My BigBoss Mafia

My BigBoss Mafia
BAB 9. KEPUTUSAN SEPIHAK


__ADS_3

“Kita perlu bicara!”


Gabriel menarik Amanda keluar dari Rumah Sakit. Dengan sangat kasar dia mendorong Amanda untuk masuk kedalam mobilnya. Pak Bimo yang berdiri disebelah Arini, hanya bisa menatap nanar tanpa mampu berbuat apa-apa.


Semua yang mengenal Gabriel tidak ada yang berani menentangnya. Amanda juga sebenarnya takut dengan saudaranya tersebut, namun dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Gabriel.


Selama ini dia berjuang untuk mendapat pengakuan dari Gabriel. karena itulah dia selalu membuat masalah agar Gabriel meliriknya.


“El! Aku tidak salah!”


Amanda masih tetap tidak mau mengalah, menurutnya yang salah adalah Nabila. Gadis itu sudah berani mempermalukan seorang Kenzo.


“Aku tidak peduli jika kau mau mempermalukan dirimu sendiri, tapi jangan bawa nama Kenzo!”


Gabriel membentak Amanda yang ada disebelahnya. Lelaki itu mengemudi mobilnya dengan sangat kencang. Amanda sebenarnya ketakutan, namun bentakan Gabriel jauh lebih menakutkan.


“Dengar!! Aku datang kesini untuk pekerjaan, jadi jangan menghalangiku. Paham?!”


Kali ini Amanda bergeming, gadis itu hanya memalingkan wajahnya kearah jendela. Airmata menetes dari sudut, dan Gabriel menyadari hal tersebut.


Hatinya masih belum bisa luluh hanya dengan melihat Amanda menangis. Dia menarik lengan Amanda agar adiknya itu kembali menatapnya.


“Mulai besok, aku akan mendaftarkan mu Kuliah. Jangan membuatku malu, paham kau!”


Amanda menggeleng cepat. “Tidak mau! Aku tidak mau kuliah, jangan paksa aku, El!”


“Kau tidak bisa menolak, ini semua sudah menjadi keputusanku!” tegas Gabriel yang tidak suka dibantah.


“Kamu tidak bisa seperti ini padaku, El! Kamu lupa dengan apa yang sudah aku alami? Kamu tidak bisa melupakannya begitu saja!!”


Gabriel tidak menggubrisnya, padahal dia tau jika adiknya itu pernah mengalami kemalangan saat berkuliah di Jerman. Hal itulah yang membuat Amanda menjadi lebih tempramental, dan juga dia memiliki trauma mendalam pada sebuah Universitas.


“Apa?! Kau mau mengadu kepada Nenek? Silahkan jika dia mau membelamu.”


Amanda termenung sejenak, di sini tidak ada yang mau membelanya. Terlebih lagi Nenek mereka, selama ini Amanda selalu mendapat perlakuan yang berbeda dengan Gabriel.


Beda halnya dengan Gabriel yang sangat dia sayangi, Nyonya Bram tidak pernah sekalipun peduli kepadanya. Bahkan dengan tega mereka menutup kasus yang di ajukan oleh Amanda. Padahal sudah jelas jika di menjadi korban disitu.


“Kau sedang meledekku, kan? Kau sendiri tau bagaimana Nenek sangat membenciku!” kata Amanda sembari tertawa pelan.

__ADS_1


Gabriel memicingkan mata. “Harusnya kau sadar diri, kau itu hanya menumpang nama pada keluargaku. Semua karena Ibumu yang sudah menggoda Ayahku!”


“CUKUP EL! TURUNKAN AKU DISINI, SEKARANG!!” teriak Amanda.


“Hentikan! Apa kau gila, kau mau mati hah?!”


Gabriel tercengang melihat aksi Amanda yang membuka pintu mobilnya. Amanda menatap sinis kearah Gabriel, sepertinya dia memang berniat ingin mengakhiri nyawanya sendiri.


“BERHENTI ATAU AKU LOMPAT?!” ancam Amanda.


“Sepertinya kau ini sudah benar-benar gila seperti Ibumu!”


“TURUNKAN AKU, KENZO!!”


Amanda tidak tahan jika Gabriel terus saja menghina Ibunya. Itu sangat menyakiti perasaannya, yang baru saja ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya untuk selama-lamanya.


Gabriel mendesah kasar, dia tidak punya pilihan lain selain berhenti. Jujur saja dia tidak peduli jika Amanda mati sekarang, hanya saja dia tidak mau berurusan dengan Polisi sekarang.


