
Bab 25
________________________
.
.
.
.
Seminggu setelah keluarnya Dea dari Rumah Sakit, semuanya kembali berjalan normal. Hanya saja kini wanita cantik itu selalu ada pengikutnya ke mana pun ia pergi. Risih? memang, harus bagaimana lagi. Dia pun takut jika lelaki tua gila yang belum juga tertangkap itu bisa kapan saja datang padanya.
Berkat support dari keluarganya Dea bisa bangkit kembali. Ia bisa melepaskan trauma yang membelitnya. Meski ia masih tak bisa menghindari satu hal, yaitu dimana ia terjebak dalam gelap. Saat itu ia akan menjerit ketakutan.
Saat Dea masuk ke dalam cafe bergaya klasik itu sebuah tangan melambai ke arahnya. Dea mengembangkan senyumnya dan melangkah cepat ke arah tempat duduk yang di isi oleh seorang Pria bermata elang.
Lelaki itu langsung memeluk Dea ketika tubuh mungil dan ramping Dea telah berdiri di depannya. Dea membalas pelukan sang lelaki dengan hangat.
"Syukurlah, kau baik-baik saja." Ucapnya dengan wajah ceria.
Hanya dehemman yang ke luar dari bibir Dea. Lelaki itu melepaskan pelukannya dan membawa Dea duduk di kursi tepat di depannya.
"Kakak terlihat pucat, apa Kakak sakit?" Tanya Dea memperhatikan keseluruhan wajah lelaki yang berada di depannya itu.
"Ya, hanya sekedar tak enak badan." Bohong Kris dengan menampilkan senyum menutupi kegugupannya.
"Apa Kakak Kris sudah minum obat saat ke sini?" Tanya Dea dengan wajah khawatir.
Kris tersenyum dan mengangguk pelan. Ia merasa tersentuh karena Dea begitu perhatian padanya. Namun akankah Dea masih perhatian padanya jika ia tau siapa Kris sebenarnya?
Di antara keluarga Dea, belum ada yang menceritakan siapa Kris dan orang tua Kris. Karena mereka tak ingin menjadi beban untuk Dea. Karena selain itu Budi melarang keras siapa saja mengatakan tentang Wang Feng. Ayah biologis Dea sebenarnya.
"Tenanglah Dea aku baik-baik saja, selagi kau juga baik-baik saja." Tutur Kris dengan kekehan.
Dea tersenyum mendengar perkataan Kris. Namun saat itu seorang pria telah berdiri di samping kanan bangku ke duanya. Kris menoleh dan berdiri cepat saat tau siapa yang berada di samping kanan Dea.
Dea yang melihat Kris berdiri pun spontan ikut berdiri dan menatap lelaki yang berdiri di sampingnya.
"Dea, perkenalkan ini Papa ku," tutur Kris memperkenalkan Papa nya.
__ADS_1
Dea menghadap ke arah Feng saat Dea akan memperkenal diri. Tuan Feng langsung memeluk Dea dengan perasaan lega. Tubuh Dea membeku menerima pelukan cepat dari Ayah biologisnya itu.
Tubuh Dea yang membeku terasa rileks kembali. Entah kenapa ia merasa begitu nyaman dalam pelukan lelaki berdarah Cina itu. Sama halnya ketika ia memeluk Kris. Ada yang berbeda dari pelukan ke dua lelaki itu. Dan Dea tak tau kenapa rasanya bisa berbeda. Dan Dea berpikir apa semua lelaki keturunan Cina pelukannya terasa hangat dan nyaman?
Bahkan pelukan Budi tak senyaman dan sehangat pelukan lelaki yang tengah memeluknya saat ini.
"Papa!" Seru Kris yang tak ingin sang Ayah lepas kontrol.
Mereka tak bisa mengatakan siapa mereka berdua saat ini. Karena ke adaan tak memungkinkan ke duanya untuk mengatakan siapa mereka. Feng yang mendengar seruan sang Putra pun melepaskan pelukannya dan menghapus cepat lelehan air mata yang berada di ke dua pipinya.
"Ayo duduk." Tutur Kris menarik bangku untuk sang Ayah di sampingnya.
