
Bab 15
_______________________
.
.
.
.
Wanita cantik itu menatap jengah ke arah sang Kakak. Hari natal adalah hari di mana seluruh keluarga akan berkumpul. Dan itu membuat sang Kakak dan suaminya bertemu mau tidak mau. Ia menatap tajam bagaimana Mutia menatap Lucas dengan pandangan yang mendamba. Sedangkan Lucas terlihat sedikit risih melihat cara Mutia menatapnya.
"Papa! Tolong antar kan Bintang ke kamar. Bintang mengantuk, tapi Bintang takut tidur sendiri." Seru Bintang menarik lengan kemeja Lucas.
"Wah, Bintang sekarang kenapa manja sekali dengan Papanya, ya?" goda Ani pada sang cucu.
"Mungkin karena sebentar lagi punya adik mungkin jadi dia semanja itu," timpal tuan Wijayanto lalu ke dua suami istri itu tertawa melihat salah tingkah Lucas dan wajah si bungsu Dea memerah.
"Doa kan saja, Bun! Biar cepat isi lagi!" Balas Dea dengan Senyum manisnya.
Mutia memutar ke dua matanya malas. Lalu melangkah menuju kamarnya. Nyonya Wijayanto menatap kepergian sang putri dengan wajah aneh. Sedangkan Budi Wijayanto hanya menatap Mutia sebentar lalu beralih pada Lucas dan Dea.
"Papa! Bunda, aku mengantarkan Bintang ke kamar dulu," pamit Lucas sopan pada ke dua mertuanya.
"Ya. Istirahatlah. Kau juga Dea tidurlah, kau juga pasti lelah," titah sang ayah penuh perhatian.
"Ya, Pa!" Jawab Dea yang mengikuti Lucas yang melangkah lebih dulu.
Dea tau jika Bintang sengaja meminta sang Papanya menemani dirinya ke kamar. Entah kenapa sang Putri terlalu peka dengan masalahnya dan sang suami. Dan Dea tak suka itu, karena itu artinya sang putri juga ikut terluka.
Dea masuk ke kamar lamanya. Ia dan Lucas tidur di rumah Dea. Karena natal tahun kemarin sudah di habiskan di rumah ke dua orang tua Lucas.
Dea menatap hujan yang turun deras. Ia membuka pintu balkon kamarnya dan mengulurkan telapak tangannya. Bulir-bulir dingin air hujan menyapa telapak tangan Dea. Dea memejamkan ke dua matanya merasakan dingin air hujan.
Dingin! Sama seperti rumah tangannya dan Lucas. Dea tersenyum sinis saat ia kembali mengingat apa yang terjadi.
Flashback on
Dea hanya menatap hampa ke arah jam beker di atas nakas. Di mana jam menunjukan pukul enam pagi. Namun Lucas belum juga pulang dari kemarin sore sampai pagi. Biasanya Lucas akan pulang di jam satu malam paling telat.
Namun sudah ia tunggu lelaki itu belum juga pulang ke rumahnya. Itu membuat Dea sedikit gelisah. Pikiran buruk menggerogoti pikirannya. Ponselnya tak aktif sedangkan saat Dea menelfon sekretarisnya berkata Lucas sudah pulang dari jam lima sore kemarin.
Tiga tahun menjalani rumah tangga bersama Lucas membuat dada Dea selalu sesak karena air mata. Ia menatap ke arah wajah damai bayi berumur dua tahun itu. Wajahnya begitu tenang setelah ia susui. Tidakkah hati Lucas melunak melihat anak itu. Anak yang adalah darah dagingnya.
Namun Lucas tak ada perubahan saat sang Putri lahir. Ia masih acuh seperti biasanya. Membuat Dea hanya bisa pasrah setelah berusaha sekuat tenaganya.
__ADS_1
Drdrtdr !
Ponsel Dea bergetar, ia meraihnya. Jari jemari lentik nya membuka satu pesan yang masuk dengan mata membulat tak mengerti.
08101XXXXX
Datanglah ke hotel King Bar sekarang juga. Maka kau akan menemukan suamimu di kamar 178. Kode masuk adalah 7789
Dea langsung berdiri dari duduknya dan menyambar jaket dan tas kecil. Ia melangkah keluar terburu-buru ke kamar Baby sister terlebih dulu. Setelah mengatakan untuk sang penjaga menjaga bayinya baru lah ia pergi.
Dea mengendarai mobilnya dengan kencang. Ia membelah jalan sepi Jakarta dengan ke dua jari tangan menempel meremas stir mobil. Dea memarkirkan Mobilnya di ruang bawah tanah Hotel besar itu.
Dea menekan tombol lantai yang ia tuju. Selama di dalam lift dia hanya di dengan tangan dingin.
TING !!
Pintu Lift terbuka, Dea keluar dari dalam lift dengan wajah tak enak. Dea cukup hapal dengan letak kamar di Hotel besar itu. Karena pemiliknya adalah teman suaminya sendiri.
Ketika Dea berhenti di depan kamar yang di maksud sang pengirim Pesan. Dengan tangan gemetar Dea memasukan kode sandi pintu. Saat bunyi pintu terbuka saat itulah Dea masuk perlahan.
