
Bab 29
--------------------------------
"Kau menorehkan luka yang sama lagi di hatiku yang paling terdalam. Hingga kematian tak mampu menghilangkan rasa sakit di hati dan jiwaku."
~Dea Amelia Wijayanto~
.
.
.
.
.
Lelaki imut itu mengeratkan pelukannya di perut sang Istri. Tubuh polos dengan balutan selimut biru laut membuat kesan tenang untuk ke duanya. Mata bulat itu tertutup rapat dengan hembusan napas teratur.
Beda halnya dengan lelaki imut itu, ia terlihat engan memejamkan ke dua matanya. Padahal waktu sudah menunjukan pukul enam pagi. Namun mata sipitnya tak mau beristirahat. Wajah Lucas di benamkan semakin dalam ke ceruk leher Dea
Penyesalan teramat dalam menggerogoti hati Lucas. Ia harus menyakiti wanita yang menjadi Ibu dari anaknya untuk ke sekian kalinya. Jika bisa Lucas ingin berteriak dengan keras. Untuk mengatakan jika ia tak ingin menyakiti Dea. Ia mencintai wanita yang tengah ia peluk saat ini.
Namun ke adaan seakan menekannya untuk menyakiti wanitanya. Dea menggeliat tak nyaman saat ia merasa lehernya berair. Jangan salah sangka! Itu bukan air liur Lucas. Namun air mata penyesalan Lucas. Merasa Dea tak nyaman, Lucas menarik wajahnya dari ceruk leher Dea.
Ke dua matanya memerah dan masih mengeluarkan butiran kristal bening. Lucas memilih turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Hanya dua puluh lima menit Lucas di dalam kamar mandi. Ia keluar dengan balutan baju kerja lengkap. Saat itu ia melirik jam di atas nakas yang menunjukan pukul setengah tujuh pagi.
Lucas melangkah mendekat ke arah tempat tidur. Ia membungkukkan tubuhnya guna mendekatkan wajahnya ke wajah Dea yang masih terlelap. Ia mengecup kening Dea lalu beralih pada bibir Dea. Ia menjauhkan wajahnya dari wajah Dea.
"Maafkan aku, De!" Ucap Lucas lirih masih menatap wajah damai Dea.
Lucas melangkah keluar dari kamarnya menuju garasi Mobilnya. Kepala pembantu rumahnya menatap kepergian Lucas dengan heran. Pasalnya tak biasanya sang majikan berangkat ke kantor di jam yang masih terbilang sangat pagi.
"Nenek lihat apa?" Suara anak majikannya membuat wanita paru baya itu langsung mengalihkan wajahnya dari cermin transparan rumah ke arah wajah imut bangun tidur nona muda Bintang itu.
"Nona Bintang sudah bangun." Serunya dengan wajah hangat.
Bintang menganggukkan kepalanya. Sudah jadi kebiasaan gadis kecil itu bangun pagi. Dan seperti pagi biasanya, Bintang akan meminta di siapkan air hangat untuk mandi dan segelas susu hangat di pagi hari. Dan untuk sarapan, nyonya Sandoro itu lah yang akan menyiapkannya.
"Nona mau mandi bukan?" Tanyanya dengan wajah ceria.
"Iya nenek." Jawab Bintang dengan senyum kecil.
Wanita tua itu mengandeng tangan Bintang menuju kamarnya lagi. Sedangkan di lain tempat Lucas telah duduk berdua di sebuah Villa yang terletak di pinggir kota Jakarta. Gadis cantik itu tersenyum penuh kemenangan melihat lelaki yang ia cintai telah duduk di depannya.
"Apa kita akan menikah nanti bukan?" tanya Mutia mencoba menyakinkan pendengarannya lagi.
__ADS_1
"Iya." Jawab Lucas singkat.
Mutia mengembangkan senyum liciknya. Ia berhasil mendapatkan Lucas lagi. Lelaki itu memang dari awal adalah lelakinya. Jadi wajar saja ia kembali padanya bukan.
"Tapi dengan syarat, pernikahan ini hanya kita berdua yang tau. Karena aku tak ingin ke dua orang tuaku tau jika aku menikahi kakak Ipar Ku sendiri." Ucap Lucas dengan wajah masam.
"Tenang saja, jangankan ke dua orang tuamu. Dea dan ke dua orang tuaku pun juga tak akan tau," jawab Mutia enteng.
