My BigBoss Mafia

My BigBoss Mafia
BAB 13. AYO KABUR!


__ADS_3

Sudah hampir seminggu, setelah kejadian di acara pesta itu. Hal tersebut membuat Nabila menjadi sedikit tertutup. Apalagi dia tidak pernah mau membahasnya, jika Karin maupun Mila bertanya.


Saat ini Nabila sedang berada di Kampusnya, dia bersama dengan Arini tengah menikmati makan siangnya. Seharian ini mereka tidak ada kelas, dan seharunya Dosen menyuruh mereka untuk pulang saja. Entahlah, mereka tidak tau alasan apa yang membuat para Dosen sangat sibuk hari ini.


Ponsel Nabila sejak tadi terus berdering, namun Nabila tetap mengacuhkannya. Arini yang duduk disebelahnya menyadari jika Nabila sudah mengabaikan panggilan dari teman-temannya itu.


"Sampai kapan mau menghindari mereka? Mereka semua pasti khawatir sama kamu, La."


Nabila sedikit menoleh, dia tau Arini juga khawatir kepadanya. Tapi kali ini Nabila benar-benar tidak mau membahasnya, sama sekali.


“Aku tidak menghindari, aku hanya sedang ingin sendiri saja, Rin.” Nabila tetap beralasan, dia kembali memakan makanannya.


Arini menaruh sendoknya, dia menoleh kearah Nabila sembari mengamatinya dengan teliti.


“Apa?!” tanya Nabila yang merasa risi.


“Aku tau ada yang kamu sembunyikan, katakan saja, La. Agar hatimu lega!”


Nabila menggeleng tegas. “Sudahlah Rin, jangan membahas itu lagi!”


Nabila benar-benar merasa frustasi. Sebenarnya ini juga bukan sepenuhnya salah Karin dan Mila. Hanya saja Nabila tidak berani untuk mengatakannya.


Perbincangan ini membuat nafsu makannya hilang. Dia menaruh sendok nya dengan sedikit kasar lalu mendesah panjang.


“Hhh, apa yang harus aku lakukan? Rasanya kepalaku ingin meledak sekarang!”


"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Lebih baik kita fokus belajar, untuk ujian akhir bulan" Arini mencoba untuk menghibur Nabila.


Benar juga, seharusnya mereka lebih fokus belajar untuk Ujian akhir nanti. Hampir saja Nabila lupa jika Arini tidak mengingatkannya.


“Kamu sudah selesai?” tanya Nabila setelah ia menghabiskan makanannya.


“Sudah, mau kembali ke kelas?”


Nabila menganggukkan kepalanya dengan cepat.


“Yasudah ayo...” ajak Arini.


Mereka pun merapikan barang-barangnya, kemudian berjalan menuju ke kelas bersama.


Di lorong kelas, keduanya tampak asyik bercerita. Seolah Nabila sudah bisa melupakan masalah yang sedang dia hadapi.


Lorong kampus masih tampak senggang. Kebanyakan pelajar pasti masih menikmati jam istirahat mereka. Obrolan asyik Nabila dan Arini harus terjeda, ketika suara Pak Rektor menggema ke seantero gedung perkuliahan.


"PENGUMUMAN UNTUK SEMUA MAHASISWA/SISWI SEGERA BERKUMPUL DI AULA SEKARANG!"


Nabila dan Arini saling melempar pandangan satu sama lain. Mereka heran, kenapa tiba-tiba semua Mahasiswa disuruh berkumpul di aula.


“Bukankah baru tadi pagi Rektor memberi pengumuman, jika hari ini free?” tanya Nabila.


“Tidak tau.” Sahut Arini cepat. “Sudahlah, lebih baik kita bergegas kesana!”


Kedua gadis itu pun segera berlari menuju Gedung Aula. Sesampainya di pintu gedung Aula, mereka sedikit terkejut karena sudah banyak orang disana.


“Sepertinya sudah penu, La. Dibelakang hanya ada satu kursi” kata Arini memberitahu.

__ADS_1


Nabila hanya mengangguk. Namun dia masih berusaha mencari kursi yang kosong. Sampai akhirnya ada suara Karin yang memanggilnya dari barisan depan.


“LA! DISINI MASIH ADA KURSI KOSONG!”


Nabila terkejut mendengar panggilan dari Livia di depan. Dia pun segera berjalan menyusul salah satu teman fakultasnya tersebut.


"Sebelumnya saya minta maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat para siswa"


Pak Rektor mulai membuka suaranya. Semua mahasiswa langsung terdiam untuk mendengarkan Pak Rektor.


Nabila berhasil duduk disebelah Livia. Keduanya tidak berbicara satu sama lain, karena Pak Rektor sudah memberi pengumuman yang sangat penting.


“Hari ini, kita kedatangan tamu yang begitu spesial. Seorang pengusaha muda yang begitu sukses, dan juga seorang yang tampan”


Seisi gedung langsung bergemuruh ketika ada seorang pria berpakaian rapi dengan setelan jas berwarna navy, berjalan kearah Rektor.


Namun hal itu tidak berlaku kepada Nabila yang malah bengong ditempatnya saking tidak percayanya.


“Kita sambut, beliau adalah Gabriel Kenzo”


Nabila segera membekap mulutnya sendiri. Hampir saja dia berteriak karena tidak menduga akan bertemu kembali dengan pria itu.


