My BigBoss Mafia

My BigBoss Mafia
BAB 6. MELARIKAN DIRI.


__ADS_3

[Kenzo! Nenek ingin kamu segera menikah! Kenapa sekarang kamu kembali Ke Indonesia?!]


Gabriel sedikit menjauhkan ponselnya. Kini ia sedang dalam perjalanan menuju Perusahaannya yang ada di Indonesia.


Benar saja, dia sudah mendarat ke tanah air sejak kemarin. Kini dia sedang bersama dengan sopir pribadinya yang bernama Pak Mukhtar.


Maniknya melihat kearah luar jendela, namun telinganya masih mendengarkan suara Neneknya dengan seksama.


[Kenzo, apa kau mendengar Nenek?!]


‘”Nenek, kita sudah pernah membahasnya. Jadi tolong mengertilah, sedikit saja..” Gabriel merajuk.


[Mengerti apa? Harusnya kamu yang mengerti Nenek, kamu sudah waktunya menikah! Nenek hanya ingin kamu segera menikah, agar ada yang mengurus mu setelah Nenek meninggal!]


Gabriel kembali terdiam, ucapan Neneknya kali ini menusuk relung hatinya. Dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini, jika Neneknya mati, mungkin Gabriel bisa menjadi orang yang semakin mengerikan.


Karena selama ini dia hidup hanya dengan rasa kebencian dan juga kesepian.


[KENZO! Dengarkan Nenek!]


“Iya Nenek, aku mendengarkannya.” Sahut Gabriel. “Maaf, tapi bisakah kita membahasnya saat sampai aku kembali ke Jerman? Saat ini aku harus mengurus bisnis ku yang ada di Indonesia!.”


Entah sudah berapa kali ia menolak perjodohan dari Neneknya. Namun dia tidak bisa menyangkalnya, Gabriel tidak tertarik sama sekali dengan makhluk bernama wanita.


[APA?! KAMU ADA DI INDONESIA? EL, KENAPA KAMU TIDAK MEMBERI TAHU NENEK!]


Sekarang Neneknya murka karena Gabriel pergi dan tidak meminta ijin kepadanya.


“Maaf Nek, tapi El sudah sampai di Kantor, Bye!”


Panggilan itu terputus. Gabriel mengusap wajahnya kasar, dia bingung harus melakukan apa sekarang. Tidak mungkin jika dia akan menyewa seorang wanita untuk menjadi kekasih pura-pura. Oh ayolah, Gabriel tidak se mengenaskan itu.


Memang banyak gadis yang cantik diluar sana. Tapi apa gunanya jika Gabriel tidak menyukainya.


"Bos, apa yang sedang anda pikirkan?" tanya Pak Mukhtar, dari pantulan spion.

__ADS_1


Sopirnya itu bisa melihat ekspresi gundah dari wajah tampan Gabriel. Walau dia sangat jarang bertemu dengan Gabriel, namun dulu ketika Gabriel masih kecil. Pak Mukhtar lah yang sering mengantarnya bersama sang Ibu.


Gabriel menatapnya. "Pak Mukhtar, anda mendengarnya?"


"Maaf Bos, jika saya lancang sudah mendengarkan pembicaraan anda dengan Nyonya Besar. "


"Tidak apa-apa, Pak. Apakah anda memiliki saran?" Gabriel mengharap pencerahan dari Pak Mukhtar.


Kedekatan mereka Pak Mukhtar sudah menganggap Gabriel seperti putranya sendiri. Apalagi Pak Mukhtar juga memiliki seorang putra yang masih kuliah. Jadi dia bisa menempatkan diri dengan baik untuk Gabriel.


"Maaf Bos, menurut saya lebih baik Bos segera menikah— maksud saya. Usia Nyonya sudah tidak muda lagi, wajar jika beliau segera menginginkan seorang cicit dari anda" ujar Pak Mukhtar menjelaskan.


Gabriel terdiam sejenak. Bahkan dia tidak terlalu memikirkan tentang kondisi Neneknya yang sudah tua renta itu. Benar juga yang dikatakan Pak Mukhtar, Neneknya sudah sangat tua. Mungkin saja usianya sudah tidak lama lagi.


"Pak Mukhtar, anda tau sendiri jika saya tidak tertarik dengan wanita! Jadi tolong jangan paksa ya!"


Gabriel berusaha menahan emosinya. Sepertinya semua orang tidak ada yang mau mendengarkannya, apalagi mencoba mengerti dirinya.


"Itu tidak benar, Bos! Anda hanya tidak pernah mencoba untuk membuka hati anda, setelah kepergian Nyonya Sella."


