
Bab 9
"Mampukah kalian menyatukan kelopak bunga yang telah gugur atau membuat arang kembali menjadi kayu?
Jawabannya adalah tidak !
Bukan?? "
~Author ~
.
.
.
.
.
Dua hari tak pulang Dea terlihat santai saja memasuki rumah megahnya. Namun saat ia akan menaiki tangga suara berat lelaki imut itu terdengar menyapa gendang telinga Dea.
"Wah bagus sekali! Dua hari tak pulang. Dan saat pulang kau seakan semuanya baik-baik saja Dea Amelia Sandoro." Sinis Lucas melipat ke dua tangannya di depan dada dan menyandarkan bahu lebarnya di salah satu dinding menatap Dea dengan wajah angkuh.
Dea membalikan tubuhnya menatap Lucas dengan santai. Tidak dengan jantungnya yang berlomba karena jujur saja ia takut. Bukan takut dengan Lucas namun takut jika Lucas menggagahinya lagi.
"Bukanlah kau dulu juga biasa melakukannya bahkan kau pulang dengan parfum Wanita dan noda lipstik di kerah bajumu. Jadi apa salahnya aku juga melakukannya," balas Dea mencibir Lucas. Sebisa mungkin dengan nada datar.
Lucas terkekeh dengan suara sumbang. Namun tidak dengan wajahnya yang menegang dan rahang yang mengeras.
"Apa kau akan menjadi ****** Istri ku," sinis Lucas dengan suara penuh penghinaan.
"Ya. Siapa tau ada lelaki kaya yang bisa aku gaet. Tak masalah jadi ****** asalkan terlihat jelas. Dari pada pura-pura baik di depan banyak orang namun penuh kemunafikan," cemooh Dea tak kalah menghina Lucas.
Habis! Habis sudah kesabaran Lucas saat ini. Rahangnya semakin mengeras. Tangan yang di lipat di depan dada terlepas.Ke dua telapak tangannya mengepal di ke dua sisi tubuhnya. Lucas melangkah mendekati Dea terburu-buru.
Tubuh Dea membatu melihat Lucas melangkah semakin mendekat dengannya. Namun Dea masih berusaha Sok tak takut. Ke dua tangan Dea meremas ujung dress selutut berwana kuning nya.
"Dasar ****** tak tau diri!" Teriak Lucas menggema di rumah besarnya.
"Lucas!" Seru Suara wanita paru baya di yang datang dari ruang tamu bersama wanita berumur tiga puluh tahun.
Sontak saja Lucas dan Dea beralih menatap wanita berumur lima puluhan itu. Wanita yang masih cantik dan terlihat imut di umurnya tak lagi muda.
"Mama!" seru Lucas menatap sang Ibu dengan suara terkejut.
"Apa yang kau katakan tadi, hah! Bagaimana bisa kau menghina Istrimu sendiri sekejam itu Lucas Sandoro. Apa aku mengajarkan kau cara menghina, hah!" Teriak sang Ibu penuh amarah.
"Tante, tenanglah. Aku yakin Lucas tak sengaja mengatakannya," ucap Mutia Kakak kandung Dea mencoba menenangkan emosi Ibu, Lucas.
Ke duanya masuk tepat di saat Lucas berteriak menghina Dea. Santi tak suka putranya menjadi lelaki yang kasar dan tak terkendali. Terutama pada wanita karena Santi juga adalah seorang wanita. Bahkan Anto tak pernah menghinanya. Jangankan untuk menghina, untuk sekedar membentak saja ayah Lucas tak pernah.
__ADS_1
Dea menatap sang Kakak lalu menatap ke arah Lucas. Ke duanya terlihat saling tatap dan Mutia memberikan kode agar Lucas meminta maaf pada Dea.
Dea seakan melihat sebuah gambaran lagi. Dimana Baekhyun bercumbu dengan gila dengan kakaknya sendiri. Dan bayangan itu berputar menampakan semuanya. Perselingkuhan suaminya membuat ia frustasi dalam diam.
Akh !!!!
