
Malam hari didalam apartemen Nabila, untuk menenangkan perasaannya yang sedang campur aduk. Gadis itu memilih untuk fokus membaca buku, tak lupa ia juga membuat susu coklat favoritnya.
Sudah hampir dua jam Nabila belajar. Namun sejujurnya dia tidak benar-benar fokus, sesekali dia masih kembali terpikir oleh Nando.
Konsentrasi yang susah payah dia kumpulkan, justru terganggu oleh suara nada dering ponselnya. Nabila memang sudah menyalakannya, karena dia pikir Gabriel sudah berhenti menganggunya. Tapi sepertinya dia hanya terlalu berharap.
“Astaga orang ini.. sebenarnya yang dia mau apa sih” gerutu Nabila dan menerima panggilan tersebut.
[Halo— HEY NABILA! HARI INI KAU PERGI DENGAN SIAPA, HAH?! BERANI BERANINYA KAU BERSAMA LAKI-LAKI LAIN TANPA PERSETUJUANKU!]
Secara refleks Nabila menjauhkan ponsel dari telingnya, teriakan Gabriel bisa saja melukai gendang telinganya.
“Gabriel! Jangan teriak-teriak. Kamu ini, apa tidak ada sehari tanpa marah?!”
[CEPAT JAWAB! KAU SEDANG BERSAMA SIAPA TADI?!]
“Jangan mengaturku, itu bukan urusanmu.” Jawab Nabila dengan nada dingin.
[KAU LUPA? AKU ADALAH TUNANGANMU BODOH!]
“Siapa yang kamu sebut bodoh, hah?!”
[BANYAK OMONG! CEPAT JAWAB AKU!]
Nabila yang merasa geram pun memutuskan untuk mengakhiri panggilan tersebut. Dia tidak peduli kalaupun Gabriel akan datang kesini, dia juga tidak akan membukakan pintu untuknya.
Menurutnya Gabriel semakin posesif ketika dia setuju untuk membantunya, dan itu membuatnya merasa risih.
Ponselnya kembali berdering, Nabila merasa gusar. Pria itu pantang menyerah sekali, dia kembali menghubungi Nabila padahal dia sudah jelas-jelas menolaknya.
“Sepertinya aku benar-benar bisa gila!”
Nabila segera mematikan ponselnya, lalu melemparnya kearah sofa sebelah meja belajarnya. Dia hanya ingin menyendiri sekarang, dia tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Karena jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Nabila berniat untuk segera tidur. Dia tidak ingin terlambat lagi ke Kampusnya.
Saat sedang bersiap-siap untuk pergi tidur. Tiba-tiba Nabila mendengar ketukan dari pintu Apartemennya, gadis itu terkejut karena ini sudah sangat malam. Ditambah sedang gerimis diluar sana.
“Siapa malam-malam datang kesini, tidak mungkin Gabriel kan.” Ujarnya merasa heran.
Gadis itu pun memutuskan untuk kedepan melihat tamu tersebut. Saat membuka pintu, betapa kagetnya dia melihat Gabriel berada didepan matanya. Laki-laki itu benar-benar datang sesuai perkirakannya.
“Minggir!!”
__ADS_1
Gabriel berjalan masuk kedalam ruangan Nabila tanpa sepertujuannya.Pria itu tampak mengamati dekorasi kamar Nabila yang terlihat aesthetic tersebut.
Gabriel mengamati setiap dekorasi yang menghiasi ruangan tersebut. Dia duduk di kursi yang biasa dipakai Nabila untuk belajar, melihat-lihat beberapa foto Nabila yang tertempel disana.
Pria itu lalu menatap tajam kearah Nabila yang berdiri dihadapannya. Gabriel memandangi penampilan Nabila yang sedang menggunakan piyama.
“Keluar sekarang!! Siapa yang mengijinkanmu masuk?!”
“Kau berani melarangku?!”
“Kenapa aku harus takut? Ini adalah rumahku, jadi tolong bersikap yang sopan! Aku menyuruhmu untuk keluar sekarang!”
“Aku tidak akan pergi sebelum kau menjawab pertanyaanku!!” kata Gabriel dengan tegas.
“GABRIEL! Sekarang kau keluar!!”
Nabila berusaha menarik tangan Gabriel agar pria itu berdiri dari kurisnya. Namun tiba-tiba suara guntur yang bergitu keras mengagetkan mereka berdua, disusul dengan lampu yang ikut mati secara merata.
“HEY! NABILA, KENAPA LAMPUNYA MATI?! CEPAT NYALAKAN!”
Gabriel yang ternyata memiliki ketakutan dengan kegelapan, langsung berlari kearah Nabila dan memeluknya dengan erat. Nabila yang dipeluk dengan sangat erat sampai menjadi sesak napas.