Tentu saja Mutia tak ingin orang lain tau pernikahannya dengan Lucas. Bukan karena ia takut di ejek atau di hina oleh orang lain bahkan oleh dunia sekali pun. Hanya saja jika ke dua orang tuanya tau. Maka ia akan kehilangan Lucas untuk selama-lamanya.
Karena alasan ia menikah dengan Lucas adalah ia hamil anak lelaki imut yang tengah duduk di depannya itu. Ke dua orang tua Mutia tau dengan sangat jelas jika Mutia mandul. Ia tak bisa hamil, itu akan memperkeruh ke adaan. Dan Mutia tak ingin Lucas tau jika ia telah menipu dirinya.
"Ingat! Jangan pernah melampaui batas mu, Mutia Wijayanto. Aku tak akan segan-segan menghancurkan mu jika sampai Dea tau," ancam Lucas dengan suara tegas.
Mutia tersenyum kecut mendengar ancaman Lucas. Lelaki yang dulu memujanya kini telah berbalik membenci dirinya. Namun apa boleh buat, ia akan membuat lelaki itu kembali mencintai dirinya.
Tak akan sulit baginya membuat Lucas berpaling. Mengingat jika lelaki itu sudah bersama dengannya selama bertahun-tahun. Mereka dulu saling mencintai, karena permintaanya Lucas menikahi Dea. Dan ia berpikir jika Lucas akan kembali mencintainya.
"Ya, tenang saja sayang." Ucap Mutia lalu berdiri dari duduknya. "Aku akan membantu persiapan pernikahan kita di taman belakang seperti impian kita dulu. Jadi kau istirahatlah, sepertinya kau letih." Lanjut Mutia lalu melangkah meninggalkan Lucas yang masih duduk di kursi ruang tamu.
Lucas berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati anak tangga. Lucas menaiki satu persatu anak tangga dengan wajah letih. Ia merasa begitu takut saat ini. Karena apa yang ia lakukan akan berdampak buruk untuk ke depannya.
Walau pun Mutia tak masalah menjadi istri ke dua Lucas secara rahasia. Namun bagi Lucas itu adalah jalan menuju neraka. Tapi setidaknya, neraka itu akan di tunda sedikit lebih lama lagi mengingat Mutia akan tutup mulut.
Lucas merebahkan tubuhnya di kasur dan memejamkan matanya. Dulu jauh sebelum ia menikah dengan Dea. Villa yang ia tempati sekarang ini adalah tempat pernikahan impiannya bersama Mutia. Taman belakang yang langsung menghadap laut lepas. Membawa siapa saja akan terpesona dengan ke elokan alamnya.
Karena itu yang terpenting saat ini bagi Lucas adalah menutup rapat bibir Mutia. Agar Mutia tak mengatakan apa-apa pada Dea nya. Jika Dea mengetahuinya dan meninggalkan nya maka Lucas lebih baik memilih mati saja. Itu akan jauh lebih baik dari pada hidup namun tampa wanita yang ia cintai.
Kehilangan Dea, maka ia akan kehilangan Bintang dan juga seluruh isi dunianya. Lucas berharap semuanya hanya mimpi saja. Dimana saat ia terbangun dari tidurnya, saat itu ia akan menemukan sosok Dea saja tampa sosok Mutia.
* * *
Canda dan tawa mengisi ruangan Cafe yang di kelola oleh Somi. Dea merasa senang melihat kebahagian ke dua sahabatnya. Dimana Somi sebentar lagi akan menikah dengan lelaki asal Cina. Sedangkan Mark terlihat serius berhubungan dengan Hani.
"Apa kau akan tinggal di Cina Somi?" Tanya Mark saat tawanya reda.
"Tidak, aku tak bisa meninggal negara ini lagi. Karena di sini aku mempunyai banyak orang yang aku sayangi. Jadi aku dan Leo akan menetap di Indonesia saja." Jawab Somi dengan senyum lebar.
"Syukurlah, aku berpikir akan kehilangan dirimu." Timpal Dea dengan suara di buat-buat sedih.
"Tapikan masih ada aku yang tampan ini yang akan setia menemani mu," seru Mark penuh keyakinan.
Somi dan Dea memasang ekspresi jijik mendengar perkataan Mark yang begitu percaya diri dengan wajahnya.
Ting !
