
Mobil pribadi Gabriel memasuki area mansion nya yang terletak di sebuah perbukitan yang cukup tinggi. Bahkan dari sana dia bisa melihat cahaya lampu dari perkotaan dibawahnya. Pemandangan disana memang yang paling terkenal dengan keindahannya.
Tanpa banyak bicara, Gabriel keluar dari mobil dan meninggalkan Nabila sendirian di sana. Nabila sendiri masih bergeming, dia merasa benar-benar takut untuk keluar sekarang.
Menurutnya, Gabriel seperti sosok Monster yang menakutkan. Dia tidak menyangka jika Gabriel akan menyerangnya sampai seperti itu.
Nabila melonjak kaget ketika seorang pria bermasker datang membuka pintu mobilnya. Dengan keadaan yang berantakan, Nabila menatap tajam orang tersebut.
“Apa lagi?!”
“Tolong ikutlah dengan kami, Nona” jawab pria tersebut dengan sopan.
Melihat gelagat pria itu yang tidak akan menyakitinya, Nabila pun mau turun dan mengikuti langkah pria tersebut. Lagipula dia juga tidak punya pilihan lain lagi.
Sembari memeluk erat tas punggungnya untuk mengurangi rasa takutnya, Nabila berjalan menuju pintu rumah yang begitu megah. Langkahnya sempat terhenti di tengah-tengah pintu, dia terkejut melihat apa yang ada didalam sana.
“Siapa mereka?” tanyanya dengan nada pelan.
Pria didepannya itu pun menoleh. “Wanita-wanita itu?”
Nabila hanya menganggukkan kepalanya.
“Tenanglah, mereka hanya model-model cantik yang mengisi pesta di mansion BigBoss”
“Pesta? BigBoss?” ulang Nabila yang tidak mengerti.
“Iya, BigBoss sengaja mengadakan pesta ini untuk memberi hiburan pada para bawahannya yang sudah setia mengabdi padanya.”
Bukannya merasa kagum, justru Nabila malah merasa takut. Dia tidak pernah mengetahui ada pesta semacam ini, dan para wanita itu hanya sebagai bahan penghibur untuk laki-laki hidung belang.
“Terus, kamu mau membawaku kemana?” tanya Nabila dengan penuh kecurigaan.
“BigBoss sudah menunggu anda, saya akan mengantar anda kesana.”
Nabila pun kembali berjalan mengikuti pria didepannya. Begitu dia masuk, semua mata langsung menoleh kearahnya. Beberapa dari model-model cantik itu tampak menghina penampilan Nabila.
Mereka berkata, untuk apa ada seorang gadis kecil didalam pesta seperti ini. Karena itu mereka pun sengaja menghalangi jalan Nabila dan menatap remeh kearahnya.
Dengan penuh kesabaran, Nabila berusaha mengacuhkan wanita-wanita itu. Hingga akhirnya dia sampai di depan pintu sebuah ruangan.
“Silahkan masuk, Nona” ucap pria tadi.
Nabila membuka pintu yang ternyata adalah sebuah kamar besar nan megah. Namun dia tidak melihat siapapun disana, kosong.
__ADS_1
Saat melangkah masuk, Nabila tidak sadar jika pintu ruangan tersebut kembali ditutup.
Mata gadis itu menelusuri setiap inci ruangan tersebut, disana juga terdapat sebuah ruangan kerja yang menjadi satu dengan kamar.
Dia berusaha mencari keberadaan Gabriel di sana, tapi sepertinya memang tidak ada siapa-siapa disana. Karena penasaran, Nabila melangkah mendekati rak yang berisi foto-foto keluarga Gabriel.
“Apakah ada yang menarik perhatianmu?”
Seketika gadis itu berbalik, disana dia melihat Gabriel sedang berjalan kearahnya sembari melipat lengan kemejenya.
“Ini dimana? Aku mau pulang.” Kata Nabila berterus terang.
Gabriel tersenyum. “Nabila, aku akan berbicara jujur padamu. Sebenarnya, alasan ku mendekatimu adalah, karena aku membutuhkan bantuan mu”
“Bantuan ku?” ulang Nabila yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Gabriel.
“Kenapa harus aku?”
Gabriel pun mengajak Nabila untuk duduk di sebuah Sofa yang langsung menghadap ke kaca besar yang menampilkan keindahan lampu-lampu kota yang menyala.
“Aku ingin kamu menjadi tunangan ku ah- tidak! Lebih tepatnya menjadi Istriku”
“APA?!” Nabila hendak berdiri, namun Gabriel segera menahannya.
