
Keduanya segera berlari kabur dengan menuruni anak tangga. Nabila harus menyembunyikan Gabriel, sebelum orang yang mencari mereka menyadari kebersamaan keduanya.
Dalam hati Nabila, dia sangat mengutuk tindakan Gabriel yang sangat menyusahkan tersebut. Dan mungkin dia akan melaporkan Gabriel sebagai penguntit kepada salah satu teman Ayahnya.
Sayangnya Gabriel adalah orang kaya yang bisa saja dengan mudah membalikkan laporannya.
“Hey gadis! Kau membawaku kemana?!” Gabriel tampak mulai panik.
“Diam dan ikuti saja aku!” Nabila mendelik tajam.
Saat mendengar Nabila membentaknya, Gabriel justru merasa semakin tertarik dengan daya pikat gadis tersebut.
Semakin jauh mereka melangkah, Nabila membawa Gabriel masuk kedalam Gedung Olahraga. Mungkin hanya tempat itu saja yang paling dekat dengan keberadaan mereka.
Sesegera mungkin Nabila mendorong tubuh jangkung Gabriel hingga terpojok di antara tembok dan loker penyimpanan.
“Hey, kau ini sebenarnya mau apa?! Jangan mengambil keuntungan disaat seperti ini ya!” tegas Gabriel.
Mata kecil itu melebar. “Apa kau bilang?! Mengambil keuntungan, cih.. yang ada aku malah merasa rugi!”
Diam-diam Gabriel tersenyum mendengarnya. Semakin lama mereka bersama, semakin tertarik pula Gabriel kepada Nabila.
Dia tidak bisa mengabaikan pesona Nabila yang begiu polos, lugu dan juga galak ini.
“Kalau begitu lebih baik kita ke-“
“Shut!” Nabila memberi isyarat untuk diam. “ Dengar, mereka disini.”
Tap! Tap! Tap!
“Tuan Kenzo, apakah anda disini?” teriak seseorang.
Lucas. Gabriel bisa mengenali suara tersebut. Tanpa pikir panjang dia segera merespon panggilan tersebut.
“Lucas, aku di —emmm”
Nabila yang sangat panik ketika Gabriel bersuara, secara refleks langsung membekap mulut pria itu. Keduanya sempat terdiam beberapa detik. Gabriel menatap Nabila yang begitu dekat dengannya.
“Aku bilang diam!” murka Nabila yang siap memangsanya.
Tanpa disadari oleh Nabila, sebenarnya tubuh mereka sangat dekat. Bahkan mereka sudah menempel satu sama lain, dan hanya Gabriel saja yang menyadari hal tersebut.
__ADS_1
Hampir 10 menit Nabila tetap menahan pergerakan Gabriel. Hingga akhirnya dia merasa jika Lucas dan Pak Rektor sudah meninggalkan tempat tersebut.
“Sepertinya mereka sudah pergi” lirih Nabila sembari bernapas lega.
“Apa kau sangat menyukai bibirku?” tanya Gabriel dengan suara berat.
Nabila segera melepaskan tangannya. Gadis itu bersandar pada tembok di belakangnya, keduanya saling melempar pandangan yang tajam.
“Katakan, apa maumu?!” tanya Nabila memulai obrolan.
“Apa maksudmu?” tanya Gabriel yang tidak mengerti.
“Katakan maumu yang sebenarnya, agar kau berhenti mengikutiku?!” jelas Nabila yang merasa sudah tidak tahan.
Gabriel tidak menjawab, justru dia malah mencondongkan badannya kedepan. Tangan kirinya meraih kedua tangan Nabila lalu menariknya keatas dan menguncinya.
“Apa yang kamu lakukan?!” Nabila berusaha memberontak.
Tanpa di duga oleh Nabila, Gabriel langsung meraup seluruh bibirnya yang seksi tersebut. Gabriel sangat menyukai kekenyalan bibir Nabila, karena ini adalah yang pertama kali baginya.
Selama ini, Gabriel tidak pernah melakukannya kepada gadis manapun. Rasa trauma sejak kecil membuatnya membenci makhluk yang bernama wanita. Namun entahlah, justru sekarang dia tidak bisa berhenti untuk menjamah seorang Nabila.
Nabila memberontak, rasa sakit mulai dia rasakan ketika Gabriel menggigit dan menyesap kuat kedua bibirnya secara bergantian. Terlebih lagi bagian bawah, dia merasa seperti di sedot dengan kuat.
Setelah merasa cukup puas, akhirnya Gabriel melepaskan kedua tangan Nabila. Namun dia belum melepaskan ciumannya, dia sengaja menunggu Nabila yang memberontak.