Pekik Dea memegang kepalanya. Membuat ke tiga orang di sana menatap Dea dengan panik. Lucas dengan cepat menyambut tubuh Dea saat hampir saja kepala belakang Lucas menyentuh sudut tangga.
Santi dan Mutia berlari menghampiri Dea. Santi tau sang menantu mengalami Amnesia. Jadi wajar saja ia banyak berubah. Dan Santi tak mempermasalah kan nya karena ia tau Dea adalah menantu yang baik. Menantu dan Ibu sekaligus Istri yang sempurna untuk sang Putra.
"Dea!!" Seru ke tiganya serentak.
Dea masih saja berteriak saat bayangan itu semakin jelas dan terbuka. Seluruhnya telah terbuka membuat air mata Dea meleleh di kedua sudut matanya. Lucas memangku tubuh Dea.
"Hubungi Dokter Mutia!" Titah Santi panik melihat Dea menarik rambutnya.
"Iya, Tan!" Ucap Mutia tak kalah paniknya.
Lucas memanggil nama Dea. Dea bernafas memburu seolah ia sendang mengontrol emosi di tengah rasa sakit yang melanda. Merasa cukup Dea menatap Lucas dengan ke dua mata tajamnya. Tak lagi mengerang dan berteriak Dea mencoba mendudukkan tubuhnya. Lucas dan Santi membantu Dea duduk di lantai.
Dea tersenyum miris, ia menatap Lucas dengan mata penuh kebencian dan luka.
"Dea! Apa yang sakit sayang apa?" Tanya Santi mennangkup wajah menantunya dengan wajah panik.
"Mama! Aku sudah mengingat semuanya," ucap Dea dengan suara lirih.
Ke tiganya syok namun Santi cepat memeluk tubuh Dea. Sedangkan Lucas dan Mutia mereka membeku di tempat. Bahkan hembusan nafasnya tak beraturan. Mutia yang baru selesai menelfon Dokter pribadi Keluarganya menatap Dea dengan jantung berdebar kencang.
Flashback on
Dea menatap wajahnya di cermin restoran Italia. Dimana Lucas memintanya makan siang di sana. Restoran mewah yang tak pernah Dea kunjungi setelah ia melepaskan masa lajangnya. Ia menatap pantulan wajahnya di sana.
Dea berdandan sebisa mungkin terlihat cantik dengan rambut ikalnya. Ia merasa senang bukan kepalang. Meski awalnya tak mencintai Lucas. Namun lama ke laman perasaan itu mulai tumbuh untuk Lucas. Meski perlakuan lelaki itu begitu kejam pada Dea.
Wanita beranak satu itu berharap Lucas akan berubah. Meski ia sering menemukan bau parfum Wanita di jas Lucas. Atau noda lipstik di kerah bajunya. Bukan hanya itu saja di lehernya terkadang terdapat bekas isapan.
Marah? Terluka? Sakit? Jangan di tanya lagi itu padanya. Tentu saja ia merasakan semuanya. Namun ia akan mempertahankan rumah tangganya demi Bintang Sandoro. Putri cantiknya, malaikat kecil segala-gala nya baginya.
Dea melangkah keluar dari kamar mandi dan menuju ruangan yang Lucas kirimkan pada Dea. Saat sampai pegawai retoran kelas kolomerat itu membukakan pintu untuk Dea.
"Silahkan masuk nyonya Sandoro!" Ucapnya Sopan.
Dea tersenyum hangat. Ia masuk ke dalam ruangan dimana sang suami telah duduk dengan santai.
"Maaf terlambat, Kak!" Seru Dea duduk di bangku tanpa sadar kehadiran wanita lain di sana.
Wanita yang duduk di samping Lucas.
"Eh? Kakak!" seru Dea untuk kedua kalinya."Kakak juga makan bersama dengan kita?" Lanjut Dea menatap sang kakak dan Lucas bergantian.
"Mutia bukan makan bersama kita namun ada yang ingin kami sampaikan padamu," utara Lucas membuka suara.