Tuan Feng pun duduk perlahan namun masih menatap wajah Dea dengan intens. Anaknya terlihat cantik, ia merasa ke dua mata Dea mewarisi mata Jenni yang tajam. Putrinya terlihat begitu mirip dengan Jenni wanita yang ia cintai.
"Hallo Tuan Wang, nama saya Dea!." Tutur Dea mengenalkan dirinya meski agak kaku.
Tuang Wang tersenyum lebar melihat wajah cantik Dea mengembangkan senyumnya. Tuan Wang mengangguk kepalanya mengerti. Ke tiganya berbicara banyak hal dari awal pertemuan Kris dan Dea dan masih banyak lagi yang ke duanya bicarakan.
Di lain tempat lelaki memakai kemeja hitam dengan wajah imut itu hanya menatap gugusan awan di atas sana. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Sepasang tangan menepuk bahu Lucas pelan. Membuat sang pemilik menolehkan kepalanya kebelakang.
"Apa yang kau lihat hingga terasa begitu jauh?" tanya Chandra yang entah kapan sudah berdiri di samping Lucas menatap pemandangan yang sama.
"Chan! apa menurut mu aku bisa melepaskan Mutia bersama lelaki lain?" tanya Lucas yang Membuat kepala Chandra menoleh cepat ke samping.
"Apa maksudmu Lucas? Bukankah kau sudah melepaskannya?" tanya Chandra dengan wajah tak terbaca.
"Ya, memang. Namun tadi pagi ia datang ke kantorku. Ia mengatakan tak ingin lagi seperti saat ini. Dan dia mengancam ku untuk menikah dengannya. Atau ia akan membongkar hubungan kami kepada ke dua orang tuaku," keluh Lucas pelan.
Chandra hanya mengeram marah mendengar perkataan Lucas. Ia tau tak semudah itu melupakan wanita yang telah lama di hidup dan di hati. Namun kini kondisinya berbeda Lucas telah memiliki Dea di sampingnya. Dan juga Bintang yang menjadi tangung jawabnya.
"Kau bodoh? Kenapa kau bertanya apa kau bisa melepaskan Mutia dengan lelaki lain. Lalu apa kau mau Dea pergi darimu? Bersama dengan Bintang putrimu !" jawab Chandra sedikit emosi.
Tak ada jawaban dari bibir Lucas. Lelaki itu mengatup rapat bibirnya.
"Dan di tambah ia akan mengatakan hubungan kalian pada ke dua orang tuamu ! Apa kau tak berpikir ini akan membuat ke adan Dea semakin sulit. Jangan menyiksa Dea seperti ini dengan ketidak tegasanmu Lucas! Jika kau masih labil begini lepaskan saja Dea seperti yang ingin kau lakukan satu tahun yang lalu. Dan aku akan menikahinya mengantikan sabahat bodohku. Dan kau perlu ingat Lucas. Aku juga pernah jatuh Cinta padanya sebelum hadirmu dan Kris ." Ucap Chandra lalu membalikan tubuhnya.
Ia melangkah cepat pergi dari atap gedung dengan perasaan marah. Yah! Itu memang kejutan tak terduga bukan? Chandra memang pernah mencintai Dea. Hampir bersamaan saat sang sepupu dari Cina datang ke Indonesia.
Namun saat tau sepupunya jatuh Cinta pada gadis yang sama dengannya. Chandra mundur teratur karena tak ingin bertengkar hanya karena wanita. Namun tak di sangka yang mendapatkan Dea adalah Sahabatnya sendiri bukan sepupunya.
Chandra tak bisa berbuat banyak. Ia merelakan apa pun yang tetjadi. Itulah alasan kenapa ia tak pernah serius dalam menjalani hubungan dengan wanita. Ia suka gonta ganti pasangan. Hingga berkhianat pada banyak wanita. Namun saat itulah ia menemukan perempuan yang hampir mirib dengan Dea secara tak kasat mata.
__ADS_1
Ia mencintai gadis itu namun sebagai penganti Dea Amelia Wijayanto. Namun siapa sangka gadis itu tau jika dia hanya objek pelampiasan saja. Hingga ke duanya putus hubungan. Dengan cara sang gadis memutuskan hubunggan ke duanya.
