
Nabila segera turun dari mobil Kevin. Gadis itu berlari menghampiri Gabriel yang sudah memasang wajah murkanya. Nabila panik, dia tidak ingin Kevin mendapat amukan dari Gabriel yang sudah murka itu.
“Gabriel..” sapa Nabila yang membuat Gabriel tersenyum miring.
“Kamu masih bisa bertanya seperti itu kepadaku, Nabila?”
Tatapan mata Gabriel kini beralih kepada Kevin yang menyusul Nabila turun dari mobil. Kevin menatap Gabriel dan sepertinya ingat dengan wajah Gabriel. Lebih anehnya lagi, Nabila tidak pernah terlihat ketakutan sampai seperti ini.
“Nabila, apa yang terjadi? Dia siapa?”
Belum sempat Kevin menyentuh pundak Nabila. Gabriel lebih dulu menghampiri pemuda itu dan mencengkram lehernya dengan sangat kuat. Tanpa disangka, Gabriel melayangkan sebuah pukulan keras yang langsung membuat bibir Kevin sobek.
“GABRIEL! Apa yang kamu lakukan?!” teriak Nabila dengan panik. “Hentikan Gabriel!”
Gabriel tidak bersuara, tetapi tatapan matanya sangat mengerikan. Nabila segera menghampiri Kevin untuk membantunya berdiri. Tapi belum sempat dia menyentuh Kevin, Gabriel sudah lebih dulu menarik tangannya.
“Ikut aku!” paksa Gabriel.
“NABILA!” Kevin berusaha mengejar Nabila, namun Gabriel kembali menendang perut pemuda itu hingga benar-benar tersungkur ke aspal.
Saat itu Nabila segera menghempaskan tangannya, dia menatap tajam kepada Gabriel yang bersikap kurang ajar kepadanya.
“Biarkan aku membantunya dulu!” pinta Nabila.
“Tidak perlu, biarkan dia sekarat!” bentak Gabriel dengan mendelik tajam.
“DIA TEMANKU! KAMU INI KENAPA, GABRIEL?!”
“Aku tidak suka melihatmu bersama pria lain!!”
“Omong kosong!” bantah Nabila keras.
“Baiklah, aku beri kau kesempatan. Aku tidak suka melihatnya disini, cepat suruh dia pergi atau aku akan menghabisinya!” ancam Gabriel dengan mata yang berkilat.
Nabila tau jika pria ini sedang tidak main-main dengan ucapannya. Dia tau Gabriel sangat kejam, dan dia tidak ingin Kevin terluka hanya karena dirinya.
Gadis itupun segera berlari menghampiri Kevin yang masih duduk ditanah dengan memegangi pipi kirinya. Dia pun membantu Kevin untuk berdiri.
“Kevin, kamu tidak apa-apa kan? Ayo aku bantu berdiri”
“Tidak apa-apa, La. Kamu tidak perlu khawatir” jawab Kevin dengan tersenyum. “Lagipula dia siapa?”
“Dia bukan siapa-siapa. Aku minta maaf, tapi lebih baik kamu langsung pulang. Terima kasih sudah mau mengantarku” kata Nabila yang terlihat sangat gelisah.
__ADS_1
“Nabila! Aku tidak main-main dengan ucapanku.” Ulang Gabriel mengingatkan Nabila.
Nabila tetap berusaha tenang, walaupun dia sendiri terlihat begitu panik sekarang. Dia memohon kepada Kevin agar segera pergi meninggalkannya sendiri.
“Kevin, dengarkan aku. Saat ini kamu harus segera pulang, aku akan baik-baik saja. Percayalah kepadaku..”
Saat Nabila hendak pergi, Kevin segera mencekal tangannya. Hal itu membuat Gabriel yang melihatnya tampak semakin tidak suka.
“Nabila tunggu!”
“Kevin!” seru Nabila yang kaget.
“Kamu kenapa? Apa dia mengancammu?” Kevin seperti tidak terima dengan sikap Gabriel tersebut.
“Tidak ada, Vin. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan”
Kevin menggeleng cepat. “Tidak! Aku tau ini bukan dirimu, La. Ada apa? Katakan yang sebenarnya. Dia siapa?”
“Kevin, pulanglah.. Aku janji, besok aku akan menjelaskan semuanya kepadamu. Tapi untuk saat ini, aku hanya minta kamu pulang Sekaran. Pergilah, ok!”
Tanpa menunggu jawaban dari Kevin, gadis itu segera menghampiri Gabriel yang masih menatap tajam kepadanya. Nabila menarik tangan pria itu dan berjalan menuju ke Apartemennya.
