
33
----------Selamat Membaca-----------
"Banyak orang melakukan banyak kesalahan atas nama Cinta. Hinga terkadang Cinta sendiri muak mendengarnya. Jika kau melakukan kesalahan dan mengatas namakan Cinta ! Maka itu bukanlah Cinta namun Ke Egoisan ! Karena Cinta tak pernah melahirkan ke Egoisan !"
~Author~
.
.
.
.
.
"Dea!"
Dea menegang sebentar sebelum menegakkan tubuhnya dengan benar. Ia menghapus kasar ke dua pipi yang sempat tergenang air mata. Mata tajam Dea kian menajam saja melihat ke hadiran wanita yang kini telah menjadi istri dari suaminya pula.
Dea melangkah mendekat ke arah pintu. Saat ke duanya berada saling bersebelahan Dea tersenyum sinis melihat wajah menyedihkan Mutia
"Bagaimana rasanya menjadi Istri seorang Lucas Sandoro? Menyenangkan, Hem!" Sindir Dea pelan namun penuh ketajaman di dalam sana.
"Tidak! Rasanya menyakitkan." Tutur Mutia dengan mata penuh kehampaan.
Dea tertawa sumbang mendengar jawaban dari Mutia. Ia tak tau kenapa rasanya semakin sakit saja melihat wajah wanita yang merebut lelaki yang ia cintai.
"Lalu kenapa kau menikahinya, Kau tau dengan jelas jika dia tak lagi mencintai mu." Ucap Dea masih menatap lurus ke depan tampa menoleh ke samping guna melihat wajah lawan bicaranya.
Tak ada jawaban dari bibir Mutia. Ia bungkam dalam diam, Dea mendengus sebentar lalu melangkah meninggalkan kamar inap Lucas baru tiga langkah Dea meninggal tempat di mana Mutia berdiri. Suara Mutia menghentikan langkahnya.
"Maafkan aku Dea. Aku bersalah, aku memaksanya menikahi ku. Awalnya dia menolak untuk menikahi ku tapi karna aku mengatakan aku hamil anaknya. Dia tak punya pilihan lain Dea!" Teriak Mutia cukup lantang.
Dea membeku di tempat, bukan hanya Dea yang membeku di tempat. Wanita cantik paruh baya yang baru saja datang dan tak sengaja melihat ke dua Putrinya juga membeku di tempat. Dunia terasa menyudutkan dirinya saat mendengar perkataan dari putrinya.
"Apa yang kau katakan Mutia!" Bukan Dea yang berteriak lantang namun Mutia. Ani lah yang berteriak lantang.
Mutiamenatap sang Ibu dengan ke dua mata penuh dengan rasa bersalah. ni mendekat ke arah Mutia dengan langkah lebar. Ia bahkan tak menghiraukan ke hadiran Dea Keponakan sang suami yang sudah di angab sebagai anak kandung nya sendiri.
PLAK !
PLAK !
Dua tamparan melayang mengenai ke dua sisi wajah Muti. Hinga gadis itu terhuyung kebelakang saat menerima tamparan dari sang Ibu. Napas Ani tak teratur, ke dua matanya menampakan kemurkaan yang mendalam.
Dea membalikan tubuhnya dengan wajah tak terbaca. Ani menitikan air mata melihat betapa buruknya perlakuan sang Putri.
"Kenapa kau melakukannya Mutia? Apa kau tak malu pada adik mu? Dia adikmu sendiri Mutia Wijayanto! Dia tumbuh besar bersamamu dan jika Papamu tau dengan apa yang telah kau perbuatan maka, Mama tak punya wajah lagi menatap Papa mu dan bahkan keluarga Wijayanto yang lain. Kau membuat Mama malu, Mutia." Ucap Ani dengan suara serak di sela tangisnya.
"Maafkan Aku, Ma!" Sesal Mutia lirih.
"Apa pernintaan maaf mu akan membuat semuanya kembali seperti semula Mutia?" Tanya Ani pada sang Putri.
Dea mendekat ke arah ke duanya. Ia tak tega melihat Ani seperti itu. Karena bagaimana pun Ani membesarkan Dea penuh dengan Cinta yang begitu berlimpah. Ia tak pernah membeda-bedakan Mutia dan dirinya. Hingga ia tak satu detik pun berpikir jika ia bukanlah anak Ani karna kasih sayang nya.
"Bunda! Sudahlah." Ucap Dea memeluk tubuh Ani dari belakang.
Ani masih terisak pelan melihat ke arah Mutia dengan pandanggan yang benar-benar putus asa. Dea merasakan tubuh sang Bibi yang sudah di angab sebagai Ibunya itu gemetar.
Dea takut jika Ani akan pingsan. Karena Ani cukup mudah pingsan, karna kondisi nya memang sangat lemah. Mutia membalikan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan ke duanya dengan pandangan kosong.
__ADS_1
Chandra yang menyaksikan itu dari jauh hanya bisa menghela napas letih. Ia menatap ke arah Dea yang masih memeluk Nyonya Wijayanto dalam kondisi menangis.