Garacella atau Nyonya Sella adalah mendiang Ibu Kandung Gabriel yang sudah meninggal karena sebuah penyakit yang dideritanya. Perempuan itu meninggalkan Gabriel kecil saat usianya masih 7 tahun. Hal yang sangat mematahkan hati seorang Gabriel.


Lalu kemudian, Ayahnya Bram Kenzo kembali menikah dengan seorang wanita bernama Amanda yang kini dia sebut Ibu. Dari pernikahan keduanya, Tuan Bram memberikan seorang adik perempuan untuk Gabriel.


Gabriel sangat membenci Amanda, namun gadis itu sangat bergantung kepadanya. Dia selalu membuat Gabriel emosi bahkan sering hampir memukulnya, namun Amanda tidak memiliki keluarga lagi selain Gabriel.


Ketika kedua orang tuanya meninggal, Gabriel lah satu-satunya saudara yang dia miliki.


"Bos, lupakan masa lalu. Sekarang anda harus melangkah ke masa depan. Banyak wanita yang baik sedang menunggu anda, Bos berhak untuk bahagia" kata Pak Imam dengan bijak.


“Apakah masih ada wanita seperti itu diluar sana?”


“Tentu saja, Bos! Anda hanya perlu menemukannya,”


Gabriel tersenyum tipis. "Semoga saja saya bisa segera menemukan wanita itu"

__ADS_1


Baginya, semua wanita itu hanya menginginkan uangnya. Tidak benar-benar tulus mencintainya.


...***...


Mobil milik Gabriel berhenti didepan gedung tinggi milik Perusahaan Kenz yang sudah dia dirikan untuk membayangi bisnis ilegalnya.


Sebenarnya Gabriel tidak benar-benar fokus pada Perusahaan-Perusahaannya, dia lebih menikmati pasar gelapnya. Karena disana terdapat banyak tantangan yang membuatnya bisa melampiaskan rasa amarah yang selama ini dia tahan.


Semua rekan bisnisnya menginginkan Gabriel untuk menjadi menantunya. Siapa yang akan menolak sosok laki-laki mapan dan tampan seperti Gabriel, semua orang pasti mengharapkannya. Namun sayangnya, hatinya sudah terlanjur mati rasa.


Gabriel turun dan langsung disambut oleh semua karyawannya. Ini adalah kunjungan pertamanya setelah dia mendirikan Perusahaan tersebut. Beberapa keamanan yang memang bertugas untuk melindungi Gabriel, mendampinginya masuk kedalam Gedung.


Semua pegawai perempuan menatap penuh kagum. Selain memiliki wajah yang tampan, Gabriel memang sangat jenius dan juga berwibawa. Karena itulah semakin banyak yang mendambakannya, bagi mereka ini momen yang sangat langka.


Sangat beruntung bagi mereka yang bisa melihat Gabriel secara langsung. Karena memang Gabriel adalah orang yang begitu sulit untuk didekati. Atau bahkan hanya untuk dilihat secara langsung.


"Selamat pagi, Bos. Saya sangat senang anda bisa datang kemari, setelah sekian lama." sambut David, CEO disana.


David juga lah yang selama ini sudah mengelola Perusahaan Gabriel secara langsung.


"David, apa ada masalah?"


"Tidak Bos, semua berjalan dengan aman dan terkendali. Bos bisa mempercayakan semuanya kepada saya" ujar David sangat percaya diri.


Gabriel mengangguk paham, ekspresi wajahnya tetap saja dingin. Laki-laki itu seperti tidak memiliki ekspresi wajah selain datar.


“Maaf Bos, apa anda ingin melihat data statistiknya? Saya akan mengantarkan anda ke Lift pribadi”


“Iya” sahut Gabriel seadanya.


Laki-laki itu pun bergegas masuk kedalam lift dengan Gabriel yang berada disebelahnya. Lift tersebut yang akan membawanya menuju lantai tiga, di sanalah Ruang CEO berada.


Sembari menunggu lift berhenti, Gabriel memeriksa ponselnya lagi. Dia terkejut melihat panggilan tidak terjawab dari Pak Bimo, salah satu asisten yang menjaga Amanda saat di Indonesia.


“Ada apa ini? Apakah Amanda membuat masalah lagi?!”

__ADS_1


Jarinya mengetik dengan cepat. Dia meminta Pak Bimo agar bisa mengawasi Amanda sebentar. Karena sekarang dia belum bisa menangani gadis menyebalkan itu.


__ADS_2