Saat itu lonceng pintu Cafe terdengar jelas. Gadis imut itu melambaikan tangannya ke arah tiga Sahabat itu. Ia melangkah lebar mendekati meja ke tiganya.
__ADS_1
"Kak!" seru Hani dengan suara mengemaskan.
Mark berdiri dari duduknya dan memeluk Hani dengan erat. Dea dan Somi hanya tersenyum melihatnya. Mark menarik satu bangku untuk duduki oleh Hani.
"Wah! Ternyata Mark begitu manis ya, pada perempuan." Ledek Somi dengan wajah mengesalkan bagi Mark.
Mark mendengus jengkel, Hani tersenyum malu dengan wajah bersemu merah. Sedangkan Dea tersenyum anggun melihat ke tiganya.
"Bilang saja kau iri karena Leo mu, tak bisa melakukannya karena dia tak di Indonesia!" Balas Mark dengan wajah jengkel.
Kini gantikan Somi yang mendengus mendengar ledekan Mark.
"Sudahlah! Kalian tak malu dengan Hani yang mendengar perdebatan kalian," lerai Dea.
"Kak Dea. Kak ku bilang hari ini Kak Dea akan cek kesehatan. Kenapa Kakak belum pergi juga?" tanya Hani heran.
"Astaga!" pekik kecil Dea.
Ia lupa jika sore hari ini akan melakukan pemeriksaan ke sehahata nyya secara menyeluruh. Ia harus memantau bagaimana kondisi rahimnya. Dan Dea bergegas pamit dan langsung saja menuju rumah sakit di antar oleh pengawalnya seperti biasanya.
Setelah memeriksa kesehatannya Dea dan Bara mengobrol sebentar. Lalu lelaki berwajah Anime itu mengajaknya menghadiri pesta pernikahan temannya. Ke duanya pergi tampa di ikuti pengawal dengan alasan Bara akan menjaga Dea.
Dan Dea menyetujui itu, karena sesekali bebas dari lelaki bertubuh kekar dengan tampang menakukan itu adalah hal baik.
"Mereka menikah di Villa, Kak?" Tanya Dea saat Bara berhenti di salah satu Villa megah.
"Ya. katanya mereka tak ingin orang lain hadir di pesta rahasia mereka. Aku tak tau kenapa mereka ingin merahasiakan pernikahan mereka. Tapi karna aku sahabatnya saat dia kuliah di luar negeri jadi ia ingin aku yang jadi saksi pernikahannya. Karna aku tak ingin di ledek jadi aku mengajakmu tak apa-apa kan?" Tanya Bara yang melangkah masuk bersama Dea.
"Tidak apa-apa, Kak. Hitung-hitung aku bayar hutang saat meminta Kakak berbohong tentang keguguranku dulu." Jawab Dea dengan wajah ceria.
"Sepertinya acaranya sudah di mulai. Ah! Kita terlambat." Keluh Bara dengan suara di buat-buat sedih.
Dea melihatnya merasa menyesal. Karena mereka datang telat karena Dea juga. Dan saat ia dan Bara sampai di ambang pintu taman dan Villa. Mata Dea terbelalak melihat siapa yang berdiri di altar dengan posisi berciuman. Ia tau persisi siapa lelaki itu dan wanita itu.
"Apa sahabat mu bernama Mutia Wijayanto, Kak?" Tanya Dea dengan pandangan nanar.
"Oh ya, bagaimana bisa kau tau?" tanya berpura-pura terkejut,"Astaga itu bukan kah Lucas?" Lanjut Bara dengan tunjuk Bara seolah-olah tak percaya dengan apa yang tengah ia lihat.
Dea terhempas di dasar jurang yang paling dalam di saat mendengar sang pastur megatakan jika mereka beruda telah syah menjadi suami istri. Saat itu Dea kehilangan ke sadaran. Beruntung Bara menangkap tubuh Dea. Dari atas altar Mutia tersenyum sinis. Saat melihat pungung Bara menjauh dengan mengendong tubuh Dea.
"Ingat janji mu, Tia!" peringat Bara dengan wajah datar.
"Tentu." Jawab Mutia penuh kemenanggan.
"Tentu saja sayang, aku akan menepati janjiku. Janji untuk menikah dan memilikimu selamanya." Ucap hati kecil Mutia.
"Maaf Dea! Aku benar-benar tak bisa menepati janjiku untuk tidak menyakitimu lagi." Ucap hati kecil Lucas dengan denyutan rasa sakit.
__ADS_1