My BigBoss Mafia

My BigBoss Mafia
BAB 17. AKU KEMBALI UNTUKMU


__ADS_3

Akibat kejadian kemarin saat Nabila dan Gabriel berada di dalam lift. Hampir semalaman penuh Nabila tidak bisa tidur. Dan hal itu mempengaruhi kesehatannya, dia juga kesiangan untuk pergi ke Kampus.


Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 8 lebih, tapi sejak tadi sangat sulit untuk mendapatkan Bus yang mengarah rute Kampusnya.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Nabila bisa mendapat satu Bus dengan rute ke arah Kampus. Hampir satu dia baru bisa sampai di Kampus.


“Mampus! Aku benar-benar dalam masalah sekang!” umpatnya sembari berlari menuju ke kelas.


Kelas pertamanya adalah Pak Nardi yang mengajar kelas Matematika. Tidak hanya galak, namun Pak Nardi juga terkenal dengan hukumannya yang kejam.


Perlahan dia mengintip kelasnya dari balik pintu, terlambat sudah. Disana Pak Nardi sudah menerangkan pelajaran, dan Nabila hanya bisa terdiam di ambang pintu ketika Dosen itu menegurnya dari dalam kelas.


“Nabila! Kenapa kamu masih disitu?!” bentak Pak Nardi galak.


“Ma-maaf, Pak. Saya terlambat” jawab Nabila dengan gugup.


“Ikut saya ke Kantor, sekarang!!”


Mau tidak mau Nabila terpaksa mengikuti Pak Nardi ke Ruang Dosen. Para teman sekelas yang beberapa mengenal Nabila, tampak heran dengan sikap gadis itu.


Menurut mereka, akhir-akhir ini Nabila seolah menjadi sosok yang berbeda. Dia tidak setenang biasanya, kadang mereka melihat Nabila seperti orang yang paranoid akan sesuatu.


Dan satu lagi, Nabila bukanlah tipe orang yang pernah terlambat. Bisa dibilang ini kali pertama bagi seorang Nabila terlambat datang ke kelas.


Brak!!


Nabila tersentak kaget ketika Pak Nardi menaruh buku-bukunya dengan sangat kasar. Dia tau jika Dosen nya tersebut benar-benar marah kepadanya.


“Kenapa kamu bisa terlambat datang ke Kelas saya?!”


Nabila menundukkan kepalanya. “Maaf Pak” lirihnya pelan.


“Maaf kamu bilang?! Nabila, kamu adalah murid kebanggaan saya. Bagaimana bisa kamu mengecewakan saya seperti ini?”


Lidah Nabila terasa kelu tidak dapat berbicara. Pak Nardi benar-benar membuatnya skakmat.


“Kamu itu murid teladan yang Bapak punya. Kenapa bisa kamu seperti ini, Nabila!”

__ADS_1


Nabila tetap memilih diam, dia tau jika berbicara hanya akan memperburuk keadaan. Jadi lebih baik dia diam hingga Pak Nardi lelah sendiri dan menyuruhnya keluar.


Setelah membungkukkan badannya dengan sopan, Nabila segera berjalan keluar dari ruang Dosen. Didepan pintu, dia menghela napas yang keras.


“Kalau bukan murid teladan, pasti aku sudah disuruh mengitari lapangan lari.” Gerutunya dengan sebal.


Tanpa disadari olehnya, seseorang yang mengenakan masker sedang memperhatikannya dari kejauhan. Sedetik kemudian sosok itu berjalan cepat kearah Nabila, tanpa berbicara sepatah katapun, ia menarik Nabila.


“Hei kamu siapa?!”


Bukannya menjawab, justru yang dilakukan oleh pemuda itu adalah mengajak Nabila berlari mengikutinya.


Nabila yang kalah tenaga, terpaksa mengikuti kemana pemuda tersebut membawanya. Cukup banyak anak tangga yang harus dia naiki, hingga akhirnya mereka sampai di atap gedung Kampusnya.


“Kenapa membawaku ke—Nando?”


Nabila sangat terkejut melihat teman semasa SMA nya dulu kini tiba-tiba muncul dihadapannya. Bahkan sampai membuatnya tidak berkutik.


Pemuda itu melepas maskernya. “Kejutan! Aku sudah Kembali.”


Arnando, salah satu teman Nabila semasa SMA. Dulu mereka sangat dekat satu sama lain, bahkan mereka berdua hampir berpacaran. Itu bisa saja terjadi jika saja Nando tidak pergi ke Amerika untuk berkuliah.


