My BigBoss Mafia

My BigBoss Mafia
BAB 24. TIDUR BERSAMA


__ADS_3

Suara gemuruh hujan masih terdengar deras diluar, apalagi angin mulai berhembus dengan sangat kuat. Sedangkan suara gelegar guntur semakin memperburuk keadaan.


Petugas listrik pasti kesulitan untuk mencari sumber masalah dari padamnya lampu. Karena itu, lampu tidak juga kunjung menyala. Padahal ini sudah hampir setengah jam lamanya.


“Mau sampai kapan kamu memelukku seperti ini? Sudah sana pulanglah.” Pinta Nabila.


Gadis itu berusaha mendorong tubuh Gabriel agar melepaskan dirinya. Tapi percuma saja, karena saat dia mendorong Gabriel, pelukan yang ada di perutnya justru semakin erat. Apalagi Nabila bisa merasakan napas Gabriel yang menerpa kulit lehernya.


Keduanya masih duduk bersama di atas sofa, Nabila merasa jika tubuh Gabriel sejak tadi seperti sedang menggigil.


‘Apa dia sedang sakit? Tubuhnya juga gemetar semenjak mati lampu tadi. Dia juga tidak menjawab ucapanku’ —pikir Nabila yang khawatir.


“Gabriel.. cepat pulang, ini sudah malam. Tidak baik ada pria asing dikamar seorang gadis” ulang Nabila.


“Kau mengusirku? Diluar sedang hujan deras, lagipula kau ini tunanganku!”


“Kau kan bawa mobil. Dan lagi, sudah kubilang kita hanya pura-pura jadi jangan terus menerus menyebutku seolah aku ini milikmu”


Gabriel sedikit mendongak, dia bisa melihat wajah Nabila karena senter dari Ponselnya.


“Kalau aku tersambar petir bagaimana?!” tanya Gabriel.


“Salah sendiri, siapa suruh kamu kemari? Sudah tau, langit sedang mendung!!” sahut Nabila yang acuh.


Padahal dalam hati, sebenarnya gadis itu sangat peduli dengan Gabriel. Buktinya dia tetap membiarkan Gabriel memeluknya agar pria itu merasa baikan.


“Aku tidak mau pulang!”


Nabila hanya diam, perlahan dia merasakan tubuh Gabriel yang berkeringat dingin. Karena penasaran, dia pun menyentuh dahi Gabriel untuk mengeceknya.


“Kamu berkeringat, kamu sakit?”


“Shit! Nabila, jangan banyak bertanya. Lebih baik kita ke ranjang sekarang! Aku sangat kedinginan!” kata Gabriel dengan nada gemetar.


Nabila sedikit menjauhkan tubuh pria itu, dia menatap Gabriel yang masih memegangi pinggangnya dengan sangat erat.


“Kamu jangan macam-macam! Tetanggaku ada yang atlet Karate, aku tidak akan segan memanggilnya untuk memukulimu!”


Gabriel berdecak kesal.”Apa yang kau pikirkan? Aku hanya butuh kehangatan, tolonglah Nabila. Please..”


Baru kali ini Nabila mendengar Gabriel memohon seperti ini. Sepertinya pria ini memang sedang sakit.


“Aku tidak mau! Aku tidak percaya denganmu.”


“Sudahlah Nabila, lakukan saja..”


Perlahan Gabriel mengajak Nabila untuk bangkit dari atas sofa, lalu kemudian dia mendorong tubuh Nabila kearah ranjang. Kini mereka sudah berada atas kasur dengan posisi setengah duduk.

__ADS_1


Disini jauh lebih gelap, karena ponsel Gabriel tertinggal diatas sofa. Gabriel kembali memeluk Nabila dari sangat erat serta menyandarkan kepalanya diatas bahu Nabila.


“Nabila.. tolong peluk aku..” pinta Gabriel.


Suara Gabriel yang gemetar berhasil membuat Nabila merasa iba. Gadis itu pun membalas pelukan Gabriel, dengan pelan dia mengusap punggung Gabriel yang lebar itu.


“Lebih erat, Nabila..”


“Kau kenapa? Kedinginan?” tanya Nabila pelan.


“Hm”


Nabila pun mengambil selimut tebalnya, dia menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut. Dia semakin mengeratkan pelukannya agar Gabriel berhenti menggigil.


“Apa masih dingin?”


Gabriel tersenyum tipis. “Tidak terlalu buruk”


“Sejak kapan kamu seperti ini?”


“Entahlah, aku sendiri tidak tau. Tapi aku tidak tahan dengan gelap, apalagi gelap gulita. Dadaku akan terasa sesak bahkan sulit bernapas.”


“Jadi kamu tidak pernah tidur dengan kondisi lampu mati?”


“Tidak pernah, jika itu kulakukan. Sama saja aku sedang bunuh diri.”


“Sudah, Dokter bilang ini bukan penyakit. Melainkan sejenis rasa trauma pada kejadian masa lalu”


Mendengar hal tersebut, hati keras Nabila sepertinya mulai lembut. Dia pun membelai kepala Gabriel, bahkan dia menempelkan pipinya ke puncak kepala Gabriel. Entah kenapa dia jadi ingin tau lebih jauh tentang pria ini.