‘Apa yang harus aku lakukan? Dia tidak boleh melihatku ada disini!’ —batin Nabila yang khawatir.


“Selamat siang semuanya” sapa Gabriel dengan suara bass-nya.


“Siang!!” balas seisi gedung dengan kompak.


“Pertama-tama, saya mengucapkan terimakasih karena sudah disambut dengan baik di Universitas Maharaja”


Gabriel mulai berpidato untuk menyampaikan tujuannya datang kemari. Pria itu menjelaskan, jika sekarang dia adalah pemilik Universitas tersebut. Tidak hanya disitu saja, seseorang yang sangat berharga baginya juga akan menempuh pendidikan di Kampus tersebut.


“Nabila, kamu mau kemana?”


Langkah Nabila terhenti ketika dia bertemu dengan Kevin.


“A-aku ingin pergi ke toilet sebentar, sudah tidak tahan” balas Nabila yang memberi alasan.


“Tapi Pak Rektor masih memberi pengumuman penting, La!”


Nabila menggeleng cepat. “Maaf, tapi aku sudah tidak tahan, Vin. Aku pemisi!”


Nabila kembali berjalan, sayangnya ada seorang Mahasiswi yang tadi melihatnya berbincang dengan Kevin. Dan sepertinya siswi itu tidak terlalu menyukainya. Secara sengaja dia mengulurkan kakinya agar Nabila tersandung.


Karena Nabila tidak mengetahuinya, akhirnya dia pun benar-benar tersandung dan jatuh tersungkur dilantai. Semua orang yang melihatnya seketika tertawa, hal itu pula yang menarik perhatian Pak Rektor dan Gabriel.


Pak Rektor mengenali siapa Nabila, karena gadis itu merupakan salah satu Mahasiswi cerdas yang mendapat Beasiswa darinya.


“Nabila, sedang apa kamu disana?”


Suara Pak Rektor menggelegar melewati mic ditangannya. Nabila segera menutupi wajahnya, dia takut terlihat oleh Gabriel. Padahal faktanya laki-laki itu sudah terlanjur menyadari keberadaannya.


“Maaf Pak, saya ijin keluar”


***

__ADS_1


Akhirnya Nabila berhasil keluar dari gedung tersebut. Kini dia berjalan pelan kearah kursi penonton yang ada di Gedung Olahraga.


Nabila menundukkan kepalanya dalam, pikirannya kembali mengingat kejadian saat ditaman. Itu benar-benar sangat malu, dia tidak berani jika harus berhadapan dengan Gabriel kembali.


“Arghh, bisa-bisa aku gila jika terus mengingatnya!”


Perlahan dia mendongak, menatap lurus kearah awan yang siang itu terlihat sedikit redup.


“Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya? Aku tidak mau melihatnya lagi!”


“Selain keras kepala, kau juga sangat lancang. Benar begitu?!”


Nabila begitu terkejut mendengar suara Gabriel yang tiba-tiba muncul dari belakangnya.


“Astaga! Sebenarnya kau ini apa?” tanya Nabila yang merasa kaget.


“Tentu saja aku manusia, apalagi menurutmu?”


Dalam hati Nabila berkata. ‘Menurutku kau ini lebih mirip dengan hantu’.


Gabriel mengamati sekitarnya, dari sini dia bisa melihat lapangan lari yang cukup luas.


“Sedang apa kau disini?” tanya Gabriel penasaran.


“Harusnya aku yang bertanya, sedang apa kamu diini? Siapa yang menyuruhmu untuk mengikutiku?!”


Gabriel beralih menatapnya. “Apa kau benar-benar tidak mengingatku?”


“Tidak!”


“Kau serius?”


Nabila berdecak kesal, dia tidak mengerti kenapa Gabriel seperti ini padanya. Padahal mereka berdua tidak saling mengenal.


“Sudahlah, ini semua tidak penting jug— akhh! Kau sudah gila, ya?!”


Nabila berteriak ketika Gabriel secara tiba-tiba menarik tangannya hingga terjatuh di atas pangkuan laki-laki tersebut.


Nabila sempat terhipnotis dengan wajah tampan Gabriel hingga ia kembali teringat kejadian ditaman lagi.


'Benarkah dia yang sudah mencium ku?' —pikir Nabila.


Gabriel menyadari jika Nabila sedang melamun, dia pun memanfaatkannya dengan mulai mendekatkan wajahnya kepada si gadis. Nabila mulai merasakan hangat di permukaan wajahnya, hembusan napas Gabriel mulai menerpa kulitnya.


Keduanya sama-sama terkejut ketika suara Lucas memanggilnya.


“Tuan Kenzo, anda dimana?”


Seketika itu juga Nabila segera mendorong tubuh Gabriel agar melepaskannya. Tidak lupa dia juga memaki Gabriel yang baru saja hampir menciumnya kembali, tanpa ijin.


“Dasar mesum! Kau mencari keuntungan lagi?!”


Gabriel tidak menjawabnya, justru dia hanya tertawa melihat Nabila yang terlihat salah tingkah.


“Tuan Kenzo..”

__ADS_1


Lagi dan lagi, sepertinya orang-orang mulai mencarinya karena menghilang secara tiba-tiba. Nabila pun langsung menarik tangan Gabriel untuk bersembunyi.


“Ayo kabur!!”


__ADS_2