...***...
Nabila segera menutup pintu kost nya dengan sangat keras. Kemudian dia menatap Gabriel yang tengah memandanginya dengan mata elangnya.
Gabriel tidak menjawab, dia tetap diam sembari memalingkan wajahnya. Nabila yang mendapat perlakuan seperti itu justru semakin emosi.
“Gabriel, tolong dengar aku-”
“Aku benci melihat wanitaku bersama dengan laki-laki lain!” potong Gabriel.
“Wanitaku?” ulang Nabila tidak percaya.
“Apalagi? Aku benci jika milikku disentuh oleh orang lain, apa kau tidak paham juga?!”
Nabila tertawa tidak percaya. “Gabriel, kita hanya bersandiwara. Kamu lupa?”
“Sandiwara kau bilang?!” sambar Gabriel.
“Kenapa? Apa aku salah?! Bukankah dari awal kamu menyebut ini hanya perjanjian, lalu kenapa kamu bersikap seolah kita benar-benar memiliki hubungan?”
“Apa kamu tuli?! Aku sudah katakan, aku tidak suka milikku di sentuh oleh orang lain!!”
__ADS_1
Lalu tiba-tiba Gabriel berjalan kearahnya dan memeluknya dengan sangat erat. Nabila terkejut dan berusaha melepaskan tangan pria itu dari pinggangnya. Namun tangan itu sudah terlanjur melingkar kuat di pinggangnya.
“Gabriel! Lepaskan aku!!”
“Kau adalah milikku, dan tidak ada yang boleh mendekatimu!” kata Gabriel dengan tegas.
Gabriel mulai menciumi leher Nabila, gadis itu memberontak ketika Gabriel mulai menyentuhnya lagi. Dia tidak mau terlena dan melakukan kesalahan yang sama.
“Gabriel aku mohon lepaskan aku!”
“Aku tidak suka kau membantahku!” sentak Gabriel.
Nabila benar-benar kesal kepada Gabriel kali ini, dia pun mendorong Gabriel lalu menamparnya dengan sangat keras.
PLAK!
Gabriel terdiam karena terkejut, dia tidak menduga jika Nabila akan menamparnya sekeras ini. Namun bukannya membalasnya dengan tamparan yang keras, justru Gabriel malah semakin menjamahnya dengan paksa.
Pada akhirnya Nabila hanya bisa menangis karena perlakuan yang Gabriel berikan. Pria itu segera berhenti saat mendengar Nabila menangis terisak.
“Nabila, kau kenapa?” seketika nada suara itu berubah.
“Aku sudah bilang, dia temanku hiks kenapa kamu masih tidak bisa mempercayaiku. Aku tidak semurah yang kamu pikirkan!” jawab gadis itu dengan sesenggukkan.
Melihat Nabila yang menangis, Gabriel pun merasa bersalah dan tidak tega. Dia sudah termakan oleh rasa cemburu yang tidak mau dia akui, hingga tanpa sadar sudah melukai perasaan Nabila.
Ingin sekali Gabriel mengatakan kata maaf untuk Nabila, tetapi lidahnya sangat sulit untuk mengatakan hal tersebut.
“Tolong jangan menilaiku seperti itu lagi hiks” pinta gadis itu.
Karena tidak tau harus berbicara apa, Gabriel hanya merengkuh tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Gabriel memeluknya dengan begitu lembut bahkan tidak ada tekanan.
“Tenanglah..” bisiknya kepada Nabila.
Gabriel mengusap lembut punggung gadis itu, walaupun awalnya Nabila masih tetap memberontak minta dilepaskan. Namun perlahan gadis itu luluh juga dan memilih diam.
Gabriel hanya merasa cemburu jika melihat Nabila bersama dengan pria lain, namun dia tidak tau bagaimana cara menyampaikannya.
“Nabila, berhentilah menangis. Apa aku sudah keterlaluan, hah?”
“Kamu masih bisa bertanya seperti itu?!”
Gabriel tersenyum. “Nah, berhentilah menangis. Aku lebih suka kamu memarahi ku daripada harus mengeluarkan air mata”
__ADS_1
Dekapan hangat Gabriel seolah membuat Nabila melupakan apa yang sudah pria ini lakukan kepadanya. Ada perasaan aneh yang muncul di dalam hati gadis tersebut.
Perasaan sakit ketika Gabriel tidak mau mempercayainya. Dia tidak suka ketika pria ini bersikap kasar kepadanya, namun dia merasa sangat nyaman ketika Gabriel bersikap lembut kepadanya.