“Kenapa kamu diam saja? Apa kamu sama sekali tidak merindukanku?” tanya Nando dengan raut sedih.


“Bu—bukan seperti it—“


Kalimat Nabila lebih dulu terpotong karena Nando secara tiba-tiba menarik tangannya. Nando memeluk tubuh Nabila dengan sangat erat.


“Aku sangat merindukanmu” bisik Nando lembut.


Nabila memejamkan matanya dengan erat. “Kenapa kamu bisa ada disini? Bukannya seharusnya ada di Amerika.”


“Kenapa pertanyaan mu seperti itu? Apa kamu tidak merindukanku, hm?”


Nando sedikit menjauhkan kepalanya, kedua tangannya masih memeluk pinggang gadis tersebut. Keduanya saling berpandangan dengan begitu lekat. Nando memejamkan matanya, ia menempelkan dahinya ke dahi Nabila.


“Kamu masih marah padaku?” tanyanya pelan.

__ADS_1


Nabila tersenyum miris. “Entahlah, rasanya aku sulit melupakannya”


Bagaimanapun, Keisya masih belum bisa melupakan kesalahan Nando yang meninggalkannya ketika dia merana sendirian.


“Aku turut berduka cita atas kepergian Paman. Setelah mendengar kabar itu, aku berusaha untuk bisa kembali. Tapi Ayah baru mengijinkannya sekarang ” kata Nando dengan jujur.


Nabila mendongak, dia menatap wajah tampan pria yang pernah dia sukai itu. Salah satu orang yang dulu sangat dia percaya sebelum Kevin.


Tapi kenyataan berkata lain, pria ini bahkan tidak mau kembali setelah dia kehilangan semuanya. Perasaan hampa yang dulu hanya diisi oleh seorang Nando dan Ayahnya, kini hanya Kevin yang mampu membuatnya bangkit.


“Hanya itu saja yang bisa kamu sampaikan, Ndo? Apa kamu bisa membayangkan apa yang aku lewati seorang diri?!”


Nabila benar-benar marah kepada Nando. Bahkan semua pesannya tidak dibalas oleh Nando, dan hal itu pula yang membuatnya semakin merasa kecewa dengan pemuda tersebut.


“Ayah membatasi sosial mediaku, Ayah khawatir aku akan memberontak untuk kembali Ke Indonesia. Tapi aku selalu memikirkanmu, La. Tolong, percaya padaku”


Nabila tetap menggelengkan kepala, dia tidak bisa mempercayai ucapan Nando begitu saja. Dia mengenal Nando tidak hanya sehari dua hari, jika memang Nando masih mencintainya. Pemuda itu pasti kembali kepadanya.


“Maaf. Tapi aku harus kembali ke kelas” ujar Nabila berusaha melepaskan pelukan Nando.


"Nabila, maafkan aku.” Mohon Nando dengan memelas.


Namun Nabila tidak menjawabnya, tangannya begitu sibuk untuk melepaskan tengan Nando dari pinggangnya. Nando kembali menarik tubuh Nabila dengan kasar, bahkan membuat keduanya hampir saja berciuman.


Nabila menatap mata Nando yang mulai tergenang airmata. Tidak disangka, pemuda itu hampir menangis karena nabila tidak mau percaya dengannya.


“Lepaskan aku Nando, aku harus kembali ke kelas sekarang!” tekan Nabila dengan sengaja.


Nando melihat tatapan Nabila yang dingin kearahnya, gadis ini tidak pernah melakukannya sebelumnya. Dia benar-benar sudah berubah, dan ini adalah kesalahannya sendiri yang egois dan tidak mau berjuang.


“Baiklah” lirih Nando yang tidak mau memaksa Nabila.


Nando melepas pelukannya, dia memandangi Nabila yang segera berjalan cepat menuju anak tangga.


Sebelum Nabila benar-benar meninggalkannya, Nando sempat berteriak yang didengar oleh Nabila.


“AKU TIDAK AKAN BERHENTI SAMPAI KAMU MEMAAFKAN KU, NABILA! JADI JANGAN KHAWATIR, KITA AKAN BERTEMU LAGI”

__ADS_1


Nabila tetap tidak menggubrisnya, dia sudah menghilang dari balik pintu pembatas atap dengan anak tangga. Nando tersenyum tipis, sepertinya dia harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan gadis yang dia cintai dulu.


“Nabila, aku kembali untukmu.”


__ADS_2