Dengan sekuat tenaga, Nabila mendorong dada Gabriel hingga pria itu hingga punggungnya membentur loker.
Gabriel memandangi wajah Nabila yang tampak sedih, airmata terlihat menetes dari sudut mata gadis tersebut. Akan tetapi tidak ada penyesalan dari raut Gabriel, justru dia tersenyum miring karena sudah melakukannya.
“Se-benarnya apa yang kamu inginkan?” suara Nabila tampak gemetar.
Gabriel menangkup wajah gadis itu kembali agar mau menatapnya. “Kau harus tau, mulai sekarang kau adalah milikku!”
“Lepaskan aku! Aku tidak sudi! Kamu pikir aku baranng, huh?!” Nabila menepis kedua tangan Gabriel.
Pria itu tersenyum, dia mengabaikan apa yang Nabila katakan kepadanya. Tak lama kemudian dia pun berlalu pergi dan meninggalkan Nabila yang masih mematung di tempatnya.
...***...
Saat ini Gabriel sudah dalam perjalanan pulangnya bersama dengan Lucas. Sejujurnya Lucas penasaran dengan apa yang dilakukan Gabriel tadi.
__ADS_1
Semua orang terkejut ketika Gabriel tiba-tiba berlari keluar gedung, setelah melihat seorang gadis yang tidak dia kenal berjalan keluar lebih dulu.
“Gabriel, sebenarnya kemana saja kau tadi?” tanya Lucas yang tampak kesal.
Gabriel yang sedang melihat kearah luar jendela lalu menoleh kearahnya. Dia hanya tersenyum miring seolah sedang menggoda Lucas.
“Semua orang khawatir, mereka pikir kau tidak jadi membeli Universitas itu” tegas Lucas memberi penjelasan.
“Tenanglah Lucas. Aku tidak melakukan apapun, aku hanya sedang bermain dengan kelinci kecilku”
“Huh, Kelinci kecil?”
“Hm, kau tau? Baru kali ini aku sangat menikmatinya. Melihat ekspresinya yang putus asa, benar-benar membuatku ingin melakukan lebih!”
Lucas tidak mengerti apa maksud dari ucapan Gabriel barusan. Namun yang jelas, dia berharap Gabriel tidak melakukan hal seperti ini lagi.
Saat ini, mereka sedang berada di Indonesia. Banyak sekali musuh yang akan mengincar Gabriel, apalagi mengingat jejak Ayahnya yang memiliki banyak sekali Rival di sini.
“Gabriel, apa kau tertarik pada perempuan?”
Pertanyaan Lucas mengejutkan Gabriel, namun dia langsung menyangkalnya. Tidak mungkin dia menyukai seorang perempuan seperti Nabila yang sangat biasa saja.
“Tentu saja tidak, aku hanya suka membuatnya sengsara.”
Lucas terdiam, dia kembali teringat dengan sosok gadis yang tempo lalu ada di Pesta. Lucas memang tidak mengingat betul wajah gadis yang di cium oleh Gabriel ketika di taman. Tapi dia tau betul jika Gabriel tidak pernah melakukannya pada perempuan manapun.
‘Apakah akhirnya Gabriel jatuh hati pada seorang gadis? Lantas dia tidak mau mengakuinya, menarik’ -batin Lucas.
“Jika kau memang tertarik pada gadis itu, tidak ada salahnya untuk mencobanya Gabriel.” kata Lucas tiba-tiba.
“Apa maksudmu?”
“Tidak ada maksud, perlahan kau sendiri yang akan mengerti”
Ucapan Lucas membuat Gabriel heran. Namun dia tidak mau terlalu memikirkannya, lagipula dia membeli Universitas itu semata-mata aagr Amanda mau berkuliah lagi. Dengan begitu dia bisa mengawasi adiknya itu.
“Lucas aku tidak ingin membahasnya lagi. Ngomong-ngomong, apa kau sudah memberi tau Amanda dia akan tinggal dimana?”
Lucas mengangguk. “Sudah, dan sepertinya adikmu itu masih belum mau menyetujuinya”
“Ck! Anak itu benar-benar menyusahkan, tunggu saja sampai dia bertemu lagi dengan laki-laki yang mirip dengan Steve. Dia pasti akan langsung jatuh hati lagi, menyebalkan!”
__ADS_1
Lucas tidak menjawabnya, dia hanya diam dan memikirkan nasib Amanda yang sedikit malang itu. Sebenarnya Lucas tidak tega jika Amanda di perlakukan sedemikian oleh Gabriel, namun dia juga tidak memiliki hak apapun atas gadis tersebut.