Chandra tersenyum tipis melihat betapa baiknya hati Dea. Jika ia menjadi Dea maka ia akan membiarkan saja Ani memberikan anaknya pelajaran. Namun di balik itu ia juga kasihan melihat Mutia. Karena bagaimana pun ia juga merasakan perasaan yang sama seperti Mutia.
Mencintai tapi tak mendapatkan balasan. Namun bedanya dirinya tak memaksa kehendak hingga membuat semuanya menjadi rumit. Chandra mencintai Dea dengan caranya sendiri. Ia berusaha melindunggi Dea dari luka. Ia hanya ingin melihat senyum bahagia di wajah Dea.
Begitulah cara Chandra dalam mencintai. Meski menyakitkan, namun Chandra percaya ! Jika ia mencintai seseorang dengan tulus maka orang lain yang datang di hidupnya nanti juga akan tulus dalam mencintainya.
☔☔☔
Sudah satu jam Lucas di bangunkan dari tidur panjangnya. Di mana di samping ranjang Lucas wanita yang ia cari-cari duduk dengan wajah datarnya. Jika tidak terpergok oleh Santi Ibu Lucas maka Dea tak akan duduk di samping ranjang Lucas saat ini.
"Koma apanya!" gerutu Dea pelan dengan wajah kesalnya. Ia kesal dengan Chandra, bagaimana bisa lelaki itu menipu dirinya.
"Apa kau baru saja mengatakan sesuatu?" Tanya Lucas pelan.
Dea menoleh ke arah wajah Lucas yang terlihat bahagia. Namun tidak dengan wajah nya yang begitu kesal saat ini.
"Aku harus pergi karna Bintang pasti belum makan." Ucap Dea berdiri dari duduknya.
Sontak saja Lucas langsung mencekal pergelangan tangan Dea.
"Bisakah kau tak pergi dari ku!" Pinta Lucas dengan suara putus asa.
Ke duanya memang tak menyingung masalah Mutia sama sekali. Dan saat Lucas bangun ia terus-terusan bertanya kemana Dea dan apa yang terjadi. Namun Dea menutup rapat ke bibirnya. Membuat Lucas menyerah dan hanya bisa berbicara sendiri selama satu jam. Dan Dea dia hanya diam saja tampa menimpali perkataan Lucas.
"Maaf aku tak bisa bersamamu lagi, Kak!" Jawab Dea final.
Dea melepaskan cekalan Lucas yang lemah. Lalu melangkah menuju pintu keluar.
"Jika satu langkah lagi kau keluar dari ruangan ini besok kau tak akan bisa melihat aku lagi Dea! Jika aku tak bisa hidup denganmu maka aku akan mati !" Teriak Lucas melengking.
Perkataan Lucas membuat langkah kaki Dea terhenti. Ia mengeluarkan napasnya dengan kasar mendengar ancaman Lucas. Namun ia tetap melangkah kembali.
Bruk !
Jleb !
Akh !
Dea membalikan tubuhnya ke belakang melihat apa yang terjadi. Benar saja apa yang lelaki imut itu katakan. Ia terjatuh dari tempat tidur dengan menusukan pisau buah di samping nakas ke perutnya. Hingga darah segar mengalir dari perut dan mulutnya.
"Kakak!" Teriak Dea lantang.
Ia berlari panik ke arah Lucas ia memeluk tubuh Lucas yang lemah.
"Sudah Ku katakan bukan? Kau pergi maka aku mati !" Ucap Lucas dengan suara sangat lemah.
"Dokter ! Dokter!" Pekik Dea panik.
Lucas tersenyum melihat ke panik kan Dea. Mendengar suara ribut Dokter dan suster masuk ke dalam ruangan Lucas. Betapa terkejut mereka semua melihat pisau yang tertancap di perut lelaki yang menjadi pasien mereka.
Semuanya bergerak cepat memindahkan Lucas ke atas tempat tidur. Ke dua mata Lucas telah terpejam dengan wajah semakin memucat.
"Cepat siapkan ruangan Operasi dan dua belas kantong darah." Teriak sang Dokter panik.
Dea tak henti-hentinya meminta Lucas bertahan. Ia menyesal ! Sungguh sangat menyesal dengan apa yang telah terjadi. Dea menangis pilu melihat ranjang Lucas di dorong menuju lorong Operasi. Dea memang tak bisa berlari mengingat kondisinya saat ini.
"Apa yang terjadi?" Tanya Santi yang baru datang bersama Ayah mertuanya .
"Kak Lucas, mencoba bunuh diri Ma. Ini semuanya salahku ! Ini salahku Ma!" Tutur Dea di sela tangisnya.
Santi syok mendengar penuturan menantunya. Anto memeluk tubuh istinya memberikan sang istri kekuatan. Chandra yang baru datang dengan wajah panik menerima berita dari orang suruhannya mengawasi Dea pun langsung memeluk tubuh Dea.
