
Bab 21
_________________
"Jangan pernah pergi dariku atau pun terluka seizin ku karena tubuhmu berserta jiwa dan hatimu adalah milik ku !"
~Lucas Sandoro~
.
.
.
.
Udara pagi hari minggu begitu menyegarkan. Wanita cantik itu terlihat begitu segar dan ceria. Bagaimana tidak hubungannya dengan sang suami terasa semakin romantis saja. Lelaki dingin imut itu sudah berani terang-terangan memperlihatkan perhatiannya bukan hanya pada dirinya tapi juga pada sang Putri.
Di tambah kondisi Papanya juga sudah sehat. Kondisi tubuhnya juga terasa begitu baik. Sebulan sudah berlalu di mana Lucas dan dia bertengkar dan juga pengakuan Kris. Pengakuan jika lelaki itu mencintai dirinya. Sejak saat itu ia tak lagi mendengarkan kabar dari Kris.
Hari ini Dea memeriksakan kandungnya ke Rumah Sakit. Dimana saat ini dirinya di dampingi oleh Lucas. Lelaki itu begitu bersemangat untuk menemani dirinya memeriksa kandungan.
"Kandungnya Nyonya Sandoro, begitu sangat sehat. Yang perlu di perhatikan di tahap awal adalah kurangi aktifitas yang melelahkan fisik. Dan juga kurangi jadwal padat anda Nyonya di luar rumah!" Papar Dokter Mia menulis resep obat dan vitamin untuk Dea.
Lucas menyimak apa yang keluar dari bibir Mia dengan seksama. Ia dulu tak tau menahu apa yang Dea perlukan apa yang tak boleh Dea lakukan. Namun kini tidak lagi bahkan Lucas begitu cerewet bertanya pada Mia banyak hal. Hingga membuat Dokter muda itu kewalahan menjawab pertanyaan Lucas saat ia melakukan USG pada janin Dea.
"Baiklah terimakasih Dokter Mia!" ucap Lucas formal.
"Sama-sama Tuan Sandoro, saya berharap Tuan akan kesini lagi bersama nyonya Sandoro. Karena itu pasti akan sangat berharga bagi Nyonya!" ucap Mia.
"Ya!" jawab Lucas singkat dengan senyuman tulus.
Dea dan Lucas keluar dari ruangan Mia menuju pintu lift untuk turun kelantai dasar. Karena Ruangan Dokter Mia berada di lantai dua gedung Rumah Sakit.
"Dea!" Seru suara keras Bara saat Dea dan Lucas akan masuk ke dalam lift.
"Oh. Hai Dokter, apa kabar?" sapa Dea ramah saat Bara berada di depan ke duanya.
"Baik. Apa kabar Dea? Bayinya baik-baik saja bukan?" tanya Bara dengan lembut.
"Iya dia baik-baik saja." Jawab Dea berserta lemparan senyuman.
Lucas menggenggam tangan Dea dengan sedikit posesif. Dea menatap Lucas lalu menatap tangan yang lelaki imut itu genggam dengan kuat. Dea hanya mengeleng pelan melihat wajah tak suka Lucas. Lelaki itu begitu sensitif kepada banyak lelaki yang mendekatinya.
Dan Dea suka itu! Gila memang namun Dea merasakan jika Lucas mencintai jika lelaki itu cemburu bukan?
"Dokter Bara, kami pamit dulu ya," pamit Dea yang melihat wajah Lucas semakin masam saja.
"Ah! Ya hati-hati di jalan Dea!" ucap Bara yang seakan tak ada Lucas di samping Dea.
Ke duanya masuk ke dalam lift. Lucas terlihat cemberut dan mengerut pelan. Dea terkekeh mendengar gerutu kekesalan Lucas.
Sedangkan di depan pintu Lift Bara berdiri dengan wajah tak dapat di baca. Lelaki itu melangkahkan kakinya menuju ruangannya. Ia membuka laci meja kerjanya. Tangannya meraih bingkai foto yang mana di sana terlihat foto dirinya bersama wanita cantik.
"Aku tak menyangka jika kau menjadikan aku pelarian mu saat itu Kak! Kau hanya menjadikan aku lelaki hanya untuk menemani harimu di Canada dulu. Tapi apa kau tau aku tulus padamu. Tapi kau malah berkhianat dan bermain api dengan adik ipar mu sendiri," Cibir Bara pada wanita di foto.
Meski wanita itu tak akan menjawab apa yang Bara katakan. Namun Bara hanya bisa menghela nafas letih. Ia jatuh Cinta pada Mutia tepatnya saat Mutia melanjutkan studi nya di negara Canada.