__ADS_1
Entah mengapa Dea merasa perasaan tak enak melihat wajah dan suara serius Lucas.
"Tentang apa, Kak Lucas?"" tanya Dea pelan.
"Tidak usah berlagak bodoh Dea! Aku tau kau pasti tau jika aku selingkuh di belakangmu bukan. Dan kau tak berani marah padaku secara terangan. Jadi biar aku katakan yang sebenarnya padamu," ucap Lucas dengan begitu entengnya.
Deg !!!!
Dea terdiam seribu bahasa. Ia tau apa yang Lucas katakan itu benar adanya.
"Lalu?" tanya Dea dengan suara bergetar.
"Wanita itu! Apa kau tak penasaran siapa dia?" tanya Lucas.
Mutia hanya diam mendengar Dea dan Lucas berbicara. Ia tak ingin menyakiti Dea lebih jauh lagi. Karna bagaimana pun Dea adalah adik kandungnya sendiri. Namun ia begitu mencintai Lucas sebelum Dea. Dan mereka telah pernah membina hubungan sebelumnua. Namun tak satu orang pun tau hubungan mereka.
"Siapa dia?" tanya Dea dengan ke dua tangan bergetar dan mata memerah.
"Wanita yang duduk di sampingku." Ucap Lucas lalu mengenggam tangan Mutia.
"Jangan becanda Kak Lucas itu tak lucu. Kak Mutia juga jangan memberi kejutan yang tak lucu," protes Dea dengan suara bergetar.
"Maafkan aku, De! Aku dan Lucas saling mencintai. Kami bermain api di belakangmu, aku akui itu. Bahkan hubungan kami bukan hubungan biasa Dea. Kami tercinta di belakangmu selama tujuh tahun De!" Jelas Mutia yang angkat suara.
Air itu kembali jatuh ikut serta menjadi saksi bisu rasa sakit Dea. Di khianati lagi. Dea mencengkram erat gaunnya.
Dea berdiri dari duduknya membuat ke dua orang tak tau malu itu juga ikut berdiri.
Byuurr..!!
Air putih yang ada di gelas di depan Dea langsung berpindah ke depan wajah Mutia. Membuat Lucas berteriak marah melihat perbuatan Dea. Namun bukan cuma Mutia yang mendapatkannya Lucas juga.
"Kalian terlalu kotor untuk berada di sekelilingku. Mulai saat ini aku tak akan pernah lagi ingin melihat wajah kalian berdua. Dan aku akan membalaskan sakit hatiku pada kalian dengan cara yang sadis!" Peringat Dea dengan wajah memerah dan suara berat.
Lucas berteriak marah namun Dea tak peduli. Ia melangkah keluar dari ruangan dengan langkah kuat namun rapuh. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tercepat. Ia membanting stir mobil hingga membuat mobilnya berputar dan terbang terbaik saat menabrak trotoar jalan.
Mulai saat itu otaknya menghapus rasa sakit yang tak kuat ia pikul lagi. Hanya kematian yang ia inginkan. Penyesalan yang ia dapatkan, berharap ia bisa kembali ke masa lalu.
Flashback Off
"Benarkah kau sudah mengingat semuanya sekarang sayang. Terimakasih tuhan !" Seru Santi dengan wajah bahagia.
Dea melepaskan pelukan Santi dari tubuhnya. Lalu menatap ke arah Mutia dengan mata tajam penuh intimindasi. Lalu ke arah Lucas dengan mata tak lah tajam.
Dea berdiri di ikuti oleh Santi dan Kucas yang masih berada di belakang tubuh Dea.
"Kak Lucas!" seru Dea dengan wajah tak terbaca.
Santi melihatnya dengan penuh senyuman bahagia. Mutia dan lucas terdiam membeku.
"Terimakasih aku mencintaimu. Maafkan aku yang tak mengingatmu." Ucap Dea langsung memeluk Lucas dengan senyum licik.
__ADS_1
"Terima pembalasanku Kak Lucas. Show Time Lucas Sandoro!" Ucap hati kecil Dea.