
Sepulang kuliah..
Nabila sedang menunggu Bus disalah satu halte mini yang ada di depan Kampusnya. Dia sengaja mematikan kembali ponselnya, karena Gabriel terus saja menelponnya.
Entah sudah berapa kali Gabriel mengirimi pesan chat yang isinya terkesan memerintah. Dan Nabila tidak menyukai hal tersebut.
Nabila menunggu bus sembari membaca buku paket. Sudah hampir setengah jam Nabila duduk sendiri disana, jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore. Gadis itu mulai sedikit khawatir, dia takut sudah tertinggal bus terakhir.
Tin Tin Tin!
Terdengar suara klakson dari mobil yang tiba-tiba berhenti didepannya. Nabila melihat kearah jendela mobil yag mulai turun.
“Nando, sedang apa kamu disini?” Nabila merasa heran karena Nando masih berada di dalam Kampus.
“Masuk!” balas Nando santai namun terkesan tegas.
“Tidak mau.” Jawab Nabila sembari menoleh kekanan dan kekiri. “Nando, menyingkir dari sana. Itu jalur Bus, harusnya kamu tidak berhenti disana!”
Nando tersenyum. “See, kamu masih khawatir denganku. Aku tau kamu tidak benar-benar membenciku kan. Ayolah Nabila, cepat masuk.”
“Berhenti mengajakku berdebat, aku tidak akan masuk kedalam mobilmu!” jelas Nabila.
“Aku tidak peduli!” balas Nando acuh. “Aku tidak akan pergi sebelum kamu naik kedalam.”
Nabila merasa geram dengan keras kepala pemuda itu. Sepertinya Nando memang lebih keras kepala dibanding dirinya.
“Nando, jangan keras kepala!”
“Kalau begitu kamu juga jangan! Cepat masuk kedalam!” tegas Nando tidak mau kalah.
“Nando!”
“Nabila!”
Kata mereka bersamaan. Gadis itu berdecak keras, dia melihat kearah kanan dan melihat sebuah bus melaju dari kejauhan.
Nabila tidak punya pilihan lain, dengan terpaksa diapun mengemasi buku-bukunya dan berlari masuk kedalam mobil Nando. Tanpa mereka ketahui, seseorang sedang mengawasi keduanya lalu melaporkannya kepada seseorang.
“Kamu ini apa-apaan, sih?!” sentak Nabila yang kesal.
__ADS_1
“Aku hanya ingin mengantarmu pulang, itu saja. Apa tidak boleh?”
“Aku sudah bilang tidak pe—“
“Sampai kapan kamu akan seperti ini? Kamu tidak lelah terus marah padaku, apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkan ku, La ?”
Nabila sedikit terkejut, dia tidak menyangka jika Nando akan mengatakan hal yang sedemikian.
“Tolong jangan bahas ini lagi, Nando. Aku benar-benar sudah muak dengan semua ini.”
Nando tersenyum tipis. “Aku tau, Nabila. Ini semua adalah kesalahan dan keegoisanku. Tapi aku juga punya alasan, ini semua bukan atas kemauan ku Nabila..”
Nabila hanya diam sembari menundukkan kepala, dia tidak berani melihat kearah Nando yang sedang mengemudi dengan pelan itu.
“Nabila, mungkin bagimu ini hanyalah omong kosong dariku. Tapi jujur, aku tidak bisa melupakanmu. Dan aku harap kamu masih memiliki perasaan itu padaku”
Nabila mengepalkan tangannya dengan kuat, dia tidak berani melihat kearah Nando sekarang. Tapi dia sangat ingin menanyakan hal ini sejak kemarin.
“Ndo, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Bolehkah?” lirih Nabila.
“Apa?”
Nabila memberanikan diri menatap mata Nando. Terlihat mata itu mulai berkaca-kaca, padahal Nabila belum mengatakan pertanyaannya.
Serasa disambar petir dan di tikam secara bersamaan, Nando tak mampu menjawab pertanyaan Nabila. Dia tidak menyangka gadis ini bisa menebak apa yang terjadi kepadanya.
Faktanya memang itu yang dialami Nando. Ketika itu dia diberitahu oleh Ayahnya jika Nabila tidak selamat, dan itu membuatnya depresi. Namun pada akhirnya Kevin mengatakan hal yang sebenarnya tentang keadaan Nabila. Hingga membuatnya nekat kembali ke Indonesia dan meninggalkan studynya.
