktu, aku ingin berbicara?" ucap Mutia menatap wajah Lucas.
__ADS_1
Belum sempat Lucas menjawab suara Dea lebih dulu terdengar.
"Kak Lucas mandilah lebih dulu, setelah itu baru berbicara lagi dengan Kak Mutia. Tubuh Kakak bau keringat, aku tak suka!" Ucap Dea menatap lembut sang suami. Lucas mengendus bau tubuhnya.
"Mandi lah dulu, Lucas!" tutur Mutia pada akhirnya.
Lucas tersenyum lalu berdiri dari duduknya.
"Aku mandi dulu, nanti kita berbicara lagi Tia." Tutur Lucas lalu melangkah menaiki tangga.
"Apa mau mu sebenarnya Dea?" tanya Mutia dengan wajah tak suka.
"Mau ku? " tanya Dea balik dengan senyum sinis,"Jauhi Kak Lucas! Karena dia adalah suami ku," ucap Dea dengan suara pelan namun menusuk.
"Kau pikir aku akan menjauhi Lucas? Jangan harap. Dia adalah lelakiku bukan lelakimu. Dia bahkan tak pernah mencintaimu. Jadi jangan pernah melarang aku bersama Lucas! Sebaiknya kau tanda tangani surat cerai saja dari Lucas," ucap Mutia dengan wajah tak suka.
"Sayangnya aku tak mau." Bantah Dea sambil berdiri.
"Aku ingin mandi bersama suamiku dulu. Siapa tau kita akan membuat anak lagi." Ucap Dea dengan wajah remehnya dan membalikan tubuhnya.
"Sial kau Dea!" Ucap Mutia marah langsung mencekal tangan Dea dengan kuat.
"Hei! Lepaskan tangan kotormu dari tubuhku ******," maki Dea
"Apa?" teriak Mutia marah.
Lucas yang mendengar teriakan Mutia membuat ia berlari keluar saat di ujung tangga ia melihat Mutia mendorong tubuh Dea.
"Dea!" teriak Luca saat body Dea menyapa lantai.
Akh !
"Perutku sakit!"
Teriak Dea dengan wajah ke sakitan. Mutia teridiam melihat Dea merintih ke sakitan dengan tangan menekan perutnya kuat.
"Mutia Wijayanto! Apa yang kau lakukan pada Istriku, huh!" Teriak Lucas marah sebelum meraih tubuh Dea.
"Kak Lucas! Perutku sakit sekali." Ucap Dea dengan wajah merah dan merintih ke sakitan.
"Kita akan ke Rumah Sakit." Tutur Lucas panik.
Lucas mengangkat tubuh Dea melangkah keluar. Di tempat yang sama Mutia terdiam melihat Lucas mengendong Dea dengan wajah Khawatir. Namun saat melihat ke arah wajah Dea di gendonggan Lucas. Wajah Dra tersenyum dan meledek ke arah Mutia dengan senyum menyeriagai.
Ke dua tangan Mutia mengepal sempurna melihat akting mumpuni Dea. Namun Dea kembali merintih saat Lucas melihat ke arahnya.
"Kurang ajar kau, Dea!" Maki Mutia mengepalkan ke dua tangannya di ke dua sisi tubuh nya.
"Makanya jangan bermain-main dengan aku, Mutia!" Ucap hati kecil Dea yang tertawa puas.
.
.
__ADS_1
.