“Gabriel! Lepaskan aku!”
Melihat Gabriel yang begitu ketakutan, justru membuat Nabila tertawa karena menganggapnya begitu lucu. Pelukan Gabriel semakin erat ketika suara guntur kembali terdengar, hujan pun turun semakin deras. Sepertinya sedang badai.
“NABILA! Aku benar-benar tidak suka, ya!!”
“Terus apa yang harus aku lakukan?” tanya Nabila yang masih menahan tawanya.
“LAKUKAN APAPUN, AMBIL SENTER ATAU LILIN!!”
“Iya iya baiklah, tapi jangan teriak-teriak. Gendang telingaku bisa pecah mendengarnya.”
Nabila pun memutar tubuhnya, namun Gabriel kembali memeluk pinggang Nabila dari belakang dengan erat. Pria besar itu seolah sedang bersembunyi di balik badan Nabila yang kecil.
“Kau mau kemana? Jangan kemana-mana.”
“Aku mau mengambil ponsel, apalagi? Aku tidak punya senter atau lilin disini” jawab Nabila dengan tetap berjalan menuju sofa miliknya.
Seingatnya tadi dia melemparnya disini, tetapi Nabila tidak juga menemukannya. Dia sudah meraba keseluruh atas permukaan sofa yang empuk, dengan Gabriel yang tetap memeluknya tentunya. Tapi benda itu tidak juga ketemu.
“Nabila, tolong jangan bercanda! Aku tidak tahan dengan gelap.”
__ADS_1
“Lepaskan dulu, biar aku bisa mencari ponselku. Aku tidak bisa bergerak jika kamu terus memelukku seperti ini”
Nabila hendak melepas pelukan Gabriel yang ada di perutnya, namun ketika dia menyentuh tangan pria tersebut. Nabila malah dibuat terkejut, karena tangan pria ini begitu dingin dan berkeringat.
“Hey, apa kamu baik-baik saja?” tanya Nabila yang merasa tidak beres.
“Cepatlah nyalakan sesuatu, aku benar-benar tidak tahan!!”
“Aku tidak punya apapun untuk dinyalakan.” Jawab Nabila dengan jujur.
Gabriel yang mendengarnya pun merasa semakin lemas, dia pun hanya bisa menyembunyikan wajah dibalik ceruk leher Nabila dengan napas yang terdengar berat.
Karena merasa kasihan, Nabila akhirnya mengalah. Gadis itu menuntun Gabriel agar duduk di sofanya untuk menenangkan diri, sedangkan Gabriel tidak sekalipun melepaskan tangannya dari Nabila.
“Lepas Jasmu dulu, kamu bisa berbaring disini. Aku akan menunggu mu dibawah” kata Nabila dengan duduk diatas lantai.
Sekilas Gabriel hanya diam dan memandangi Nabila dengan samar. Dia pun segera melepas jas nya lalu melemparnya asal. Setelah itu dia kembali menarik Nabila agar naik keatas sofa menemaninya.
“Gabriel, lepaskan!”
Gabriel kembali memeluknya dengan erat, pria itu bersandar di antara bahu dan ceruk leher Nabila. Dengan memeluk Nabila seperti ini, entah kenapa dia merasa lebih baik. Napasnya juga tidak sekasar tadi.
Tetapi Nabila tidak merasakan hal yang sama, justru dia merasa risih karena berpelukan dengan seorang laki-laki di dalam kegelapan seperti ini. Apalagi tidak ada penerangan sama sekali disini. Diluar pun juga sama, karena memang seluruh kota sedang padam akibat badai.
“Gabriel bisa lepaskan ak—“
“Diamlah! Ini Ponselku, kamu bisa memakainya” sela Gabriel dengan cepat.
‘Kamu. Apa tadi Gabriel berbicara padaku dengan menyebut kamu dan bukan lagi kau?’ —batin Nabila.
Gabriel mendongak. “Kenapa diam? Cepat nyalakan senter dari Ponsel itu”
“Iya baik.”
Nabila menerima ponsel Gabriel. Ketika menyalakannya, dia melihat background layar ponsel itu adalah foto seorang Ibu dengan putranya yang terlihat sangat lucu. Nabila sempat tersenyum, dia tidak tau siapa foto yang di pasang oleh Gabriel ini. Namun yang jelas, mereka terlihat sangat bahagia.
“Nabila, apa kau tuli? Cepat nyalakan. Kau mau membunuhku dengan pelan-pelan?”
“Kenapa kamu bisa tau, jika aku sangat ingin melakukkannya” tukas Nabila.
“Ck! Kau benar-benar tidak menginginkanku ternyata” lirih Gabriel.
Entah kenapa nada suara Gabriel terdengar jika dia merasa sedih.
__ADS_1