“OK! Aku sudah berhenti, kau puas sekarang?”


Amanda tidak menggubrisnya, gadis itu lantas bergegas turun lalu membanting pintu mobil Gabriel dengan sangat keras.


Amanda langsung jatuh terduduk dengan menangis terisak, dia tidak menyangka Gabriel masih sangat membencinya.


“Kau benar-benar Monster, El. Bagaimana mungkin aku memiliki seorang Kakak sepertimu!”


Jika boleh jujur, dia juga tidak mau dilahirkan dari Ibu yang sudah merebut suami orang. Tapi inilah takdirnya, dia hanya ingin mendapat kasih sayang dari Gabriel sebagai seorang adiknya.


...***...


Nabila baru saja kembali dari kamar mandi. Gadis itu berusaha menghilangkan bekas merah yang ada di lehernya, namun percuma saja, bekas itu tidak mudah untuk dihilangkan.


Didepannya, dia melihat Arini yang sedang mengobrol bersama Pak Bimo. Ternyata Arini sudah selesai di obati. Nabila pun berjalan pelan menghampiri Pak Bimo dan juga Arini. Arini menyadarinya dan segera menghampiri Nabila.


“Nabila, kamu dari mana saja?”


“Aku- aku hanya menyelesaikan sesuatu.” Lirih Nabila yang bingung.


“Hey, apa kamu lihat laki-laki tadi? Apa kamu mengenalnya, dia sangat tampan, ya?”

__ADS_1


Nabila sedikit mengerutkan dahi, laki-laki siapa yang dimaksud oleh Arini. Apakah mungkin laki-laki bernama Gabriel tadi, jika memang dia yang Arini maksud. Tentu jelas saja Nabila membantahnya!


“Apa yang kamu bicarakan? Aku tidak melihat siapapun.”


“Hish, jangan bohong Na—“


“Nona Nabila!”


Ucapan Arini dipotong oleh Pak Bimo. Pria paruh baya itu menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat untuknya. Nabila sekilas meliriknya, gadis itu tidak kunjung menerimanya. Justru dia salah fokus terhadap ekspresi wajah Pak Bimo yang tampak murung.


“Maaf Paman, gadis tadi dimana?”


Pak Bimo mengernyit. “Apa masih ada permasalahan yang ingin anda selesaikan dengan dia? Sekarang dia sudah pulang bersama dengan pria yang menjemputnya.”


Nabila mendesis, benar dugaannya. Pria itu adalah kekasih Amanda, karena itu dia berani melecehkannya. Pria seperti itu, walaupun sangat tampan, tetap saja percuma.


“Oh, yasudah tidak jadi. Kalau begitu kami berdua pamit pulang,”


“Baiklah, kalau begitu biarkan saya mengantar kalian berdua pulang—“


Ucapan Pak Bimo terhenti ketika dia mendapat sebuah panggilan telepon dari Amanda. Pak Bimo pun ijin untuk menepi sebentar, terdengar suara Amanda yang sedang menangis. Hal itu membuat Pak Bimo menjadi khawatir.


“Ada apa, Nona? Nona sedang dimana, kenapa suaranya sangat bising sekali?” tanya Pak Bimo.


Walaupun menepi, namun Nabila serta Arini masih bisa suara Pak Bimo yang sedang berbicara.


[Paman, jemput aku sekarang]


“Nona ada dimana? Bukankah anda tadi bersama dengan Tuan Kenzo?”


[Tidak! Dia sudah menelantarkan ku sendirian di tepi jalan]


Pak Bimo begitu terkejut mendengar kabar tersebut. Dengan cepat dia pun menenangkan Amanda agar bersabar menunggunya. Pak Bimo berlari menghampiri Nabila.


“Maafkan saya, Nona. Tapi sepertinya saya tidak bisa mengantar anda pulang” kata Pak Bimo dengan tergesa-gesa. “Saya harus segera pergi sekarang!”


Nabila memahami jika Pak Bimo sedang dilanda panik. Dia pun hanya bisa membiarkan Pak Bimo pulang lebih dulu.


“Anda tidak perlu khawatir. Kami berdua akan pulang sendiri, jadi anda bisa segera menyelesaikan urusan anda”

__ADS_1


Setelah Nabila berbicara seperti tiu. Pak Bimo tidak membuang- buang waktu lagi, dia segera bergegas menuju mobilnya untuk menjemput Amanda. Yang entah darimana asalnya, dia bisa di terlantarkan oleh Gabriel di pinggir jalan.


__ADS_2