“Kamu pasti mengira ku sudah mati kan, karena itu kamu tidak kembali!” airmata menetes dari kedua sudut mata Nabila.
“Tidak Nabila, itu semua tidak benar” Nando tidak berani jujur, karena itu akan menyakiti perasaan Nabila lebih dalam lagi.
Nabila terus menangis yang membuat Nando ketika melihatnya merasa tidak tega, tapi setiap kali dia berusaha menyentuhnya. Nabila selalu menepis tangannya, gadis itu mulai terisak dan kembali mengungkapkan isi hatinya.
“SAAT ITU AKU SANGAT TAKUT NDO. DAN AKU BERHARAP KAMU YANG MENEMANIKU!”
“Nabila aku minta maaf..”
Nabila tertawa sinis. “Minta maaf?! Hanya itu yang bisa kamu lakukan, bukan.”
__ADS_1
“Lalu apa yang bisa aku lakukan, Nabila? Tolong beritahu aku.”
“Tidak ada! Aku sudah tidak peduli denganmu, Ndo.. aku benar-benar membencimu!” histeris Nabila.
Nando benar-benar merasa putus asa, dia tidak tau harus menjawab apa sekarang. Nabila benar-benar tidak mau mendengarkannya. Sedangkan perasaan Nando serasa semakin di iris setiap kali gadis itu terisak.
“Nabila, aku mohon jangan menangis..”
Karena tidak tahan mendengarnya, Nando menghentikan mobilnya ke tepi jalan. Dia segera melepas sabuk pengamannya dan menarik gadis itu kedalam pelukannya.
“Aku benar-benar menyesal, Nabila. Aku juga sama hancurnya, aku hancur karena kehilanganmu” bisik Nando lembut.
Nabila semakin menangis tersedu-sedu, dia membalas pelukan Nando dengan tidak kalah eratnya. Sejujurnya dia juga merasa kehilangan, walaupun dia sudah merasa nyaman dengan Kevin. Tetapi kenangannya bersama Nando begitu sangat membekas.
Cukup lama Nando memeluk tubuh Nabila, dia baru melepaskannya ketika gadis itu benar-benar sudah tenang. Sejenak Nando menatap lekat kedua mata Nabila yang langsung sembab.
“Jangan menangis, mata mu sudah kecil. Kalau kamu menangis lagi, kamu harus membutuhkan kacamata” kata Nando sengaja untuk menghiburnya.
Karena hatinya sudah merasa lega, Nabila bisa sedikit tersenyum. Apalagi ketika Nando mengusap airmata yang membasahi pipinya.
“Nabila, dengarkan aku..”
Nando berbicara dengan sangat lembut, dia tidak ingin menyakiti hati Nabila. Sangat berbanding balik dengan Gabriel yang sering kali membentaknya.
“Kamu boleh marah padaku, tapi tolong jangan pernah menghindari ku. Kalau kamu terus menerus menghindari ku, bagaimana caranya aku bisa membuatmu memaafkan ku?!”
Nabila masih belum bisa berbicara, dan Nando tidak menuntut jawaban dari gadis tersebut. Asalkan gadis ini mau mendengarnya, itu sudah lebih dari cukup.
“Tenanglah, kita butuh berbicara lagi dengan kepala yang dingin. Sekarang, aku akan mengantarmu pulang” Nando kembali memakai sabuk pengamannya.
Mobil kembali melaju menuju Apartemen Nabila, sesampainya di depan gang. Nando segera turun untuk membuka kan pintu untuk Nabila, karena tindakan tersebut Nabila pun kembali teringat kebersamaan mereka.
Dulu Nabila sering diantar jemput oleh Nando menggunakan sepeda motor. Dan ketika dia akan turun, Nando akan lebih dulu turun untuk melepaskan helm Nabila.
“Hati hati turunnya” kata Nando sembari membantu Nabila turun.
Kini keduanya saling berhadapan, Nando menatap lembut mata Nabila sembari mengusap puncak kepala gadis tersebut.
“Sekarang masuklah dan istirahat, besok kita akan membahasnya kembali”
__ADS_1
Nabila hanya menganggukkan kepala, Nando pun berpamitan dan masuk kembali kedalam mobilnya. Kali ini Nabila terus menatap Nando mulai dari pemuda itu masuk kedalam mobil hingga mobil itu benar-benar hilang dari pandangannya.
“Bisakah aku menerima mu kembali, Ndo?”