Lucas mengusap wajahnya ftustasi. Lagi-lagi ia di hadapkan oleh pilihan yang sulit. Lucas tak menampik fakta bahwa Chandra menyukai bahkan mencintai Dea. Lucas tau bagaimana kepribadian Chandra hingga tak terlalu mempermasalahkannya.
Namun saat mendengar ancaman dari Chandra barusan. Jujur saja Lucas merasa takut jika benar-benar Chandra merebut Dea darinya. Namun yang jadi permasalahannya saat ini adalah Dea atau Mutia yang berada di hatinya. Ia harus merubah 50:50 menjadi kata seratus persen.
* * *
Dea menatap hamparan bintang di langit malam. Gemerlapnya membuat Dea tersenyum tipis. Angin malam menerpa wajah cantiknya. Bahkan anak rambut samping wajahnya seakan ikut membelai wajahnya.
Balkon kamar mewah itu membuat Dea dapat melihat pemandangan di bawah. Ia mendesah letih saat melihat beberapa penjagaan ketat di luar sana. Begitu banyak body guart di kerahkan untuk menjaga rumah.
Menginggat peristiwa menakutkan itu. Tiba-tiba saja wajah Dea berubah sendu. Ia kembali menginggat bagaimana pristiwa penusukan Ibunya terjadi. Hingga ke dua tangan Dea meremas keras besi pembatas balkon hinga kukunya memutih.
Tubuhnya bergetar hebat dengan peluh yang mulai membanjiri seluruh tubuhnya. Dada Dea terasa terhimpit oleh rasa sakit. Namun saat itu pula ia merasa lega saat sepasang tangan melingkar di perut rampingnya.
Ia kenal betul aroma mint dari tubuh lelaki yang tengah memeluknya kini. Lucas yang merasa aneh dengan tubuh Dea langsung membalikan tubuh Dea menghadap ke arahnya. Betapa terkejutnya Lucas melihat wajah pucat Dea di serta wajah yang banjir keringat.
"Kau Kenapa?" Tanya Lucas khawatir menangkup wajah Dea.
"Tidak apa-apa, Kak!" Kilah Dea.
Mana percaya Lucas dengan apa yang Dea katakan. Ia langsung menarik Dea ke dalam pelukanya. Ia merasa jika Dea mulai merasakan rasa takut itu lagi. Menginggat kejadian menimpanya adalah di waktu tengah malam.
Sebelah tangan Lucas di gunakan memeluk pinggang Dea. Dan sebelahnya lagi di gunankan untuk mengusap pelan pungung yang mulai basah di balik gaun tidur berwana biru laut itu.
"Tenang, aku berada di sini bersamamu. Tak akan ada yang bisa menyakitimu." Tutur Lucas masih mengusap pelan pungung belakang Dea.
Lambat laun Dea mulai merasa damai kembali. Lucas masih melakukan hal yang sama.
"Kak Lucas! Aku lelah," tutur Dea pelan.
Bara tersenyum mendengar suara Dea kembali. Ia melepaskan pelukannya dan menarik Dea naik ke atas tempat tidur. Namun sebelum Dea merebahkan tubuhnya. Lucas menyodorkan segelas coklat hangat agar Dea lebih tenang.
"Terimakasih, Kak!" Ucap Dea meneguk sampai habis coklat hangat yang Lucas buatkan.
Dea kembali memberikan gelas bekas coklat hangat yang kosong ke arah Lucas. Lelaki imut itu meletakan gelas kosong tersebut ke atas nangkas. Dea merebahkan tubuhnya dan Lucas menarik selimut sampai batas dada Dea.
Ia berbaring di samping tubuh Dea tanpa mematikan lampu. Karena Dea takut gelap hingga Lucas tak pernah mematikan lampu tidur lagi. Lucas membawa Dea ke dalam pelukanya. Ia mengecup dahi Dea pelahan.
"Aku memilihmu dan Bintang, akan aku lepaskan Mutia untuk selama-lamanya," ucap hati kecil Lucas menatap wajah damai Dea, lalu menutup ke dua matanya menyusul Dea ke alam mimpi.
__ADS_1