“Maksudmu beberapa waktu? Tolong jelaskan, aku sama sekali tidak mengerti”
“Baiklah, namaku Gabriel Kenzo-“
“Skip! Itu tidak penting, tujuan intinya.” Potong Nabila.
Gabriel mendesah pelan, gadis ini memang selalu berhasil membuatnya menjadi gemas terhadapnya.
“Nenekku ingin aku segera menikah, karena usianya sudah tidak lama lagi” kata Gabriel dengan jujur.
“Tu—tunggu, dimana kedua orang tuamu?” tanya Nabila lagi.
“Mereka berdua sudah meninggal”
DEG..
Nabila sangat terkejut mengetahui fakta tersebut, dia tidak menyangka jika Gabriel ternyata sama dengannya. Mereka berdua sudah tidak memiliki kedua orang tua didunia ini.
“Kamu tidak sedang berbohong kan?”
__ADS_1
Gabriel berdecak pelan. “ Untuk apa aku berbohong? Apa hal ini pantas untuk dijadikan lelucon?”
Tentu saja tidak.. —batin Nabila.
“Kamu yakin itu alasannya, kamu tidak Impotensi kan?”
“Apa?! Jaga ucapan mu ya! Tentu saja tidak, jika aku Impotensi. Aku tidak akan menyentuhmu, paham?!” sungut Gabriel yang merasa kesal.
“Lalu kenapa harus aku? Bukannya banyak perempuan diluar sana”
Gabriel memegang kedua bahu Nabila dan menatapnya dengan sangat serius. Bisa dibilang, ini adalah pertama kalinya Nabila melihat Gabriel seperti ini. Bahkan gadis itu hampir saja larut dalam pesona Gabriel.
“Pertama, aku kesulitan mencari perempuan yang tidak tertarik denganku. Dan itu ada pada dirimu. Yang kedua, jika aku mencari wanita bayaran. Apa kau bisa menjaminnya jika mereka tidak akan jatuh hati kepadaku? Hubungan ini bisa terjalin selama 1 tahun lebih, itu adalah waktu yang cukup lama Nabila...”
Nabila berusaha memahami kondisi Gabriel. Sangat mustahil jika seorang pria seperti Gabriel tidak ada yang benar-benar dengan tulus mencintainya. Jika saja Gabriel bersikap lebih baik saja, mungkin Nabila bisa saja jatuh hati kepadanya.
Selain tampan, Nabila akui Gabriel memiliki aura yang luar biasa untuk memikat seseorang agar selalu menatapnya. Dan sepertinya Nabila perlahan tertarik dengan itu.
“Sebagai gantinya, aku tidak akan mengacau hidupmu lagi. Dan kau bisa bekerja magang di Perusahaan ku dengan mudah, bagaimana?” tawar Gabriel.
“Maksudmu masuk kedalam KENZ Entertaimen?”
Gabriel mengangguk. “Bagaimana, kau menyetujuinya?”
Nabila kembali terdiam, dia pun mencoba berpikir lagi keuntungan apa yang akan dia dapat jika menerima penawaran dari Gabriel. Mungkin saja ini adalah jalan keluar untuk masalahnya, Gabriel berjanji tidak akan mengusiknya lagi.
“Jika aku mau membantumu, apa kamu mau berjanji untuk berhenti menggangguku? Apalagi didepan umum!”
“Oke, aku setuju!”
“Lalu kamu juga tidak boleh lagi menyentuhku tanpa terkecuali!”
Gabriel sedikit kaget dengan persyaratan yang berikutnya. Dia tampak ragu, apakah bisa menahannya jika sudah berdekatan dengan Nabila. Terutama dengan bibir gadis itu, dia sudah sangat candu dengannya.
“Bagaimana? Jawab aku, kamu harus mau berjanji untuk tidak mencium ku sembarangan lagi!”
“Apa itu perlu? Kita akan menjadi suami istri, itu adalah hal yang biasa untuk kita lakukan!” tolak Gabriel yang tidak mau mengabulkannya.
“Tentu saja itu penting! Ini hanya pernikahan kontrak, bukan berarti aku akan menjadi milikmu seutuhnya. Ayo bagaimana, setuju atau tidak?” Nabila tetap bersikukuh.
“Baiklah baik, aku menyetujuinya. Jadi bagaimana, kau mau membantuku?” dusta Gabriel yang tentu saja tidak akan melakukannya.
Nabila pun tersenyum puas, akhirnya dia bisa terbebas dari sikap mesum seorang Gabriel. Gadis itu pun mengangguk dengan sangat yakin, dan keduanya berjabat tangan.
__ADS_1
“Baiklah. Deal!”