__ADS_1
"Sudahlah. Lucas akan baik-baik saja, tenanglah. Ingat kau tak boleh stres karena itu bisa membahayakan bayimu." Ucap Chandra dengan menepuk-nepuk bahu Dea.
Chandra membawa Dea ke arah kursi di depan ruangan tunggu Lucas. Sedangan Santi dan Anto melangkah menuju ruangan tunggu Operasi di .
Lucas terduduk di sebuah taman yang luas dengan pemandangan yang luar bisa indahnya. Ia tersenyum menikmati pemandangan yang mengagumkan. Melihat kupu-kupu biru terbang mengitari tubuhnya membuat Lucas terpesona.
Kupu-kupu itu terbang menjauhi Lucas yang masih terkagum-kagum melihatnya.
"Bintang pasti suka jika aku menangkap satu kupu-kupu indah itu untuk di jadikan koleksi peliharanya." Ucap Lucas bermonolog sendiri.
Ia berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati sang kupu-kupu yang masih berterbangan di awang-awang. Semakin lama kupu-kupu itu terbang membawa Lucas ke sebuah taman di seberang jembatan kayu.
Kupu-kupu bermotif belang biru itu berhenti di sebuah taman bunga Lily. Bunga kesukaan Dea, pelan-pelan Lucas mencoba menangkannya dengan tangan kosong.
Namun saat ia baru memegang satu sayap kupu-kupu yang jadi buronannya. Tiba-tiba saja kupu-kupu itu berubah menjadi anak lelaki kecil berwajah imut yang tersenyum ke arahnya.
"Papa menemukan ku." Ucap Sang anak lelaki imut itu lalu memeluk Lucas dengan erat.
Lucas terpaku saat tangan kecil itu melingkar di perutnya. Entah kenapa Lucas merasa nyaman dengan pelukan sang anak. Namun anehnya Kenapa anak lelaki itu memangilnya Papa? Ia hanya mempunyai satu Putri saja.
Lalu tiba-tiba saja ia ingat jika Mutia tengah hamil anaknya. Bisa jadi anak itu adalah anaknya bersama Mutia.
Sang anak melepaskan pelukannya dari perut Lucas. Ia menatap Baekhyun dengan pandangan cemberut membuat Lucas keheranan.
"Mama ku bernama Dea bukan Mutia!" Ucap sang anak dengan wajah marah.
"Dea?" ulang Lucas dengan wajah bodoh.
"Ya." Jawab sang anak dengan wajah penuh keyakinan.
Kulit kening Lucas berlipat mendengar perkataan sang anak. Jika ia anak Dea lalu apa itu artinya Dea hamil anaknya. Ke dua sudut bibir Lucas terangkat ke atas membentuk lekunggan senyuman.
"Papa sudah waktunya Papa pergi." Ucap sang anak.
"Kemana?" Tanya Lucas dengan wajah heran.
"Tentu ke dunia Papa!" Jawab sang anak.
Lucas masih terdiam melihat wajah sang Putra. Melihat tak ada pergerakan dari Lucas sang anak menarik tangan Lucas menuju salah satu pintu dan membuka pintu itu secara perlahan.
"Papa bolehkah aku mencium Papa?" Tanya sang anak.
Lucas membungkuk hingga wajah nya sejajar dengan wajah mengemaskan anak lelaki itu.
Cup !
Ia mengecup satu pipi Lucas dan Lucas menegakan tubuh nya. Ia masuk ke dalam pintu setelah melihat anak lelaki tersebut melambaikan tangannya.
Tiga jam Operasi berjalan dengan lancar. Ranjang Lucas di kembalikan ke kamar inapnya.
"Bagaimana Dokter keadaan putra saya Dokter?" Tanya Santi khawatir.
"Operasi putra Ibu lancar. Kita hanya perlu menunggu ia sadar saja. Pisau yang tertancap di perutnya cukup dalam hampir mengenai orangan dalam tubuhnya. Tapi untunglah ia baik-baik saja." Terang sang Dokter.
Terdengar jelas helaan napas lega semua orang. Dea tak henti-hentinya mengatakan kata syukur. Ia menatap wajah pucat Lucas dengan rasa bersalah.
"Aku tak akan meninggalkanmu meski kau sudah menikahi kakakku." Bisik Dea di telinga kanan Lucas.
Tampa sadar suara Dea menarik Lucas ke alam sadarnya. Jari telunjuknya bergerak pelan.
Santi dan Anto hanya menatap ke arah anak dan menantunya dengan wajah tak dapat di gambarkan. Ke duanya telah mendengar penjelasan dari Ani. Tentang Mutia yang dinikahkan oleh Lucas. Atas paksaan Mutia, keduanya tak tau harus bereaksi seperti apa.
Mereka juga kasihan melihat Ani yang menangis mengatakan semuanya. Keputusan akhir ke duanya serahkan Pada Dea dan Lucas
__ADS_1