__ADS_1
Entah nasib baik atau buruk keduanya bertemu di kampus sama namun dengan jurusan berbeda. Dimana Mutia mengambil jurusan Bisnis dan Bara mengambil jurusan Kedokteran.
Karena merasa cocok ke duanya menjalin hubungan. Meski umur ke duanya terpaut tiga tahun. Dimana Mutia lebih tua tiga tahun dari pada Bara. Namun karena Bara memiliki IQ di atas rata-rata hinga bisa menyelesaikan studinya lebih cepat hingga satu angkatan dengan Mutia.
Mutia merasa nyaman dan terlindungi bersama lelaki Dirgantara itu. Hingga ke duanya terus bersama hinga Mutia kembali ke Indonesia. Ia tak memberikan Bara Dirgantara informasi lebih pada lelaki itu tentang dimana ia tinggal di Indonesia, atau pun Informasi yang bisa membawa Bara bertemu dengannya.
Wanita itu memutuskan Bara saat ia menamatkan studi di sana. Dulu saat berpacaran Mutia selalu menghindar saat lelaki itu meminta Mutia membawanya ke Indonesia bersama gadis itu. Dengan alasan ia tak ingin keluarganya tau dia punya kekasih. Karena ia berjanji setelah lulus kuliah barulah ia akan mengenalkan Bara sebagai kekasih nya.
Namun apa yang lelaki itu peroleh. Kata putus lah yang ia dapatkan saat ke duanya Wisuda. Dan saat baru datang ke Indonesia lelaki itu langsung mencari tau tentang Mutia berpatokan pada Informasi yang ia dapatkan dari detektif Indonesia.
Betapa terkejutnya dia saat tau siapa Mutia saat tanpa sengaja ia melihat Mutia bersama Lucas di Hotel empat bulan yang lalu. Ia tak tau jika lelaki itu adalah suami Dea. Wanita yang tak sengaja ia tolong saat akan menjemput adik ke sayangannya.
Takdir memang kejam bukan? Hingga ia harus terjebak lagi pada cinta yang rumit. Ia jatuh Cinta wanita yang telah memiliki suami. Awalnya ia tak ingin membantu Dea. Namun saat Dea mengatakan bahwa ia tak tau rasanya dikhianati. Saat itu ia melihat dan merasakan perasan terluka Dea. Hingga ia berbohong pada Lucas tentang keguguran palsu itu.
Lucas percaya saja dengan apa yang ia katakan. Jujur saja Bara membenci Lucas. Karena ia kalah oleh lelaki yang sama lagi. Walau pun Lucas tak tau sama sekali hubungan dirinya dan Mutia pada masa lalu.
"Apa aku kali ini aku akan kalah lagi pada lelaki itu? Aku tak ingin melepaskan wanita itu kali ini. Biarkan aku yang mendapatkan Dea Amelia Wijayanto menjadi nyonya Dirgantara." Ucap Bara menatap jendela transparan ruangan kerja nya.
Ia membuang bingkai foto itu ke tong sampah.
"Sudah saatnya aku melupakanmu bukan? Kau boleh bersama Lucas. Dan aku akan bersma Dea, karena kami sama-sama tulus mencintai dan sama-sama di permainkan oleh kalian." Ucap Bara dengan rahang mengeras.
📢 📢 📢
"Apa kau sudah mendapatkannya Hani?" Seru Dea melihat gadis imut itu mematung di depan Laptopnya.
Ke duanya berada di taman tak jauh dari Kampus. Dea menggucang bahu gadis imut itu hinga ke sadaranya kembali lagi. Entah kenapa gadis Dirgantara itu tak terlihat berkonsentrasi dalam mencari desain gedung di internet.
"Apa terjadi sesuatu?" selidik Dea pelan.
"Kak! Apa aku tidak cantik?" tanya Hani bukan menjawab pertanyaan Dea malah balik bertanya.
Hani mendesah frustasi dan menatap Dea dengan mata sendunya.
"Lalu kenapa Dosen Mark tak menyukai ku? Apa yang harus aku lakukan agar dia mencintai ku, Kak?" tanya Hani putus asa.
Dea tersenyum melihat wajah sedih Hani. Kini ia tau apa yang membuat gadis imut itu terlihat gelisah. Ternyata lelaki yang dari awal di incarnya yang membuat gadis ceria itu berubah.
"Apa kau ingin berkencan dengan Kak Maek?" tawar Dea begitu menggiurkan.
Wajah yang awalnya di tekuk itu langsung memandang Dea dengan mata berbinar. Hani mengangguk kan kepalanya dengan semanggat.