Tangan Kanan Dea meremas kasar tali tas. Kamar mewah kelas satu itu mengantarkan Dea pada ruang tamu lebih dulu. Dea melangkah di sebelah dinding yang menjadi pembatas ruang tamu dan kamar.
Mata Dea terbuka lebar dengan wajah memucat melihat baju,sepatu, dalaman wanita dan pria tergeletak di atas lantai. Dea menatap dua orang Adam dan Hawa itu dengan wajah tak percaya. Ke duanya berpelukan dengan tubuh polos hanya di tutupi selimut tebal.
Dia sangat kenal dua orang tersebut. Satu adalah suaminya dan satu lagi adalah Kakak kandungnya. Dea tak lah bodoh menafsirkan apa yang telah terjadi di sana.
Dea ambruk di lorong kamar Hotel besar itu. Ia terisak keras dadanya terjepit dan terhimpit. Ia menatap nanar lantai berkarpet merah itu dengan genangan air mata.
Tap !
Tap !
Tap !
Langkah kaki seorang pria mendekat ke arah Dea. Saat sepatu hitam mahal itu berada di depan Sohyun. Ia melipat sebel kakinya dan menyamakan tinggi wajahnya dengan Dea.
"Hapus lah air matamu." Titah lelaki itu mengulurkan Dea sapu tangan berwarna biru.
"Kakak!" lirih Dea dengan suara parau dan bergetar.
Lelaki itu tersenyum menatap Dea ia mengelap sendiri air mata Dea dengan perlahan karena Dea tak kunjung menerima pemberiannya. Dea hanya menatap sang Pria bermata tajam itu dalam tangisnya.
"Ayo pergi keruangan ku. Lucas akan melihatmu di sini jika kau tetap di sini Dea!" Ujarnya yang hanya di tatap oleh Dea dengan mata sendu.
Merasa perkataannya tak di hiraukan. Lelaki itu mengendong Dea dengan gerakan cepat dan melangkah ke arah lift. Dea hanya diam di gendongannya. Saat bunyi pintu lift terbuka lelaki itu melangkah masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Ia mendudukkan Dea di atas sofa. Lalu pergi meninggalkan Dea di sana masih terdiam dengan pandangan kosong. Lelaki itu datang dengan segelas coklat hangat.
__ADS_1
"Minumlah. Coklat hangat akan membuatmu sedikit lebih tenang De!" Ucapnya menyodorkan gelas coklat hangat tersebut ke tangan Dea
Dea menerimanya dan menegak nya sekali teguk hinga habis. Lelaki itu menatap Dea dengan pandangan tak terbaca. Ia menepuk bahu Dea perlahan. Dea memeluknya dengan erat. Dea kembali menangis dengan keras.
"Semuanya akan baik-baik saja De. Percayalah Pada Kakak. Kakak akan membuat kamu bahagia. Tunggulah sedikit lagi ya." Ucapnya dengan membelai punggung Dea.
Flashback off
"Kenapa berdiri di sini?" Seru Lucas yang datang dari belakang tubuh Dea.
Dea baru sadar dari lamunannya. Ia merasa telapak tangannya membeku. Ia baru sadar jika telapak tangannya masih menampung tetesan air hujan yang turun. Karena dari awal melamun sudah menampung telapak tangannya.
Akh !
"Dingin!"
Keluh Dea, menarik kembali tangannya masuk. Lucas yang melihat Dea merasa nyeri karena tangan Wanita itu membeku. Lucas menarik Dea masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon.
Dea duduk di atas tempat tidur masih dengan ringgisaan karena telapak tangan nya kaku. Lucas duduk di samping Dea meraih telapak tangan Dea. Ia mengusap dan menghembuskan napas hangat tangan Dea yang beku.
Dea terdiam melihat Lucas memperlakukannya dengan hangat. Lelaki imut itu masih mengusap telapak tangannya dan Dea. Agar tangan Dea kembali menghangat.
"Kenapa kau berdiri dan menampung air hujan dengan melamun Dea. Jika aku tak datang bukan hanya telapak tanganmu saja yang beku tapi seluruh tubuhmu juga akan ikut beku!" Kesal Lucas masih dengan mengusap telapak tangan Dea.
Dea tak menjawab apa yang Lucas katakan. Ia hanya menatap Lucas dengan senyum kecutnya. Andai dulu Lucas melakukan itu padanya. Akankah semuanya akan berbeda bukan?
"Kak Lucas!" panggil Dea dengan nada pelan.
Lucas yang merasa di panggil pun menatap wajah Dea.
"Apakah Kakak sudah bisa melupakan Kak Mutia?" tanya Dea ragu-ragu.
Lucas terdiam mendengar pertanyaan Dea.
"Dea! Aku .."
Perkataan Lucas terpotong karena panggilan dari ponsel Dea. Dea meraih ponselnya di dalam saku baju tidurnya dan mengangkat.
"Kakak?" jawab Dea saat telfon terhubung dengan orang di seberang sana.
Lucas meletakan tangan Dea perlahan di atas paha Dea. Ia tau siapa yang menghubungi Dea. Karena ia sempat melihat nama yang tertera di atas layar.
.
.
.
__ADS_1