“Memangnya apa yang kau alami?”


Gabriel sedikit mendongak, mata keduanya saling menatap. Nabila sedikit terkejut karena Gabriel tiba-tiba melihatnya.


“Ada ap—“


Sebuah kecupan lembut mendarat di permukaan bibir Nabila. Bahkan mata gadis itu masih terbuuka karena saking cepatnya.


“Kau tidak perlu tau. Yang jelas, aku bukanlah pria yang lemah. Jadi kau tidak perlu khawatir” ucap Gabriel dengan nada lembut.


Gabriel melepas pelukannya dan merubah posisinya menjadi lebih tegak. Tangannya menangkup kedua pipi Nabila yang terasa hangat.


Dengan pantulan cahaya dari lampu ponselnya. Entah kenapa Gabriel terlihat jauh lebih tampan, hidungnya yang mancung serta kulitnya yang halus. Apalagi mata tajam pemuda itu benar-benar meluluhkan siapapun yang menatapnya.


Sedangkan Gabriel, matanya terfokus pada bibir Nabila yang selalu membuatnya candu. Jari jempolnya perlahan mengusap area bibir Nabila secara bergantian.


“Bolehkah?” tanya Gabriel lirih.

__ADS_1


Seolah tersihir dengan ketampanan Gabriel yang memiliki wajah asia tersebut. Tanpa sadar Nabila justru menganggukkan kepalanya, pertanda dia mengijinkan Gabriel untuk menciumnya lagi.


Gabriel yang sudah mendapat ijin pun mulai mendekatkan wajahnya, hembusan napas bisa mereka rasakan. Kali ini Gabriel melakukannya dengan begitu lembut, tidak seperti yang dahulu.


Ketika bibir mereka sudah menempel. Perlahan, Gabriel mulai ********** dengan lembut. Laki-laki itu menganggap bibir Nabila seperti permen jelly yang manis.


Gabriel mulai mendorong Nabila hingga terbaring di atas ranjangnya. Gabriel menahan berat tubuhnya menggunakan satu tangan, sedangkan tangan satunya sibuk memegangi leher Nabila sembari mengelusnya.


Suara gemericik hujan seolah menjadi alunan musik yang membuat percumbuan mereka menjadi semakin tak terkontrol.


Gabriel menuntun kedua tangan Nabila agar melingkar di lehernya. Dan lagi-lagi Nabila tidak menolaknya, dia melakukan semua yang di suruh oleh Gabriel.


Ciuman Gabriel mulai turun ke area lehernya. Pria itu menciumi setiap inci kulit putih gadis tersebut dengan hisapan yang hangat.


Tak sampai disitu saja, tangan Gabriel juga mulai aktif meraba bagian tubuh Nabila yang sensitif. Gadis itu mengerang nikmat, ketika buah dadanya tersentuh oleh tangan besar Gabriel.


Gabriel tersenyum, dia pun menjauhkan wajahnya dan menatap Nabila yang tengah memajamkan mata. Dengan sangat lembut dia mengusap pelipis Nabila yang berkeringat.


“Apakah ini yang pertama bagimu?” tanya Gabriel dengan suara beratnya.


Nabil membuka matanya perlahan, dia melihat Gabriel yang hanya berjarak beberapa centi saja dengannya. Wajah pria ini sangatlah tampan, bahkan seperti sebuah ukiran yang indah.


Nabila mengangguk kecil, Gabriel pun tersenyum lalu menjatuhkan tubuhnya ke sebelah Nabila. Gabriel melepas dua kancing kemajanya, dia menoleh kembali kearah gadis yang sedang mengatur napas itu.


“Aku akan bermalam disini” ujarnya sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.


“Apa? Kamu tid—“


“Shut! Hujan angin seperti ini apa yang mau kau lakukan? Sudahlah cepat tidur, besok kau harus kuliah.”


Jujur saja Nabila merasa malu jika mengingat dia sendiri sudah mengijinkan Gabriel untuk menyentuhnya. Dia pun memutuskan untuk diam dan menuruti ucapan pria tersebut.


Gabriel kembali memeluk Nabila, namun sekarang dari belakang. Karena Nabila memilih untuk membelakanginya.


Suara hujan deras masih mengguyur kota tersebut. Angin juga masih berhembus dengan kencang, membuat hawa disini semakin dingin. Namun syukurlah Guntur sudah berhenti menggelegar.


“Tidurlah” bisik Gabriel pelan sembari menciumi belakang kepala Nabila.


“Kamu benar-benar akan menginap disini?” tanya Nabila dengan mata terpejam.


“Jika kau masih bertanya, aku akan memakanmu malam ini juga” ancam Gabriel berbisik.


“Dasar mesum..” gumam Nabila.


Gabriel kembali tersenyum, dia mencium puncak kepala Nabilaa yang membuat gadis itu merasa merinding.


Mereka berdua pun tidur bersama untuk pertama kalinya, hanya sebatas tidur bersama. Apalagi jam dinding sudah menunjukkan tengah malam.

__ADS_1


Walau awalnya sulit, tapi setelah mendengar dengkuran pelan dari Gabriel. Nabila pun mulai benar-benar masuk kedalam mimpi indahnya, dengan Gabriel yang memeluknya.


__ADS_2