"Kau akan berkencan dengan Kak Mark dalam waktu dekat. Jadi tenang saja dan kerjakan laporan kita dulu. Aku akan membantumu! Ingat aku adalah teman nya jadi akan sangat mudah membuatmu dekat dengan nya," hibur Dea tulus.
"Terimakasih Kak Dea sayang!" ucap Hani penuh semanggat.
"Nah begitu donk." Ucap Dea mencubit ke dua pipi Hani membuat gadis itu merintih ke sakitan. Lalu ke duanya tertawa dengan keras.
Di sudut taman lelaki tua itu menatap Dea dengan wajah menyeramkan. Ia terus mengawasi Dea dari jauh. Sampai Dea dan Hani berpisah. Namun Dea tak langsung pulang padahal waktu sudah menunjukan pukul 21.00 malam.
Dea melangkah memasuki ruangan kampus di mana di sana sudah ada Mark yang menunggu. Dea tersenyum melihat Mark duduk menunggu nya di salah satu bangku mahasiswa.
Di kampus tak ada lagi orang karna memang akhir semester banyak yang tak datang karna malas.
"Kakak Mark!" Pekik Dea lantang di ruangan itu.
"Oh."
__ADS_1
Dea duduk di depan kursi Mark. Ia tersenyum melihat wajah letih Mark.
"Melelahkan bukan jadi seorang Dosen Kak?" Ucap Dea dengan senyum.
"Ya! Sangat melelahkan. Aku sampai kena omel Somi karna jarang berkumpul bersama," keluh Mark.
Dea tertawa mendengar perkataan Mark. Ke duanya mengobrol banyak hal sampai Dea menyampaikan maksud ia ingin bertemu. Awalnya Mark menolak namun melihat wajah penuh harap Dea membuat ia mau tak mau menyetujui permintaan Dea.
Ia akan berkencan bersama Hani di akhir pekan. Ke duanya melangkah mendekat ke arah parkir.
Bruk !!!!!!
BUK !!!!
"Kakak Mark!!"
Teriak Dea saat Mark tersungkur di pakiran besmen kampus. Dea terbelalak melihat lelaki memakai pakaian serba hitam dan topi berserta masker penutup wajah. Lelaki yang memukul kepala belakang Mark dari belakang itu terlihat menyerigai pada Dea.
Dea berlari menuju tangga agar bisa kabur dari lelaki itu. Namun lelaki itu mengejar Dea dengan cepat.
Dea yang tak henti-hentinya berteriak di sana. Namun sialnya kampus itu tak ada satu orang pun. Di pos sapam di sana lelaki berbaju hitam penjaga kampus terlihat pingsan.
"Kakak Lucas, tolong aku!!" Rapal Dea berlari dengan merogoh ponsel nya.
Bruk !!!
Akh !
Dea tersungkur karena tak melihat jika ada pembatas di sana.
"Kemana kau akan pergi anak manis." Seru lelaki itu dengan suara menyeramkan.
"Siapa kau,hah? Apa yang kau mau dari ku, hah??" bentak Dea menahan sakit di lutut di ke dua kakinya.
"Nyawa mu! Seperti dulu saat kau begitu manis menangis melihat Mama mu mati di tanganku." Ucapnya dengan seringai di balik masker hitam.
"Mama?" ulang dengan suara bergetar.
"Kau lupa ternyata ya?" Jawab nya dengan langkah semakin dekat Dea meringsut kebelakang semakin lelaki itu mencoba mendekati Dea semakin cepat meringsut ke belakang.
Lelaki itu mengayun kan tongkat besballnya ke depan tubuh Dea yang sudah tersudut.
"Mama!!!" teriak Dea lantang dan pingsan.
Tongkat besball itu terawang melihat Dea tak sadarkan diri. Ia tersenyum sinis melihat gadis yang harusnya ia lenyapkan dulu masih hidup dan melupakan dirinya serta pristiwa berdarah itu.
Ia menekuk kaki kanannya dan menunduk menyingkirkan rambut Dea yang menutupi wajah cantiknya.
"Seandainya kau mati saat itu mungkin Mama mu akan selamat. Dan seandainya kau tak lahir wanita yang aku cintai tak akan menderita karena takut kau merebut posisi anaknya." Ucapnya lalu mengendong Dea keluar dari salag satu ruangan kampus.
Lelaki itu benar-benar psikopat sejati. Terbukti ia bisa menghendel kampus besar itu hinga CCTV di sana di matikan dan bahkan penjaganya di lumpuhkan.
Di lain tempat Lucas merasa perasaan tak enak. Lelaki itu terlihat gelisah dan keringat dingin membasahi baju kantor nya. Karna dia hari ini lembur namun tah mengapa ia merasa ada sesuatu terjadi pada Dea.
.
.
__ADS_1
.